Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Misi Pertama
Tiga pekan berlalu seperti air mengalir di sungai bawah tanah.
Arga kini bisa menyelesaikan sesi latihan dengan Sinta tanpa terpental ke lantai. Bukan berarti ia menang—jauh dari itu. Wanita berambut pendek itu masih terlalu cepat, terlalu tajam, terlalu berpengalaman. Tapi setidaknya sekarang Arga bisa bertahan lebih dari dua puluh jurus. Kadang bahkan membalas dengan satu atau dua serangan yang membuat Sinta mengangguk tipis.
Benang Emas di Dantian-nya tetap stabil di sembilan ruas jari. Tidak bertambah panjang, tapi kepadatannya meningkat. Setiap hari, ia belajar mengendalikan energinya dengan lebih presisi. Langkah Bayangan Bulan kini bisa ia gunakan untuk bermanuver di ruang sempit. Cakaran Naga Penghancur bisa ia tahan beberapa detik sebelum dilepaskan, memberinya waktu untuk membidik dengan lebih akurat. Dan Perisai Langit Kesepuluh—teknik andalannya—kini bisa bertahan hingga dua belas detik.
"Kau berkembang cepat," komentar Sinta suatu sore setelah latihan. "Mengerikan, malah."
Arga mengelap keringat di dahinya. "Kau bilang itu seperti pujian, tapi nadamu seperti mengutuk."
Sinta nyaris tersenyum. "Karena aku tidak suka orang yang berkembang terlalu cepat. Biasanya mereka menyembunyikan sesuatu."
"Semua orang di sini menyembunyikan sesuatu. Kau sendiri yang bilang."
Sinta tidak membantah. Ia membereskan pedang kayunya dan berjalan menuju pintu arena. "Darmaji ingin menemuimu. Katanya ada misi."
---
Ruang pertemuan utama lebih ramai dari biasanya. Sekitar dua puluh pemburu berkumpul di sekeliling meja batu, semuanya mengenakan jubah hitam dengan emblem bulan sabit di kerah—tanda bahwa mereka adalah anggota senior. Darmaji berdiri di ujung meja, peta besar terbentang di hadapannya.
"Arga, datanglah." Darmaji melambai. "Ini menyangkut dirimu juga."
Arga mendekat. Di atas peta, ia melihat tanda-tanda yang menunjukkan posisi-posisi di sekitar Hutan Timur dan wilayah sekitarnya. Satu tanda merah mencolok berada di sebuah lembah yang tidak jauh dari markas.
"Tiga hari lalu, salah satu tim patroli kami menemukan jejak aktivitas Lingkaran Naga Hitam di Lembah Batu Tujuh." Darmaji menunjuk tanda merah itu. "Mereka mendirikan kemah di sana. Tidak besar—mungkin lima sampai tujuh orang. Tapi mereka membawa sesuatu. Sebuah peti."
"Peti?" tanya salah satu pemburu.
"Peti berukir simbol-simbol kuno. Tim patroli kami tidak bisa mendekat lebih jauh—penjagaannya terlalu ketat. Tapi mereka sempat melihat simbol utamanya." Darmaji meletakkan secarik kertas di atas meja. Di atasnya, tergambar sebuah simbol yang membuat darah Arga berdesir.
Lingkaran dengan tiga garis bergelombang di dalamnya. Simbol Langit Kesepuluh.
"Aku tahu simbol itu," kata Arga tanpa berpikir.
Semua mata beralih padanya.
Darmaji menatapnya dengan alis terangkat. "Jelaskan."
Arga menimbang sejenak. Ia tidak bisa mengungkapkan semuanya—tidak di depan dua puluh orang yang belum ia percayai sepenuhnya. Tapi ia juga tidak bisa diam.
"Itu simbol dari kitab kuno yang pernah kubaca. Simbol itu mewakili Langit Kesepuluh. Atau lebih tepatnya, mewakili kunci menuju Langit Kesepuluh."
Bisik-bisik memenuhi ruangan. Darmaji mengangkat tangan, dan semuanya diam.
