Andreas Bramawijaya, seorang CEO ternama yang tampan dan selalu bersikap dingin. Sikap dingin nya itu, tidak lain karena dia kecewa dengan keluarga nya, dan kehilangan istri dan anak tercinta nya karena kecelakaan.
Akibat kehilangan istri dan anak nya, Andreas menjadi seseorang yang sangat dingin, ketus dan jarang tersenyum sehingga ditakuti banyak orang.
Bu Stella, kepala pembantu di rumah Andreas, yang sudah menemani Andreas sejak kecil, sangat kasihan melihat tuan yang sudah dianggap seperti anak nya itu berubah menjadi pendiam setelah ditinggal anak istri nya.
Akhir nya Bu Stella inisiatif untuk mendatangkan anak semata wayang nya ke rumah Andreas untuk menemani dan merawat Andreas supaya mau berubah menjadi Andreas yang seperti biasa lagi.
Savanna Zelindra anak yang baru lulus SMA, terpaksa harus menuruti kemauan ibu nya untuk ikut pindah kerumah bos nya. Apakah Savanna akan bisa berhasil menaklukkan sang bos duda tampan yang dingin?
Ikuti terus ya cerita nya🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ell.ellsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan serius
Savanna sangat bersemangat bertemu dengan ibu nya.
"Nek, aku hari ini mau ketemu ibu, nenek gak papa kan aku tinggal sendiri?"
"Memang nya ibu mu gak ketemu nya di rumah aja?"
"Mmm kata ibu sih nanti pulang nya ibu bakal mampir dulu ke rumah."
"Oh, ya sudah, hati hati dijalan ya nak."
"Iya nenek, dah nenek, aku berangkat dulu." Savanna melambaikan tangan ke nenek nya.
Tibalah Savanna di taman, tempat janjian bersama ibu nya.
Savanna sudah menunggu satu jam di taman itu. Awalnya dia tak bosan menunggu karena banyak anak kecil yang sedang bermain jadi dia merasa ada teman. Tapi lama lama dia merasa bosan juga.
"Ya ampun, udah hampir satu jam ini, kok ibu lama banget, mana hp nya gak aktif lagi." Savanna menengok nengok melihat sekitar taman, tapi masih tidak melihat ibu nya.
"Tunggu sebentar lagi deh, mungkin ibu masih dijalan." Akhir nya Savanna duduk lagi di kursi.
Bu Stella baru sampai di taman. Dia sampai lari lari dari parkiran mencari Savanna, takut nya dia sudah pergi dari taman itu karena ia terlalu lama.
"Nak, dimana kamu, semoga saja kamu masih disini."
Akhirnya setelah mencari cari, bu Stella menemukan Savanna yang sedang memberi makan kucing.
"Hay nak, maaf ya menunggu lama."
"Hay ibu." Savanna langsung memeluk ibu nya.
"Kenapa ibu ngos ngosan gini? Ibu lari larian ya? Ayo kita duduk dulu." Savanna mengarahkan ibu nya untuk duduk.
"Iya, ibu tadi lari lari dari parkiran cari kamu, ibu takut kamu sudah pergi lagi dari sini karena nunggu ibu terlalu lama."
"Ya ampun bu, aku kan udah janji mau ketemu ibu, mana mungkin aku langsung pulang lagi. Nunggu nya sih memang lama bu, tapi kan janji harus ditepati, ya kan bu."
"Iya sayang, maaf ya tadi majikan ibu tiba tiba sakit, jadi ibu mengurus nya sebentar. Terus diperjalanan macet, jadilah ibu sangat lama ke sini nya."
"Oh ternyata gitu ya bu. Terus terus emang majikan ibu gak marah ibu malah pergi nemuin aku?"
"Semoga saja nggak ya sayang, dia baik kok orang nya." Bu Stella mengusap rambut Savanna.
"Ya syukur lah bu kalau gitu. Ngomong ngomong gimana keadaan ibu?"
"Seperti yang kamu lihat, ibu sangat baik, harus nya ibu yang nanya kabar kamu dan nenek, apakah nenek sehat?"
