"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepingan Puzzle Acak
Matahari pagi menembus celah-celah ukiran kayu joglo, membiaskan cahaya keemasan di atas meja makan. Suasananya jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya, namun ada beban berat yang masih menggantung di antara Rasyid dan Shanum. Mereka duduk berhadapan, menikmati sarapan dalam keheningan yang produktif.
Rasyid meletakkan sendoknya, menatap Shanum yang tampak sedang melamun menatap uap tehnya. “Aku masih tidak habis pikir,” buka Rasyid pelan. “Bagaimana bisa kamu begitu yakin untuk menyelidiki Najwa sejak awal, padahal seluruh pesantren—bahkan Ibuku—begitu mendewakannya?”
Shanum mendongak, tersenyum tipis. “Mas Kyai, orang yang lahir dan besar di jalanan sepertiku punya insting yang berbeda. Najwa punya dua wajah yang terlalu sempurna. Di depanmu dia adalah bidadari, tapi di belakang... aku melihat tatapan matanya yang haus akan sesuatu. Orang yang terlalu keras menunjukkan kesuciannya biasanya sedang menyembunyikan bangkai yang paling busuk.”
Rasyid mengangguk perlahan, mengakui kecerdasan istrinya. “Lalu... soal foto anak kecil itu. Zaki masih buntu. Apa kamu benar-benar tidak ingat apa pun tentang hari itu?”
Shanum menggeleng frustrasi. “Hanya kepingan, Mas. Aku ingat rasa takut, aroma parfum yang tajam, dan dingin yang menusuk. Tapi yang membuatku merasa aneh adalah tanggalnya. Anak kecil di foto itu dikabarkan meninggal di hari yang sama saat aku pertama kali diseret ke rumah bordil lima belas tahun yang lalu. Itu bukan kebetulan, kan?”
Pencarian pun dimulai. Rasyid memanggil Zaki ke ruang kerja. Laptop menyala, menampilkan berbagai situs pelacakan internasional. Mereka mencoba melacak keberadaan Mr. Demir di Turki, mencari di arsip digital, hingga menyisir forum-forum tidak resmi yang mungkin menyimpan data lama.
“Nihil, Mas Kyai,” Zaki mengusap wajahnya yang lelah. “Nama Mr. Demir seperti dihapus secara profesional dari sejarah. Lokasi terakhir memang terlacak di salah satu distrik di Turki, tapi titik koordinatnya terkunci rapat. Seolah-olah ada pihak besar yang memastikan jejaknya tidak bisa disentuh.”
Rasyid menoleh ke arah Shanum yang sedang memperhatikan surat wasiat mendiang ayahnya. “Abah menulis tentang ‘Tuan Putri’ yang akan datang. Dan anak kecil di foto itu juga disebut ‘Tuan Putri’ oleh orang-orang Demir. Apakah itu kamu, Shanum? Atau kamu hanyalah ‘pengganti’ dari anak yang sudah mati itu?”
“Aku tidak tahu, Mas,” bisik Shanum seraya memegang kepalanya. “Kenapa Abahmu bisa tahu 15 tahun sebelum aku sampai di sini? Semuanya seperti puzzle yang sengaja diacak-acak.”
Sebelum Najwa benar-benar dikirim kembali ke rumah orang tuanya, Rasyid memutuskan untuk melakukan konfrontasi terakhir. Najwa dibawa ke hadapannya dengan pengawalan ketat. Wajahnya yang dulu cantik kini tampak bengkak dan lebam—bekas amukan Abi-nya yang merasa dikhianati dan sangat malu.
“Najwa,” suara Rasyid terdengar dingin dan tak tersentuh. “Katakan padaku apa yang kau ketahui tentang anak kecil yang dibawa Mr. Demir lima belas tahun lalu. Kau bekerja di sana, kau pasti tahu sesuatu.”
Najwa mendongak, menatap Rasyid dan Shanum dengan mata yang merah penuh racun. Ia tertawa, suara tawa yang terdengar sangat mengerikan di ruangan sunyi itu.
“Kau ingin tahu rahasia itu, Rasyid?” desis Najwa. “Kau bisa berlutut dan memohon sampai kakiku berdarah, tapi aku tidak akan pernah memberitahumu. Biarkan istrimu itu hidup tanpa nama selamanya! Biarkan dia merasa seperti sampah yang tidak punya akar!”
“Najwa, cukup!” gertak Rasyid.
“Aku membencimu, Rasyid! Dan aku lebih membenci istrimu!” Najwa berteriak histeris meski tubuhnya gemetar karena luka-lukanya. “Aku tidak akan memberi kalian kunci apa pun. Hiduplah dalam kegelapan sampai kalian gila!”
Rasyid menghela napas panjang, ia tahu Najwa sudah tidak punya nurani lagi. “Bawa dia pergi. Pastikan dia sampai di tangan ayahnya dengan seluruh bukti kejahatannya.”
Malam kembali menyelimuti Pondok Hikmah. Di saat Rasyid dan Shanum masih berkutat dengan pusingnya misteri identitas, sosok Yusuf tampak sedang melakukan tugasnya dengan sangat teliti. Ia sedang menyapu dan mengepel lantai masjid, tampak seperti santri teladan yang paling tawadhu.
Namun, saat suasana benar-benar sepi, Yusuf bergerak ke sudut gelap di balik pilar masjid. Seorang santri lain mendekatinya secara rahasia. Tanpa sepatah kata pun, Yusuf mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening yang tampak kental.
Transaksi itu terjadi sangat cepat. Yusuf menyerahkan botol itu dan menerima sekantong uang yang cukup tebal. Namun, alih-alih menyimpan uang itu untuk dirinya sendiri, Yusuf justru melangkah menuju kantor pribadi Rasyid yang sedang kosong.
Dengan gerakan yang sangat halus, ia menyelipkan kantong uang itu di bawah tumpukan dokumen rahasia di dalam laci meja Rasyid. Sebuah jebakan yang dirancang untuk membuat Rasyid seolah-olah terlibat dalam transaksi gelap.
Yusuf berdiri tegak, merapikan sarungnya, lalu menatap pintu ruang kerja Rasyid dengan senyuman yang sangat tipis dan licik.
“Teruslah sibuk dengan duniamu, Mas Kyai,” gumam Yusuf pelan, matanya berkilat penuh dendam yang tersembunyi. “Aku akan menjebakmu dengan caraku sendiri. Saat waktunya tiba, kau akan jatuh dengan sangat keras hingga tidak ada lagi santri yang sudi mencium tanganmu.”
Yusuf mematikan lampu masjid, meninggalkan kegelapan yang siap menelan segala rahasia di Pondok Hikmah.
biarkan shanum bertemu keluarganya dulu, smua orang mengganggapmu rendah tapi shanum anggap kamu suami yg baik dan pantas dihormati...
shanum berharap pulang keturkey bisa hamil....
zein ingin menghancurkan nama baik rasyid Zen punya dendam kesumat kayaknya...
semoga aja rasyid segera kembali, mencari bukti-bukti akurat agar baik bersih...
yusuf dan zein jebloskan aja kepenjara, ada bukti-buakti yg kuat...
💪
apakah rasyid fan zein ada hubungan saudara....
rasyid sangat terpuruk telah difitnah sama yusuf, apalagi shanum cuekin rasyid tidak terima ulah ayah rasyid dulu sampai tega membuang shanum dirumah bordir🤭
kayaknya yusuf punya dendam kesumat sama rasyid, yusuf berusaha menjatuhkan rasyid...
shanum dan rasyid lebih hati-hati sama yusuf sangat jahat dan licik..