Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Ingin Kau Bergabung Denganku
Hari berganti hari. Setelah malam itu, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Tidak ada lagi pesta besar, tidak ada lagi tatapan dari para tokoh penting. Hanya rutinitas sederhana… namun justru terasa lebih tenang.
Pagi ini, matahari baru saja naik ketika Gao Rui sudah berada di halaman penginapan. Udara pagi masih sejuk. Embun tipis masih menempel di dedaunan. Di tengah halaman yang luas itu, Gao Rui berdiri dengan pedang di tangannya. Tanpa banyak berpikir, ia mulai bergerak.
Tubuhnya lincah. Kakinya berpindah ringan, sementara pedangnya menari mengikuti alur gerakan. Tebasan demi tebasan dilancarkan dengan rapi. Sesekali ia berhenti sejenak, lalu mengulang jurus yang sama, memperbaiki posisi, memperhalus aliran tenaganya. Gerakannya tidak berlebihan… tapi cukup menunjukkan bahwa ia tidak berlatih asal-asalan.
Di tempat yang tidak jauh dari sana, Bai Kai berdiri dengan tangan bersedekap. Ia memperhatikan dalam diam. Tatapannya tajam, namun tidak mengganggu. Ia tidak berniat menghentikan atau memberi arahan. Baginya, saat seperti ini adalah waktu bagi Gao Rui untuk mengenal dirinya sendiri.
Beberapa saat berlalu. Akhirnya, Gao Rui menghentikan gerakannya. Napasnya sedikit memburu. Keringat mulai membasahi pelipis dan lehernya. Ia menurunkan pedangnya perlahan.
“…cukup,” gumamnya pelan.
Rasa lelah mulai terasa di tubuhnya, meski tidak berlebihan. Ia mengangkat tangan, mengusap keringat di wajahnya.
Tidak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Bai Kai berjalan ke arahnya, membawa sebuah kendi kecil di tangannya. Tanpa banyak bicara, ia mengulurkan kendi itu. Gao Rui sedikit terkejut, lalu menerimanya.
“Terima kasih,” ucapnya tulus.
Ia langsung membuka penutupnya dan minum beberapa teguk. Airnya dingin dan segar, membuat tenggorokannya terasa lega. Setelah itu, ia menurunkan kendi dan menatap Bai Kai.
“Bibi… sudah berangkat ke toko?” tanyanya.
Bai Kai mengangguk ringan.
“Sudah, Tuan Muda. Sejak pagi.”
Gao Rui mengangguk pelan. Tidak terlalu terkejut. Ia sudah cukup mengenal kebiasaan Lan Suya yang jarang berdiam diri.
Keduanya kemudian berdiri santai di halaman itu. Percakapan ringan mulai mengalir. Dari latihan barusan, hingga hal-hal kecil yang tidak terlalu penting. Suasana terasa santai, tanpa tekanan.
Namun… tiba-tiba, langkah kaki lain terdengar dari arah depan mereka. Keduanya menoleh bersamaan. Seorang pria paruh baya berjalan masuk dengan langkah mantap. Pakaiannya rapi dan berkelas. Wajahnya tenang, namun menyimpan wibawa seorang pemimpin.
Begitu melihat Gao Rui, pria itu langsung tersenyum. Gao Rui sedikit mengernyit… lalu matanya melebar saat menyadari siapa yang datang. Cao Ren, Pemimpin Rumah Dagang Naga Emas. Ia berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Sungguh kebetulan,” ucapnya dengan nada ramah. “Aku tidak menyangka bisa bertemu Tuan Muda Gao Rui sepagi ini.”
Senyumnya tipis… namun jelas menyimpan maksud tertentu.
Gao Rui menatap pria di hadapannya beberapa saat. Tatapannya tenang, namun di balik itu pikirannya bergerak cepat. Ia tahu… ini bukan kebetulan.
Seorang seperti Cao Ren tidak mungkin datang ke penginapan ini hanya untuk berjalan-jalan pagi. Terlebih lagi, langsung menemukannya di halaman belakang. Terlalu tepat… terlalu disengaja.
