"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."
Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.
"Janji?"
"Janji."
"Sumpah?"
Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."
Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.
"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.
"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.
Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~
Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~
Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Janji y~
Malam itu. Villa Seoul Lee.
Jam menunjukkan pukul sembilan ketika Adea dan Angga akhirnya memutuskan untuk pulang. Api unggun di belakang villa sudah lama padam, hanya menyisakan abu abu-abu yang masih mengepulkan asap tipis. Angin malam semakin dingin, membawa bau laut dan pasir basah.
Seoul Lee keluar dari villa dengan dua kantong plastik berisi oleh-oleh, kue tradisung Lombok yang dibelinya dari penjual keliling sore tadi.
"Ini buat kalian berdua," ucap Seoul sambil menyodorkan kantong plastik itu ke arah Angga. "Jangan ditolak. Udah aku bayar."
Angga menerima kantong itu tanpa banyak komentar. "Makasih."
"Makasih banyak, Seoul!" Adea mengambil kantong satunya, langsung membuka dan mencuri satu kue untuk dicicip. Matanya berbinar. "Enak banget!"
"Jangan dimakan di jalan nanti habis," tegur Angga.
"Iyaaa~"
Seoul Lee tersenyum melihat interaksi mereka. Berbeda dengan beberapa hari lalu, sekarang ada sesuatu yang lebih hangat di antara keduanya. Bukan hanya kebiasaan. Bukan hanya kenyamanan. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang Seoul tidak bisa jelaskan dengan kata-kata.
"Seoul," panggil Angga.
"Hm?"
"Lu yakin gak mau ikut? Villa ini gede. Sendirian gak serem?"
"Aku udah biasa sendirian." Seoul Lee mengangkat bahu, tapi matanya sedikit sayu. "Di Korea juga aku tinggal sendiri. Di Jakarta sendiri. Ini udah biasa."
Adea menatap Seoul lama. Pria ini selalu tersenyum. Selalu ceria. Selalu membuat orang lain nyaman. Tapi di balik semua itu, Adea bisa melihat. Ada kesepian yang Seoul sembunyikan di balik rambut ungunya dan senyum lebarnya.
"Kalo kamu kapan-kapan butuh teman," ucap Adea pelan. "Kamu bisa ke rumah kami. Kapan aja."
Seoul Lee menatap Adea. Untuk sesaat, senyumnya berubah menjadi lebih tulus, lebih rapuh.
"Makasih, Adea."
"Janji ya. Jangan sungkan."
"Janji."
Seoul mengulurkan tangannya. Adea menyambutnya. Jabatan tangan singkat, tapi hangat.
Angga hanya diam menonton. Tapi di sudut bibirnya, ada senyum kecil.
---
Perjalanan pulang.
Motor Ninja hitam melaju pelan di jalanan perbukitan yang gelap. Lampu depan hanya satu, tapi cukup untuk menerangi aspal basah karena embun malam. Angga di depan, jaket kulit hitamnya berkibar tipis. Adea di belakang, memeluk erat seperti biasa.
Tapi pelukan kali ini berbeda.
Lebih erat. Lebih sadar. Lebih disengaja.
Kepala Adea menempel di punggung Angga, pipinya merasakan hangatnya tubuh pria itu melalui kemeja tipis. Kadang ia menunduk, mengecup pelan punggung Angga tanpa suara, tanpa alasan. Hanya karena ia bisa. Hanya karena ia ingin.
Angga merasakannya.
Setiap kali bibir Adea menyentuh punggungnya, ia merasakan getaran kecil yang menjalar dari tulang belakang ke sekujur tubuh. Tangannya di setang mengeras, tapi ia tidak berkata apa-apa.
"Angga."
"Hmm."
"Kamu kedinginan?"
"Gak."
"Jaket kamu tipis."
"Gue udah biasa."
Adea tidak menjawab. Tapi tiba-tiba, ia melepaskan pelukannya. Angga hampir protes, tapi sebelum ia sempat bicara, Adea sudah membuka ritsleting jaket kulit Angga dari belakang.
"Lu ngapain?" tanya Angga, sedikit panik.
Adea tidak menjawab. Ia menyelipkan kedua tangannya ke dalam jaket Angga, melingkarkannya di perut pria itu, langsung menyentuh kemeja tipis di balik jaket. Tangannya dingin, tapi tidak lama karena kehangatan tubuh Angga segera menghangatkannya.
"Gue kedinginan," ucap Adea manja. "Jadi gue mau anget di sini."
Angga menghela napas. "Lu bisa pegang dari luar."
"Nggak cukup anget."
"Adea."
"Angga."
"..."
"Gas aja. Nanti keburu hujan."
Angga menggeleng. Tapi ia menarik napas panjang dan melaju lebih cepat. Di dalam jaketnya, tangan Adea menggenggam erat kemejanya. Jari-jarinya yang dingin perlahan menjadi hangat karena suhu tubuhnya.
Angga tidak pernah merasa sehangat ini saat berkendara.
Padahal angin malam dingin menusuk tulang.
---
Sampai di rumah.
Pukul setengah sepuluh. Rumah kecil itu tampak gelap dari luar, hanya lampu teras yang masih menyala, menemani Cumi yang duduk manis di depan pintu.
Kucing abu-abu gembul itu mengeong keras begitu motor masuk ke halaman. Ekornya tegak lurus, matanya membelalak seolah berkata, "KALIAN LAMA BANGET!"
