Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang hilang
Sentuhan Kirana terputus.
Bukan karena dia menarik tangannya
tapi karena sesuatu… mengambilnya lebih dulu.
Gelap.
Bukan gelap yang menakutkan.
Bukan juga yang menenangkan.
Kosong.
Tidak ada retakan.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada siapa-siapa.
Bahkan dirinya sendiri… terasa tidak sepenuhnya ada.
“Kirana.”
Suara itu muncul.
Dekat.
Tanpa arah.
Kirana mencoba membuka matanya
dan untuk sesaat,
dia lupa bagaimana caranya.
Tubuhnya terasa ada,
tapi tidak sepenuhnya miliknya.
Berat.
Ringan.
Bersamaan.
“Kirana.”
Lebih jelas.
Lebih nyata.
Napasnya tersengal
dan
BRUK
Dunia pecah.
Tubuhnya menghantam sesuatu yang keras.
Terlalu keras untuk disebut mimpi.
Dingin.
Nyata.
Udara menyerbu paru-parunya sekaligus,
seperti gelombang yang terlalu besar untuk ditahan.
Dia batuk.
Sekali.
Dua kali.
Berkali-kali.
Lantai.
Kasar.
Dingin.
“…hah…”
Suaranya retak.
Berantakan.
Pelan-pelan, penglihatannya kembali.
Langit-langit.
Putih.
Diam.
Kirana tidak langsung bangun.
Dia hanya menatap ke atas,
seolah pikirannya masih tertinggal jauh di belakang
di tempat yang tidak bisa dia jangkau lagi.
Jantungnya berdetak terlalu cepat.
Seolah dia baru saja lari
dari sesuatu yang tidak punya ujung.
Tangannya bergerak perlahan,
meraba udara kosong
mencari sesuatu yang sudah tidak ada.
Dadanya.
Masih naik turun.
Masih hidup.
Tapi…
Kosong.
Dia menoleh.
Tidak ada Li Wei.
Tidak ada lampion.
Tidak ada sosok itu.
Hanya dirinya.
Sendiri.
Dan itu… lebih menyakitkan dari apa pun.
“Kirana…?”
Suara itu datang dari dunia ini.
Langkah kaki.
Cepat.
Panik.
Pintu terbuka.
Cahaya masuk menyilaukan.
Seseorang berlari mendekat.
Berhenti di sampingnya.
“Kirana! Kirana?”
Tangan hangat menyentuh bahunya.
Mengguncang pelan.
Nyata.
Terlalu nyata.
Kirana menatap wajah itu.
Kabur
lalu perlahan menjadi jelas.
Dunia… benar-benar kembali.
Bibirnya bergerak.
Lama.
Seolah satu kata saja terlalu berat untuk diucapkan.
“…aku…”
Suaranya serak.
Hampir hilang.
Matanya kembali ke langit-langit.
Kosong.
Namun jari-jarinya perlahan menggenggam udara.........
seolah masih mengingat
bentuk tangan yang tadi dia lepaskan.
Air mata jatuh.
Tanpa suara.
“…Li Wei…” sangat lirih.
Nama itu keluar sangat pelan.
Seperti rahasia yang tidak boleh didengar dunia.
Dan untuk pertama kalinya,
Kirana mengerti
dia memang berhasil kembali.
Tapi tidak sepenuhnya.
Bukan tertinggal.
Bukan hilang.
Tapi… dipisahkan.
Seolah dunia memilih
mana yang boleh kembali
dan mana yang harus tetap di sana.
Kelopak matanya terasa berat,
seperti lama tidak digunakan.
Saat akhirnya terbuka,
cahaya putih menusuk.
Dia refleks memejam lagi.
Bukan langit retak.
Bukan lampion.
Lampu.
Langit-langit putih.
Bau antiseptik.
Terlalu bersih.
Terlalu tenang.
Dan justru itu…
terasa salah.
Napasnya tersendat.
