NovelToon NovelToon
Owned By The Cold CEO

Owned By The Cold CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."

Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.

Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

..

Lampu neon di ruang tunggu kantor polisi Jakarta Pusat berkedip-kedip, menciptakan suasana yang suram dan mencekam. Aroma kopi pahit dan asap rokok yang samar memenuhi ruangan. Kalea duduk di kursi plastik keras, tangannya yang terbalut perban putih bersih kini bersandar di bahu Surya. Ayahnya itu tampak jauh lebih tua dari usianya, namun sorot matanya yang penuh pelindung tidak pernah lepas dari putrinya.

"Kalea, lo beneran oke?" Aruna berbisik, menyodorkan sebotol air mineral. Di sampingnya, Ghea dan Ziva masih sesenggukan, sesekali mengusap hidung mereka dengan tisu yang sudah menumpuk.

Kalea mengangguk pelan, meskipun hatinya terasa kosong. "Gue oke, Run. Cuma... rasanya aneh. Kemarin gue masih di sangkar emas itu, sekarang gue di sini."

"Lo hebat, Kal," Ziva menimpali, suaranya parau. "Video dari flashdisk bokap lo udah ditonton 10 juta kali. Jionel Group lagi dikepung massa di depan kantor pusat mereka. Liam... dia bener-bener tamat."

Di saat yang sama, di ruang interogasi yang terpisah, Liam Jionel duduk dengan tenang. Tidak ada borgol di tangannya—kekuasaannya masih cukup kuat untuk itu—tapi aura kejayaannya telah pudar. Di depannya, Ethan dan Kenzo menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Gue udah bilang, Liam," Ethan memulai, melemparkan tumpukan berkas ke meja kayu itu. "Tuduhan penyekapan itu bisa kita patahkan karena ada kontrak tertulis 'asisten pribadi' yang Kalea tanda tangani. Tapi skandal kakek lo? Itu pidana berat. Pencucian uang, penyuapan, dan konspirasi penjara ilegal buat Surya. Nama Jionel sudah jadi sampah di bursa saham."

Liam tidak menyahut. Ia hanya menatap jemarinya yang masih memiliki bekas luka kecil akibat menggenggam cincin berdarah Kalea tadi siang. "Gue nggak peduli soal saham, Ethan."

"Terus lo peduli soal apa?!" Kenzo meledak, memukul meja hingga gelas air mineral di sana terguling. "Lo kehilangan triliunan rupiah demi satu cewek yang sekarang benci setengah mati sama lo! Lo liat kan tadi di lobby? Dia nggak noleh sedikit pun pas lo ngelepasin dia. Dia lari ke bokapnya, Liam! Bukan ke lo!"

Liam menyeringai tipis, sebuah senyum yang terlihat sangat hampa. "Gue tahu. Dan itu yang bikin gue ngerasa... akhirnya gue menang."

Kenzo dan Ethan saling pandang, menganggap sahabat mereka sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya. Mereka tidak tahu bahwa bagi Liam, melepaskan Kalea adalah satu-satunya tindakan tulus yang pernah ia lakukan seumur hidupnya. Dengan melepaskan Kalea, ia merasa telah "membayar" nyawa Andini yang dulu gagal ia selamatkan dari kecelakaan itu.

Tiga hari berlalu. Kalea dan Surya pindah ke sebuah apartemen kecil yang disewa oleh Aruna dan teman-temannya menggunakan uang patungan. Kalea menolak menyentuh sepeser pun uang yang pernah diberikan Liam di rekeningnya. Baginya, setiap rupiah dari Liam adalah racun.

Sore itu, bel pintu apartemen berbunyi. Kalea membukanya dan menemukan Rayyan berdiri di sana. Sahabat Liam yang paling pendiam itu mengenakan jaket hoodie hitam, mencoba menyembunyikan identitasnya.

"Kalea," ucap Rayyan singkat. "Gue datang bukan buat Liam. Gue datang buat ngasih ini."

Rayyan menyerahkan sebuah amplop cokelat besar. "Ini dokumen kepemilikan rumah lama ibumu di pinggiran kota. Liam sudah membelinya kembali dari bank atas namamu—bukan atas namanya. Dia juga sudah melunasi semua sisa biaya rumah sakit ibumu yang tertunggak. Dia bilang... ini bukan bagian dari kontrak satu miliar. Ini adalah hakmu."

Kalea menatap amplop itu dengan tangan gemetar. "Gue nggak butuh sedekah dari dia, Rayyan."

"Ini bukan sedekah, Kal," potong Rayyan lembut. "Ini penebusan. Liam bakal menyerahkan diri ke polisi besok pagi terkait kasus kakeknya. Dia bakal mengaku kalau dia tahu soal penggelapan dana itu sejak lama buat ngelindungin aset keluarga. Dia bakal dipenjara, Kalea. Mungkin bertahun-tahun."

Jantung Kalea mencelos. "Dia... dia nyerah?"

"Dia ngerasa dunianya udah runtuh pas lo nyayat jari lo sendiri di depan dia," Rayyan menghela napas. "Dia sadar, seberapa banyak pun uang yang dia punya, dia nggak bisa beli maaf dari lo. Dia cuma pengen lo punya tempat tinggal yang layak sama bokap lo."

