NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan Misterius.

Malam itu… Jam di dinding sudah melewati tengah malam, tapi Hana masih terjaga. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu jalan yang masuk lewat celah tirai.

Udara terasa dingin, tapi pikirannya justru terlalu panas untuk beristirahat. Ia sudah mencoba menutup mata berkali-kali, memaksa tubuhnya untuk lelah, tapi setiap kali hampir terlelap, bayangan wajah Eliza kembali muncul—di aula, dengan suara yang gemetar, dan kalimat yang terus terngiang di kepala

Hana.

Aku takut kamu menjauh lagi… kayak dulu

Hana membalik tubuhnya ke samping, memeluk bantal erat. Kalimat itu seharusnya terdengar seperti penyesalan, seperti permintaan maaf yang terlambat, tapi justru membuat segalanya semakin rumit.

Jika Eliza benar-benar takut kehilangan dia.

Kenapa harus mengulang hal yang sama?

Kenapa harus menyakiti lagi, dengan cara yang berbeda?

Dan yang lebih mengganggu cara Nisa mengelak tadi, bahkan tidak menjawab pertanyaannya

“Ini nggak masuk akal…” gumam Hana pelan.

Ia membuka mata lagi, menatap ke arah meja belajarnya yang dipenuhi buku dan beberapa barang kecil yang tidak sempat ia rapikan. Pikirannya melompat ke kejadian di ruang CCTV. Sosok itu, hoodie yang menutupi wajah, gerakan yang hati-hati, dan gelang yang akhirnya menjadi satu-satunya petunjuk.

Semua terasa seperti potongan puzzle yang belum lengkap, tapi sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ini bukan sekadar kecelakaan, dan kalau memang bukan kecelakaan… berarti ada alasan.

Hana menghela napas panjang, lalu meraih ponselnya dari samping bantal. Layar menyala, menampilkan deretan chat yang belum sempat ia balas dan beberapa notifikasi yang tidak penting.

Ia membuka aplikasi pesan, tanpa tujuan jelas, hanya untuk mengalihkan pikiran. Jarinya bergerak pelan, menggulir percakapan demi percakapan, sampai akhirnya berhenti pada satu nama. Nisa

Hana menatapnya lama. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan, begitu banyak kata yang terasa menumpuk di tenggorokan, tapi tidak satu pun berhasil keluar.

Ia sempat mengetik satu kalimat pendek, lalu menghapusnya. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Terlalu banyak yang sudah terjadi di antara mereka, dan semuanya terasa belum selesai.

Ia mengunci layar, meletakkan ponselnya kembali, lalu menutup mata. Namun, belum sampai beberapa detik— ponselnya bergetar. Hana membuka mata lagi, refleks. Ia meraih ponsel itu, melihat notifikasi yang muncul di layar. Nomor tidak dikenal.

| Hei

Alisnya mengerut. Perlahan, ia membuka pesan tersebut. Seru ya hari ini. Hana membeku. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Ia membaca ulang kalimat itu, mencoba menangkap maksud di baliknya. Tidak ada salam, tidak ada identitas, hanya satu kalimat pendek yang terasa… aneh.

Ia tidak langsung membalas. Tangannya sedikit menegang saat menggenggam ponsel. Beberapa detik berlalu. Lalu— pesan kedua masuk.

| Capek juga ngelihat orang sok kuat.

Hana menelan ludah. Dadanya mulai terasa sesak. Kata-kata itu tidak terdengar seperti bercanda. Ada nada meremehkan di dalamnya, seperti seseorang yang sedang mengamati… dan menilai.

“Siapa sih…” bisiknya pelan.

Ia menatap layar, mencoba memikirkan kemungkinan. Teman iseng? Nomor salah? Tapi entah kenapa, perasaan di dalam dadanya mengatakan ini bukan hal sepele.

Ponselnya bergetar lagi.

Tapi kasihan juga.

| Nggak sadar lagi dia cuma alat yang dipake buat nyerang orang lain.

Hana langsung duduk. Punggungnya menempel ke headboard, napasnya mulai tidak teratur. Kalimat itu… terlalu spesifik. Terlalu dekat dengan apa yang terjadi hari ini. Dipakai… buat menyerang orang lain?

Pikirannya langsung melompat ke satu nama. Kenzo. Jantungnya berdetak lebih keras. Ini bukan tentang Eliza.

Bukan cuma tentang lilin. Ini tentang— Hana menggigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan diri. Ia mengetik cepat.

| Siapa ini?

Pesan terkirim. Centang dua. Ia menunggu.

Satu detik, dua detik. Tidak kunjung mendapat balasan. Hana menatap layar tanpa berkedip. Lalu— pesan berikutnya muncul.

| Lo pinter, harusnya ngerti.

| Semua ini bukan buat lo.

| Tapi lo malah ikut campur.

Hana menegang. Tangannya mulai dingin.

“Buat… Kenzo?” gumamnya pelan.

Ia menatap layar, pikirannya berputar cepat. Kalau ini memang ditujukan untuk menjatuhkan Kenzo… berarti semua yang terjadi hari ini, Nisa Lilin. CCTV.

Semuanya— bukan kebetulan. Ponselnya bergetar lagi.

| Jauhin diri lo dari urusan ini, atau lo ikut kena juga.