Udara terasa asing
seolah paru-parunya lupa cara bernapas
tanpa beban dari dunia sebelumnya.
“Kirana…?”
Suara itu pecah.
Dekat.
Bergetar.
Dia mencoba menoleh.
Lehernya kaku.
Berat.
Wajah itu perlahan masuk ke fokusnya
mata sembab,
rambut berantakan,
lega yang hampir runtuh.
“Kirana, kamu dengar aku? Kamu sadar?”
Sadar.
Kata itu terasa asing.
Seolah yang barusan ia alami
lebih nyata dari ini.
“…aku…”
Infus.
Selang transparan.
Plester di kulitnya.
Detail kecil
tapi paling meyakinkan.
Ini nyata.
“Dokter! Dia bangun Kirana sudah sadar!”
Langkah kaki.
Pintu terbuka.
Suara ramai masuk.
“Tekanan darah stabil.”
“Respon pupil bagus.”
“Kirana, ikuti suara saya.”
“Ini berapa jari?”
Semua terdengar jauh.
Seperti dari balik air.
Pikirannya tertahan di satu hal.
Waktu.
“…berapa lama…?” bisiknya.
Hening sejenak.
“Kamu… sudah tiga hari tidak sadar.”
Tiga hari.
Angka itu jatuh berat.
Karena di kepalanya
itu bukan tiga hari.
Itu jauh lebih lama.
Terlalu lama untuk disebut mimpi.
Potongan-potongan itu masih ada.
Retakan langit.
Lampion yang bergetar.
Dan
Li Wei.
Jantungnya berdebar.
Tiba-tiba.
Tangannya bergerak di atas kasur.
Mencari.
Kosong.
Tidak ada genggaman balasan.
Tidak ada kehangatan.
Hanya seprai dingin.
“…Li Wei…”
“Siapa?”
Kirana tidak menjawab.
Karena di detik itu
ujung jarinya bersentuhan dengan dirinya sendiri.
Dan ada sensasi.
Sangat halus.
Seperti arus tipis
lalu hilang.
Dia diam.
Mencoba lagi.
Tidak ada.
Seolah sesuatu itu hanya muncul
ketika dia tidak mencarinya.
Napasnya berubah.
Lebih dalam.
Lebih sadar.
Matanya beralih ke jendela.
Tirai bergerak pelan.
Cahaya sore masuk lembut.
Tenang.
Normal.
Tidak ada yang retak.
Tidak ada yang salah.
Dan justru itu
membuat dadanya terasa kosong.
“…aneh,” gumamnya.
“Apa yang aneh?”
Kirana tidak langsung menjawab.
Matanya tetap ke luar.
“Kalau sesuatu yang begitu besar terjadi…”
“…tapi dunia tetap berjalan seperti tidak ada apa-apa.”
Tidak ada yang menjawab.
Tidak ada yang mengerti.
Dan mungkin… memang tidak seharusnya.
Kirana menutup matanya.
Dalam gelap
sebuah kilasan muncul.
Cahaya.
Lampion.
Dan seseorang berdiri jauh di sana.
Tidak jelas.
Tapi cukup.
Matanya terbuka lagi.
“Aku kembali,” bisiknya.
Semua orang mengira dia berbicara tentang hidupnya.
Kesadarannya.
Tubuhnya.
Tapi Kirana tahu
itu bukan yang dia maksud.
“Tapi… tidak sepenuhnya.”
Angin masuk dari jendela.
Tirai bergerak.
Pantulan kaca berubah.
Dan untuk sesaat
di antara cahaya dan bayangan
ada sosok lain.
Berdiri diam.
Menghadap ke arahnya.
Kirana tidak bergerak.
Tidak memanggil.
Tidak takut.
Karena sekarang dia tahu
itu bukan mimpi yang tersisa.
Bukan halusinasi.
Itu… seseorang yang tidak ikut kembali
tapi tetap menemukannya.
Dan kali ini
bukan di dunia sana.
Tapi di sini.
Di dunia yang sama dengannya.