[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amplop Itu Lebih Ringan dari Seharusnya
Mati itu ternyata melelahkan. Apalagi mati setelah seumur hidup bekerja sendirian, menggadaikan waktu muda demi setumpuk laporan keuangan yang bahkan tidak ada yang berterima kasih. Olyvia Arabella ingat betul hembusan napas terakhirnya di ranjang rumah sakit berwarna putih pucat. Tidak ada keluarga yang menunggui. Tidak ada kekasih yang menggenggam tangan. Hanya suara detak monitor jantung yang akhirnya berubah menjadi garis datar dan sunyi.
Lalu, tiba tiba, ia mendengar suara dentingan sendok menyentuh piring keramik.
Olyvia membuka mata. Bukan langit langit rumah sakit yang dilihatnya, melainkan lampu gantung kristal elegan milik sebuah restoran Prancis yang sangat ia kenal. Aroma melted cheese dan truffle oil langsung menusuk hidungnya. Di seberang meja, duduk seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal dan senyum yang dibuat buat.
Seketika memori Olyvia terhantam oleh realita. Ini restoran La Belle Vie. Tanggal lima belas Maret dua ribu dua puluh enam. Hari di mana hidupnya pertama kali dihancurkan secara elegan.
“Olyvia sayang,” suara wanita di seberang meja itu lembut namun penuh penekanan. “Tante bicara begini juga demi kebaikan kamu dan Arjuna.”
Arjuna Wicaksono. Nama itu berputar di kepala Olyvia seperti earphone rusak. Pacarnya semasa kuliah. Pria tampan yang keluarganya menganggap Olyvia, seorang gadis dari keluarga sederhana, hanyalah kerikil dalam sepatu balet anak mereka. Di kehidupan pertamanya dulu, Olyvia menangis mendengar kalimat ini. Ia menggenggam tangan Tante Ratna dan memohon agar diberikan kesempatan.
Tapi Olyvia yang sekarang sudah berbeda. Jauh berbeda.
Buset dah. Gue beneran mati. Terus ini apa? Reinkarnasi? Time travel? Atau gue lagi koma dan mimpi absurd? Olyvia menatap tangannya sendiri. Mulus. Kenyal. Bukan tangan keriput seorang wanita karir berusia enam puluh tahun yang baru saja pensiun. Fix. Gue balik muda. Gue dua puluh lagi. Anjay.
Tante Ratna, yang tidak menyadari gejolak batin di kepala Olyvia, melanjutkan orasinya. “Kamu kan tahu sendiri, keluarga kami punya tanggung jawab besar. Arjuna itu penerus perusahaan. Masa depannya harus dijaga. Kalau dia sama kamu terus… yah, Tante takut fokusnya terbagi. Makanya, Tante mohon, ini demi kebaikan bersama.”
Wanita itu lalu merogoh tas Chanel miliknya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal. Gerakannya anggun namun terasa seperti penghakiman.
“Ambil ini. Anggap saja tanda terima kasih karena sudah menemani Arjuna selama ini. Setelah ini, menjauhlah dari anak Tante.”
Olyvia menatap amplop itu. Jantungnya berdetak kencang. Bukan karena sakit hati seperti dulu, melainkan karena antisipasi. Nah ini dia. Adegan legendaris sinetron pagi hari. Ditawarin duit buat ninggalin pacar. Bedanya, di kehidupan pertama gue nolak mentah mentah karena harga diri. Terus gue kerja rodi sampe tua, mati sendirian, sementara Arjuna nikah sama cewek kaya dan pamer foto keluarga bahagia di Instagram. Nah, sekarang?
Olyvia tersenyum manis, senyum paling sopan yang bisa ia kerahkan. “Baik, Tante. Terima kasih atas perhatiannya.”
Tante Ratna mengerjapkan mata, sedikit terkejut karena tidak ada drama tangisan. Namun ia segera mengangguk puas. “Baguslah kalau kamu mengerti. Tante titip ya, jangan hubungi Arjuna lagi.”
“Tentu, Tante.”
Begitu Tante Ratna berdiri dan meninggalkan restoran dengan langkah penuh kemenangan, Olyvia langsung meraih amplop cokelat itu. Tangannya sedikit gemetaran. Oke, Oly. Ini cuma formalitas. Ambil duitnya, pergi dari hidup Arjuna si mami’s boy, terus pake duit ini buat modal buka usaha. Kan lumayan. Lima ratus juta dulu tuh nominalnya.
Ia membuka amplop itu perlahan, berusaha menjaga image tenang di depan pelayan yang lalu lalang. Begitu isinya terlihat, Olyvia langsung mematung.
Bukan setumpuk lembaran cek senilai lima ratus juta rupiah seperti yang ada di ingatannya. Bukan juga pecahan seratus ribuan dalam jumlah tebal yang membuat amplop itu menggembung.