Rayyan berbalik pergi, meninggalkan Kalea yang berdiri terpaku di ambang pintu. Surya keluar dari kamar, melihat putrinya memegang amplop itu.

"Kalea... pria itu, Liam... dia memang iblis," Surya berkata dengan suara berat, meletakkan tangannya di bahu Kalea. "Tapi ayah liat gimana dia natap kamu di rumah sakit kemarin. Dia nggak natap kamu sebagai barang. Dia natap kamu sebagai satu-satunya hal yang pengen dia selamatin, meski dia harus hancur sendiri."

Malam itu, Kalea tidak bisa tidur. Ia membuka jendela apartemennya, menatap langit Jakarta yang kini tampak lebih jernih setelah hujan. Ia melihat jari manisnya yang masih terbebat perban. Luka itu akan berbekas, sama seperti luka di hatinya.

Kalea mengambil ponselnya, membuka portal berita. Foto Liam Jionel yang sedang dikawal masuk ke gedung kejaksaan menjadi headline di mana-mana. Wajah pria itu datar, dingin, dan angkuh seperti biasa, namun Kalea bisa melihat ada rasa lega di matanya yang gelap.

Tiba-tiba, Aruna menelepon. "Kal! Lo udah liat berita?! Clarissa ditangkep juga! Ternyata dia bukan cuma nyewa pembunuh bayaran buat bakar mansion, tapi dia juga terlibat penggelapan pajak di agensinya. Liam yang ngebongkar semua buktinya ke polisi sebelum dia nyerahin diri!"

Kalea terdiam. Liam bener-bener menepati janjinya. Dia menghancurkan semua orang yang menyakiti Kalea, termasuk dirinya sendiri.

Keesokan paginya, Kalea mendatangi gedung kejaksaan sebelum Liam dipindahkan ke sel tahanan. Suasana sangat ramai oleh wartawan, namun dengan bantuan Aris yang masih setia mendampingi Liam, Kalea berhasil masuk ke ruang tunggu transisi.

Liam duduk di sana, mengenakan rompi tahanan berwarna oranye. Pemandangan itu sangat kontras dengan kemewahan presidential suite tempat mereka pertama kali bertemu.

Liam mendongak saat mendengar suara pintu terbuka. Matanya membelalak kecil saat melihat Kalea berdiri di sana.

"Kenapa kau ke sini?" tanya Liam, suaranya serak. "Kau seharusnya pergi jauh dari monster sepertiku."

Kalea melangkah mendekat, berdiri di depan meja besi yang memisahkan mereka. Ia meletakkan tangannya di atas meja—tangan yang diperban itu. "Aku datang bukan untuk memaafkanmu, Liam."

Liam menunduk, menatap perban itu dengan rasa sakit yang nyata. "Aku tahu."

"Aku datang untuk bilang... bahwa kontrak satu miliar itu benar-benar selesai sekarang," bisik Kalea. "Kau sudah membayar semuanya. Rumah ibuku, kebebasan ayahku, dan kehancuran Clarissa. Kau sudah membayar dengan kebebasanmu sendiri."

Kalea mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Cincin berlian yang sudah dibersihkan dari darah, namun permukaannya sedikit tergores. Ia meletakkannya di atas meja.

"Simpan ini," ucap Kalea. "Gunakan ini untuk mengingat bahwa ada satu hal yang tidak bisa kau beli, tidak peduli seberapa kaya dirimu."

Liam mengambil cincin itu, menggenggamnya erat. "Apa itu?"

"Kesempatan kedua," jawab Kalea tegas. "Jangan pernah cari aku lagi setelah kau keluar dari sini. Jadilah manusia, Liam. Bukan nisan hidup untuk Andini."

Kalea berbalik dan berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena benci atau sedih, melainkan karena ia merasa bebannya sudah terangkat.

Liam menatap punggung Kalea yang menghilang di balik pintu. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang benar-benar tulus untuk pertama kalinya. Ia tahu, Kalea mungkin tidak akan pernah mencintainya, tapi dengan memberikan kebebasan pada Kalea, Liam merasa jiwanya yang selama ini terperangkap dalam kegelapan mulai menemukan jalan pulang.

Di luar gedung, Surya sudah menunggu di dalam mobil tua yang baru ia beli. Aruna, Ghea, dan Ziva melambai dari kejauhan, siap membawa Kalea makan nasi kucing di halte bus favorit mereka lagi—kali ini tanpa rasa takut, tanpa rahasia, dan tanpa bayang-bayang seorang iblis.

Kalea masuk ke mobil, menutup pintu, dan menarik napas dalam-dalam. "Ayo jalan, Yah," ucapnya sambil tersenyum.

Mobil itu melaju membelah kemacetan Jakarta, meninggalkan gedung tinggi Jionel Group yang kini tampak suram. Kerajaan emas itu mungkin sudah runtuh, tapi di atas puing-puingnya, sebuah kehidupan baru baru saja mulai tumbuh.

1
lia juliati
semoga hatinya selalu hangat oleh kalea
arilias
thor kpn cerita nya di lanjut?
arilias
masyaalloh cerita nya bagus bgt. awal awal bikin aku gregetan. dan sekarang cerita nya bikin aku penasaran sama bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!