NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Matahari pagi baru saja menyembul di ufuk timur saat Abraham dan Prita melangkah keluar dari lobi hotel.

Prita tampak jauh lebih segar, meski gurat kecemasan masih sedikit tersisa di wajahnya. Namun, saat mereka sampai di area parkir, langkah keduanya terhenti karena terkejut.

Tiga mobil operasional kantor dan deretan motor teknisi sudah terparkir rapi di sana. Deddy, Pak Gio, dan hampir seluruh rekan kerja Abraham di lapangan sudah berdiri menunggu di samping kendaraan mereka.

"Nah, itu dia sang pahlawan kita!" seru Deddy sambil bertepuk tangan, yang segera diikuti oleh sorakan riuh dari teman-teman lainnya.

"Lho, kalian, kok bisa ada di sini?" tanya Abraham dengan wajah heran sekaligus haru.

Pak Gio melangkah maju sambil tersenyum lebar. "Semalam Mas Deddy bilang, nggak aman kalau kalian pulang sendirian pakai motor. Jadi, kami semua sepakat jemput. Kita kawal pengantin baru ini sampai ke mess!"

Deddy menepuk bahu Abraham dengan kencang. "Kita ini keluarga, Ham. Kalau satu diganggu, satu batalion turun tangan. Kita mau pastikan nggak ada mobil hitam atau orang suruhan siapa pun yang berani macam-macam lagi di jalan."

Prita yang awalnya sempat tegang, kini matanya berkaca-kaca melihat solidaritas rekan-rekan suaminya.

Ia tidak menyangka bahwa orang-orang yang baru ia kenal sebentar di pasar dan mess, justru memberikan perlindungan yang begitu tulus melebihi keluarganya sendiri.

"Mbak Prita, tenang saja ya. Di mess sudah kami pasang pengamanan ekstra. Pak Gio juga sudah siapkan nasi kuning buat sarapan kita semua," ucap salah satu teknisi muda yang membuat suasana menjadi semakin hangat.

"Ayo, naik ke mobil saya saja, Bram. Biar motor kamu dibawa sama anak-anak," ajak Deddy sambil membukakan pintu mobil untuk Prita.

Dengan pengawalan ketat dari iring-iringan motor teknisi di depan dan belakang, mereka bergerak menuju mess.

Abraham menggenggam erat tangan Prita di dalam mobil, menyadari bahwa meski ia kehilangan dukungan dari mertuanya, ia kini memiliki keluarga baru yang siap pasang badan untuk mereka kapan saja.

Sesampainya di mess, suasana yang tadinya tegang kini berubah menjadi pesta rakyat kecil-kecilan.

Di ruang tengah mess yang biasanya hanya berisi meja kursi kayu seadanya, kini sudah terhampar tikar panjang.

Di tengahnya, sebuah tumpeng nasi kuning lengkap dengan ayam goreng dan urap-urap sudah menunggu.

Pak Gio memimpin doa syukur dengan khidmat, namun begitu doa selesai, suasana langsung pecah oleh tawa dan suara riuh teman-teman Abraham.

"Nah, sekarang waktunya makan-makan! Tapi sebelum itu, kita harus tanya dulu sama sang jawara kita," seru Deddy sambil menyikut lengan Abraham yang sedang duduk di samping Prita.

"Ham, itu kemarin jurus apa namanya? Sekali pukul gerbang roboh, sekali tendang enam orang pingsan. Kamu teknisi apa pemain film action?" ledek Deddy yang langsung disambut tawa terpingkal-pingkal dari yang lain.

"Iya, Bram! Wah, Mbak Prita harus bangga nih. Ternyata suaminya kalau di lapangan megang tang, tapi kalau urusan istri megangnya sabuk hitam!" timpal Tono sambil pura-pura memeragakan gerakan silat yang kaku.

Abraham hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa malu.

"Sudah, sudah... makan saja itu nasi kuningnya. Kebanyakan nonton TV kalian ini."

"Bukannya gitu, Bram. Kita semua kaget. Biasanya kamu kan orangnya kalem, jarang ngomong. Eh, sekalinya istrinya diculik, langsung jadi singa Donomulyo!" sambung Iwan sambil menyodorkan piring ke arah Prita.

"Mbak Prita, maaf ya teman-teman Abraham ini memang agak kurang sopan, tapi kita semua senang Mbak sudah balik dengan selamat."

Prita tertawa kecil, rasa canggungnya perlahan hilang.

"Terima kasih banyak ya semuanya. Saya benar-benar tidak tahu harus bilang apa."

"Nggak perlu bilang apa-apa, Mbak. Yang penting jangan bosan-bosan tinggal di sini. Soalnya sejak ada Mbak Prita, mess ini jadi lebih wangi, biasanya kan baunya cuma bau oli sama keringat Abraham doang!" goda Deddy lagi.

"Eh, Ded! Sembarangan kamu!" sahut Abraham sambil tertawa dan melemparkan kerupuk ke arah Deddy.

Di tengah ledekan dan tawa yang tak kunjung berhenti itu, Prita merasakan kebahagiaan yang sangat sederhana namun nyata.

Di sini, di antara para pekerja lapangan yang bicaranya ceplas-ceplos, ia merasa benar-benar memiliki keluarga yang tulus melindunginya.

