NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:615
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 Adu Akting

Aku benar-benar tidak pernah membayangkan akan menyaksikan pemandangan seperti ini. Rasanya begitu janggal, bahkan nyaris mustahil untuk diterima akal. Dalam rekaman video, jelas terlihat dia masuk ke kamar Zhiyi Pingkan dan sejak itu, tidak pernah keluar lagi. Lalu… bagaimana mungkin sekarang dia justru berdiri di hadapanku?

Aku terpaku di tempat, seolah kakiku tertanam di lantai. Tatapanku kosong, dipenuhi kebingungan yang sulit dijelaskan. Dia pun menatap balik tanpa berkedip, sorot matanya dalam dan sulit ditebak. Perlahan, dia bangkit berdiri, gerakannya tenang namun terasa menekan.

Detik berikutnya, pertahananku runtuh begitu saja. Tangis meledak tanpa bisa kutahan. Dengan langkah yang terhuyung, aku berlari ke arahnya, menghambur ke dalam pelukannya. Kedua lenganku melingkar erat di lehernya, seakan takut dia akan menghilang lagi jika kulepaskan. Wajahku kusembunyikan di dadanya, sementara isak tangisku pecah tak terkendali.

Baiklah… kalau ini memang permainan, maka mari kita mulai sandiwara ini. Aku ingin melihat, siapa di antara kita yang mampu bertahan sampai akhir.

Tubuh Dean Junxian sempat menegang sesaat, seperti terkejut dengan reaksiku. Namun tak lama kemudian, dia membalas pelukanku. Kedua tangannya mengurung pinggangku dengan erat, seolah ingin menenangkan. Dia menunduk, menatapku lekat-lekat, matanya menyimpan selarik keraguan yang cepat berlalu digantikan oleh ekspresi lembut yang sulit dipercaya.

"Sayang… kamu dari mana saja?" suaraku bergetar di sela tangis. "Aku mencarimu ke mana-mana. Ada orang yang mengejarku… dia… dia bahkan mencoba menusukku dengan jarum!"

Aku terus meracau, membiarkan kata-kata keluar tanpa arah, seolah kehilangan kendali. "Kepalaku sakit sekali… mereka menusukku… sakit sekali… tolong… jangan tinggalkan aku… jangan…"

"Jangan menangis. Tidak akan," balasnya pelan. Telapak tangannya yang hangat mengusap punggungku dengan ritme menenangkan. "Aku di sini, kan?"

Kalimat itu terdengar begitu akrab terlalu akrab hingga terasa menyakitkan.

"Aku tidak bisa menemukanmu… kamu tidak ada di sana…" lanjutku, kali ini sambil memukul dadanya pelan, manja namun sarat tuntutan. "Sebenarnya kamu ke mana? Ada orang yang menyakitiku… di sana gelap sekali… sangat gelap… aku takut… aku tidak bisa melihatmu…"

Kata-kataku sengaja kubiarkan kacau, seperti orang yang kehilangan arah. Namun air mata yang mengalir ini semuanya nyata. Terlalu nyata.

Aku sendiri tak lagi yakin mana yang sandiwara, mana yang perasaan sesungguhnya.

Pelukan hangat ini… dulu adalah tempatku pulang. Namun kini terasa asing, seolah bukan lagi milikku. Rumah ini pun sama penuh teka-teki yang tak mampu kupahami. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Ke mana perginya pria yang dulu selalu melindungiku? Mengapa dalam sekejap, semuanya berubah menjadi sesuatu yang begitu menakutkan?

Segala luka, ketakutan, dan keputusasaan yang kupendam selama beberapa hari terakhir akhirnya meluap tanpa sisa di momen ini.

"Kenapa…?" kata itu nyaris lolos dari bibirku pertanyaan yang selama ini terus menghantui, menuntut jawaban yang mungkin tak ingin kudengar.

Namun aku segera menelannya kembali.

"Ahh…!" Tangisku kembali pecah, lebih keras dari sebelumnya, menenggelamkan kata-kata yang hampir terucap.

