Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Darah dan Tulang Kedua
Tujuh hari berlalu di Hutan Bisu.
Xiao Chen menemukan ritme. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia duduk bersila dan melakukan Pernapasan Tulang—teknik dasar yang ia pelajari dari gulungan di Ruang Warisan. Udara hutan yang kaya akan energi liar mengalir ke dalam retakan-retakan tulangnya, memperkuat fondasi yang sudah ada.
Setelah itu, ia berlatih Jurus Pedang Tanpa Nama bersama Yue Que. Seribu ayunan setiap hari. Tidak kurang. Yue Que tidak pernah memuji, tapi protesnya semakin sedikit—itu tanda yang cukup bagi Xiao Chen.
Sore hari, ia menjelajahi hutan bersama Hui, mempelajari medan, mengenali jejak binatang buas, dan kadang-kadang berburu untuk makan. Daging binatang roh tingkat rendah yang ia panggang di atas api unggun terasa lebih nikmat daripada hidangan apa pun yang pernah ia makan sebagai pelayan.
Malam hari, ia masuk ke Ruang Warisan, membaca gulungan-gulungan kuno, mempelajari sejarah Ras Dewa Patah, dan kadang-kadang berbicara dengan sisa kesadaran Leluhur Pertama.
Tujuh hari. Dan Xiao Chen merasakan perbedaan.
Tulang rusuknya yang patah sudah pulih sepenuhnya. Bahkan, retakan di sana sekarang terasa seperti bagian alami dari tubuhnya—seperti sungai yang sudah menemukan jalurnya. Energi Chaos mengalir lebih lancar. Tubuhnya lebih ringan, lebih kuat, lebih... hidup.
Tapi ada satu hal yang mengganggunya.
"Kau sudah mencapai batas Lapis Pertama," kata Yue Que suatu pagi, saat Xiao Chen baru menyelesaikan seribu ayunan pedang. "Tulang dadamu sudah bangkit sepenuhnya. Retakan di tulang rusukmu sudah stabil. Tapi kau tidak akan maju lebih jauh tanpa membangkitkan tulang berikutnya."
Xiao Chen menyeka keringat di dahinya. "Tulang punggung."
"Ya. Lapis Kedua: Membangkitkan Tulang Punggung. Punggung menjadi naga. Tubuh menjadi gunung."
Xiao Chen teringat kata-kata Leluhur Pertama di Ruang Warisan. Untuk mencapai Lapis Kedua, ia harus mematahkan tulang punggungnya sendiri.
"Kau yakin tidak ada cara lain?"
"Ras Dewa Patah tidak mencari jalan mudah. Kami mencari jalan yang berhasil."
Xiao Chen menghela napas. Ia duduk di atas batu datar dekat gua, Yue Que di sampingnya, Hui di kakinya. Matahari pagi menyaring melalui dedaunan, menciptakan pola cahaya yang menari-nari di tanah.
"Kalau aku gagal?"
"Lumpuh. Atau mati."
"Kau sungguh pandai memberi semangat."
"Aku pedang. Bukan penyair."
Xiao Chen tertawa kecil. Tawa yang terdengar asing bahkan di telinganya sendiri. Sudah berapa lama sejak terakhir kali ia tertawa? Sebelum dilempar ke jurang, mungkin. Sebelum Zhao Ling'er memutuskan pertunangan. Sebelum semua ini.
Ia menatap langit yang terpotong-potong oleh kanopi hutan.
"Aku akan melakukannya," katanya akhirnya. "Tapi tidak sekarang. Aku butuh persiapan."
"Bijak. Orang bodoh akan langsung mencoba dan mati. Kau mulai belajar."
---
Sementara itu, di Sekte Langit Pedang, sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Jurang Naga Pemakaman berubah.
Kabut racun ungu yang menjadi ciri khas jurang itu—kabut yang membuat tempat itu menjadi kuburan massal selama ratusan tahun—perlahan menghilang. Setiap hari semakin tipis. Murid-murid yang kebetulan lewat mulai bisa melihat dasar jurang untuk pertama kalinya.
Dan yang mereka lihat... mengerikan.
Tumpukan tulang belulang. Ratusan, mungkin ribuan. Sisa-sisa murid yang dibuang, binatang buas yang jatuh, dan entah apa lagi. Tapi tidak ada tanda-tanda Xiao Chen. Tidak ada mayat. Tidak ada sisa pakaian. Seolah-olah ia lenyap ditelan bumi.
