Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Sebenarnya, sejak awal Tobias tidak pernah berniat membawa Sofia ikut serta dalam pertemuan ini.
Ia mengenal betul bagaimana sifat mantan istrinya yang tenang di permukaan, tetapi bisa berubah tanpa peringatan jika emosinya terusik.
Terlebih lagi sekarang Sofia tidak lagi sendiri. Ada kehidupan kecil yang sedang ia jaga, sesuatu yang membuat Tobias, untuk pertama kalinya, benar-benar mempertimbangkan setiap risiko.
Namun semua pertimbangannya runtuh begitu saja saat Sofia mendengar sepenggal cerita tentang seorang wanita yang berani “mempermainkan” Tobias.
Alih-alih khawatir, wanita itu justru menunjukkan ketertarikan.
“Aku ikut,” ucapnya singkat waktu itu, nadanya santai seolah ini hanya acara hiburan biasa.
Tobias sempat menatapnya lama. “Ini bukan sesuatu yang perlu kamu lihat.”
Sofia hanya mengangkat bahu, ekspresinya malas. “Aku bosan. Lagipula.. kapan lagi aku bisa melihat seseorang cukup berani untuk mempermainkanmu?”
Tidak ada ruang untuk menolak.
Dan akhirnya, mereka berada di sini sekarang.
Jari Tobias mengetuk pelan permukaan meja, ritmenya teratur, tetapi jelas menunjukkan sisa-sisa kesabaran yang semakin menipis. Sementara di seberangnya, Sofia duduk dengan santai, sesekali menyeruput minuman, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Hingga terdengar suara gaduh kecil dari arah pintu masuk memecah suasana.
Beberapa kepala langsung menoleh. Percakapan di dalam kafe meredup, digantikan oleh bisik-bisik penasaran.
Tobias menghentikan gerakan tangannya, begitu pulang dengan Sofia yang menoleh.
Dan di detik berikutnya, keduanya terdiam melihat seorang wanita melangkah masuk.
Gaun merah yang dikenakannya langsung mencuri perhatian, seolah seluruh cahaya di ruangan itu berkumpul padanya. Potongannya sederhana, tetapi jatuh dengan sempurna mengikuti lekuk tubuhnya, menciptakan kesan elegan tanpa berusaha terlalu keras.
Rambut panjangnya terurai hingga pinggang, sedikit bergelombang, bergerak lembut mengikuti setiap langkahnya.
Kulitnya tampak halus tanpa cela.
Wajahnya kecil, proporsional, dengan riasan tipis yang justru menonjolkan kecantikan alaminya.
Namun bukan itu yang membuat orang sulit mengalihkan pandangan.
Melainkan auranya yang begitu tenang, percaya diri dan entah mengapa, terasa berbahaya.
Senyum tipis di bibirnya bukan senyum biasa. Ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang membuat siapa pun yang melihatnya merasakan dorongan aneh antara ingin mendekat dan waspada.
Sofia tanpa sadar menahan napas.
‘Apa dia masih wanita yang sama?’
Dalam ingatannya, ia pernah mendengar deskripsi tentang Yvaine yang lemah, pendiam, mudah menangis. Sosok yang bahkan tidak mampu mempertahankan dirinya sendiri.
Namun wanita di depannya sekarang sangat berbeda.
‘Dia benar-benar bukan wanita lemah lagi.. melaikan mawar berduri,’ pikirnya pelan.
Di sisi lain, Tobias menatap Yvaine tanpa berkedip.
Selama empat tahun pernikahan mereka, ia tidak pernah melihat istrinya seperti ini.
Dulu, wanita itu memang cantik, tetapi selalu tampak redup. Seperti boneka indah yang kehilangan jiwanya.
Sekarang?, Wanita itu seolah ada sesuatu yang membangunkannya.
Langkah Yvaine terhenti sejenak di tengah kafe. Tatapannya menyapu ruangan dengan cepat, tajam, seperti pemburu yang sudah tahu persis apa yang ia cari.
Dalam hitungan detik, ia menemukan apa yang ia cari, sejenak senyum di bibirnya kembali muncul, kali ini sedikit lebih dalam.
‘Ah.. di sana.’
Ia memang memilih tempat ini dengan sengaja.
Tempat yang dipenuhi sosialita, orang-orang berpengaruh, dan mata-mata yang selalu haus akan drama.
Baginya, keributan tanpa penonton tidak ada artinya.
Tanpa ragu, Yvaine menggenggam tangan Louis.
“Jalan,” katanya singkat, suaranya rendah tetapi tegas.
Louis yang sejak tadi hanya mengikuti di belakang, sedikit terkejut, namun tetap menurut. Begitu memasuki area utama, matanya langsung bergerak ke sana kemari, berusaha mengidentifikasi “target” yang dimaksud.
Namun semakin ia melihat, semakin ia merasa tidak yakin, ia mulai gugup melihat terlalu banyak orang penting di tempat itu.
Bahkan ada banyak wajah yang ia kenal dan tidak seharusnya ia ganggu.
Akhirnya ia mendekat sedikit, suaranya diturunkan.
“Kak.. yang mana mantan suamimu?” bisiknya. “Setidaknya beri tahu, supaya aku tidak salah sasaran.”
Yvaine bahkan tidak menoleh.
“Di depanmu,” jawabnya santai. “Arah jam dua belas.”
Louis mengernyit. “Jam dua belas?”
Ia mengikuti arah yang dimaksud dan tatapannya bertemu langsung dengan sepasang mata dingin yang begitu ia kenal.
Dalam sekejap, wajahnya kehilangan semangatnya, langkahnya terhenti.
‘Habis aku..’
Pikirannya kosong, tentu saja ia tahu siapa pria itu
Ia adalah Tobias, seorang pewaris tunggal keluarga Raguel yang sekarang menduduki posisi Pesiden grup di perusahaan ternama.
Louis menelan ludah dengan susah payah. ‘Jadi.. ini mantan suami Kak Yvaine?’
Ia hampir ingin menangis, bukan karena takut semata, tetapi karena ia sadar sepenuhnya bahwa ia tidak berada di level ini.
Dan mungkin sejak awal.. ia memang tidak seharusnya ada di sini.
'Matilah aku.. kenapa aku harus terseret dalam masalah ini sih?!'
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