Suasana di ruang tengah mess semakin hangat saat acara makan bersama dimulai.

Abraham, dengan sisa-sisa memar di tangannya, tampak sangat telaten.

Ia mengambil sesuap nasi kuning lengkap dengan suwiran ayam, lalu dengan lembut mengarahkannya ke bibir Prita.

"Ayo, makan lagi. Biar tenaganya pulih," ucap Abraham lembut.

Prita menerima suapan itu dengan pipi yang sedikit merona merah.

Pemandangan itu tentu saja tidak dilewatkan oleh mata-mata jahil rekan kerja Abraham.

"Waduh, waduh! Lihat itu! Pengantin baru kita langsung cekatan sekali, ya!" seru Deddy sambil geleng-geleng kepala.

"Biasanya di lapangan megang kabel, sekarang sudah jago menyuapi istri. Cekatan sekali si Spesialis Kabel kita ini!"

Tawa pecah di seluruh ruangan. Abraham hanya bisa tersenyum simpul menanggapi ledekan bosnya itu. Namun, Tono tidak mau kalah, ia mencondongkan badannya dengan wajah penuh rahasia yang dibuat-buat.

"Habis nasi kuning ini, jangan lupa acara puncaknya ya, Bram. Waktunya belah duren!" celetuk Tono sambil mengedipkan mata ke arah teman-teman yang lain.

Prita yang sedang mengunyah, langsung berhenti. Ia menatap Abraham dengan wajah polos yang sangat jujur.

"Apa Mas? Belah duren?" tanya Prita bingung.

Ia menoleh ke arah suaminya dengan mata berbinar penasaran.

"Mas beli duren tadi di jalan? Memang sekarang lagi musimnya, ya?"

Keheningan sesaat terjadi di ruangan itu, sebelum akhirnya ledakan tawa yang lebih keras dari sebelumnya mengguncang dinding mess.

Teman-teman Abraham bahkan sampai ada yang memegangi perut karena menahan tawa melihat kepolosan Prita.

"Hahaha! Iya Mbak, durennya spesial itu, cuma ada di kamar Mas Abraham!" goda Iwan sambil tertawa terbahak-bahak.

Abraham langsung menutup wajahnya dengan sebelah tangan, merasa malu sekaligus geli.

Ia mengacak rambut Prita dengan gemas. "Bukan, Sayang, itu cuma istilah bercanda mereka saja. Jangan didengarkan."

Prita yang baru menyadari kalau dirinya sedang digoda, akhirnya ikut tertawa terbahak-bahak.

Suara tawanya yang renyah memenuhi ruangan, seolah menghapus seluruh sisa trauma dan air mata yang ia tumpahkan semalam.

Di mess sederhana ini, Prita menemukan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan, tapi dari tawa yang jujur dan hati yang tulus menerima.

Setelah kebisingan dan tawa di ruang tengah mereda, Abraham menuntun Prita kembali ke kamar mereka.

Begitu pintu kayu itu tertutup, suasana mendadak berubah menjadi sunyi dan intim.

Cahaya lampu kamar yang kekuningan menciptakan bayangan lembut di dinding, menambah kesan hangat di antara mereka.

Prita duduk di tepi ranjang, masih teringat dengan ledekan teman-teman Abraham tadi.

Dengan wajah yang sangat polos, ia menatap suaminya yang sedang melepas jaketnya.

"Mas, tadi itu mereka serius ya? Mana durennya? Aku nggak lihat Mas bawa buah duren dari tadi," tanya Prita sambil celingukan mencari-cari di sudut kamar.

Abraham menghentikan gerakannya. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara gemas dan rasa sayang yang mendalam.

Ia berjalan perlahan mendekati Prita, lalu duduk tepat di sampingnya hingga bahu mereka bersentuhan.

"Prita, kamu benar-benar nggak tahu istilah itu?" tanya Abraham dengan suara rendah yang sedikit serak.

Prita menggeleng jujur. "Enggak tahu. Apa itu jenis duren baru?"

Abraham tersenyum tipis. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Prita.

Prita bisa merasakan deru napas hangat suaminya yang membuat bulu kuduknya merinding seketika.

Abraham membisikkan sesuatu yang sangat pelan, menjelaskan maksud tersembunyi dari ledekan teman-temannya tadi dengan kalimat yang hanya boleh didengar oleh Prita.

Mata Prita langsung membelalak. Dalam hitungan detik, warna merah padam menjalar dari leher hingga ke seluruh pipinya.

Ia langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasa sangat malu karena kepolosannya sendiri.

"Mas Ham! Ih, mereka kok nakal banget!" seru Prita dengan suara tertahan, jantungnya berdegup kencang.

Abraham tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat bahagia.

Ia menarik lembut tangan Prita dari wajahnya, lalu menggenggamnya erat.

"Namanya juga orang lapangan, Sayang. Becandanya memang seperti itu," ucap Abraham sambil menatap dalam mata Prita.

"Tapi mereka senang melihat kita bahagia. Dan aku jauh lebih bahagia karena kamu sudah ada di sini, bersamaku."

Prita tidak berani menatap mata Abraham lama-lama.

Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, menghirup aroma sabun dan maskulinitas yang kini menjadi aroma favoritnya.

Di kamar mess yang kecil ini, duren atau bukan, Prita merasa hidupnya sudah sangat manis.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!