Tetua Ma mendengar laporan itu suatu sore, saat ia sedang minum teh di paviliun pribadinya. Murid yang melapor—seorang pemuda kurus dengan mata gelisah—berdiri gemetar di hadapannya.
"Tetua... kami sudah memeriksa dasar jurang. Tidak ada mayat pelayan itu."
Tetua Ma meletakkan cangkir tehnya. "Mungkin dimakan monster."
"Itulah masalahnya, Tetua. Monster juga tidak ada. Serigala Bumi Beracun yang biasanya bersarang di sana... menghilang."
Sesuatu berdesir di hati Tetua Ma. Bukan takut. Tapi... tidak nyaman. Seperti ada serangga kecil yang merayap di bawah kulitnya.
"Dan kabut racunnya?" tanyanya.
"Menghilang, Tetua. Setiap hari semakin tipis. Para murid bilang... sepertinya ada sesuatu di bawah sana yang menyerapnya."
Tetua Ma terdiam. Ia menatap cangkir tehnya, melihat bayangan wajah tuanya di permukaan cairan kecokelatan.
Xiao Chen. Pelayan sampah itu.
Ia ingat pagi itu. Tamparannya di pipi Xiao Chen. Tubuh kurus yang terlempar ke jurang. Mata kosong yang menatapnya tanpa amarah, tanpa ketakutan.
"Kalau dia masih hidup..." pikir Tetua Ma. "...tidak mungkin. Tidak ada yang selamat dari Jurang Naga Pemakaman."
Tapi perasaan tidak nyaman itu tidak hilang.
"Perintahkan beberapa murid untuk berpatroli di sekitar Hutan Bisu," katanya akhirnya. "Kalau ada tanda-tanda keberadaan seseorang... laporkan padaku. Jangan pada yang lain. Hanya padaku."
Murid itu membungkuk dan pergi.
Tetua Ma meneguk tehnya. Sudah dingin.
Hari kesepuluh di Hutan Bisu.
Xiao Chen berdiri di depan gua, telanjang dada. Tubuhnya yang dulu kurus dan lemah kini mulai menunjukkan perubahan. Otot-otot tipis mulai terbentuk di lengan dan perutnya. Bukan otot besar seperti petarung kasar, tapi otot ramping seperti kawat baja yang terlatih.
Di dadanya, simbol Tulang Patah Surga terlihat jelas—retakan keemasan yang membentuk pola seperti bintang pecah. Dan di sepanjang tulang rusuknya, garis-garis redup mengikuti jalur retakan yang sudah pulih.
"Kau sudah siap?" tanya Yue Que.
Xiao Chen tidak menjawab. Ia malah menatap Hui yang duduk di samping gua. "Hui, kalau aku mati... kau bebas. Kembalilah ke jurang atau pergi ke mana pun kau mau."
Hui menggeram rendah. Tidak setuju.
Xiao Chen tersenyum tipis. Lalu ia masuk ke dalam gua.
Di sana, di depan altar batu tempat ia menemukan Yue Que, ia duduk bersila. Punggungnya tegak. Matanya terpejam.
"Patahkan tulang punggungmu sendiri," suara Leluhur Pertama bergema di benaknya. "Tapi jangan asal patah. Kau harus mematahkannya di titik yang tepat. Titik di mana Energi Chaos dari tulang dada bisa mengalir ke bawah, menyatu dengan tulang punggung, dan naik ke atas hingga ke tengkorak. Satu kesalahan... dan kau tidak akan pernah berdiri lagi."
Xiao Chen menarik napas dalam-dalam. Energi Chaos di tulang dadanya berkumpul, berputar, menunggu perintah.
Ia ingat Zhao Ling'er. Wajahnya yang dingin. Kata-katanya yang memutuskan pertunangan.
Ia ingat Wei Tianxing. Senyumnya yang puas. Tangannya yang mendorongnya ke jurang.
Ia ingat Tetua Ma. Tamparannya. Hinaannya.
"Sampah memang sampah."
Xiao Chen membuka mata. Di dalam matanya, ada cahaya keemasan yang sama dengan simbol di dadanya.
"Aku bukan sampah," bisiknya.
Lalu ia menggerakkan Energi Chaos-nya.
Bukan ke luar. Tapi ke dalam. Ke tulang punggungnya sendiri.
