Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Raga Yang Terpenjara
Rumah Sakit Medika Utama menjulang tinggi bagaikan benteng beton putih di kawasan elit Jakarta Selatan. Lobi rumah sakit ini lebih mirip lobi hotel bintang lima, dengan lantai marmer yang mengkilat, lampu gantung kristal, dan aroma antiseptik mahal yang dicampur dengan pengharum ruangan beraroma lavender.
Bagi manusia biasa, tempat ini adalah lambang kesembuhan yang mewah. Namun bagi Luna, rumah sakit adalah medan perang yang sesungguhnya. Rumah sakit adalah tempat di mana nyawa datang dan pergi, di mana keputusasaan, rasa sakit, dan kematian meninggalkan jejak energi yang sangat kental.
Begitu melangkah melewati pintu kaca putar, perut Luna langsung melilit. Ia bisa melihat puluhan—bahkan mungkin ratusan—bayangan kelabu yang berjalan tanpa tujuan di sepanjang koridor, duduk di kursi tunggu dengan tatapan kosong, atau menempel pada pasien yang sedang didorong di atas kursi roda. Suara rintihan samar memenuhi telinga Luna bak paduan suara dari neraka.
Luna mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba memfokuskan pandangannya pada punggung jas Nando.
Benar saja, begitu Nando melangkah masuk, gelombang energi pembersih tak kasat mata menyapu lobi. Roh-roh kelabu yang berkerumun di jalur mereka seketika menyibak, mundur ketakutan hingga menempel ke dinding. Beberapa roh yang lebih gelap bahkan langsung menghilang ke lantai atas.
"Lantai delapan, Ruang VVIP Anggrek 01," instruksi Nando dengan nada memerintah, seolah ia adalah pemandu wisata di rumahnya sendiri. Ia berjalan tegap menuju lift kaca, tak mempedulikan dokter dan suster yang menembus bahunya.
Mereka masuk ke dalam lift bersama seorang suster yang membawa nampan obat. Luna menekan tombol angka delapan. Saat lift bergerak naik, Nando mulai tampak gelisah. Pria yang sejak tadi tak henti-hentinya mengoceh kini terdiam membisu. Tangannya yang biasa dimasukkan ke dalam saku kini terkepal di sisi tubuhnya.
"Kau gugup?" tanya Luna pelan, memastikan suster di sudut lift tidak memperhatikannya.
Nando tidak menoleh. Rahangnya mengeras. "Tentu saja tidak. Aku hanya... memikirkan betapa lambatnya lift rumah sakit ini. Seharusnya mereka menggunakan lift eksklusif yang tidak berhenti di setiap lantai."
Luna tahu itu bohong. Ia bisa melihat pendar biru Nando berkedip tidak stabil. Bagi roh yang terpisah dari tubuhnya, melihat wujud fisik mereka sendiri dalam kondisi tidak berdaya adalah sebuah pukulan psikologis yang masif.
Pintu lift berdenting dan terbuka di lantai delapan. Lorong ini sangat berbeda dengan lobi di bawah. Sepi, sunyi, dan berlapis karpet tebal untuk meredam suara langkah kaki. Lampu warm white menerangi dinding berwarna krem yang dihiasi lukisan abstrak mahal. Bau antiseptik di sini lebih halus.
Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu kayu ek berukuran besar dengan plakat keemasan bertuliskan VVIP Anggrek 01. Dua orang pria bertubuh kekar berjas hitam—jelas sekali petugas keamanan sewaan—berdiri berjaga di depan pintu.
"Itu kamarku," bisik Nando, langkahnya terhenti beberapa meter dari pintu. Ia menatap pintu kayu itu seolah itu adalah gerbang menuju eksekusi mati.
"Bagaimana cara kita masuk?" tanya Luna berbisik. "Penjaganya besar-besar. Aku tidak bisa asal menerobos masuk kamar pasien VVIP."
"Tunggu sebentar. Lihat perawat yang baru saja keluar dari lift itu?" Nando menunjuk dengan dagunya. Seorang perawat senior membawa papan klip rekam medis sedang berjalan menuju Ruang Anggrek 01. "Kau jalan di belakangnya, menunduk, dan bertingkah seperti asisten atau petugas cleaning service. Saat pintu terbuka, menyelinaplah masuk. Aku akan mengecoh penjaganya."
