Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untukmu segalanya.
Deretan rapi nama-nama yang terlibat pada film terus di tayangkan. Sponsor dari berbagai merk silih berganti hadir atau sekedar berada pada barisan paling bawah layar.
Hal-hal penting itu tidak lagi menjadi fokus baik Rinjani atau pun Ikhram sejak beberapa menit lalu.
Bahkan ketika film lain tayang secara otomatis mereka tidak peduli. Opening film romantis berserta ost nya malah menjadi latar pendukung dua manusia yang saling bertukar saliva.
Bibir mereka berebut untuk menguasai, deru napas saling memburu. Sesekali akan melepaskan bukan untuk berhenti melainkan mengambil jeda dan melalukan hal lebih gila.
Ungkapan kegelisahan Ikhram dan rasa tidak ingin ditinggalkan Rinjani menjadi awal dari malam panjang yang terjadi pada sepasang suami istri itu.
Pasangan yang dipaksa untuk bersama. Mencintai sendiri, berjuang sendiri dan mengingat kenangan manis sendiri. Kini Ikhram menyambut bahagianya dengan ungkapan tidak terduga setelah usia pernikahan mereka satu bulan.
Cintai saya, usahakan saya dan luluhkan hati saya dengan cara apapun.
Permintaan itu menjadi keberanian untuk Ikhram melakukan lebih jauh.
Pencahayaan minim tidak mampu mencegah Ikhram mengabsen setiap lekuk tubuh Rinjani. Dari leher sampai ujung kaki ditemani film romantis di layar tv.
Ikhram mengangkat tubuh Rinjani, membawanya ke kamar tanpa melepaskan panggutan panas itu. Membaringkan di ranjang.
....
Cahaya matahari menjadi saksi bagaimana kacaunya kamar Rinjani pagi ini. Sofa santai yang berada di depan tempat tidur bergeser, meja kerja yang awalnya rapi berantakan dan kursinya sudah berada jauh.
Seprei tidak lagi pada tempat semestinya, ujung sisinya menjuntai-memperlihatkan warna kasur berwarna putih.
Namun, kekacauan itu tidak membuat Ikhram dan Rinjani merasa bersalah.
"Kepala saya sakit, tubuh saya pun begitu," gumam Rinjani yang enggang keluar dari selimut. Kehangatan dalam pelukan suami tampan ... siapa yang akan melepaskannya?
"Kalau begitu kembalilah tidur." Semakin mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajah Rinjani pada ceruk lehernya.
Tangan Ikhram mengelus punggung polos tanpa terhalang apapun itu. Sesekali mendaratkan kecupan manis di bawah telinga Rinjani. Sungguh hal menyenangkan yang ia lakukan pagi-pagi seperti ini.
"Berangkat jam berapa?" Pertanyaan itu terdengar, meski pemilik suara masih bersembunyi dalam pelukan.
"Jam tujuh malam, masih banyak waktu."
Rinjani keluar dari persembunyian, menatap Ikhram yang rambutnya acak-acakan karena ulahnya. Ia meraikan rambut itu dan tatapan mereka bertemu. Kecupan manis mendarat di bibirnya.
"Kenapa hm?"
"Kamu meniduri saya lalu pergi, pria brengsek mana yang tega melakukannya hm?"
Tawa terdengar
"Wanita macam apa yang menggoda pria yang hendak pergi sampai berujung tidur bersama?" Alis Ikhram terangkat, ia gigit bibirnya agar tawa tidak kembali terdengar.
"Kamu nggak akan menanyakan sesuatu tentang semalam dan tentang masa lalu bagaimana saya ...."
"Itu masa lalumu, lagian nggak ada manusia yang benar-benar suci di dunia ini." Kecupan lagi-lagi mendarat di kening Rinjani.
Benar, saat berpindah tempat ke kamar dan Ikhram akan melalukan tugasnya ... Rinjani mengakui satu hal dimana yang semalam bukan yang pertama untuknya.
"Kamu nggak marah?"
"Marah untuk apa? Memangnya kalau saya marah semuanya akan kembali seperti semula hm?"
Alih-alih menjawab, Rinjani kembali memeluk Ikhram dan yap wanita itu terlelap lagi dan baru bangun ketika ponselnya berdering.
Zira
Ah ya baru membaca nama itu dia sudah mengingat kesalahan yang baru saja dia lakukan. Jam sebelas siang dia ada janji temu dengan klien.
"Bu gawat ...."
"Iya saya akan kesana sekarang, lokasi nya nggak berubah kan?"
"Bukan itu ... tapi pak Ardian ...."
Darah Rinjani mendidih seketika mendengar penjelasan Zira di seberang telpon. Dia menyingkap selimutnya tanpa sadar dan kembali menutupnya tahu dia tidak memakai apapun.
Rinjani melilit tubuhnya selimut masuk ke kamar mandi. Bersiap-siap ke kantor meski kondisi tubuhnya mengenaskan. Bisa dibilang pegal karena ... ya sudahlah, bayangkan saja sepegal apa dia saat mampu mengeser sofa dan meja kerjanya sendiri. Belum lagi tempat tidur dan ruang santai di lantai dasar.
"Sarapan dulu."
Rinjani yang buru-buru sambil memperhatikan ruangan yang semalam ... Kini bersih seolah tidak pernah terjadi apapun. Sudah pasti Ikhram yang melakukannya sebab orang tuanya tidak menyewa pengurus rumah.
"Saya buru-buru dan terimakasih karena sudah merapikan segalanya sebelum ibu pulang."
"Saya yang membuatnya seperti kapal pecah, sudah seharusnya merapikan kembali." Ikhram menyambar kotak makan dan mengikuti langkah Rinjani.
"Jangan lupa sarapan. Dan ini vitamin untukmu." Memberikan bekal dan tablet vitamin yang Ikhram beli di apoteker terdekat mengingat sifat Rinjani yang keras kepala dan sedikit mengabaikan kesehatan. "Jam berapa kita ke dokter?"
"Nggak usah, ini udah segar."
"Kalau begitu ...." Ikhram menyisipkan tangannya pada pinggang ramping Rinjani, menariknya mendekat dan mengecup bibir wanita itu.
.
.
.
Weh udah semanis ini tapi bakal pisah, sedih banget nggak sih?
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,