Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Aku diam, sama seperti 10 tahun pernikahan ku dengan Mas Ivan yang sekarang ini aku jalani. Aku hanya bisa diam dengan selalu membungkam mulut ku sendiri.
Mas Ivan terlihat menjawab dengan santai semua pertanyaan yang sekarang ini di tanyakan oleh semua keluarganya.
Ntah kenapa Mas Ivan bisa sesantai itu, kala mengatakan semua hal bohong yang memang tidak terbukti kenyataannya.
Aku masih menatap wajah Mas Ivan dengan tatapan nanar. Aku tak menyangka, benar benar tidak menyangka, jika Mas Ivan setega itu mengarang sebuah cerita yang sungguh sangat menyudutkan ku.
Kenapa aku harus menatap wajah Mas Ivan dengan tatapan nanar dan juga kaget? Bukan kah selama ini dia memang begitu? Atau aku yang terlalu munafik, karena menolak semua fakta itu.
"Rena, ini susui dulu anakmu, kelihatannya dia sangat haus," ucap ibu mertuaku dengan nada yang sangat halus dan juga lembut kepadaku.
Tangan keriputnya sekarang ini juga sedang meremas pundakku dengan sangat lembut.
Walaupun Mas Ivan menceritakan hal buruk tentangku, dan bisa mempengaruhi pemikiran semua keluarga besarnya, tapi sepertinya karangan cerita Mas Ivan tentang ku, tidak bisa mempengaruhi pemikiran bapak dan juga ibu mertuaku.
Mereka tetaplah baik kepadaku, aku melihat ke arah anakku yang sudah di mandikan oleh mertuaku.
Mertuaku terlihat memasang senyuman ke arah ku.
Walaupun datang langsung memandikan cucunya, mertuaku tidak marah kan. Ini adalah salah satu alasan aku mempertahankan pernikahan ini dengan Mas Ivan? Alasan lain selain Reyhan.
Lidahku kelu, hanya untuk mengucapkan sepatah kata. Aku takut jika memaksa untuk berucap, aku pasti akan menangis tersedu sedu.
Aku memilih menjawab ucapan ibu mertuaku itu dengan sebuah anggukan patuh, walaupun disertai dengan air mata yang menetes dari kedua pelupuk mataku.
Aku sudah tidak memperdulikan kata kata yang keluar dari mulut Mas Ivan, aku memilih membuat telinga ku itu tuli.
Semakin di dengar, bukankah malah akan menambah luka di hatiku ini semakin menganga.
"Nak, kenapa menangis? Apa Ivan menyakitimu?" Pertanyaan dari mertua ku, seketika membuat lamunanku buyar.
"Eh enggak Buk, mungkin Renata hanya kelilipan. Sini biar Reyhan Renata susui," ujar ku sembari memberikan sebuah kode untuk ibu mertuaku, agar menyerahkan Reyhan kepadaku.
Ibu mertuaku malah duduk di sofa tepat sebelahku, lalu menyerahkan Reyhan dengan sangat hati hati.
"Reyhan anak ibu, sini sayang. Reyhan kangen sama ibu ya," goda ku pada anakku, sembari memasang wajah lucu untuk membuat anakku itu senang dan tertawa.
Reyhan berbicara dengan nada yang tidak jelas.
Dengan pipi gembul seperti bakpao, dan kulit seputih salju, Reyhan tersenyum dan tertawa ke arahku.
Walaupun sekarang hatiku dalam keadaan remuk redam dan juga hancur, tapi bukankah seorang ibu harus menahan semua penderitaannya, menahan tangis air matanya, di depan anaknya. Dengan tujuan anaknya itu tidak ikut sedih dan juga tidak ikut hancur seperti ibunya. Dulu pesan ini yang selalu dikatakan oleh almarhumah ibuku.
Aku pun memilih untuk segera menyusui anakku, karena wajah Reyhan terlihat benar benar kehausan.
Jika menyebut kata ibu. Aku malah jadi teringat dengan almarhumah ibuku. Jika mengingat tentang ibuku itu, aku sangat lah sedih, aku merasa sangat berdosa kepadanya.