Di dalam amplop itu hanya ada beberapa lembar uang kertas. Olyvia menghitungnya cepat. Seratus ribu. Iya hanya seratus ribu rupiah.
What the hell? Seratus ribu doang? Goceng dong? Ini mah ongkos naik taksi online dari sini ke kosan aja abis. Miskin amat, jauhi anaknya tapi ngasih cuman 100 ribu doang. Murah banget anaknya buk.
Olyvia membalik balik amplop itu, berharap ada kartu ATM atau surat berharga lainnya. Tidak ada. Hanya seratus ribu rupiah yang tergeletak polos di atas taplak meja putih. Ia mendongak, mencoba mencari sosok Tante Ratna yang mungkin masih di luar. Namun wanita itu sudah masuk ke dalam mobil Alphard hitam yang melaju menjauh.
Kepanikan mulai merayap. Ini gak lucu. Jangan jangan Tante Ratna nyadar kalo gue bakal nurut jadi dia pangkas budget perpisahan. Atau jangan jangan Arjuna yang titip duit ke emaknya cuma segini? Busuk banget jadi cowok.
Sambil menghela napas panjang, Olyvia melambai ke pelayan. “Permisi, Mas. Saya mau minta bill.”
Pelayan itu datang dengan senyum profesional dan menyodorkan sebuah buku tagihan kecil berlapis kulit sintetis. Olyvia membukanya dengan santai, lalu matanya nyaris copot keluar.
Total Tagihan: Rp1.35**0**,-
Olyvia mengucek matanya. Ia membaca ulang. seribu tiga ratus lima puluh. Bukan tiga belas juta. Bukan tiga puluh juta seperti biasanya harga makan malam di restoran Prancis sekelas ini. seribu tiga ratus lima puluh. Harga segelas kopi susu di pinggir jalan.
“Mas,” panggil Olyvia dengan suara sedikit bergetar. “Ini bill nya sudah benar? Totalnya cuma tiga belas ribu lima ratus?”
Pelayan itu menatap Olyvia dengan tatapan bingung yang sopan. “Benar, Mbak. Itu untuk satu porsi Escargot Bourguignon dan satu gelas Evian. Apakah ada yang salah?”
Salah? Jelas salah! Gue makan siput Prancis sama air mineral impor cuma seribu tiga ratus? Ini mah lebih murah dari nasi Padang di deket kampus! Olyvia menelan ludah susah payah. Ia tidak mau terlihat seperti orang gila. “Eh, enggak kok, Mas. Ini uangnya. Ambil kembaliannya saja.”
Ia menyodorkan selembar dua ribu dari amplop Tante Ratna. Pelayan itu menerimanya dan mengangguk. “Terima kasih, Mbak. Selamat malam.”
Begitu pelayan pergi, Olyvia menatap sisa uang di tangannya. sembilan puluh delapan ribu. Ini gila. Benar benar gila. Ada yang salah sama dunia. Bukan. Ada yang salah sama otak gue.
Olyvia merogoh tas jinjing murahan miliknya dan mengeluarkan ponsel. Sebuah smartphone Android keluaran terbaru, setidaknya menurut ingatannya di tahun dua ribu dua puluh enam. Ia membuka aplikasi mobile banking. Matanya langsung tertuju pada saldo rekening yang tertera di layar.
Saldo: Rp5.847.200.000,-
Lima miliar delapan ratus empat puluh tujuh juta dua ratus ribu rupiah.
Olyvia menatap angka itu tanpa berkedip selama sepuluh detik penuh. Ini saldo tabungan pensiunnya. Hasil kerja keras selama empat puluh tahun tanpa liburan, tanpa hedon, tanpa kebahagiaan berarti. Di kehidupan pertama, saldo itu hanya cukup untuk hidup pas pasan di hari tua setelah inflasi menggerogoti nilainya. Tapi sekarang, di tubuhnya yang dua puluh tahun, saldo itu masih utuh.
Gue bawa kartu bank masa depan. Saldo pensiun gue. Ke sini. Ke masa lalu. Anjayani.
Seketika ingatan tentang harga bill restoran tadi kembali menamparnya. Jika escargot dan air mineral impor saja hanya tiga belas ribu, lalu berapa harga barang barang lain di dunia ini?
Untuk memastikan kewarasannya, Olyvia buru buru keluar dari restoran. Ia berjalan cepat menuju sebuah minimarket terang benderang di seberang jalan. Begitu masuk, ia langsung menuju rak minuman. Tangannya meraih sebotol air mineral dingin, lalu ia baca label harga yang ditempel di rak.
Rp**0.5**,-
nol koma lima rupiah!?. Harga sebotol air mineral enam ratus mililiter.
Olyvia hampir tertawa sekaligus menangis. Di kehidupannya yang dulu, sebotol air mineral di minimarket harganya minimal empat ribu rupiah. Sekarang? nol koma lima rupiah. Uang receh yang bahkan kadang ia buang di asbak mobil.
