Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oli, Air Mata, dan Aliansi Jembatan Merah
Matahari baru saja naik setinggi galah di atas langit Jakarta, namun bagi Zevanya, hari itu seolah sudah berjalan selama empat puluh delapan jam. Kenzo sedang dalam fase kolik, yang artinya sang pewaris Alfarezel itu memiliki kapasitas vokal yang mampu menandingi suara mesin diesel truk tronton yang sedang menanjak di tanjakan curam.
"Aduh, anak ganteng, anak balap... diem ya. Cup, cup... Ibu lagi coba baca laporan audit ini, Sayang," gumam Zeva sambil menggendong Kenzo dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk menggeser layar tablet.
Zeva mengenakan kaos oblong hitam yang sudah agak luntur—kaos "keramat" miliknya dari zaman masih narik kabel di bengkel Jembatan Merah—dan celana kargo. Rambutnya diikat asal-asalan, dan ada noda muntah bayi di bahunya yang ia biarkan begitu saja. Baginya, itu adalah "dekorasi" baru yang lebih jujur daripada bros berlian Alfarezel.
Adrian masuk ke kamar dengan wajah yang tidak kalah semrawut. Kemejanya tidak terkancing sempurna, dan ia memegang botol susu dengan ekspresi seolah-olah sedang memegang bom waktu.
"Zeva, Lord Julian benar-benar melakukan manuver gila. Dia menyuap beberapa oknum di otoritas pelabuhan untuk membekukan izin bongkar muat kita di Dermaga Empat dengan alasan 'pelanggaran sanitasi' gara-gara insiden kontainer kemarin," lapor Adrian.
Zeva berhenti mengayun Kenzo. Matanya menyipit. "Pelanggaran sanitasi? Wah, si muka pucat itu bener-bener mau main kotor ya. Dia pikir Merak itu punya nenek moyangnya?"
"Masalahnya, kalau Dermaga Empat berhenti beroperasi selama empat puluh delapan jam, kita bakal kena denda penalti dari klien Jepang senilai jutaan dolar. Dan reputasi ketepatan waktu Alfarezel bakal hancur," tambah Adrian, suaranya berat oleh beban pikiran.
Zeva menyerahkan Kenzo yang mulai tenang ke pelukan Adrian. "Pegang Kenzo bentar, Bos Robot. Gue perlu balik ke 'habitat' asli gue. Kita nggak bisa nyelesain ini lewat jalur hukum yang lambat dan penuh birokrasi bertele-tele. Kita butuh cara Jembatan Merah."
Dua jam kemudian, sebuah motor kustom berwarna hitam legam menderu di sepanjang jalan pesisir menuju Merak. Pengendaranya bukan lagi Nyonya Besar Alfarezel yang elegan, melainkan Zeva si mekanik jalanan. Ia mengenakan jaket kulit yang sudah disemprot parfum "bau oli" andalannya untuk menutupi bau minyak telon bayi.
Di sebuah warung kopi di pinggiran dermaga yang aromanya didominasi oleh ikan asin dan solar, Ujang sudah menunggu bersama beberapa pria bertubuh kekar dengan tato di lengan mereka—para mandor pelabuhan yang dulu adalah teman-teman seperjuangan ayah Zeva.
"Nona Zeva! Wah, beneran dateng!" seru Bang Bewok, salah satu mandor senior yang giginya sudah hilang dua tapi nyalinya masih penuh. "Selamat ya buat bayinya! Katanya ganteng kayak Pak Adrian tapi galak kayak Nona ya?"
Zeva tertawa, menyalami mereka satu per satu dengan genggaman tangan yang masih keras. "Makasih, Bang. Tapi denger-denger ada tikus Inggris yang lagi nyampah di dermaga kita ya?"
Wajah Bang Bewok berubah serius. "Iya, Nona. Ada orang-orang suruhan Julian yang masang segel ilegal di gerbang Dermaga Empat. Mereka bawa surat dari dinas, tapi kita tahu itu surat aspal (asli tapi palsu). Mereka naruh beberapa bangkai tikus dan limbah kimia sengaja di sana biar difoto buat laporan."
Zeva mengepalkan tangannya. "Bangkai tikus? Kreatif juga tuh si Julian. Oke, dengerin rencana gue. Kita nggak bakal ngerusak segel itu secara fisik, karena itu bakal bikin kita kena pasal pidana."
