SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Duel Gaib
Keadaan membeku yang diciptakan oleh simbol Fermata Arga mulai retak. Garis-garis cahaya biru yang menahan waktu di dalam Aula Utama perlahan memudar, digantikan oleh getaran frekuensi rendah yang membuat ubin marmer di bawah kaki Arga pecah satu per satu.
Sang Arsitek, yang wajahnya merupakan kumpulan jutaan jiwa yang meratap, mulai bergerak kembali. Setiap gerakan sendinya mengeluarkan bunyi gerit logam berkarat yang beradu dengan tulang.
"Kau pikir bisa menghentikan waktu dalam rumahku sendiri?" suara Sang Arsitek kini terdengar seperti ribuan orang yang berbicara bersamaan, menciptakan efek gaung yang menyiksa gendang telinga.
Arga berdiri tegak di tengah Aula yang hancur. Sisik perak di tubuhnya kini tidak lagi hanya diam di kulit; mereka mulai memancarkan duri-duri energi yang tajam.
Harmonika di tangannya telah meleleh, menyatu dengan telapak tangannya menjadi sebuah senjata organik yang memancarkan frekuensi murni. Ia tidak lagi membutuhkan instrumen fisik. Ia telah menjadi instrumen itu sendiri.
"Ini bukan rumahmu," geram Arga. "Ini adalah penjara yang kau bangun karena kau terlalu takut pada kematian."
Tanpa peringatan, Sang Arsitek menghentakkan tongkat konduktornya ke lantai panggung. Seketika, bayangan-bayangan hitam dari seluruh sudut Aula melesat ke arah Arga, membentuk rantai-rantai gaib yang ujungnya berupa kait tajam.
Arga melompat ke udara, sayap perak-hitamnya mengepak kuat, menciptakan gelombang kejut yang mementalkan rantai-rantai tersebut.
Duel ini bukan lagi sekadar adu fisik; ini adalah duel kehendak dan frekuensi.
Sang Arsitek mengangkat tangannya, dan partitur-partitur yang terbakar tadi kembali menyatu, membentuk naga kertas raksasa yang terbang mengitari langit-langit Aula.
Naga itu menyemburkan api hitam, api yang tidak membakar daging, melainkan membakar ingatan. Arga merasakan kilasan wajah ibunya dan tawa Raka mulai memudar setiap kali api itu mendekat.
"Jika kau kehilangan ingatanmu, kau tidak akan memiliki alasan untuk bertarung!" Sang Arsitek tertawa, suaranya menggelegar hingga meruntuhkan balkon lantai dua Aula.
Arga menukik tajam ke arah naga kertas itu. Ia membiarkan api hitam menyentuh sayapnya, namun alih-alih menghindar, ia justru menyerap energi gelap itu.
Tinta takdir di lehernya berpendar merah darah. Ia menggabungkan energi korosif dari api hitam dengan energi perak dari nadinya, menciptakan sebuah bola energi Disonansi Murni.
"Aku tidak butuh ingatan untuk tahu bahwa kau adalah parasit!" teriakan Arga memecah keheningan gaib.
Ia menghantamkan bola energi itu tepat ke jantung naga kertas. Ledakan itu begitu dahsyat hingga seluruh lilin yang melayang di Aula padam seketika.
Ruangan itu jatuh ke dalam kegelapan total, hanya menyisakan pendar perak dari tubuh Arga dan pendar radioaktif dari tongkat Sang Arsitek.
Dalam kegelapan itu, Sang Arsitek melesat dari panggung dengan kecepatan yang mengejutkan. Ia muncul di belakang Arga, tongkatnya menusuk bahu Arga hingga menembus sayapnya.
Arga menjerit kesakitan, darah peraknya menetes ke lantai, menciptakan lubang korosif pada marmer.
"Lihatlah dirimu, Subjek 02," bisik Sang Arsitek tepat di telinga Arga.
"Darahmu sudah bukan lagi darah manusia. Kau sudah menjadi bagian dari arsitekturku. Semakin kau melawanku, semakin kau memperkuat struktur sekolah ini."