Napas Hana tercekat. Ancaman itu terasa nyata. Bukan sekadar kata-kata kosong. Ada sesuatu di baliknya—sesuatu yang membuat orang itu begitu yakin.

Hana menelan ludah, lalu mengetik lagi, meski jarinya sedikit gemetar.

| Maksud lo apa?

Pesan terkirim. Kali ini balasan datang lebih cepat.

| Jangan pura-pura ga tahu.

Hana langsung menatap layar dengan mata melebar. Dadanya terasa seperti diremas. Orang ini tahu. Tahu apa yang ia lakukan, tahu apa yang ia pikirkan. Berarti— dia mengawasi. Ponselnya kembali bergetar.

| Lo pikir kalau lo nemu jawabannya, semuanya bakal selesai? Salah. Ini baru mulai.

Hana menggenggam ponsel lebih erat. Ia ingin membalas, ingin bertanya lebih jauh, tapi kata-kata seakan hilang dari pikirannya.

Pesan terakhir muncul.

| Kalau lo masih peduli sama orang di sekitar lo… berhenti sekarang.

Layar kembali diam. Tidak ada lagi tanda mengetik. Tidak ada lagi pesan. Hana masih terpaku, menatap layar yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Napasnya tidak stabil. Pikirannya kacau.

Ini bukan hanya tentang dia. Ini tentang— orang di sekitarnya.

Kenzo. Nisa. Bahkan— Arga. Perasaan tidak enak itu kembali, lebih kuat, lebih nyata. Ia tidak sadar sejak kapan tangannya mulai gemetar.

*Drttt

Notifikasi baru muncul. Hana tersentak sedikit, lalu melihat layar. Nama yang muncul—

Arga.

| Belum tidur?

Hana menatap pesan itu beberapa detik. Di tengah semua kekacauan ini, pesan itu terasa… berbeda. Lebih sederhana.

Ia langsung membalas.

| Belum.

Balasan datang cepat.

| Kenapa?

Hana ragu sebentar. Ia melihat lagi chat dari nomor tidak dikenal itu. Dadanya masih terasa sesak. Tapi entah kenapa, kali ini ia tidak ingin menyimpannya sendiri.

Ia mengetik pelan.

| Aku dapat pesan aneh.

Beberapa detik.

| Dari siapa?

Hana tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung screenshot percakapan tadi, lalu mengirimkannya.

Menunggu.

Detik terasa lebih lama dari biasanya.

Akhirnya— balasan muncul.

| Jangan dibalas lagi.

| Blok sekarang.

Hana membaca, lalu menggigit bibirnya.

| Tapi dia tahu semuanya… Tentang CCTV, tentang Nisa.

Titik tiga muncul. Arga sedang mengetik.

| Justru itu. Berarti ini serius.

Hana menatap layar, jantungnya masih berdetak cepat.

| Menurut kamu ini siapa? ketiknya lagi.

Balasan datang.

| Yang jelas bukan Nisa.

Hana mengernyit

| Kenapa?

| Kalau dia pelaku, dia nggak bakal ancam lo.

| Dia bakal diem.

Hana terdiam. Masuk akal.

| Berarti… ada orang lain?

| Iya. Jawaban Arga singkat.

Tapi cukup membuat dada Hana kembali terasa berat. Ia menarik napas dalam, lalu mulai mengetik lagi.

Kali ini lebih panjang. Ia menceritakan semuanya—tentang perasaannya sejak siang, tentang kecurigaannya ke Eliza, tentang masa lalu mereka, dan sekarang tentang pesan misterius itu.

Ia tidak menyaring kata-katanya. Semua yang ada di kepalanya keluar begitu saja. Beberapa kali ia berhenti, lalu lanjut lagi. Sampai akhirnya ia selesai.

Pesan terkirim. Hana menunggu. Kali ini lebih lama. Beberapa menit. Lalu— balasan muncul.

| Kunci pintu kamar lo.

Hana langsung menoleh ke pintu.

“Kenapa…” gumamnya.

Tapi ia tetap berdiri, berjalan cepat, lalu mengunci pintu. Suara klik terdengar jelas di kamar yang sunyi.

Ia kembali ke tempat tidur. Ponselnya bergetar lagi. Jangan panik. Besok kita cari tau pelan-pelan. Hana menatap layar. Perasaan di dadanya sedikit berubah. Masih takut. Masih bingung. Tapi tidak sepenuhnya sendiri lagi.

Ia mengetik pelan.

| Makasih.

Balasan datang cepat.

| Tidur kalau bisa.

Hana tersenyum tipis. Kecil.

| Coba.

Ia mematikan layar. Meletakkan ponsel di sampingnya. Menarik selimut. Menutup mata. Pikirannya masih ramai. Ancaman itu masih terngiang. Kalimat-kalimat dingin itu belum hilang.

Tapi di antara semua itu— ada satu hal yang membuatnya sedikit lebih tenang. Ia tidak sendirian. Dan besok— semuanya mungkin akan mulai terungkap. Atau justru, masalahnya semakin dalam.

Malam terus berjalan. Tanpa Hana sadari, permainan ini sudah menyeretnya lebih jauh dari yang ia kira.

1
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!