"Mengecoh bagaimana? Kau kan tidak bisa menyentuh mereka!" protes Luna.
Nando menyeringai misterius. "Tonton dan pelajari. Aku mungkin tidak bisa menyentuh fisik mereka, tapi aku bisa menyentuh sistem di sekitar mereka."
Nando melesat maju, melayang cepat ke arah plafon lorong. Ia berhenti tepat di bawah sebuah smoke detector (pendeteksi asap) yang berada jauh dari kamar 01, lalu memusatkan seluruh energi astralnya yang berwarna biru ke arah sensor tersebut. Suhunya anjlok drastis dalam radius setengah meter di sekitar alat itu. Udara yang sangat dingin bertabrakan dengan udara hangat rumah sakit, menciptakan uap air tebal. Sensor yang mendeteksi perubahan suhu ekstrem dan kelembapan mendadak itu pun mengalami korsleting minor.
TIIIIT! TIIIIT! TIIIIT!
Alarm kebakaran lokal di lorong itu berbunyi nyaring. Lampu darurat berkedip merah. Kedua penjaga berjas hitam itu tersentak kaget, saling pandang, lalu salah satu dari mereka berlari ke arah sumber suara, sementara yang satu lagi menoleh ke arah meja perawat di ujung lorong seberang untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Sekarang!" seru Nando dari atas.
Perawat senior yang panik membuka pintu Ruang Anggrek 01 untuk mengecek kondisi ke dalam. Di saat pintu terbuka itulah, Luna yang sudah mengendap-endap di belakangnya, menunduk dan menyelinap masuk layaknya bayangan hitam. Ia langsung bersembunyi di balik tirai tebal yang menutupi jendela besar di sisi kanan ruangan.
Perawat itu hanya melongok sesaat, memastikan tidak ada asap di dalam, lalu keluar lagi dan menutup pintu rapat-rapat. Suara alarm di luar perlahan dimatikan dari pusat kendali.
Ruangan VVIP itu kembali hening. Terlalu hening.
Luna mengintip dari balik tirai. Kamar ini lebih besar dari gabungan empat kamar kosnya. Terdapat sofa kulit asli, televisi layar datar raksasa, dan meja makan kecil. Di tengah ruangan, terbaring sebuah ranjang rumah sakit canggih berbalut seprai putih bersih.
Luna melangkah keluar dari balik tirai perlahan. Tepat pada saat itu, Nando menembus masuk melalui pintu kayu tertutup. Langkah hantu CEO itu terhenti. Tubuhnya kaku menatap ke tengah ruangan.
Di atas ranjang itu, terbaring tubuh Nando.
Pria yang biasanya memancarkan arogansi dan dominasi absolut itu kini terbaring tak berdaya. Wajahnya pucat pasi, matanya terpejam rapat. Sebuah selang ventilator masuk melalui mulutnya, memompa oksigen ke paru-parunya dengan bunyi tsshh... klik... tsshh... klik... yang berirama statis. Berbagai kabel elektroda menempel di dada bidangnya yang telanjang, terhubung ke monitor detak jantung yang menunjukkan garis hijau naik-turun dalam tempo yang sangat lambat. Kepalanya dibalut perban putih, dengan sedikit rembesan merah di pelipis kiri.
Luna menatap tubuh fisik Nando, lalu menoleh ke arah roh Nando yang berdiri di sebelahnya. Wajah roh Nando menunjukkan ekspresi penderitaan yang begitu nyata, seolah rasa sakit dari luka-luka itu tiba-tiba menghantam kesadarannya.
"Aku... aku benar-benar terlihat menyedihkan," bisik Nando, suaranya bergetar hebat. Ia melangkah maju perlahan, seolah takut pada tubuhnya sendiri. Ia mengulurkan tangannya yang tembus pandang, mencoba menyentuh pipi tubuh fisiknya. Namun, jari-jari birunya menembus kulit pucat itu. "Aku terjebak di luar. Bagaimana caranya aku masuk kembali, Luna? Apakah aku... akan mati?"
Mendengar nada putus asa dari pria yang selalu tampil sombong itu membuat hati Luna mencelos. Ia melangkah mendekati sisi ranjang, berniat menenangkan Nando.
