Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 – Bima
Bab 26 – Bima
Malam itu aku nggak bisa tidur. Bukan karena BMW yang nggak disukai Naya, bukan karena makanannya yang juga dikomplain Naya, tapi karena kepikiran ketika Naya menjilat bibirnya pas makan tiramisu.
Aku tidur telungkup menghadap bantal.
Aku ingin menciumnya.
Aaaarrggggh! Teriakku dengan keras.
Untung aku tinggal sendiri. Meski Pak Mardi dan istrinya tinggal di sini, tapi mereka tinggal di rumah terpisah dari rumah utama. Mereka pasti tidak bisa mendengarkan aku.
Gila, kepalaku bisa gila, kalau sampai aku tidak bisa menikah dengannya.
Aku bangun, lalu aku ambil baju renangku. Aku lompat langsung ke kolam renang untuk menenangkan kepala. Mendinginkan badanku yang panas. Jam dua malam, aku berhenti berenang. Mandi. Baru aku bisa tidur dengan nyenyak.
--
“Ada tawaran sinetron baru, mau nggak?” kata Celsi di telepon.
Suaranya menggema di mobilnya Sekar. Aku sudah menyambungkan ponselku dengan mobilnya. Hari ini aku tidak pakai BMW baruku. Aku menukarnya dengan mobilnya Sekar.
“Kenapa?” tanya Sekar di depan parkiran kantornya tadi sore.
“Naya bilang, tempat makan yang mau didatengin parkirannya kecil. Bisa jadi parkirnya di pinggir jalan. Kalau pakai mobil ini, takut kena baret.”
“Oh, jadi kalau pake mobil aku, nggak apa-apa, kena baret?” Sekar bertanya dengan nada marah dan setengah menggoda.
“Kalau baret, nanti sekalian mobil kamu aku ganti!”
“Oh oke. Si paling crazy rich!” Sekar memutar bola matanya sambil menerima kunci mobil dariku. Dia memicingkan mata melihat plat mobilku, “Kenapa nomornya begitu?”
“Masa nggak ngerti?” tanyaku sambil tersenyum.
“B 3122 NAY? Ber dua Nay…, astaga!” Sekar berpaling melangkah masuk ke kantornya sambil teriak, “Norak!”
Aku terkekeh, lalu membawa mobilnya pergi menjemput Naya di kafe Bayu. Di jalan Celsi meneleponku.
“Mulai syuting kapan?” tanyaku sambil mengingat jadwal syuting film dengan Bang Jaka yang belum juga ada kabarnya. Sheila Dara mundur dari audisi, karena ada tambahan adegan intim. Aku sudah protes juga, kenapa tiba-tiba ada adegan intim, aku rasa ciuman saja sudah cukup, tapi bang Jaka tidak mau menghilangkannya.
“Habis syuting sama Bang Jaka.”
“Stripping?”
“Iya. Ini usaha terakhir RCTI, katanya kalau sinetron sama kamu nggak bikin rating mereka lebih tinggi dari SCTV, bakalan tutup!”
“Kenapa jadi gue?”
“Nggak. Bukan berarti elu yang harus tanggung jawab. Tapi ya begitu lah…”
“Ya udah. Asal jadwalnya oke aja sih. Aku oke.”
“Oke! Salam buat Naya!” kata Celsi lalu mengakhiri telepon.
Sore itu, sama seperti kemarin mendung lagi. Naya berdiri di depan kafe bersama Shanaz. Aku datang menjemputnya dengan mobilnya Sekar.
“Ganti lagi mobilnya, Kak?” tanya Shanaz begitu jendela mobil diturunkan.
Dari dalam mobil, aku terkekeh, “Minjem!”
“Padahal bagus yang kemaren!” Shanaz manyun.
Naya masuk ke dalam mobil.
“Gimana Naya aja!” aku melirik Naya.
“Udah, ayo jalan! Laper nih!” Naya melirikku, lalu menatap Shanaz, “Daaaah!”
Aku menjalankan mobil keluar dari kafe, lalu bertanya pada Naya, “Ke mana kita?”
“Ikutin aku aja,” jawabnya pelan lalu memberikan arahan kepadaku. Lurus, lampu merah kanan, lurus, peremepatan kiri. Naik fly over, dan seterusnya. Sampai di sebuah restoran rumahan, sop iga khas Yogya.
“Hem, menarik,” kataku sambil parkir mobil di pinggir jalan.
Benar saja, jalanannya sempit dan tidak ada tempat parkir untuk mobil. Hanya ada untuk motor.
“Kamu sering makan di sini,” tanyaku.
“Lumayan. Sering sama Kak Risa, atau Devi.”
Aku menganggukkan kepala.
“Nggak apa-apa kan?” tanya Naya padaku.
“Ya, nggak apa-apa,” kataku santai, padahal dalam hatiku berkata, gawat juga kalau ada orang yang mengenaliku.
Tapi malam itu restoran sepi. Mungkin karena hujan turun lagi. Aku dan Naya harus lari kecil menghindari air hujan, masuk ke dalam restoran. Restorannya benar-benar berbanding terbalik dengan restoran di Senopati kemarin. Restoran ini restoran sederhana, konsep dapur terbuka, meja dan kursi kayu khas Jawa dengan diiringi musik kekinian yang jedag-jedug.
