Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deru Tangis di Menara Kaca
Suasana di lantai khusus Rumah Sakit Alfarezel Medika pagi ini tidak seperti bangsal persalinan pada umumnya. Koridor itu dipenuhi oleh pria-pria berjas hitam dengan earpiece yang tampak gelisah, sementara di ujung lorong, Ujang sedang berusaha meyakinkan suster kepala bahwa membawa sebuah ban motor baru sebagai "jimat keberuntungan" untuk Zeva adalah ide yang masuk akal.
"Suster, ini ban soft compound! Biar nanti bayinya pas keluar jalannya mulus, nggak selip!" argumen Ujang dengan wajah serius. Suster itu hanya menghela napas, menunjuk tanda 'Harap Tenang' dengan tatapan yang bisa mencairkan baja.
Di dalam kamar persalinan, suasana jauh lebih tegang. Zevanya Sanjaya—sang mekanik tangguh yang pernah selamat dari kebakaran hebat dan serangan tentara bayaran—kini tampak sedang menghadapi lawan yang paling tangguh dalam hidupnya: kontraksi pembukaan delapan.
"Adrian... sumpah ya... ini lebih sakit daripada kejepit mesin truk!" geram Zeva. Tangannya mencengkeram sprei sutra rumah sakit hingga terdengar suara serat kain yang mulai menyerah. Keringat membanjiri dahinya, rambutnya yang berantakan menempel di pipi yang memerah.
Adrian berdiri di sampingnya, wajahnya yang biasanya sedatar monitor bursa kini tampak pucat pasi. Ia membiarkan tangan kirinya diremas oleh Zeva hingga buku-buku jarinya memutih dan mungkin sedikit bergeser. "Napas, Zeva. Tarik napas seperti yang diajarkan di kelas yoga kemarin."
Zeva menatap Adrian dengan tatapan yang bisa membuat nyali preman pelabuhan ciut. "Yoga gundulmu! Lu coba sini perut lu dibelah, terus lu suruh napas pelan-pelan! Gue mau martabak... gue mau rendang... gue mau keluar dari sini!"
"Setelah ini, Sayang. Setelah ini aku belikan satu gerobaknya," bisik Adrian, suaranya bergetar. Dia tidak pernah merasa selemah ini. Sebagai CEO, dia bisa mengendalikan aliran uang triliunan rupiah dengan satu tanda tangan, tapi di sini, dia tidak bisa melakukan apa pun untuk mengambil alih rasa sakit istrinya.
Dokter spesialis kandungan masuk dengan tim perawat. Suasana berubah menjadi sangat klinis dan cepat. Monitor detak jantung janin berbunyi bip-bip-bip dengan ritme yang cepat, seirama dengan detak jantung Adrian yang sepertinya sudah menembus batas normal.
"Oke, Nona Zeva. Posisi bayi sudah sangat bagus. Saat kontraksi berikutnya datang, saya ingin Anda mengejan sekuat tenaga, ya?" instruksi sang dokter dengan tenang.
Zeva menarik napas panjang, oksigen dari masker yang dikenakannya terasa kering di tenggorokan. "Dok, kalau ini bayi nggak langsung keluar, saya bongkar ya meja operasinya!"
Adrian hanya bisa meringis mendengar ancaman istrinya. Bahkan dalam kondisi antara hidup dan mati, jiwa semprul Zeva tidak luntur sedikit pun.
"Sekarang, Nona! Dorong!"
Zeva mengerahkan seluruh tenaganya. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol. Ia tidak berteriak seperti di film-film drama; ia justru mengeluarkan suara geraman rendah yang penuh determinasi, tipe suara yang ia keluarkan saat mencoba membuka baut mesin yang sudah berkarat selama sepuluh tahun.
"Ayo, Zeva! Kau bisa!" seru Adrian, kini benar-benar melupakan citra CEO-nya yang dingin. Ia ikut berkeringat, ikut menahan napas.