Maafin Rena ya Buk, karena Rena udah menjual rumah peninggalan ibu dan juga bapak, rumah itu adalah bukti dari perjuangan kalian berdua dalam bekerja keras untuk mencari uang. Dulu ibu dan bapak susah payah membeli tanah dan bekerja keras. agar bisa membangun rumah itu. Tapi aku malah dengan kurang ajar menjualnya setelah kalian berdua tiada. Bukan kah itu harusnya menjadi rumah kenangan untuk kita.
"Maafin nenek ya sayang, tadi tidur main nenek bangunin saja ya," tutur ibu mertuaku sembari memainkan jari jemari mungil milik Reyhan.
Ucapan ibu mertuaku benar benar membuyarkan lamunanku tentang ibu.
"Iya gak papa nenek, memang waktunya Reyhan untuk bangun," ucapku dengan nada anak kecil, untuk membalas ucapan ibu mertuaku. Aku memaksakan bibir ku untuk melengkungkan seulas senyum.
"Rena, jika memang ada sesuatu tentang Ivan yang ingin kamu ceritakan dengan ibu. Bicara saja gak papa sayang, ibu itu kasihan melihat mu seperti orang tertekan sayang, ibu itu menganggap mu sebagai anak kandung ibu sendiri. Bahkan kasih sayang ibu dan juga bapak untuk mu itu sama dengan kasih sayang kamu untuk Ivan.
Ibu tahu ... kalau sekarang kamu tidak punya siapa siapa lagi untuk berkeluh kesah, kamu bisa menceritakan semuanya sama ibu," ucap ibu mertuaku, sembari memegang tanganku.
Jujur, mendengar ucapan ibu mertuaku malah membuatku bingung dan juga dilema.
"Ee ... begini buk sebenarnya --" ucapan ku terhenti kala Mas Ivan malah menarik tangan ibu mertuaku, dia juga memaksa ibunya itu untuk bangun dari duduknya.
"Van apaan sih? Kan ibu lagi bicara sama Renata," pekik ibu mertuaku dengan nada kesal ke arah anaknya.
"Sekarang semua saudara sudah benar benar terkumpul buk, ayo kita mulai acaranya. Dan uang itu bisa segera serahkan pada yang akan di beri," ucapan Mas Ivan yang masih terdengar jelas di telingaku.
"Rena ibu kesana dulu ya. Bicaranya kita sambung lagi nanti, okey!" ucap ibu mertuaku dengan sebuah senyuman ke padaku, dan sebuah kode tangan saat mengatakan kata 'okey'.
"Iya Bu," jawab ku sembari mengangguk patuh.
Ibu mertuaku akhirnya bangkit dari duduknya, sembari memasang wajah kesal ke arah anaknya. Karena Mas Ivan dari tadi terus menerus menarik tangan ibunya yang sedang duduk, guna mamaksanya bangun.
Kini percakapan antara ibu dan anak itu sudah tidak terdengar di telinga ku.
Kedua mertua ku terlihat berdiri di bagian paling depan di ruang tamu, berdekatan dengan pintu masuk.
Sementara aku, sekarang ini duduk di atas sofa yang lumayan jauh, dari posisi Mas Ivan dan ke dua orang tuanya.
Aku menguap berkali kali, lelah, capek dan juga lapar. Aku memutar tubuh Reyhan, untuk membenarkan posisinya, untuk dia menyusu di ASI ku yang satunya. Karena air ASI yang di minum Reyhan saat ini terasa sudah kosong.
Reyhan terlihat masih lapar, tapi dia tidak pernah sama sekali rewel. Seakan dia itu tahu, bagiamana penderitaan yang ibunya alami.
Lamat lamat aku mendengar mertuaku mengucapkan perihal penjualan tanah, tapi apalah dayaku. Bukan kah sekarang ini aku sudah tidak punya apa apa.
Dulu penjualan rumah mendiang ke dua orang tuaku, juga sudah habis. Selain di buat DP untuk rumah ini, sisa uangnya di pinjam oleh ke dua Mertuaku.
Iya dipinjam tapi demi Allah, aku sudah mengikhlaskan nya. Pandangan mataku lama kelamaan kabur, rasa sakit di perutku juga sudah tidak sanggup untuk tubuhku ini menahannya lagi.
Padahal tadi rasanya sakit di perutku ini sudah menghilang. Kenapa sekarang muncul lagi? Dan akhirnya gelap, hanya kegelapan yang saat ini terlihat didalam pandangan mataku.
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
dasar suami lucknut 😡😡