“Mau pesan apa?” tanya Naya sedikit teriak.
“Aku ikut aja.”
“Oke.” Naya bangkit lalu memesan sesuatu di kasir dekat dapur.
Tak lama kemudian dia kembali.
“Kamu pasti belum pernah ya makan di tempat kaya gini?” tanya Naya dengan senyuman seperti senyum mengejek.
“Yah, aku kan nggak punya orang tua. Nggak ada yang ngajak aku makan di luar begini.”
“Oh,” raut wajah Naya berubah. Senyumnya menghilang. “Ibu sama sepupu kamu nggak pernah makan di luar?”
“Ibu aku termasuk yang mengirit. Apalagi almarhum ayah aku, paling nggak suka makan di luar. Katanya nggak bebas, berisik!” kataku sambil mengeraskan suara. Pita suaraku harus bekerja ekstra mala mini.
“Oh, sori,” ada penyesalan di wajah Naya.
“Nggak apa-apa, seru juga!” kataku berusaha menenangkan dia.
Tak lama kemudian, makanan dan minuman datang. Dua buah iga cobek sambal ijo dan dua buah es jeruk kelapa dingin.
“Andalan di sini tuh, ini. Iga! Sambelnya juga, juara banget!” Naya tampak sangat bangga.
“Oh, oke!” kataku tersenyum, padahal aku menangis dalam hati, aku nggak kuat makan pedas.
Kami makan sambil membicarakan soal kapan Naya bisa ngukur cincin, kapan mau cari gedung. Apakah Naya sudah ada rekomendasi gedung, secara dia lebih tahu soal mengurus pernikahan. Naya dengan mudah memberikan beberapa opsi gedung, yang bagus, tidak mahal, tapi juga tidak jelek.
Aku mengangguk, menyerahkan semuanya pada Naya dan Risa. “Oke, aku percaya sama kamu,” kataku sambil menahan tangis, cabenya pedas sekali.
“Nanti aku bilang sama Kak Risa.”
“Aku ke toilet dulu ya?”
Naya menganggukkan kepala. Aku bergegas bangkit mencari toilet di belakang restoran. Toilet dengan pintu alumunium yang dikunci menggunakan paku bengkok. Aku langsung mencuci mulutku yang kepedesan. Tiba-tiba ada kecoa lewat. Aku kaget tapi berusaha tidak teriak. Jantungku berdebar kencang, melihat kecoa yang seperti menatapku dan hendak terbang ke arahku.
Aku cepat-cepat membuka pintu dan kembali ke meja.
“Ada apa?” tanya Naya yang lagi memegang ponselnya.
“Nggak apa-apa,” kataku sambil mengambil tisu lalu mengelap keringat yang ada di wajahku.
“Kepedesan ya?” tanya Naya khawatir.
“Nggak apa-apa,” jawabku sambil nyengir. Aku tidak sengaja melihat pesan di ponselnya Naya. “Siapa yang ngechat?”
“Bukan siapa-siapa,” jawab Naya cepat lalu membalikkan ponselnya.
“Oh.”
Naya terdiam.
Aku terdiam.
Naya bangkit, lalu pergi ke kasir untuk membayar. Aku cepat-cepat menghampirinya, “Saya aja yang bayar!”
Penjaga kasir dan juru masak, semua tersenyum senang melihatku, mereka lalu minta foto bersama. Naya yang memotretnya. Aku berusaha tersenyum sambil menyembunyikan kepedesan dunia ini.
Astaga. Rasanya aku ingin minum satu galon susu biar lidahku berhenti terbakar!
Aku dan Naya masuk ke dalam mobil, lalu pergi mengantarkan Naya pulang. Rasa terbakar di lidahku sudah mereda. Kami berhenti di depan rumahnya Naya. Dengan mobil Sekar, aku tidak perlu khawatir kalau papasan dengan mobil lain.
“Sori ya, harusnya aku tanya dulu, kamu suka pedas atau nggak,” kata Naya murung.
“Nggak apa-apa kok.”
“Aku turun ya?”
“Yang ngechat kamu itu mantan kamu?” aku tidak bisa tidak bertanya. Sepanjang perjalanan tadi, nama yang ada di ponselnya Naya terus menghantui pikiranku.
“Tapi aku nggak balas dia,” Naya buru-buru klarifikasi.
“Tapi dia ngechat kamu?” tanyaku dengan tegas.
“Iya, tapi aku nggak balas dia, kok!” Naya menujukkan chatnya padaku. Ada tiga pesan dari Alfian, semuanya tentang mengajak Naya ketemuan.
“Mau ngapain dia ketemuan?”
“Nggak tau. Aku nggak mau bales.”
“Kenapa kamu nggak bilang tadi kalau itu mantan kamu. Malah bilang bukan siapa-siapa.”
“Karena emang dia bukan siapa-siapa!” Naya sedikit membentak.
Aku terdiam.
Naya turun dari mobil dan membanting pintu lalu masuk ke dalam rumah.
Aku menundukkan kepala ke setir mobil, menyesal telah memojokkannya.