Angga mematikan mesin. Ia turun lebih dulu, lalu meraih helm Adea dan melepasnya dengan hati-hati.
"Udah sampe," ucapnya.
Adea tersenyum. Rambutnya berantakan, pipinya merah kedinginan, tapi matanya berbinar.
"Iya. Udah sampe."
Ia turun dari motor tanpa diangkat, kali ini ia berusaha sendiri, meski kakinya hampir tidak menyentuh tanah. Angga tetap membantu di detik terakhir, meraih pinggangnya agar tidak jatuh.
"Makasih," ucap Adea.
"Sama-sama."
Mereka berjalan berdua menuju pintu. Cumi sudah tidak sabar, berlari-lari kecil di antara kaki mereka, hampir membuat Adea tersandung.
"Cumi! Hati-hati, nanti kamu keinjek!"
"Meong!"
Begitu pintu terbuka, Cumi langsung masuk dan berlari ke ruang tamu, lalu berbalik seolah memastikan mereka mengikutinya.
Angga menutup pintu. Mengunci.
Rumah terasa hangat. Bukan karena suhu, tapi karena mereka berdua ada di sini. Bersama.
---
Di ruang tamu.
Adea duduk di sofa sambil menggendong Cumi. Kucing itu mendengkur keras, menggesekkan kepalanya ke dagu Adea. Angga pergi ke dapur, mengambil dua gelas air hangat, lalu kembali dan duduk di samping Adea.
"Minum," ucapnya.
"Makasih."
Adea memegang gelas dengan satu tangan, tangan satunya masih mengelus Cumi. Angga duduk di sampingnya, agak dekat. Lebih dekat dari biasanya.
Mereka diam.
Bukan diam yang canggung. Tapi diam yang nyaman. Diam yang tidak butuh kata-kata.
"Angga."
"Hmm."
"Hari ini... gue seneng."
Angga menoleh. "Seneng kenapa?"
"Seneng karena lo ngajak gue ke villa Seoul. Seneng karena lo dengerin gue cerita. Seneng karena lo..." Adea berhenti. Ia menggigit bibir bawahnya. "...lo masih di sini."
Angga meletakkan gelasnya di meja. Ia memutar tubuhnya menghadap Adea.
"Gue akan selalu di sini, Dea."
"Janji?"
"Janji."
Adea tersenyum. Ia meletakkan gelasnya juga, lalu tanpa rasa malu, ia merebahkan kepalanya di paha Angga. Pria itu terdiam sesaat, lalu tangannya turun, mengelus rambut Adea dengan lembut.
Cumi yang ada di pangkuan Adea mengeong protes karena terusik, lalu melompat ke lantai dan merebahkan diri di kaki Angga.
"Cumi cemburu," ucap Adea.
"Cumi kucing. Gak bisa cemburu."
"Bisa. Cumi kan cewek."
"Cumi udah dikebiri."
"YAUDELA!"
Angga tertawa kecil. Tangannya masih setia mengelus rambut Adea dari atas kepala hingga ke ujung rambut yang tergerai di sofa.
"Angga."
"Hmm."
"Besok kita bangun pagi-pagi."
"Jam berapa?"
"Jam lima."
"Bangun pagi buat apa?"
"Nonton matahari terbit. Di bukit dekat pantai. Yang dulu kita datengin pas SMA."
Angga ingat. Bukit kecil di selatan Lombok, tempat mereka berdua duduk di atas rumput sambil membawa bekal nasi bungkus. Waktu itu Adea masih SMA. Angga sudah kuliah tapi memilih menunda setahun. Waktu itu Adea bertanya, "Angga, kenapa sih lo gak kuliah dulu?" Dan Angga menjawab, "Nunggu lo lulus."
"Jam lima pagi," ulang Angga. "Lo bangun gak?"
"Janji bangun."
"Kalo gak bangun, gue siram air."
"KEJAM!"
"Udah tidur. Besok pagi-pagi."
Adea menggeliat di paha Angga. "Gue gak mau pindah. Nyaman."
"Nanti leher lo sakit."
"Gak peduli."
"Adea."
"Satu menit lagi."
Angga menghela napas. Tapi ia tidak memaksa. Ia terus mengelus rambut Adea, merasakan beban kepala gadis itu di pangkuannya, merasakan hangatnya tubuh kecil yang mulai mengendur karena kantuk.
Satu menit berlalu.
Lalu lima menit.
Lalu sepuluh.
Dan Adea sudah tertidur di pangkuan Angga.
"Dea," bisik Angga.
Tidak ada jawaban.
"Bobo manis."
Angga menunduk. Bibirnya menyentuh dahi Adea, lembut, lama.
Lalu ia mengangkat gadis itu dengan hati-hati. Satu tangan di punggung, satu tangan di bawah lutut dan berjalan menuju kamar. Cumi mengikuti dari belakang, melompat ke kasur begitu Angga meletakkan Adea di atasnya.
Angga menyelimuti Adea. Selimut tebal. Rapi. Sampai ke dagu.
Ia meletakkan boneka panda di pelukan gadis itu.
Lalu ia berdiri di samping kasur, menatap wajah Adea yang tidur dengan tenang. Bibirnya sedikit mengerucut, alisnya tidak berkerut, napasnya teratur.
"Selamat malam, Adea."
Ia berjalan ke pintu. Membukanya perlahan. Keluar.
Tapi ia tidak menutup pintu.
Tidak rapat.
Sedikit terbuka.
Seperti biasa.
---
Bersambung...