"Kalau begitu, peti itu mungkin berisi sesuatu yang sangat berharga. Atau sangat berbahaya." Ia menatap Arga. "Kau akan ikut misi ini."
"Aku?"
"Kau satu-satunya di sini yang mengenali simbol itu. Dan kau punya... ketertarikan pribadi dengan Langit Kesepuluh, bukan?" Mata Darmaji tajam. "Ini kesempatanmu untuk belajar lebih banyak."
Arga mengangguk. "Siapa yang memimpin?"
"Aku." Sinta melangkah maju dari bayangan. "Aku akan pilih tim. Lima orang, termasuk kau dan aku. Kita berangkat malam ini."
---
Malam itu, lima bayangan hitam bergerak melintasi Hutan Timur.
Sinta memimpin di depan, gerakannya senyap seperti hantu. Di belakangnya, tiga pemburu senior yang dipilihnya—dua pria dan satu wanita—mengikuti dengan disiplin tinggi. Arga berada di posisi tengah, sesuai instruksi Sinta.
"Kau yang paling tidak berpengalaman. Posisi tengah adalah yang paling aman. Jangan melakukan hal bodoh."
Mereka bergerak tanpa bicara, hanya berkomunikasi dengan isyarat tangan. Dua jam berlalu sebelum Sinta mengangkat tangannya—tanda berhenti.
Di depan mereka, di balik pepohonan, cahaya api unggun berpendar. Lembah Batu Tujuh. Dinamai demikian karena tujuh batu raksasa yang berdiri melingkar seperti formasi kuno. Di tengah lingkaran batu itulah kemah Lingkaran Naga Hitam didirikan.
Arga menghitung. Enam orang. Tiga berjaga di perimeter, dua duduk di dekat api unggun, dan satu—seorang pria berjubah abu-abu dengan emblem naga hitam di dadanya—duduk di depan sebuah peti kayu berukir.
Peti itu. Bahkan dari kejauhan, Arga bisa merasakan sesuatu darinya. Getaran halus yang beresonansi dengan liontin di dadanya.
Pecahan lain. Itu pasti pecahan Liontin Langit yang lain.
Sinta memberi isyarat. Dua pemburu senior bergerak ke kiri, satu ke kanan. Sinta sendiri akan maju dari depan. Arga diperintahkan untuk tetap di posisi, mengawasi, dan hanya bergerak jika situasi memburuk.
Mereka menunggu. Satu menit. Dua menit. Saat awan menutupi bulan, Sinta memberi sinyal.
Serang.
Empat bayangan hitam melesat ke dalam lembah. Suara benturan logam dan ledakan energi memecah keheningan malam. Arga melihat Sinta berhadapan dengan pria berjubah abu-abu, pedangnya bertemu dengan tongkat hitam yang mengeluarkan asap beracun.
Tiga penjaga jatuh dalam hitungan detik. Dua di dekat api unggun mencoba melawan, tapi kalah jumlah. Hanya pria berjubah abu-abu yang masih bertahan, dan ia mulai terdesak oleh Sinta.
"AMBIL PETINYA!" teriak Sinta.
Arga bergerak. Langkah Bayangan Bulan membawanya melesat ke tengah lembah. Ia mencapai peti itu dan—
BZZZT!
Penghalang energi. Sentuhannya memicu perangkap yang tidak terlihat. Tapi Arga sudah siap. Ia mengaktifkan Perisai Langit Kesepuluh, dan penghalang itu runtuh saat bersentuhan dengan energi dari Langit Kesepuluh.
Ia membuka peti.
Di dalamnya, di atas bantalan beludru hitam, terbaring sebuah liontin. Bentuknya berbeda dari miliknya—ini berbentuk bulan sabit, bukan lingkaran. Tapi warnanya sama. Ungu gelap. Dan ia berdenyut dengan ritme yang sama.
Pecahan kedua.
Arga meraihnya. Saat jari-jarinya menyentuh liontin itu, seluruh lembah berguncang.
kenangan pertama
hancurkan dia Arga