"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
"apaan sih lo? 2 hari nggak masuk, tiba-tiba ijin, cuman pakai emot menyebalkan itu lagi?"
Gerutu mahiya kesal, membalas chat teman praktek seruangannya. Mata mahiya melotot, mulutnya ngedumel nggak henti-henti.
"lo pikir gua robot, bisa ngerjain semuanya sendirian,buruan datang lo din!"
Mahiya melemparkan ponselnya ke dalam tas, menutup loker dengan kasar, tangannya meraih masker yang tergantung.
"dasar cewek somplak, dikata gue robot kali"
Omelan mahiya masih berlanjut, gadis itu berdiri menatap infus yang sedang terpasang pada seorang pasien koma. Tangannya sibuk mencatat kemajuan dari pasien yang sudah seminggu ini menjadi tanggung jawabnya.
Gaby, salah satu mahasiswi yang juga sedang praktek, sahabatnya jika di kelas, menoleh menatap wajah mahiya yang keruh.
Gadis itu sedang memeriksa pack urine dari pasien yang sama.
"dinda ijin lagi yah?"
Mahiya mengangguk kesal, wajah cantiknya cemberut.
"dia kata nih rumah sakit, milik bapaknya kali..!"
Gaby terkekeh, wajah kusut mahiya sangat relate baginya. Mereka mahasiswi yang lagi praktek di rumah sakit, milik kampus mereka itu.
"kamu shift pagi kan gab, ntar aku nebeng motormu yah"
Mahiya mengerjabkan matanya, memohon pertolongan teman yang paling dekat yang dia punya itu, tertawa lucu.
"nggak usah sok imut deh.."
Gaby tertawa melihat ekpresi menyebalkan mahiya, walau gadis langsing itu tetap mengangguk.
"jam 3 yah mahi,aku tunggu di kantin, kalau kamu jam 3 nggak ada di kantin, aku langsung cuss"
"siiippp" seru mahiya menunjukkan jempolnya.
Gadis berhijab itu, adalah mahasiswi semester 4 di fakultas keperawatan. Wajahnya yang cantik selalu terlihat judes, emang sih mahiya rada-rada jutek, tapi itu bukan kepribadian aslinya.
Mahiya sebenarnya gadis yang lembut, dulu. sebelum dunia perkuliahan membuatnya menjadi cewek jutek.
Gimana nggak jutek coba, awal-awal kuliah gadis itu masih lembut kek bolu pakai 8 telur, tapi kok mahiya ngerasa makin kemari, makin nggak benar.
Kebaikan dan kelembutannya sering dimanfaatin teman-temannya, alhasil mahiya berubah. Bodo amat dikatain kesurupan, bodo amat dikatain kek mak lampir, yang penting mahiya nggak lagi jadi cewek lembut nan soft spoken.
Mahiya muter-muter di depan ruangan para perawat senior, sakitnya jadi mahasiswi praktek yah kek gini, sering dimanfaatin secara gratis. Tapi yah mau gimana lagi, demi nilai dan ilmu, mahiya harus kuat ngejabaninnya.
"dek.."
Terdengar panggilan horor dari perawat senior yang berdiri di ambang pintu, mahasiswi yang lagi duduk, langsung sok sibuk. Ada yang pura-pura budek, ada yang langsung kebelet pipis. Mahiya yang baru saja duduk, langsung bergegas ke kamar mandi, dengan senyum nyengir pamit ke perawat yang berdiri memanggil tadi.
"ijin kak, aku ke wc bentar.."
Perawat pria berbadan tambun itu manggut-manggut, ia memang melihat jelas sedari tadi mahiya dah kek setrikaan aja, mondar-mandir.
"kamu.." tunjuknya pada febri, mahasiswa pria sekelas mahiya yang sedikit melambai.
"aku kak?"
"ho-oh, ikut aku!, kita bersihkan bab pasien koma"
Febri, si pria melambai itu langsung lemas, wajahnya sedih, sok di sedih-sedihin sih sebenarnya, mengikuti perawat senior itu dengan bahu luruh.
Yang lain, jangan ditanya. Pada ngakak tapi yah dalam hati, nggak ada yang berani ketawa di depan senior, atau nilai F akan sukses di kantongi.
Mahiya, yang sebenarnya nggak sesak-sesak amat, tetap melangkah ke wc, paling enggak ia sempat bernafas sesaat di wc nanti.
Gadis cantik berhijab itu memijati betisnya yang kaku, wajahnya meringis. Seingat mahiya, sejak pagi dirinya belum duduk.