"Gue... gue usahain... ini... ini demi... masa depan... Alfarezel!" Zeva kembali mengejan.
Tiba-tiba, sebuah keheningan singkat menyelimuti ruangan, disusul oleh suara yang paling indah yang pernah didengar oleh Adrian dan Zeva seumur hidup mereka.
OEKKKK! OEKKKK!
Tangisan itu pecah. Kencang, nyaring, dan penuh tenaga. Suara itu memenuhi ruang operasi yang dingin, membawa kehangatan yang mendadak membuat air mata Adrian jatuh tanpa bisa dibendung lagi.
"Laki-laki, Nona Zeva. Selamat. Bayinya sangat sehat dan... kuat sekali genggamannya," ujar dokter sambil menunjukkan sosok mungil yang masih kemerahan itu kepada ibunya.
Zeva terkulai lemas di atas bantal, napasnya memburu, namun matanya bersinar terang saat melihat makhluk kecil itu. "Liat tuh, Adrian... dia nangisnya kenceng banget. Pasti kapasitas paru-parunya kayak mesin V8 turbo."
Adrian mencium kening Zeva berkali-kali. "Terima kasih, Zeva. Terima kasih banyak."
Bayi itu diberi nama Kenzo Sanjaya Alfarezel. Nama yang telah disepakati setelah perdebatan panjang selama berbulan-bulan. Kenzo untuk kehormatan, Sanjaya untuk keberanian sang kakek mekanik, dan Alfarezel untuk dinasti yang kini ia miliki di pundak mungilnya.
Dua jam setelah persalinan, di kamar pemulihan, Zeva sudah tampak kembali ke jati dirinya. Meski masih pucat, ia sudah bisa duduk dan mencoba menggendong Kenzo. Adrian duduk di sampingnya, menatap keduanya dengan tatapan pemujaan yang murni.
"Adrian, liat tangannya," bisik Zeva. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke telapak tangan Kenzo yang kecil. Bayi itu langsung menggenggam telunjuk Zeva dengan sangat erat. "Tuh kan! Genggamannya mantap. Ini mah fiks, bakat megang kunci pas nomor sepuluh. Nggak salah lagi."
"Atau bakat memegang stik golf dan pena eksekutif," sahut Adrian, mencoba membela sisi korporatnya.
"Halah, bosen! Biar dia jadi mekanik dulu, baru jadi bos. Biar dia tahu kalau harta Alfarezel itu nggak turun dari langit, tapi dari oli dan keringet," balas Zeva sambil menjulurkan lidah.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk. Ujang masuk dengan sangat hati-hati, membawa sebuah kado besar yang dibungkus kertas koran—gaya khas Ujang.
"Nona... Bos... selamat ya! Ini ada titipan dari anak-anak jalanan Jembatan Merah buat Den Kenzo," ujar Ujang sambil meletakkan kado itu di atas meja.
Zeva membukanya dengan rasa penasaran. Isinya adalah sebuah jaket denim ukuran bayi yang di bagian punggungnya dibordir manual dengan tulisan: "CHIEF MECHANIC JUNIOR - ALFAREZEL DIVISION".
Zeva tertawa hingga perutnya yang baru saja dijahit terasa sedikit nyeri. "Gila! Ini keren banget! Adrian, liat! Kenzo udah punya seragam sebelum dia bisa jalan!"
Adrian tersenyum, meski dalam hatinya ia membayangkan bagaimana reaksi dewan komisaris jika melihat pewaris utama Alfarezel Group memakai jaket denim kumuh di acara peresmian nanti.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, dunia luar tidak berhenti berputar. Siska masuk ke ruangan beberapa saat kemudian dengan raut wajah yang serius. Ia memberikan kode kepada Adrian untuk berbicara di luar, namun Zeva melihatnya.
"Siska, masuk aja. Nggak usah bisik-bisik. Gue pemegang saham mayoritas, inget? Nggak ada rahasia di depan Kenzo," tegas Zeva.