KRRRRRRRKKKKK!
Suara itu mengerikan. Seperti ranting kering yang dipatahkan, tapi diperbesar seribu kali. Xiao Chen merasakan tulang punggungnya—dari tepat di bawah leher hingga ke pinggang—retak.
Bukan retak patah yang menghancurkan. Tapi retak terkendali. Retak yang ia ciptakan sendiri, di titik-titik yang tepat, mengikuti jalur yang ia tentukan.
Satu retakan. Dua. Tiga. Empat. Lima.
Setiap retakan membawa rasa sakit yang tidak bisa digambarkan. Seperti tulangnya dibor dari dalam, lalu diisi dengan logam cair mendidih. Xiao Chen menggigit bibirnya hingga berdarah. Keringat mengucur deras dari seluruh tubuhnya. Tangannya mengepal erat, kuku menancap di telapak tangan.
Tapi ia tidak berhenti.
Retakan keenam. Ketujuh. Kedelapan.
Di retakan kesembilan—tepat di tulang ekor—sesuatu terjadi.
Energi Chaos dari tulang dadanya mengalir turun, memasuki retakan-retakan di tulang punggungnya, mengisi setiap celah dengan cahaya keemasan. Dari tulang ekor, energi itu berbalik naik, melewati setiap ruas tulang punggung, semakin cepat, semakin kuat, hingga mencapai dasar tengkoraknya.
DUG!
Satu detak. Seperti petir yang menyambar dari dalam.
Xiao Chen merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Tulang punggungnya... hidup. Bukan lagi sekadar rangkaian tulang mati yang menopang tubuh. Tapi sebuah naga tidur yang baru saja membuka matanya.
Cahaya keemasan meledak dari punggungnya, menerangi seluruh gua. Hui yang menunggu di luar melolong panjang. Yue Que di samping Xiao Chen bergetar hebat, memancarkan cahaya perak sebagai jawaban.
Dan di Ruang Warisan, di dalam cincin hitam, sisa kesadaran Leluhur Pertama tersenyum.
"Akhirnya... Lapis Kedua."
---
Xiao Chen membuka mata.
Ia masih di gua. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat dan darah. Tapi ia tidak merasa lemah. Justru sebaliknya. Ia merasa... penuh. Seperti gunung yang baru saja terbentuk, kokoh dan tak tergoyahkan.
Perlahan, ia berdiri.
Tulang punggungnya menopangnya dengan sempurna. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada kelumpuhan. Hanya kekuatan yang mengalir dari pangkal punggung hingga ke ubun-ubun.
Xiao Chen mengepalkan tangan. Retakan di tulang rusuknya menyala. Retakan di tulang punggungnya menyala. Dan di antara keduanya, Energi Chaos mengalir seperti sungai yang bertemu lautan.
Ia menatap Yue Que. Pedang patah itu kini terasa lebih ringan di tangannya. Lebih... menyatu.
"Jurus Pertama," kata Yue Que. "Coba lagi."
Xiao Chen mengangguk. Ia keluar dari gua, berdiri di bawah langit malam yang dipenuhi bintang. Hui menatapnya dengan mata merah yang berbinar.
Ia mengangkat Yue Que ke atas kepala. Tulang dada bernapas. Tulang punggung bernapas. Tulang rusuk bernapas.
Dan ia mengayunkan pedang.
SWOOOOOOOOSH!
Angin malam terbelah. Bukan hanya daun—tapi udara itu sendiri. Sebuah gelombang tak terlihat melesat dari bilah Yue Que, menghantam pohon di hadapannya.
DUK! DUK! DUK!
Tiga pohon berturut-turut tumbang. Batangnya terbelah sempurna, seolah dipotong oleh pedang raksasa yang tidak terlihat.
Xiao Chen berdiri terpaku, napas tersengal. Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena ia baru saja melakukan sesuatu yang tiga belas hari lalu tidak mungkin ia lakukan.
"Lumayan," kata Yue Que. "Untuk pemula."
Xiao Chen tertawa. Kali ini lebih keras. Lebih bebas.
Di kejauhan, di batas Hutan Bisu, tiga murid Sekte Langit Pedang yang sedang berpatroli mendengar suara pohon tumbang. Mereka saling pandang.
"Suara apa itu?"
"Aku tidak tahu. Tapi... sebaiknya kita periksa."
Mereka melangkah masuk ke dalam hutan.