Namun, Gao Rui tidak membahasnya lebih jauh. Wajahnya tetap tenang, seolah menerima situasi itu apa adanya.
Di sisi lain, Bai Kai tampak tidak menyembunyikan ketidaksukaannya. Tatapannya mengeras saat memandang Cao Ren.
“Mau apa kau kemari?” ucapnya dingin, tanpa basa-basi.
Cao Ren tidak tersinggung. Ia justru tertawa kecil, seolah sikap Bai Kai hanyalah hal biasa baginya.
“Kebetulan aku berada di sekitar sini,” jawabnya santai. “Dan karena itu, aku ingin berbincang sebentar dengan Tuan Muda Gao Rui.”
Bai Kai mendengus pelan. Tatapannya beralih ke Gao Rui, seolah berharap tuan mudanya itu menolak. Ia tahu betul seperti apa Cao Ren dan ia tidak ingin ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Namun Gao Rui justru membuka suara.
“Apa yang ingin kau bicarakan di sini, Tuan Ren?” tanyanya tenang.
Cao Ren tersenyum tipis. Tanpa menunggu dipersilakan, ia langsung melangkah maju dan duduk di kursi kayu yang ada di dekat mereka, seolah tempat itu memang miliknya.
“Ini pembicaraan yang sangat penting,” katanya perlahan.
Lalu, matanya melirik ke arah Bai Kai… sebelum kembali pada Gao Rui.
“…tapi, bisakah kita bicara empat mata saja?”
Suasana seketika menjadi sedikit tegang. Gao Rui terdiam. Ia menatap Cao Ren dalam-dalam, mencoba membaca maksud di balik permintaan itu. Banyak kemungkinan melintas di pikirannya. Tidak satu pun yang bisa dianggap ringan. Sementara itu, Bai Kai langsung mengerutkan kening. Jelas ia tidak menyukai arah pembicaraan ini.
Beberapa saat berlalu. Akhirnya, Gao Rui menghela napas pelan… lalu mengangguk.
“Senior Kai, menjauhlah sebentar,” ucapnya.
Bai Kai langsung menoleh cepat. Wajahnya menunjukkan penolakan yang jelas.
“Tuan Muda, tapi....”
“Tidak apa-apa...” potong Gao Rui dengan suara tenang, namun tegas.
Bai Kai terdiam. Rahangnya mengeras. Ia ingin membantah namun pada akhirnya, ia menundukkan kepala sedikit.
“…baik.”
Dengan langkah berat, ia mundur menjauh. Namun ia tidak benar-benar pergi. Ia berhenti di jarak tertentu, cukup jauh untuk tidak mendengar percakapan, namun cukup dekat untuk tetap mengawasi. Tatapannya tidak pernah lepas dari Cao Ren.
Setelah Bai Kai menjauh, suasana menjadi lebih sunyi. Hanya tersisa Gao Rui dan Cao Ren di halaman itu. Gao Rui akhirnya kembali membuka suara.
“Apa yang ingin kau bicarakan, Tuan Ren?” tanyanya langsung.
Cao Ren tidak segera menjawab. Ia justru menatap Gao Rui cukup lama, seolah sedang menilai sesuatu yang lebih dalam dari sekadar penampilan luar. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang lebih serius.
“Kau… jauh lebih menarik dari yang kuduga,” katanya pelan.
Ia bersandar sedikit ke kursinya.
“Dan karena itu… aku tidak ingin membuang waktu dengan basa-basi.”
Cao Ren sedikit condong ke depan. Suaranya diturunkan, namun setiap katanya terdengar jelas.
“Aku ingin kau meninggalkan Harta Langit.”
Kalimat itu jatuh begitu saja… namun terasa berat seperti batu. Angin pagi masih berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan di sekitar mereka. Namun suasana di antara keduanya… berubah drastis.
Gao Rui tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tenang, seolah kalimat barusan hanyalah percakapan biasa. Namun di dalam benaknya, ia sudah memastikan satu hal, tujuan Cao Ren datang ke tempat ini memang hanya untuk dirinya.
