Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.
Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Gadis yang Tidak Jujur
Jalanan Kota Debu di malam hari adalah perwujudan sejati dari Era Keruntuhan Surga. Di bawah temaram lampion berbahan bakar lemak monster, para kultivator pengembara dan bandit jalanan berbaur dengan pengungsi fana yang kelaparan. Aroma dupa spiritual yang murahan bertarung dengan bau busuk selokan dan keringat.
Zeng Niu dan Bao Tuo berjalan menyusuri Pasar Gelap Distrik Timur, mencari Paviliun Dagang yang rumornya menerima material Yao Aberasi tanpa banyak bertanya.
Bao Tuo, yang kini merasa memiliki harta karun setara kaisar di balik bajunya, berjalan dengan dada sedikit dibusungkan meski matanya tetap melirik ke sana kemari penuh ketakutan. Sementara itu, Zeng Niu melangkah tanpa suara, auranya ditarik ke dalam. Di mata orang lewat, ia hanyalah pengawal fana berpakaian compang-camping yang mengikuti seorang tuan muda gemuk yang jatuh miskin.
Di sebuah persimpangan gang sempit, langkah mereka terhenti oleh kerumunan kecil.
Seorang gadis remaja berusia sekitar lima belas tahun sedang berdiri di atas peti kayu. Ia mengenakan jubah abu-abu kebesaran yang sedikit kotor, rambutnya dikepang dua menyamping, dan wajahnya... sangat polos. Matanya besar dan jernih, memancarkan keprihatinan yang mendalam saat ia menatap seorang kultivator pengembara berwajah kasar di depannya.
"Tuan Besar," ucap gadis itu dengan nada lembut yang menyayat hati, menyodorkan sebuah jimat kayu yang memancarkan cahaya keemasan tipis. "Ini adalah Jimat Penolak Bencana peninggalan kakekku, seorang tetua sekte yang telah tiada. Aku tidak ingin menjualnya, sungguh... tapi adikku sedang sakit keras akibat racun kabut. Untuk tiga keping perak, Tuan bisa selamat dari gigitan Serigala Retak."
Kultivator berwajah kasar itu menatap cahaya jimat tersebut. Ia bisa merasakan fluktuasi elemen cahaya pelindung di sana. Tanpa curiga, ia melempar tiga keping perak dan merebut jimat itu. "Hmph, bocah bodoh. Jimat ini setidaknya bernilai satu Kristal Roh! Kau memang pantas miskin!" kultivator itu tertawa keras dan pergi.
Gadis berwajah polos itu menunduk sedih, memungut kepingan perak itu.
Namun, tepat di saat yang sama, tatapan Zeng Niu menangkap sesuatu yang menarik. Sesaat setelah kultivator itu berbelok di ujung jalan, gadis polos itu mengangkat kepalanya. Kesedihan di wajahnya menguap seketika, digantikan oleh seringai tipis. Matanya yang jernih menyipit, memancarkan kelicikan yang luar biasa.
Di kejauhan, cahaya keemasan pada jimat yang dibawa kultivator tadi meredup, menyisakan sepotong kayu busuk biasa yang dilumuri fosfor.
"Penipu yang berbakat," gumam Zeng Niu datar.
Ia hendak melanjutkan langkah, tidak peduli pada urusan orang lain. Namun, si gadis penipu yang memiliki penciuman setajam anjing pemburu untuk target baru telah mengalihkan pandangannya pada Bao Tuo. Di mata gadis itu, Bao Tuo adalah mangsa yang sangat sempurna: gemuk, terlihat penakut, memiliki kultivasi rendah, dan tampak kebingungan mencari arah.
Dalam sekejap, gadis itu melompat dari peti, menyelinap ke keramaian, dan entah bagaimana sudah muncul dari sebuah gang gelap tepat di depan Bao Tuo, menghalangi jalannya.
"Tuan Muda yang tampan dan gagah!" sapa gadis itu, matanya kembali membulat polos, memancarkan kekaguman palsu. "Melihat langkah Tuan Muda yang mantap, apakah Tuan sedang mencari jalan menuju masa depan yang cerah? Menuju... Akademi Jiannan?"