Namun, saat Luna berada dalam jarak satu meter dari tubuh Nando, langkahnya terhenti mendadak. Udara di sekitarnya terasa sangat berat, seakan gravitasi di titik ini bertambah dua kali lipat. Bulu kuduknya meremang hebat, lebih hebat dari saat ia bertemu hantu di jalan.
Ia memicingkan matanya, memfokuskan "penglihatan" khususnya ke arah tubuh Nando.
Napas Luna tercekat. Di balik pendar biru samar yang mengelilingi tubuh fisik itu, terdapat sesuatu yang lain. Sesuatu yang sangat menjijikkan.
Ada sulur-sulur hitam pekat, seperti akar pohon busuk yang berlendir, melilit pergelangan kaki, pinggang, dan leher tubuh Nando di bawah selimut. Sulur-sulur hitam itu bergerak pelan, seolah berdenyut menyedot energi kehidupan dari tubuh Nando dan membuangnya ke udara kosong. Bau gosong, seperti rambut dan kemenyan yang dibakar bersamaan, menusuk hidung Luna.
Ini bukan luka kecelakaan biasa.
"Nando..." bisik Luna, suaranya bergetar menahan horor. Matanya membelalak menatap lilitan gaib tersebut. "Ada sesuatu yang mengikat tubuhmu. Sesuatu... yang sengaja menahanmu agar kau tidak bisa bangun."
Nando menoleh dengan cepat. "Apa maksudmu? Aku tidak melihat apa-apa! Jelaskan padaku!"
Sebelum Luna sempat menjelaskan, suara klik yang tajam terdengar dari arah pintu masuk. Seseorang sedang memutar kenop pintu.
Insting Luna seketika mengambil alih. "Bersembunyi!" desisnya tanpa suara pada Nando, meskipun sadar bahwa Nando tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Luna sendiri langsung melempar tubuhnya ke lantai, berguling masuk ke kolong ranjang rumah sakit yang memiliki penutup kain rendah. Jantungnya berdebar kencang memompa adrenalin.
Pintu terbuka. Langkah kaki pantofel yang berat dan teratur memasuki ruangan. Berjalan mendekati ranjang.
Dari celah sempit di bawah ranjang, Luna hanya bisa melihat sepasang sepatu kulit hitam mengkilat dari merek ternama. Sepatu itu berhenti tepat di samping tubuh Nando yang terbaring.
Suara napas berat terdengar dari atas. Lalu, suara seorang pria bergema di ruangan sunyi itu. Suaranya terdengar rapi, elegan, namun menyembunyikan nada dingin yang membuat bulu kuduk Luna kembali berdiri.
"Kau bertahan lebih lama dari yang diperkirakan, Kawan," ucap pria itu lirih, lebih kepada bergumam pada dirinya sendiri. "Dokter bilang kau bisa sadar jika otakmu merespons dalam 48 jam ini. Tapi kita berdua tahu, bukan medis yang menahanmu sekarang, kan, Nando?"
Di sebelahnya, roh Nando yang berdiri di samping ranjang menatap pria itu dengan mata membelalak sempurna, dipenuhi rasa tak percaya dan pengkhianatan yang mendalam.
"Bara..." desis roh Nando. Pendar birunya tiba-tiba meredup tergantikan oleh kilatan emosi yang memuncak. "Apa yang kau bicarakan, bangsat?!"
Bara—sahabat terdekat Nando sekaligus Direktur Keuangannya—merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah benda kecil. Dari bawah kolong ranjang, hidung Luna langsung menangkap bau menyengat yang sama persis dengan sulur hitam di tubuh Nando. Bau kemenyan dan kain kafan busuk.
Bara menyelipkan sesuatu—benda kecil yang terbungkus kain kafan seukuran ibu jari—ke bawah kasur, tepat di dekat kepala Nando.
"Tidurlah yang nyenyak, Nando. Perusahaan aman di tanganku," bisik Bara dengan senyum miring yang tersembunyi, lalu berbalik meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.
Di bawah ranjang, Luna menutup mulutnya erat-erat, menahan jeritan ngeri yang memberontak ingin keluar. Kecelakaan ini bukan kecelakaan biasa. Ini adalah percobaan pembunuhan terencana yang menggunakan ilmu hitam. Dan pelakunya adalah orang kepercayaan Nando sendiri.
Malam panjang yang penuh teror baru saja mengetuk pintu kehidupan Luna sekali lagi. Dan kali ini, ia tidak bisa lari.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍
Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