IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Sayang!"
Anin mendekat. Saat Naufal menoleh ke arahnya, ia melihat senyum Anin yang begitu merekah.
"Bahagia banget kayanya? Senyumnya sampe mengembang gitu."
Anin tertawa kecil, "iya dong, orang pacar aku ini kesetiaannya udah nggak di ragukan lagi."
Naufal ikut tersenyum "Kalo mood kamu lagi bagus gini, kamu tuh makin ngegemisin deh, jadi pengen nyubit." ujarnya, seraya mencubit pelan pipi mulus Anin.
"Yuk, aku anter kamu!" serunya, lantas membuka pintu mobilnya.
Anin duduk di sebelah Naufal dengan nyaman. Naufal meliriknya sekilas, sebelum menyalakan mesin mobil.
"Sayang, ikut aku!"
Anin menautkan alisnya, "kemana?"
"Ke suatu tempat yang bikin mood kamu makin tenang."
Anin masih tidak mengerti, tempat apa yang Naufal maksud. "Emangnya kemana sih?"
"Kamu ikut aja, nanti kamu bakal happy kok."
Anin ingin bertanya lagi, tapi ia urungkan. Kini ia ingin belajar, untuk mempercayai apa yang di ucapkan oleh kekasihnya itu. Alhasil ia memilih diam, mengikuti kemana Naufal membawanya.
Mobil terus melaju membelah jalan raya. Playlist lagu favorit Naufal memutar lembut. Anin menyandarkan kepalanya di jok, sesaat ia menaruh semua kegundahan dan permasalahannya, ia memilih untuk menikmati setiap detik perjalanan bersama Naufal. Perlahan ia memejamkan mata.
Naufal meliriknya sekilas, lantas tersenyum tipis. Kemudian ia kembali fokus menatap jalan.
Sampailah mereka di tempat yang Naufal maksud. Ia memelankan laju kemudinya, sebelum benar-benar berhenti di halaman parkir.
Anin membuka mata, lantas mengedarkan pandangannya. Ia terpaku, saat tatapannya jatuh pada pemandangan di depan mereka.
"Sayang, ayo turun!"
Naufal lebih dulu keluar, Anin menyusul tanpa banyak bicara.
Tempat yang mereka tuju adalah sebuah tempat yang tepat, jika di sebut Saung.
Saung yang berdiri tenang di tepian danau, seolah menyatu dengan alam di sekitarnya. Kayu-kayu tua yang menjadi rangkanya tampak sengaja dibiarkan mempertahankan warna aslinya—cokelat hangat dengan guratan alami yang memberi kesan rustic yang kuat. Atapnya dari anyaman ilalang, sedikit melengkung di ujung, berdesir pelan setiap kali angin menyapa.
Naufal menggenggam jemari tangan Anin. "Gimana, suka?"
Anin mengangguk tegas, Seulas senyum kembali menghiasi wajahnya. "Suka banget, tempatnya tenang. Kapan kamu nemuin tempat kaya gini?"
"Aku sering tahu, kalo lagi pengen sendirian ke tempat ini" Naufal menjawab sambil terus melangkahkan kaki. "Apalagi kalo weekend, biasanya aku sama komunitas Bycicle, sepedaan kemari. Ngilangin capek, sambil nikmatin ikan bakar. Ikan bakar di sini enak tahu. Kamu mau cobain?"
Anin menggeleng, "Masih kenyang sayang, kan tadi makan di resepsi, eh tadi rendangnya enak ya?"
Naufal memicingkan mata "Kamu sesuka itu sama rendang? Perasaan kemarin pas kita makan di rumah makan Padang kamu Excited banget deh."
Anin terkekeh "Nggak tahu, aku selalu begitu kalo sama rendang. Daun singkong rebus, apalagi nih kalo ada sambel ijonya. Beuh, nikmat banget pokoknya. Kalo kamu?"
Naufal memiringkan tubuhnya, menatap lekat Anin "Aku?"
"He em" Anin mengangguk.
"Kalo aku, lebih suka masakan Eropa. Maybe, karna Mama yang nota bene blasteran Jerman. Jadi lebih sering ngenalinnya ke masakan sana. Tapi beda lagi sama Papa."
Anin mendengar dengan seksama, ia tidak akan melewatkan informasi penting ini baginya.
"Kalo Papa, favoritnya itu daun singkong yang masaknya pake di tumbuk. Terus dimasak pake santan kental, biasanya ditambah teri, udang kecil, atau kadang pakai daging."
Anin mengangguk-angguk, "Kenapa bisa beda banget ya sama Mama kamu?"
Naufal menarik pelan tangan Anin, " Sayang, kita ke sana dulu yuk" tunjuknya mengarah pada tepian danau. Lantas ia melanjutkan, "Papa kan asli Medan, makanya beda jauh sama selera Mama."
"Oh...Papa kamu alisnya berdarah Medan."
"Iya" Naufal melambatkan langkahnya "Jadi aku ini, perpaduan Jerman sama Medan. Makanya aku ganteng gini, ya kan?"
Anin mencibir "Dih, pede!"
Naufal mencebik "Ah...kamu mah, suka gitu. Suka nggak ngakuin kalo punya pacar ganteng kaya aku."
Dan membuat Anin justru terkekeh.
Langkah mereka berhenti, tepat di pinggiran danau yang tadi di tunjuk Naufal.
Danau itu nampak begitu asri, di sekelilingnya, rumput liar tumbuh bebas, dihiasi bunga-bunga kecil yang bermekaran tanpa aturan, terkesan begitu alami.
Air danau yang jernih memantulkan bayangan saung itu dengan sempurna, sesekali beriak ketika angin lewat atau ikan melompat singkat ke permukaan.
Sebuah jalan setapak dari batu-batu kecil mengarah ke saung, sedikit lembap dan tertutup lumut tipis, seolah sudah lama menjadi saksi langkah-langkah yang datang mencari tenang.
Naufal dan Anin berdiri berhadapan. Tatapan mereka sama-sama membicarakan isi hati masing-masing dengan sejujurnya. Betapa berkesempatan untuk bisa berdua dengan jarak yang dekat, tanpa di penuhi dengan keragu-raguan sangatlah menyenangkan. Hingga tanpa sadar senyum merekah terlukis di wajah Anin.
"Sayang, kamu kalo senyum-senyum terus nanti di sangkain orang gila loh."
"Biarin!" sahut Anin, "Aku sebelumnya nggak pernah ngerasain sebahagia ini. Selama ini aku selalu takut buat bahagia, karna aku ngerasa orang seperti aku itu nggak pantes nunjukin rasa bahagianya."
Naufal terkesiap, mendadak hatinya ikut merasakan kepedihan hidup kekasihnya itu.
"Sekarang, aku punya seseorang yang menerima aku apapun keadaan aku." ujar Anin pelan, "Makanya aku jadi nggak takut buat bertingkah aneh atau berubah-ubah." lanjutnya.
Naufal semakin menatap lekat manik mata kekasihnya.
"Meski kadang aku seperti orang gila, kadang aku senyum, tapi sedih kalau inget kita juga harus pura-pura dan berbohong." suara Anin sedikit bergetar "Kadang aku merasa jadi orang paling beruntung, tapi kemudian aku merasa jadi orang yang nggak pantas. Tapi biarin aja, setidaknya aku bisa membaginya sama kamu." lantas ia memaksakan untuk kembali tersenyum.
Namun tetap terlihat getir di mata Naufal.
"Kamu tahu?" kali ini Anin tidak bisa menyembunyikan suara seraknya "Hal yang paling aku takutkan, kalau terus sama kamu adalah ini."
Naufal menatapnya tanpa bisa bicara, melihat Anin dengan suara bergetar dan seraknya membuat lidah Naufal kelu, terpaku. Hanya mampu memandangi Anin, dengan dada bergemuruh.
"Aku takut" setetes cairan kristal, lolos dari mana Anin. "aku merasa bahagia dan semakin dalam mencintai kamu, tapi aku harus terima kenyataan kalau kamu bukan buat aku."
Naufal tak bisa menahannya, justru perkataan Anin begitu menusuk relung jiwanya begitu dalam. Ia pun merengkuh tubuh Anin, menaruh kepala Anin tepat di bagian jantungnya berdetak.
"Aku nempel sama kamu, cuma agar di cintai sama kamu" Anin mulai terisak, "Aku rela berbohong dan nggak tahu malu, tapi kemudian aku harus pikirkan gimana caranya bisa kabur dari kamu, karna semakin lama aku nempel sama kamu, semakin aku sadar aku nggak pantes buat kamu."
Naufal semakin mengeratkan rengkuhannya. Baru kali ini ia merasakan begitu sakitnya hati ketika mendengar ucapan jujur dari orang yang ia cintai.
Kerongkongannya kering, lidahnya kaku, namun hatinya berbicara banyak.
Lama Naufal merengkuh tubuh kekasihnya, namun Anin tetap tidak membalas rengkuhan itu. Tangannya gontai, lemas, luruh begitu saja. Bulir-bulir air mata menetes tanpa mengeluarkan suara.
"Boleh aku minta sesuatu sama kamu sekarang?" tanya Anin, tanpa bergerak sedikit pun.
Naufal hanya sanggup mengangguk, tanpa berani melepas rengkuhannya.
"Cintai aku sekarang, seperti aku mencintai kamu. Sampai, kalau waktu memaksa kita untuk berpisah, setidaknya kita sudah cukup bahagia dengan pertemuan kita."
Air mata kembali lolos di pipi Anin, dan Naufal pun sama.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