"heummmmm, tahu kek gini capeknya jadi seorang perawat, harusnya aku menolak kuliah" gumamnya lirih,
"keknya mendingan langsung nikah aja, enak kali yah"
Mahiya tertawa sendiri,
"nikah ama setan kali hahahah, pacar aja nggak punya"
"mahi..."
Mahiya tersentak kaget, gaby berdiri di pintu wc berteriak dengan kekuatan penuh.
"apa sih?"
Sahut mahiya gemas-gemas jengkel.
"aku nggak budek gab, santai aja manggilnya"
"bodo amat, ayooo"
Mahiya tersentak, gaby gadis tinggi langsing itu, nggak pakai aba-aba, tetiba aja main seret. Mahiya hampir terjerambab, tapi karena kuda-kudanya bagus, syukurnya kepala cantiknya nggak jadi ngecium lantai.
"ada apa sih gab?"
Mahiya bertanya dengan jengkel, dengan kaki yang masih setengah berlari.
"istirahat mahi, waktunya makan siang"
"buseeet..., kupikir ada apa"
Mahiya menahan tubuhnya, giliran tubuh gaby tersentak.
"istirahatnya gantian neng, karena pasien di ugd tiba-tiba membludak, jadi sebagian kita di oper kesana"
Mahiya mengerutkan keningnya, mata indahnya kelihatan ragu.
"yang bener..?"
"sumpah..." sahut temannya itu menunjukkan 2 jari, jari tengah dan telunjuknya, tanda serius.
"jadi...karena aku baik hati, aku minta ama senior untuk istirahat duluan bareng kamu, kan kamu pulangnya mau nebeng ama aku kan?"
Gaby nyerocos dengan semangatnya, mahiya yang lagi jengkel tadi, jadinya ngangguk-ngangguk paham.
"buruan..ayoo, kita cuman di kasih waktu setengah jam"
Mahiya terseret-seret lagi karena gaby dengan semangat 45-nya berjalan cepat setengah berlari menuju ke kantin rumah sakit.
Mahiya terengah-engah, dadanya masih kelihatan naik turun. Wajah cantiknya terlihat kesal, sudah setengah mampus kelelahan karena berlari, ehhh di kantin malah antri.
"mamposss"
Seru gaby setengah berteriak, sontak beberapa orang yang berada di sekitar mereka menoleh jengah.
"gimana nih?" wajah gaby menoleh ke arah mahiya dengan kening yang berkerut.
"makan di luar yook, di depan ada warung pecel lele"
Mahiya menggeleng lesu, gadis cantik itu sudah berbalik, pengen nangis rasanya. Mana tadi pagi cuman sarapan risol doang, mana cuman 2 potong lagi.
Mahiya nyengir, perutnya bersuara merdu. Gaby yang mengikutinya dari belakang, tertawa ngakak.
"ayolah mahi.., kasihani cacing diperutmu pada konser tuh, ayo kita ke depan"
Gaby mencekal pergelangan tangan mahiya yang masih menggeleng lemah.
"aku udah nggak ada tenaga buat jalan ke depan gab, biarkanlah aku mati kelaparan di sini, ntar kalau aku jatuh pingsan, tolong kamu antar aku ke ugd"
"ewhhhhh, lebay...." seru gaby terbahak lucu, melihat ekspresi mahiya yang sok lemas. Gadis tinggi langsing itu, masih berusaha mengajak mahiya makan keluar, tapi mahiya tetap keukeuh nggak mau.
"yah udah deh, aku makan keluar sendirian" sungut gaby, meninggalkan mahiya yang mengedikkan bahunya.
"hati-hati gab, ntar kalau lupa jalan pulang, telpon aku yah"
Mahiya melambaikan tangannya pada gaby yang melotot jengkel, cekikikan mahiya melihat biji mata gaby yang melotot, gadis berhijab itu masih melambaikan tangan, walau gaby sudah tak kelihatan.
"hhhhhhhh..." hembusan kesal terdengar dari mulut mahiya yang mau tak mau, membalikkan tubuh ikut antri di kantin yang siang itu semakin rame.
Mulutnya komat kamit, dengan telunjuk menghitung panjangnya antrian.
"alamaaakkk..." serunya kesal,
"6 antrian lagi...."
Bersambung...
****
hai ketemu lagi dengan karya terbaruku, semoga kalian suka yah
Mohon dukungannya, please like, komen dan voting, biar nulisnya semakin semangat.
Terima kasih 😘😘😘❤️❤️❤️