Bao Tuo, yang belum pernah dipanggil "tampan dan gagah" seumur hidupnya, seketika tersipu. Ia berdehem bangga, melupakan segala peringatan Zeng Niu. "Ehem! Mata fana-mu cukup jeli, Nona kecil. Benar, Tuan Muda ini memang seorang calon jenius akademi."
Gadis itu tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi putihnya. Ia menarik Bao Tuo sedikit ke sudut bayangan gang, lalu setengah membuka jubahnya, memperlihatkan sebuah gulungan perkamen yang memancarkan pendar aksara Dao berwarna biru mistis.
"Namaku Lin Xiaoyu," bisiknya penuh rahasia. "Dan karena kita berjodoh... aku akan menawarkan sesuatu yang tidak ada di Paviliun Dagang mana pun. Ini adalah Peta Jalur Aman & Kisi-kisi Ujian Ilusi Akademi Jiannan. Didapatkan langsung dari mayat seorang pengawas ujian! Tuan Muda bisa lolos tanpa perlu mengeluarkan keringat sepeser pun."
Mata Bao Tuo membelalak. Ia memang sangat takut pada Ujian Ilusi akademi yang terkenal mematikan. Pendaran aksara biru di peta itu tampak sangat nyata, berdenyut dengan ritme Qi yang misterius.
"B-berapa harganya?!" bisik Bao Tuo antusias, tangannya sudah bergerak refleks menuju bagian dalam bajunya tempat cincin ruang penyimpanan itu berada.
"Hanya untukmu, karena kau sangat... berwibawa," Lin Xiaoyu mengedipkan sebelah matanya. "Setengah Kristal Roh kelas rendah."
"Setengah? Murah sekali!" Bao Tuo nyaris melompat kegirangan. Ia merogoh bajunya.
Namun, sebelum jari Bao Tuo menyentuh cincinnya, sebuah tangan sedingin mayat mencengkeram pergelangan tangannya seperti catut besi.
Zeng Niu melangkah keluar dari bayangan, berdiri di antara Bao Tuo dan Lin Xiaoyu. Mata Zeng Niu tidak menatap peta itu, melainkan menatap lurus ke dalam pupil Lin Xiaoyu.
"Aksara biru itu bukan dari tinta spiritual," desis Zeng Niu, suaranya pelan, kering, namun membelah udara seperti belati. "Itu getah lumut Ngarai Ratapan yang bereaksi dengan darah kadal biasa. Fluktuasi Qi-nya bukan berasal dari kertas itu, tapi dari ujung jari telunjuk kirimu yang sedang menyalurkan ilusi elemen cahaya tingkat sangat rendah."
Zeng Niu memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya menyapu leher gadis itu. "Kertas itu adalah kulit domba biasa yang direndam teh busuk agar terlihat kuno. Semuanya sampah."
Suasana gang itu seketika membeku.
Bao Tuo menarik tangannya, wajahnya berubah dari tersipu menjadi marah campur takut. "K-kau mau menipuku?!"
Wajah polos Lin Xiaoyu seketika runtuh. Matanya membulat kesal. Ia mendecakkan lidahnya dengan keras, melipat gulungan peta itu, dan memutar bola matanya. "Hei, hei, jaga bicaramu, orang udik!" protesnya sambil bersedekap, sifat aslinya yang cerewet dan manipulatif meledak keluar. "Aku tidak menipu... aku hanya tidak jujur memberitahu bahan pembuatannya! Seni itu mahal, tahu! Jika ilusi buatanku berhasil membuat hatimu tenang, bukankah harganya sepadan?"
Alasan yang sangat tidak masuk akal itu membuat Bao Tuo ternganga.
Lin Xiaoyu mendengus, bersiap membalas hinaan Zeng Niu. "Dan kau, budak kurus—"
Gadis itu menatap mata Zeng Niu untuk pertama kalinya. Dan seketika, kata-katanya tercekat di tenggorokan.