Cao Ren melanjutkan, suaranya tetap rendah namun penuh keyakinan.
“Aku ingin kau bergabung dengan Rumah Dagang Naga Emas milikku.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar kata-katanya benar-benar meresap.
“Dengan bakatmu, berada di bawah Harta Langit terlalu sempit untukmu.”
Gao Rui masih diam. Cao Ren kemudian tersenyum tipis… sebelum mengeluarkan tawaran yang lebih berat.
“Aku tidak akan memperlakukanmu seperti bawahan biasa,” lanjutnya. “Jika kau mau bergabung… aku akan memberimu sepuluh persen kepemilikan saham di Rumah Dagang Naga Emas.”
Angin seolah berhenti sesaat. Sepuluh persen. Bagi banyak orang, itu adalah angka yang bahkan tidak berani mereka impikan. Itu bukan sekadar posisi… itu kekuasaan.
Di kejauhan, Bai Kai yang memperhatikan dari jauh sedikit mengernyit. Meski tidak bisa mendengar percakapan, ia bisa merasakan suasana yang berubah.
Sementara itu, Gao Rui akhirnya mengangkat sedikit kepalanya. Senyum tipis muncul di wajahnya. Namun senyum itu… bukan karena tergoda.
Cao Ren memperhatikan ekspresi itu dengan seksama. Dalam pikirannya, ia sudah menyusun kesimpulan sendiri.
Ia mengira… Harta Langit milik Lan Suya telah “mengikat” Gao Rui setelah bocah itu menjadi juara dalam kompetisi bela diri murid sekte. Wajar saja, bakat seperti itu pasti akan dipertahankan dengan segala cara.
Ia tidak pernah berpikir… bahwa sebelum semua itu terjadi, Gao Rui sudah menjadi bagian inti dari Harta Langit. Bahwa kepemilikan saham Gao Rui bukanlah hasil tawaran Lan Suya.
Melainkan… sesuatu yang diberikan oleh gurunya sendiri. Seseorang yang diam-diam membeli bagian dari Harta Langit… lalu membaginya kepada dirinya. Hal itu… bahkan tidak pernah terlintas di benak Cao Ren.
Gao Rui akhirnya membuka suara.
“Penawaran yang besar,” ucapnya pelan.
Ia menatap langsung ke mata Cao Ren.
“Terima kasih untuk itu.”
Cao Ren tersenyum tipis, merasa ia telah berada di jalur yang benar. Namun Gao Rui menggeleng pelan.
“Maaf, Tuan Ren,” lanjutnya tenang. “Aku tidak tertarik.”
Jawaban itu datang tanpa ragu. Tanpa jeda. Tanpa sedikit pun tanda penyesalan.
Senyum di wajah Cao Ren perlahan menghilang. Untuk pertama kalinya sejak ia datang… matanya menyipit sedikit. Ia benar-benar tidak menyangka penolakan itu akan datang secepat ini.
“…kau yakin?” tanyanya pelan.
Gao Rui tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum tipis. Dan itu sudah cukup sebagai jawaban.
Cao Ren terdiam beberapa saat. Lalu… ia menghela napas ringan.
“Sepertinya… aku meremehkan posisimu di Harta Langit,” katanya.
Namun, alih-alih menyerah, matanya justru kembali bersinar tipis.
“Kalau begitu… mungkin tawaranku memang kurang besar.”
Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Nada suaranya menjadi lebih dalam.
“Lima belas persen.”
Kali ini, tidak ada jeda dramatis. Ia langsung menatap tajam ke arah Gao Rui.
“Bergabunglah denganku… dan itu semua akan menjadi milikmu.”
Suasana kembali hening. Namun berbeda dari sebelumnya… kini, bahkan angin pun terasa seolah menahan napas, menunggu jawaban dari seorang pemuda yang… tampaknya tidak semudah yang orang lain kira.
keyakinan
kekuatan
kekayaan
populeritas...
sampai saat ini masih pemegang rangking pertama.
tanda hadir aja keanya...
wkwkwkwkkkk