Arga merasakan tubuhnya mulai melemas. Namun, di tengah rasa sakit itu, ia merasakan getaran dari bawah lantai Aula, getaran yang sama yang ia rasakan di Bab sebelumnya.
Ia menyadari sesuatu. Aula ini bukan hanya tempat duel. Aula ini adalah Katup Pengaman bagi mesin utama di Titik Nol.
"Kalau begitu..." Arga mencengkeram tongkat yang menusuk bahunya, menahan Sang Arsitek agar tidak bisa menjauh.
"Akan kuhancurkan fondasinya bersamamu!"
Arga menyalurkan seluruh sisa energi Indigo dan peraknya bukan ke arah Sang Arsitek, melainkan langsung ke bawah, menembus lantai marmer menuju struktur fondasi sekolah.
Ia menciptakan resonansi penghancur yang dirancang untuk memicu reaksi berantai pada sirkuit saraf di bawah tanah.
Lantai Aula mulai terangkat. Pipa-pipa biologis yang berdenyut meledak, menyemprotkan cairan hijau dan biru ke segala arah.
Sang Arsitek panik. Wajah-wajah di dalam lubang hitamnya menjerit lebih keras saat koneksi mereka dengan sekolah mulai terputus.
"Apa yang kau lakukan?! Kau akan meruntuhkan seluruh gedung ini!"
"Memang itu tujuannya," jawab Arga dengan senyum getir.
Ledakan besar terjadi dari bawah panggung. Sebuah lubang raksasa terbuka di tengah Aula, menyingkap kegelapan Sektor Bawah Tanah yang sesungguhnya.
Sang Arsitek terseret masuk ke dalam lubang itu oleh tarikan gravitasi dari mesin utamanya yang mulai mengalami malfungsi.
Arga, yang tenaganya sudah hampir habis, ikut terjatuh ke dalam lubang tersebut. Namun, sebelum ia tenggelam sepenuhnya dalam kegelapan, ia melihat sosok bayangan Lintang dan Raka di kejauhan, sudah berada di luar area Aula. Mereka selamat.
Di dalam lubang itu, Arga terus bertarung dengan Sang Arsitek dalam keadaan jatuh bebas. Mereka saling mencakar dan menghantam di antara puing-puing beton dan kabel saraf yang putus. Cahaya perak Arga kini menjadi satu-satunya pelita di tengah kehancuran.
Sang Arsitek mencoba menyatukan kembali tubuhnya yang mulai tercerai-berai, namun frekuensi disonansi Arga terus mengoyak integritasnya.
"Kau... kau adalah anomali yang gagal!"
"Aku adalah akhir dari eksperimenmu!" Arga memberikan hantaman terakhir tepat ke pusat lubang hitam di wajah Sang Arsitek.
Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang membanting Arga ke dinding terowongan bawah tanah. Ia jatuh tidak sadarkan diri di sebuah platform logam yang panas.
Sang Arsitek menghilang ke dalam inti mesin yang berputar di dasar lubang, diikuti oleh suara ledakan mesin yang memekakkan telinga.
Duel Gaib di Aula Sekolah telah berakhir dengan kehancuran total ruangan tersebut. SMA Nusantara kini bergetar hebat, sebuah pertanda bahwa sistem utama sedang mencoba melakukan reboot paksa.
Arga terbaring lemah, tubuhnya perlahan kembali ke bentuk manusia, namun tanda sirkuit hitam di tangannya kini memancarkan cahaya biru yang meluap.
Ia berhasil menghancurkan wujud fisik Sang Arsitek, namun ia tahu ini bukan akhir. Energi dari Sang Arsitek telah kembali ke jantung sekolah. Arga harus segera bangkit sebelum kekuatan Indigo-nya benar-benar meluap dan menghancurkan kewarasannya.
Di kejauhan, di ujung platform tempatnya terbaring, ia melihat sebuah lorong yang memancarkan cahaya biru yang sangat terang, cahaya yang sama dengan yang ada di daftar judul bab selanjutnya.
"Satu langkah lagi..." bisik Arga sebelum ia memaksa dirinya untuk merangkak maju.