Oke, Oly. Tarik napas. Ini dunia yang sama. Tanggalnya sama. Orang orangnya sama. Cuma nilai mata uangnya yang beda. Kayaknya inflasi gak terjadi. Malah deflasi. Gila banget. Daya beli uang turun sepuluh ribu kali lipat.
Ia berjalan menyusuri lorong minimarket dengan mata membelalak seperti anak kecil yang pertama kali masuk toko permen. Sepotong cokelat batangan bermerek internasional: Rp**8,-. Sekaleng soda dingin: Rp**1,-. Sebungkus roti isi: Rp**0.3**,-.
Murah. Semua murah banget. Gilak. Ini kayak main monopoli tapi duit gue beneran.
Olyvia meraih ponselnya dan membuka aplikasi marketplace. Ia mengetik kata kunci “iPhone 17 Pro Max” hanya untuk iseng. Sebagai seseorang yang berasal dari tahun dua ribu dua puluh enam, ia tahu persis bahwa ponsel flagship Apple itu baru saja rilis minggu lalu dengan harga selangit. Di kehidupannya yang dulu, ia hanya bisa melirik dari etalase karena harganya mencapai dua puluh lima juta rupiah. Sekarang, hasil pencarian di layar menunjukkan harga yang sama sekali berbeda.
Rp2.500,-
Dua ribu lima ratus rupiah. Anjay
Gue bisa beli seribu biji iPhone 17 Pro Max pake uang jajan hari ini doang. What the…
Olyvia bersandar pada rak minimarket. Kepalanya pusing namun dadanya penuh dengan gejolak aneh yang sulit dijelaskan. Di kehidupan pertama, ia adalah wanita yang harus menghitung setiap sen untuk bertahan hidup. Sekarang, ia adalah seorang miliarder di dunia di mana uang receh memiliki nilai yang luar biasa besar.
Tapi seiring rasa takjub itu mereda, Olyvia mulai berpikir jernih. Jika hanya dia yang sadar akan keanehan ini, jika hanya dia yang membawa saldo dari masa depan, maka ia sendirilah penguasa ekonomi dunia ini. Dan di depannya, terbentang semua kesempatan yang dulu pernah direnggut oleh kemiskinan.
Ia mengepalkan tangannya. Oke, Oly. Lo dikasih kesempatan kedua. Jangan cuma buat flexing beli iPhone. Lo punya keluarga yang dulu hidup susah gara gara lo kerja terus. Ibu lo mati kecapekan jaga warung. Adik lo cuma jadi figuran sinetron yang digantiin aktor modal dengkul. Sekarang lo bisa bales semuanya.
Olyvia tersenyum tipis. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum penuh rencana.
Ia berjalan keluar dari minimarket. Udara malam menyambutnya dengan dingin yang menusuk. Sebuah taksi online yang baru saja ia pesan melalui ponsel sudah menunggu di depan. Olyvia membuka pintu belakang dan masuk.
“Mau kemana, Mbak?” tanya sopir ramah.
“Ke Apartemen Green Park, Pak.”
Selama perjalanan, Olyvia hanya diam menatap jalanan kota yang basah oleh gerimis. Pikirannya melayang pada ibu dan adiknya. Di kehidupan pertama, ia terlalu sibuk mengejar karir untuk membuktikan bahwa dirinya layak. Ia mengabaikan keluarga demi diterima oleh keluarga Arjuna yang akhirnya juga mencampakkannya.
Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Arjuna? Mami’s boy? Silakan cari cewek lain. Gue sih ogah. Mending gue hitung bunga deposito sambil liatin nyokap lo miskin mendadak karena duitnya gak ada artinya lagi. Lagian cowok kek Lo emang pantas cuma goceng doang.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari kontak bernama “Arjuna 💗” yang belum sempat ia hapus atau ganti namanya.
Arjuna: Halo, Vy. Mama tadi bilang kamu nerima uangnya. Kamu serius ninggalin aku?
Olyvia membaca pesan itu dengan wajah datar. Lalu ia mengetik balasan singkat.
Olyvia: Ya.
Ponsel kembali bergetar. Arjuna menelepon. Olyvia menatap layar ponsel itu dengan ekspresi campuran antara bosan dan geli. Tanpa pikir panjang, ia menekan tombol merah. Panggilan ditolak.
Sopir taksi mencuri pandang dari kaca spion. “Pacar, Mbak?”
Olyvia menggeleng santai. “Bukan, Pak. Cuma sales asuransi.”
Ia menyandarkan kepala ke jok mobil dan menutup mata. Di kepalanya, ia sudah menyusun daftar belanjaan untuk besok pagi. Daftar itu bukan berisi baju branded atau tas mewah.
Daftar itu berisi seratus unit apartemen yang akan ia beli atas nama ibunya.
Sabar ya, Bu. Besok Olyvia jemput. Kita putusin kontrak warung sembako itu. Mulai besok, Ibu jadi Ratu Kontrakan seantero kota.