Aku mengangkat tangan dengan gemetar, meraba bagian yang tertusuk jarum. “Di sini… jarumnya… panjang sekali… ditusukkan… menembus begitu dalam… Sakit… sakit sekali!” suaraku tercekat di antara tangisan yang pecah-pecah.

Tangisanku yang memilukan seolah menguras habis sisa tenaga yang ada dalam tubuhku. Setiap detik terasa seperti menghisap kekuatanku sendiri; tubuhku merosot lemah ke lantai seakan tidak lagi memiliki pegangan. Jantungku berdegup kencang, bahkan membuat perutku mual, sementara pangkal tenggorokanku terasa pahit dan amis, tercampur antara rasa takut dan kesedihan yang menumpuk.

“Sayang… hentikan tangisanmu. Jadilah anak baik!” Suara Dean Junxian terdengar tegas namun ada nada panik yang tersembunyi. Matanya yang tajam memperhatikan setiap gerakanku, menyadari sesuatu yang tidak beres. Saat melihat tubuhku mulai merosot dalam pelukannya, ia segera menggendongku dengan hati-hati, membawaku kembali ke kamar. Di sana, ia meletakkanku di atas ranjang dengan lembut, kemudian menyalakan lampu kamar yang hangat, seakan mencoba menenangkan suasana.

Namun aku tetap terisak, suaraku tersendat-seandat saat menumpahkan rasa sakitku. “…Kenapa aku selalu tidak bisa melihatmu? Kamu… apakah kamu membenciku? Kamu membiarkan aku dihina, ditindas… oleh orang lain… Kamu… Dean Junxian… coba lihat ke sini, lihat! Di sini… tepat di sini! Ditusuknya… sakit… sakit sekali!”

Sambil menunjuk ke arah kepalaku, aku sengaja memancing reaksinya, ingin melihat sorot mata yang muncul saat ia memeriksa luka itu.

Dean Junxian membungkuk, wajahnya menampakkan campuran iba dan kebingungan. Tangannya lembut menyentuh bagian kepalaku yang kutunjuk, seolah ingin meredakan rasa sakitku. “Semuanya baik-baik saja, sayang. Kamu pasti hanya bermimpi… mimpi buruk! Jangan takut, ya? Mulai sekarang, suamimu ini tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku di sini… menemanimu,” ucapnya dengan nada yang manis, menenangkan.

Namun kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hatiku. Setiap janji manis yang keluar dari mulutnya justru menghancurkan sisa harapan yang pernah kupunya. Dulu aku masih berharap bisa merasakan kasih sayangnya seperti semula, tapi detik itu, harapan itu lenyap begitu saja. Hatiku jatuh ke dasar jurang yang paling dalam, dingin membeku hingga tubuhku bergetar hebat.

“Dean Junxian… mati saja kamu!” geramku dalam hati, rasa benci dan amarah bercampur menjadi satu.

Keputusasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya menghancurkan seluruh pertahananku. Tangisku meledak histeris, suaraku pecah dan serak, sampai seteguk darah segar menyembur dari mulutku. Aneh… di tengah tubuh yang hancur dan rapuh ini, pikiranku justru terasa begitu jernih, seperti fokus yang dipaksa oleh naluri bertahan hidup.

Dean Junxian tampak panik. Dengan gerakan canggung dan tergesa-gesa, ia meraih tisu untuk menyeka mulutku. Noda merah pekat itu sangat kontras di atas tisu putih bersih pemandangan yang mengerikan hingga membuat napasku tercekat.

Saat itu, seluruh keyakinanku runtuh. Rasa takut menyelimuti hatiku apa aku akan mati sekarang? Tidak… aku belum membalas dendam. Aku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup. Aku harus membawa anak-anakku pergi jauh dari iblis ini, menjauh dari segala kebohongan dan pengkhianatan.

Dengan mata terangkat ke langit-langit kamar, aku menahan napas dan perlahan menyerah pada tubuh yang lelah. Namun kesadaranku tetap utuh. Aku ‘pingsan’, tapi dalam kepanikan dan rasa sakit yang mencekam, pikiranku tetap jernih, merencanakan langkah selanjutnya…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!