"Terus gimana, Nona?" tanya Ujang bingung.
"Kita bakal bikin 'pertunjukan' yang lebih seru," Zeva menyeringai nakal. "Bang Bewok, lu punya temen-temen di komunitas truk pengangkut kan? Gue mau lu minta mereka parkir 'mogok' masal di akses masuk Dermaga Lima dan Enam—dermaga yang sekarang dipake Blackwood. Bilang aja mesinnya semua kena 'masalah teknis' yang aneh."
"Terus?"
"Terus, Ujang, lu bawa anak-anak mekanik yayasan. Kita bakal dateng ke Dermaga Empat sebagai 'Tim Sanitasi Independen'. Kita bakal bersihin itu tempat di depan kamera media yang udah gue panggil. Kita buktiin kalau Dermaga Empat itu lebih bersih daripada meja makan Lord Julian."
Sore harinya, Pelabuhan Merak mendadak ricuh. Puluhan truk kontainer raksasa berhenti di tengah jalan, mematikan mesin, dan para sopirnya turun untuk makan gorengan di pinggir jalan dengan santai. Logistik Blackwood lumpuh total.
Di saat yang sama, Zeva muncul di depan gerbang Dermaga Empat bersama timnya. Ia mengenakan wearpack mekanik dengan logo Alfarezel Group yang besar di punggungnya. Beberapa wartawan berita lokal sudah bersiap dengan kamera mereka.
"Selamat sore semuanya," ujar Zeva dengan mikrofon di tangan, gayanya sangat santai meski di depannya ada beberapa oknum petugas yang mencoba menghalanginya. "Saya Zevanya Sanjaya Alfarezel. Saya dapet laporan kalau dermaga kebanggaan kami ini kotor. Sebagai ibu rumah tangga yang hobi bersih-bersih... dan bongkar mesin... saya mutusin buat turun tangan langsung."
Zeva memimpin timnya melakukan pembersihan kilat yang sangat terorganisir. Mereka bukan cuma nyapu, tapi menyemprotkan cairan pembersih industri yang harumnya wangi jeruk segar ke seluruh area. Dalam waktu satu jam, area yang tadinya penuh "sampah buatan" anak buah Julian berubah menjadi kinclong.
"Nah, coba liat," Zeva menunjuk ke arah lantai dermaga yang bersih. "Kalau ada tikus yang berani lewat sini, dia pasti bakal kepeleset karena saking bersihnya. Jadi, Bapak-bapak petugas yang terhormat, masih ada alasan buat segel tempat ini?"
Petugas-petugas itu tampak gagap, tidak tahu harus menjawab apa di depan kamera media yang sedang menyiarkan secara langsung. Di saat itulah, Adrian muncul dari mobilnya, didampingi oleh pengacara tingkat tinggi dan pejabat asli dari Kementerian Perhubungan yang sudah ia "jemput" secara resmi.
"Hasil tes laboratorium independen menunjukkan area ini steril," ujar Adrian dingin sambil menyerahkan berkas kepada para petugas tersebut. "Dan saya juga membawa laporan tentang percobaan sabotase yang dilakukan oleh pihak Blackwood. Silakan diproses, atau saya yang akan memproses kalian karena penyalahgunaan wewenang."
Para petugas itu langsung membuka segel dengan tangan gemetar. Kemenangan mutlak berada di tangan Alfarezel.
Malamnya, di kantor operasional Merak yang sederhana, Zeva terduduk di kursi kayu yang keras. Adrenalinnya mulai turun, dan rasa lelah yang luar biasa menghantamnya. Bagaimanapun, ia adalah seorang ibu yang baru saja melahirkan dan belum pulih total.
Adrian masuk membawa segelas teh manis hangat. Ia berlutut di depan Zeva, menatap istrinya dengan tatapan yang sangat lembut.
"Kau luar biasa tadi, Zeva. Tapi kau pucat sekali," ujar Adrian cemas.
"Gue oke, Adrian. Cuma... perut gue agak nyeri dikit. Kayaknya gue terlalu banyak gerak tadi," bisik Zeva, mencoba menyembunyikan rasa sakitnya.
