Kevin Sanjaya dulunya adalah seorang kurir Ojol pengantar makanan dengan kehidupan keluarga yang penuh dengan kemiskinan. akhirnya dia menemukan sistem pengantaran terhebat.
Sistem tersebut membuat dirinya bisa mendapatkan kekayaan dengan melakukan pengantaran makanan, bahkan wanita cantik pun beramai-ramai mendekatinya.
saat sistem bekerja, ulasan terbaik adalah prioritas atas segalanya. akhirnya kekuatan dan pengaruh telah ia dapatkan, namun tuntutan sistem akan semakin menekan.
bahkan kekuatan penguasa - penguasa akan dia lawan, juga wajah - wajah baru akan dia temui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : bagaimana bisa begitu kuat?
"Jangan.....!"
Dalam sekejap, dunia Melati runtuh.
Ia tak pernah membayangkan bahwa dirinya—yang selama ini hidup dalam lingkungan terhormat—akan dipaksa ke dalam situasi seperti ini. Tubuhnya gemetar hebat, air mata mengalir tanpa henti, sementara punggungnya menempel pada dinding dingin gang sempit itu.
Dalam keputusasaan, ia menutup mata dan berdoa dalam hati.
"Aku mohon siap saja tolong… jika ada seseorang yang bisa menyelamatkanku hari ini… aku… aku rela membalasnya dengan apa pun..."
Suara tawa kotor langsung memecah keheningan.
"Hahaha! Berteriak pun percuma!"
Muel menjilat bibirnya dengan penuh nafsu. "Hari ini, bahkan dewa pun tak akan bisa menyelamatkanmu!"
Tangannya perlahan mendekat ke arah bahu Melati.
Detik berikutnya—
BOOM!!
Sebuah suara ledakan keras mengguncang seluruh gang!
Dinding di samping mereka tiba-tiba retak, lalu—
BRAK!!
Sebuah tangan menembus dinding batu itu dengan brutal, mencengkeram pergelangan tangan Muel seperti penjepit besi!
"Apa—?!"
Muel terkejut setengah mati!
Belum sempat ia bereaksi—
Dinding itu langsung hancur berkeping-keping!
Debu beterbangan, serpihan batu berhamburan ke segala arah.
Dari balik reruntuhan itu, sebuah sosok melangkah keluar dengan santai…
Dengan ekspresi tenang, bahkan sedikit tersenyum.
"Aku datang tepat waktu."
Kevin Sanjaya.
—
"Ka-kau… siapa kau?!"
Muel panik, mencoba menarik tangannya—namun sia-sia!
Cengkeraman itu seperti baja hidup!
Kevin menatapnya dengan dingin.
"Aku?" Kevin tersenyum tipis.
"Aku cuma… tukang antar makanan."
"...Tapi juga orang yang akan menghancurkan kalian."
—
"Kevin....!!"
Suara penuh harapan tiba-tiba terdengar.
Melati, yang tadi putus asa, kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kau datang… kau benar-benar datang…!"
Untuk pertama kalinya sejak kejadian ini dimulai, ia merasa aman.
Aneh… tapi nyata.
Selama pria itu berdiri di depannya, seolah dunia tidak lagi menakutkan.
Jantungnya berdegup kencang.
Bukan karena takut…
Tapi karena sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
—
"Tenang saja," kata Kevin dengan santai, bahkan sempat meliriknya sekilas.
"Aku di sini."
Satu kalimat sederhana.
Namun cukup membuat Nona Melati merasa seolah diselimuti perlindungan mutlak.
—
"Sialan! Lepaskan tanganku!!"
Muel akhirnya berteriak panik.
Namun Kevin hanya tersenyum.
"Oh, mau dilepas?"
Ia sedikit memiringkan kepala.
"Baiklah."
Tangannya… justru semakin mengencang.
KRAK!
Suara tulang remuk terdengar jelas.
"AAAAAAHHHH!!"
Jeritan Muel menggema di seluruh gang!
Pergelangan tangannya langsung hancur total, tulangnya remuk seperti ranting kering!
Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar hebat.
—
"Kau terlalu berisik."
Kevin mengibaskan tangannya dengan santai.
BOOM!
Tubuh Muel langsung terlempar seperti peluru, menghantam dinding bangunan kosong di belakang!
Debu kembali beterbangan.
Ia jatuh tak berdaya di tanah, nyaris pingsan.
—
"Sial… ini… ini monster apa…"
Anak buah Muel semua mundur selangkah.
Wajah mereka penuh ketakutan.
Baru saja mereka melihat pemimpin mereka—orang yang biasanya bisa melawan lima orang sekaligus—dihancurkan begitu saja tanpa perlawanan.
—
Bahkan Nona Melati pun terdiam.
Matanya melebar, napasnya tercekat.
"Dia… sekuat ini…?"
Tak hanya ahli barang antik…
Pria ini juga memiliki kekuatan tempur yang mengerikan!
Perasaan kagum mulai tumbuh dalam hatinya.
—
"Serang dia!!"
Muel, yang masih setengah sadar, meraung dengan suara parau.
"Kalau tidak, kita semua selesai!"
Kata-katanya memicu keberanian palsu pada kelompok itu.
Mata mereka kembali dipenuhi kebencian.
"Brengsek! Berani ikut campur urusan kami?!"
Satu per satu, mereka mengeluarkan senjata!
Pisau berkilau di bawah cahaya redup gang.
Langkah mereka perlahan mendekat, membentuk lingkaran mengurung Kevin.
Namun—
Yang membuat suasana benar-benar membeku adalah…
klik.
Salah satu dari mereka… mengeluarkan pistol.
—
Mata Melati langsung membesar.
"Kevin… hati-hati…!"
Namun Kevin hanya menguap dan berdiri dengan santai.
Bahkan tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut.
Ia hanya menghela napas ringan.
"Lima orang, pisau… dan satu pistol?"
Ia mengangkat alis.
"Lumayan… setidaknya kalian membuatku sedikit tertarik."
Sudut bibirnya terangkat perlahan.
Senyum dingin.
Mematikan.
—
"Kalau begitu…"
Ia melangkah maju satu langkah.
Aura yang tak terlihat tiba-tiba menyelimuti seluruh gang.
"...aku akan bermain sedikit."
—
(Bersambung…)