Dunia ilusi adalah dunia yang mengandalkan manipulasi emosi. Mereka yang berlatih ilusi sangat peka terhadap aura seseorang. Saat Lin Xiaoyu menatap pupil gelap Zeng Niu, ia tidak melihat amarah atau kesombongan seorang kultivator. Ia melihat dasar sumur yang dipenuhi darah. Ia melihat Hutan Kematian yang membisu. Ia melihat seseorang yang tidak akan ragu mematahkan lehernya hanya karena ia dianggap menghalangi jalan.
Insting bertahan hidup Lin Xiaoyu, yang tak kalah hebatnya dari Bao Tuo, menjeritkan bahaya. Bulu kuduknya meremang. Pemuda kurus tanpa fluktuasi Qi ini... jauh lebih mengerikan dari monster mana pun yang pernah ia temui.
Lin Xiaoyu mundur selangkah, menelan ludah. Wajah tengilnya seketika kembali memancarkan kepolosan yang dipaksakan.
"Ah... ahahaha... Tuan ini memiliki wawasan yang setajam mata dewa," tawa Lin Xiaoyu hambar, keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia membungkuk dalam-dalam. "Xiaoyu yang bodoh ini hanya sedang berlatih seni kaligrafi. Mohon... mohon jangan bunuh aku. Aku masih punya hutang di warung pangsit."
Zeng Niu tetap diam, matanya terus mengunci pergerakan gadis itu.
Menyadari bahwa taktik kabur mungkin tidak akan berhasil melawan insting predator di depannya, otak licik Lin Xiaoyu berputar cepat. Ia mengingat kata-kata Bao Tuo. Mereka mencari Akademi Jiannan, dan mereka pasti butuh Paviliun Dagang.
"T-Tunggu!" Lin Xiaoyu mengangkat kedua tangannya menyerah, menampilkan senyum paling jujur yang bisa ia buat (yang masih terlihat licik). "Kalian orang baru, kan? Tuan Gemuk dan... Tuan Pembunuh yang Terhormat. Kalian pasti ingin menjual sesuatu yang berharga dan mencari informasi Akademi Jiannan. Paviliun Dagang resmi akan memotong harga kalian lima puluh persen sebagai pajak pendatang!"
Zeng Niu tidak bergerak, membiarkan gadis itu menyelesaikan kalimatnya.
"Aku... aku adalah agen perantara Pasar Gelap!" Lin Xiaoyu menepuk dada ratanya dengan bangga, kembali mendapat sedikit keberanian. "Jika kalian punya material Yao Aberasi, aku bisa membawa kalian ke bos pelelangan bawah tanah. Tanpa pajak, dan harga dua puluh persen lebih tinggi! Sebagai gantinya, aku hanya minta komisi kecil... dan tolong jangan menatapku seolah kau ingin membedah otakku."
Bao Tuo berbisik di belakang Zeng Niu, "Saudara Niu, gadis ini tukang tipu. Firasatku mengatakan kita akan dirampok jika mengikutinya."
"Aku mendengarmu, babi gendut!" desis Lin Xiaoyu kesal, melempar tatapan tajam, namun kembali menciut saat Zeng Niu meliriknya. "A-aku tidak menipu kalian kali ini! Aku bersumpah demi Dao Surga!"
Zeng Niu menilai gadis di depannya. Lin Xiaoyu adalah ular berbisa kecil; licik, pintar, tapi pengecut di hadapan predator yang lebih besar. Di dunia bawah seperti Kota Debu, seorang pemandu lokal yang memahami kebusukan kota jauh lebih berguna daripada bertanya pada penjaga resmi.
"Tunjukkan jalannya," perintah Zeng Niu datar. "Jika kau membawa kami ke jebakan, aku tidak akan marah."
Zeng Niu memajukan wajahnya sedikit, membiarkan aura Penempatan Tubuh Tahap 4-nya menyapu leher gadis itu seperti embusan pisau es. "Aku hanya akan memastikan kau masih hidup saat aku menguliti wajahmu."
Lin Xiaoyu menelan ludah kasar, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan mengangguk kaku. "B-baik, Tuan. Lewat sini. Tiba-tiba aku merasa sangat jujur hari ini."
Dengan patuh, Gadis Tukang Tipu itu berbalik dan memimpin jalan.