"Aku sangat sehat bu, begitu juga nenek, oh ya, tadi nenek bilang, kenapa kita gak ketemu di rumah?"
"Ibu mau ajak kamu jalan jalan dulu sebentar sambil ngobrol, katanya kamu mau jalan bareng ibu kan?"
"Tentu nya bu, terima kasih ya bu sudah menyempatkan waktu nya buat ketemu aku."
"Sama sama nak, sekarang kita ke mall yuk, kita cari makan."
Akhir nya mereka berdua pergi jalan jalan ke mall.
Setelah mereka berbelanja dan makan akhir nya mereka memutuskan untuk jalan jalan di pantai, karena mall nya dekat dengan pantai.
"Bu, sebenar nya, ibu mau bicara hal serius apa sama aku?" Savanna membuka pembicaraan, karena ibu nya masih belum memberi tahu hal serius itu.
"Kita ngobrol nya sambil duduk dulu dipinggir yuk, biar ngobrol nya tenang."
Savanna mengangguk.
Setelah menemukan tempat yang nyaman, akhir nya bu Stella berbicara serius.
"Sebelum nya ibu mau minta maaf dulu kalau ibu bersikap egois. Jadi gini, apakah kamu mau tinggal di rumah majikan ibu, bersama ibu?"
"Hah? Maksud ibu? Ibu gak salah bicara kan?"
"Ngga nak, ibu serius. Ibu ingin kamu tinggal bersama ibu."
"Untuk apa bu? Ibu udah cape kerja ya? Aku disuruh gantiin ibu?"
"Bukan nak bukan seperti itu."
"Terus karena hal apa? Ibu mau jual aku ke majikan ibu, gitu?" Nafas Savanna tersengal sengal.
"Ya ampun nak, kenapa fikiran mu jadi aneh aneh gitu. Dengarkan dulu ibu bicara."
Savanna terdiam.
"Jadi ibu ingin kamu pindah ke rumah, supaya majikan ibu ada teman nya."
"Maksud nya bu? Kan majikan ibu udah tua, dia kan seorang duda? Masa aku harus jadi teman nya."
Savanna sedikit tahu cerita tentang majikan ibu nya , karena ibu nya suka bercerita.
"Iya, memang dia seorang duda, maka nya dia sangat kesepian. Tidak ada orang yang bisa diajak curhat, tidak ada teman, dan hidup nya sangat menyedihkan. Jadi ibu hanya meminta, kamu hibur dia, ajak dia bicara, semoga dia bisa berubah kembali seperti dulu."
"Kenapa ibu sangat peduli pada majikan ibu? Tugas ibu kan cuma kerja, dan tugas dia cuma bayar ibu, kenapa ibu harus repot urus hidup dia." Savanna masih bersi keras melawan perkataan ibu nya.
"Nak, bayangkan, ibu mengurusnya sejak dia masih bayi, dari bayi sampai sekarang, orang tua nya sama sekali kurang peduli pada nya, bahkan ketika dia ditinggal kan oleh istri dan anak nya pun, keluarga nya sama sekali tak ada yang merangkul dia. Siapa orang yang tak iba melihat orang seperti itu."
Savanna diam mencerna perkataan ibu nya.
"Ibu sudah anggap dia sebagai anak ibu. Ibu hanya meminta kamu untuk ajak dia ngobrol, temani dia, mungkin dia butuh teman, karena selama 5 tahun dia ditinggalkan oleh istri nya, tak pernah banyak kosa kata yang dia keluarkan kepada siapa pun."
"Ibu mohon pertimbangkan lah permintaan ibu. Ibu bukan meminta kamu menjadi pasangan nya, tapi jadikan lah dia kakak mu, atau jadikan lah dia saudaramu. Kamu juga gak punya saudara kan? Maka, ibu meminta fikirkan lah dengan baik."
Savanna masih bergelut dengan fikiran nya. Satu sisi dia tak mau terkekang oleh permintaan ibu nya, tapi di satu sisi dia juga sangat terenyuh oleh cerita ibu nya. Dia juga sangat sayang ibu nya, membuat nya semakin bingung dengan permintaan serius ibu nya.