Siska ragu sejenak, lalu mendekat. "Pak, Nona... kami mendeteksi aktivitas mencurigakan di bursa saham pagi ini. Ada pihak yang mencoba melakukan short selling besar-besaran terhadap saham Alfarezel Logistic tepat saat berita kelahiran Kenzo keluar. Mereka mencoba menyebarkan rumor bahwa kesehatan Nona Zeva memburuk dan Adrian kehilangan fokus karena urusan keluarga."
Adrian mengernyit. "Siapa pelakunya? Robert Tan masih di sel, kan?"
"Robert Tan memang di dalam, tapi pengacaranya baru saja bertemu dengan perwakilan dari Consortium Blackwood dari London. Sepertinya mereka ingin mengambil alih pelabuhan kita di Merak selagi kita sedang lengah," jelas Siska.
Zeva mengelus rambut halus Kenzo. Matanya yang tadi lembut kini berubah menjadi tajam sekeras baja. "Jadi mereka mau main pas gue lagi masa nifas? Berani banget ya."
"Zeva, jangan pikirkan ini sekarang. Istirahatlah," ujar Adrian.
"Nggak bisa, Adrian. Kalau pelabuhan Merak kena serang, itu artinya masa depan Kenzo yang diganggu. Dan gue paling nggak suka kalau ada orang yang berani nyentuh piring makan anak gue," sahut Zeva. Ia menatap Adrian. "Bos Robot, lu urus birokrasi di dewan. Gue bakal hubungin anak-anak pelabuhan lewat Ujang. Kita cari tahu siapa agen Blackwood yang ada di lapangan."
"Zeva, kau baru saja melahirkan dua jam yang lalu!" seru Adrian tidak percaya.
"Gue melahirkan lewat perut, bukan lewat otak, Adrian! Otak gue masih bisa lari 200 kilometer per jam!" Zeva menyeringai semprul. "Ujang! Lu denger kan? Cari tahu siapa orang Blackwood yang lagi nongkrong di dermaga Merak. Bilang sama mereka, kalau mereka nggak berhenti, gue bakal kirim Kenzo buat pipisin kontrak mereka!"
Adrian hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Ia tahu, memiliki istri seperti Zeva berarti tidak akan pernah ada kata "istirahat tenang".
Malam tiba di Jakarta. Menara Alfarezel bersinar dengan lampu-lampu biru yang membentuk inisial K.S.A sebagai bentuk penyambutan bagi Kenzo. Di dalam kamar rumah sakit yang kini sudah dipenuhi bunga, Zeva tertidur lelap dengan Kenzo di pelukannya.
Adrian berdiri di balkon kamar, menatap pemandangan kota yang berkilauan. Ia tahu, kehadiran Kenzo bukan hanya melengkapi hidupnya, tapi juga menambah beban tanggung jawab yang luar biasa besar. Ia harus melindungi dua nyawa paling berharga ini dari serigala-serigala yang selalu mengintai di balik bayang-bayang kekuasaan.
Ia masuk kembali ke dalam, menyelimuti Zeva dan mencium kening putranya.
"Selamat datang di dunia yang keras, Kenzo," bisik Adrian. "Ayah akan memastikan kau memiliki kerajaan ini, dan Ibu akan memastikan kau memiliki nyali untuk menjalankannya."
Zeva mengigau pelan dalam tidurnya, "Karburatornya... harus... dibersihin... Adrian..."
Adrian tersenyum. Dinasti Alfarezel mungkin dibangun di atas emas dan beton, tapi jiwanya kini berdenyut di dalam mesin-mesin tua, aspal jalanan, dan cinta seorang mekanik yang tidak pernah mengenal kata menyerah.
Pertarungan baru saja dimulai. Blackwood, dewan komisaris, dan sisa-sisa musuh lama mungkin akan datang menyerbu. Namun dengan Kenzo di antara mereka, sang singa dan sang mekanik memiliki alasan paling kuat di dunia untuk memenangkan setiap peperangan yang ada di depan mata.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan