NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Lorong rumah sakit yang berbau karbol itu terasa begitu panjang bagi Sheila. Setiap langkahnya terasa berat, namun ia tetap bersikeras melangkah dengan cepat. Jeremy, dengan langkah lebarnya yang santai namun protektif, terus berjalan di sampingnya. Berkali-kali tangan besar Jeremy menyambar pergelangan tangan Sheila atau sekadar menahan bahunya saat gadis itu mencoba melesat mendahuluinya menuju lift.

"Lepasin, Jer! Aku bisa jalan sendiri, nggak usah dipegangin terus!" gerutu Sheila sambil menyentak tangannya berkali-kali.

Jeremy justru terkekeh, sebuah tawa rendah yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Sheila. "Aku tahu kamu pengen lari, Sheila. Tapi kali ini nggak bisa, haha. Kaki kamu itu masih lemas, kalau aku lepas dan kamu jatuh tersungkur di depan suster, yang malu siapa? Aku juga, kan, asistenku kurang gizi."

"Curang! Dasar CEO tengil! Mentang-mentang kakinya panjang!" umpat Sheila pelan, namun ia akhirnya menyerah dan membiarkan Jeremy menuntunnya hingga sampai di depan pintu kamar 402.

Langkah Sheila mendadak terhenti tepat di depan daun pintu jati tersebut. Keberanian yang tadinya meluap-luap saat di apartemen kini mendadak menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dada. Ia menatap knop pintu itu dengan tangan yang gemetar hebat. Bagaimana kalau Malik tetap pada pendiriannya? Bagaimana kalau tatapan Malik tidak lagi memuja seperti dulu?

Jeremy menyadari keraguan itu. Ia melepaskan pegangannya pada lengan Sheila, lalu berdiri bersandar di dinding koridor, melipat kedua tangannya di depan dada. Ekspresi tengilnya hilang, berganti dengan tatapan serius yang menenangkan.

"Ayo masuk. Katanya tadi mau minta penjelasan, kan?" ucap Jeremy lembut. Ia memberikan ruang bagi Sheila untuk menghadapi dunianya sendiri. "Aku tunggu di sini. Aku nggak bakal masuk kalau kamu nggak panggil. Tapi ingat, Shei... kalau di dalam sana kamu merasa nggak kuat, kalau kamu merasa duniamu runtuh lagi, aku ada di sini. Tepat di balik pintu ini. Aku nggak kemana-mana."

Sheila menatap Jeremy lama. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Jeremy yang tidak egois—seorang pria yang rela berdiri di luar demi membiarkan wanitanya menemui pria lain. "Makasih, Jer," bisik Sheila hampir tak terdengar.

Dengan napas yang ditarik sedalam mungkin, Sheila memutar knop pintu dan masuk ke dalam.

Di dalam ruangan, suasana begitu hening. Malik sedang duduk bersandar di ranjangnya, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan langit pagi. Saat mendengar pintu terbuka, ia menoleh. Matanya yang sayu langsung bertemu dengan mata Sheila yang memerah.

"Sheila..." bisik Malik, suaranya parau.

"Kenapa, Malik?" Sheila langsung memotong sebelum Malik sempat bicara lebih jauh. Ia berdiri di sisi ranjang, menolak untuk duduk. "Kenapa kamu tega melakukan ini? Kamu pikir dengan memutus hubunganku, kamu jadi pahlawan? Kamu pikir aku bakal bahagia kalau kamu 'menitipkan' aku ke Pak Jeremy?"

Malik terdiam, ia meremas selimutnya dengan tangan yang tidak terbalut perban. "Aku hanya realistis, Shei. Aku nggak tahu kapan tanganku bisa berfungsi normal lagi. Aku nggak tahu kapan aku bisa kerja lagi. Sedangkan Jeremy... dia bisa kasih kamu perlindungan instan. Dia bisa bayar denda kontrakmu yang gila itu tanpa berkedip."

"Tapi dia bukan kamu!" teriak Sheila, air matanya mulai menetes. "Aku nggak butuh perlindungan instan, Malik! Aku butuh kamu! Aku butuh orang yang janji bakal menua bersamaku! Sejak kapan cinta kita jadi soal siapa yang punya uang buat bayar denda?!"

"Sejak kecelakaan itu terjadi, Sheila!" suara Malik meninggi, penuh keputusasaan. "Aku nggak mau jadi beban buat kamu. Aku nggak mau kamu menghabiskan masa mudamu buat ngurusin orang cacat kayak aku sementara ada pria mapan yang tergila-gila sama kamu!"

"Kamu jahat, Malik," rintih Sheila. "Kamu egois. Kamu membuat keputusan untuk hidupku tanpa tanya apa mauku. Kamu mengusirku seolah-olah aku ini beban, padahal aku di sini karena aku mau!"

Malik memalingkan wajahnya, air matanya pun jatuh. "Pergilah, Sheila. Pak Jeremy nunggu di luar, kan? Dia lebih bisa jagain kamu."

Di luar ruangan, Jeremy bisa mendengar suara isakan Sheila yang menyayat hati. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Rasanya ia ingin sekali mendobrak pintu itu dan menyeret Sheila keluar, membawanya pergi jauh agar tidak perlu mendengar penolakan Malik lagi.

Namun, ia teringat janjinya. Ia harus menjadi sandaran, bukan penambah beban.

Tiba-tiba, pintu terbuka dengan kasar. Sheila berluar dengan wajah hancur, napasnya tersengal-sengal. Begitu melihat Jeremy, pertahanan terakhirnya runtuh. Ia tidak lagi peduli pada gengsinya. Ia langsung menubruk dada Jeremy, menyembunyikan wajahnya di kemeja pria itu dan menangis sejadi-jadinya.

Jeremy tidak bicara apa-apa. Ia hanya melingkarkan lengannya yang kokoh di bahu Sheila, memeluknya erat, membiarkan kemejanya basah oleh air mata asistennya untuk kesekian kalinya. Ia menatap ke arah pintu kamar yang masih terbuka sedikit, melihat Malik yang tertunduk lesu di dalam sana.

Jeremy tahu, mulai detik ini, tanggung jawabnya bukan lagi sekadar kontrak kerja. Ia telah menjadi satu-satunya tempat Sheila berpegang di tengah badai yang diciptakan oleh takdir dan keegoisan Malik.

"Sudah, Shei... sudah," bisik Jeremy sambil mengecup puncak kepala Sheila. "Ayo kita pulang. Aku ada di sini. Aku bener-bener nggak kemana-mana."

Sheila hanya bisa mengangguk lemah dalam dekapan Jeremy. Ia merasa dunianya benar-benar sudah berakhir dengan Malik, dan ironisnya, orang yang paling ia benci selama ini justru menjadi satu-satunya yang memberikan kehangatan di tengah kedinginan rumah sakit tersebut.

***

Dua minggu telah berlalu sejak badai di rumah sakit itu memporak-porandakan hidup Sheila. Jakarta sore itu mendung, seolah ikut merasakan sisa-sisa kesedihan yang masih mengendap di sudut mata Sheila. Di ruang tamu rumah Nilam yang hangat, aroma camilan cilok kuah dan es teh manis menyeruak, mencoba mencairkan suasana kaku yang menyelimuti kelima sahabat itu.

Nilam, Sari, Alena, dan Bila duduk melingkar di atas karpet bulu. Mereka menatap Sheila yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk es tehnya tanpa minat. Malik memang sudah kembali ke Jakarta tiga hari yang lalu, namun pria itu benar-benar menepati janji "kejamnya". Semua akses komunikasi diblokir. Malik pindah kontrakan tanpa memberi tahu alamat baru, bahkan teman-teman kerjanya disumpah untuk tutup mulut.

"Shei? Lo oke? Muka lo kayak cucian belum kering, kusut banget," celetuk Sari sambil menyikut pelan lengan Sheila.

Sheila tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Gue oke kok, Sar. Cuma kurang tidur aja."

"Kurang tidur apa kurang asupan kasih sayang?" timpal Bila sambil nyengir, mencoba mencairkan suasana. "Tapi serius deh, Shei. Pak Jeremy dari tadi neror gue sama Nilam lewat WhatsApp. Dia nanyain lo terus, katanya lo nggak angkat telepon dia dari jam makan siang."

Nilam mengangguk setuju, ia menunjukkan layar ponselnya yang berisi rentetan pesan dari sang CEO. "Iya, Shei. Sumpah ya, itu bos lo atau satpam komplek? Protektif banget. Dia nanya lo makan apa, lo ketawa nggak hari ini, sampai nanya ada cowok lain nggak yang deketin lo di sini. Gila, kan?"

Alena yang sejak tadi asyik dengan ponselnya ikut menyahut, "Tapi keren sih, Shei. Jarang-jarang ada CEO modelan Jeremy Nasution yang mau repot-repot nyariin asistennya sampai ke temen-temennya. Biasanya kan CEO mah cuek bebek."

"Dia itu cuma takut asistennya resign mendadak, makanya dipantau terus," jawab Sheila membela diri, meski di dalam hatinya ada rasa hangat yang sedikit menjalar setiap kali mendengar betapa "repotnya" Jeremy mencarinya.

Tiba-tiba, ponsel Sheila yang tergeletak di atas karpet bergetar hebat. Nama "Bapak CEO Sengklek" terpampang di layar dengan foto profil Jeremy yang sedang memakai kacamata hitam di atas yacht.

"Nah, panjang umur! Si Raja Hutan telepon!" pekik Bila heboh.

"Bentar ya, guys. Aku angkat telepon dulu. Kalau nggak diangkat, bisa-bisa dia kirim helikopter ke sini," pamit Sheila sambil berdiri dan melangkah menuju balkon belakang rumah Nilam yang lebih sepi.

Begitu tombol hijau digeser, suara bariton yang berat dan penuh penekanan langsung memenuhi indra pendengaran Sheila.

"Di mana?" tanya Jeremy tanpa basa-basi. Tidak ada "Halo" atau "Selamat sore".

"Di rumah Nilam, Pak. Kan tadi pagi saya sudah izin di kantor," jawab Sheila sambil bersandar di pagar balkon, menatap langit yang makin menggelap.

"Aku telepon sepuluh kali nggak diangkat. Kamu sengaja mau bikin aku kena serangan jantung mendadak?" suara Jeremy melembut, namun tetap ada nada posesif yang kuat di sana.

"HP saya di tas tadi, Pak. Lagian ini hari Sabtu, hari libur saya. Bapak nggak berhak meneror saya sampai ke teman-teman saya. Kasihan Nilam sama Bila, mereka bukan layanan pengaduan asisten hilang."

Jeremy terkekeh di seberang sana. Suara tawanya terdengar renyah, membuat jantung Sheila berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya—reaksi tubuh yang sangat ia benci karena terasa seperti pengkhianatan pada Malik.

"Aku cuma mau pastiin kamu nggak nangis lagi. Suara kamu kedengeran serak. Kamu habis nangis ya?" selidik Jeremy tajam.

"Nggak! Ini karena es tehnya kebanyakan es batu," elak Sheila cepat.

"Bohong. Kamu itu asisten paling nggak pinter bohong, Sheila Maharani," Jeremy terdiam sejenak. "Denger ya. Malik itu masa lalu yang sengaja buang emas demi rasa takutnya sendiri. Jangan hukum dirimu terus karena keputusan bodoh dia. Kamu berharga, Shei. Setidaknya buat aku."

Sheila tertegun. Matanya kembali memanas. "Kenapa Bapak baik banget sih belakangan ini? Padahal biasanya hobi banget bikin saya darah tinggi."

"Karena aku mau kamu lihat aku sebagai Jeremy, bukan sebagai CEO yang nahan kamu pakai kontrak. Aku mau kamu sadar kalau sandaran yang paling kokoh itu ada di sini, di Jakarta, bukan di kenangan kamu yang sudah hilang," Jeremy menghela napas. "Sudah makan? Aku sudah pesan makanan buat kalian berlima lewat ojek online. Bentar lagi sampai atas nama aku. Makan yang banyak sama temen-temen kamu."

"Pak, jangan berlebihan—"

"Nggak ada bantahan. Itu perintah bos. Habiskan, kirim foto kamu lagi makan ke aku, baru aku berhenti neror Nilam. Mengerti?"

"Iya, Pak. Mengerti," jawab Sheila pasrah, namun ada senyum kecil yang akhirnya terbit di bibirnya.

"Bagus. Satu jam lagi aku jemput."

"Loh! Katanya tadi cuma mau mastiin makan?!"

"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Nggak ada penolakan. Sampai ketemu nanti, Calon Nyonya Nasution."

Klik.

Sambungan diputus sepihak oleh Jeremy. Sheila menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk. Kesal, bingung, tapi juga merasa terlindungi. Ia berbalik masuk ke dalam dan mendapati keempat sahabatnya sudah berdiri di balik pintu kaca sambil senyum-senyum nakal.

"Ciyeee... 'Bentar lagi sampai makanannya', 'Nanti aku jemput'... Duh, yang move on-nya dibantu sama CEO mah beda ya levelnya!" goda Alena sambil tertawa puas.

"Apaan sih! Dia cuma mau pamer kekayaan aja!" bela Sheila dengan wajah yang memerah padam.

"Pamer kekayaan tapi hatinya tulus mah sikat aja, Shei! Malik mah lewat!" timpal Sari sambil menyambar cilok terakhir di piring.

Sheila hanya bisa geleng-geleng kepala. Di tengah rasa sakit hatinya pada Malik, Jeremy datang membawa badai baru yang jauh lebih kuat, namun entah kenapa, badai kali ini terasa lebih hangat dan menjanjikan masa depan yang tidak lagi suram.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!