Adrian langsung membopong Zeva menuju mobil. "Kita pulang sekarang. Kenzo sudah kangen, dan kau butuh istirahat total. Urusan Blackwood sudah diurus tim legal. Julian kemungkinan besar akan dideportasi karena kasus penyuapan ini."
Di dalam mobil, Zeva menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. "Gue seneng, Adrian. Gue seneng bisa balik ke aspal lagi tadi. Gue ngerasa... gue ngerasa masih punya 'taring'."
"Kau selalu punya taring, Zeva. Tapi ingat, sekarang kau punya singa kecil yang butuh induknya sehat," sahut Adrian pelan.
Sesampainya di penthouse, mereka disambut oleh tangisan Kenzo yang sangat keras. Tapi ada yang aneh. Siska tampak sedang panik di ruang tengah, sementara ada seorang wanita paruh baya yang sangat anggun sedang menggendong Kenzo.
Zeva langsung waspada. "Siapa itu, Siska?!"
Wanita itu berbalik. Wajahnya sangat mirip dengan Adrian, namun dengan tatapan yang lebih hangat. Itu adalah Mama Martha, ibu Adrian yang selama ini dikabarkan mengasingkan diri di Swiss karena trauma masa lalu.
"Adrian... Zevanya..." ujar Martha dengan suara lembut. "Maafkan Mama datang tiba-tiba. Mama mendengar berita kelahiran Kenzo dan Mama tidak bisa hanya diam di sana."
Adrian terpaku di tempat. Hubungannya dengan ibunya memang rumit sejak kematian ayahnya. Zeva, dengan instingnya yang tajam, merasakan bahwa kehadiran Martha bukan untuk mengganggu, melainkan untuk memperbaiki.
"Mama... Mama Martha?" tanya Zeva pelan.
Martha mendekat, menatap Zeva dengan kagum. "Jadi ini wanita hebat yang diceritakan Adrian di surat-suratnya? Mekanik yang berhasil menjinakkan singa Alfarezel?"
Zeva tersenyum canggung, namun ia merasakan kehangatan yang tulus dari wanita itu. Martha menyerahkan Kenzo kembali ke Zeva. "Kenzo sangat mirip denganmu, Zeva. Terutama matanya yang penuh semangat itu."
Malam itu, meja makan Alfarezel terasa lebih lengkap. Meskipun ada kecanggungan, kehadiran Martha membawa warna baru. Martha ternyata adalah seorang ahli strategi yang mumpuni di masa mudanya, dan ia mulai memberikan saran-saran cerdas untuk menghadapi manuver lanjutan dari sisa-sisa pengikut Helena.
Zeva berbaring di tempat tidur, menatap Kenzo yang tidur di boks bayi, dan Adrian yang sedang berbicara pelan dengan ibunya di ruang tengah. Ia merasa dunianya semakin besar, semakin kompleks, namun juga semakin kuat.
Ia mengambil ponselnya, mengirim pesan singkat kepada Ujang: "Besok pagi, ajak Bang Bewok dan anak-anak sarapan bareng di bengkel yayasan. Bilang ada tamu spesial: Neneknya Kenzo mau kenalan sama 'keluarga' Merak."
Zeva tersenyum semprul sendiri membayangkan bagaimana reaksi Mama Martha yang anggun itu saat harus makan gorengan di atas meja kayu yang penuh noda oli. Tapi itulah Alfarezel yang baru. Tidak lagi hanya tentang menara kaca dan emas, tapi tentang aspal, keringat, dan keluarga yang tidak memandang kasta.
"Kenzo," bisik Zeva pada bayinya. "Dunia ini mungkin mau ngatur kita, tapi kita yang bakal nentuin cara mainnya. Inget itu ya, Anak Mekanik."
Di kejauhan, lampu-lampu pelabuhan Merak masih menyala, menjadi saksi bahwa sang singa dan mekaniknya baru saja memenangkan satu ronde besar. Namun, Zeva tahu, di balik kegelapan samudera, musuh baru—yang mungkin lebih licin dari Julian—sedang mengamati mereka. Dan kali ini, mereka tidak hanya akan menghadapi satu perusahaan, tapi sebuah konspirasi global yang ingin menghapus nama Alfarezel dari peta ekonomi dunia.
Tapi bagi Zevanya Sanjaya, selama kunci inggrisnya masih ada di tangan dan keluarganya ada di belakang, tidak ada badai yang terlalu besar untuk diterjang.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan