NovelToon NovelToon
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Anak Genius / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
​Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
​Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
​Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
​Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
​Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Labirin di Balik Pintu Kamar

Sore itu, mansion Alexander terasa sangat tenang. Liam masih terjebak di kantor karena ada audit mendadak—sesuatu yang dia keluhkan habis-habisan di dalam hatinya saat meneleponku tadi. Aku memutuskan untuk tidak berdiam diri di ruang kerja. Pikiranku tertuju pada Axelle. Sejak pulang sekolah, dia langsung mengurung diri di kamar.

Aku melangkah menuju lantai dua, berhenti di depan pintu kayu hitam yang selalu tertutup rapat. Ada stiker kecil bertuliskan "Keep Out" yang sudah agak mengelupas—sisa masa kecil Axelle yang tidak bahagia.

Tok, tok.

"Axelle? Ini Mama. Boleh Mama masuk?" tanyaku pelan.

Hening. Aku hampir berbalik pergi sebelum mendengar suara kunci diputar. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Axelle yang tampak lelah. Rambutnya berantakan, dan kacamata berbingkai perak bertengger di hidungnya.

"Ada apa, Ma?" tanyanya datar.

"Mama membawakan susu cokelat hangat dan camilan. Boleh Mama duduk sebentar?"

Axelle ragu sejenak, namun akhirnya dia membuka pintu lebih lebar. Begitu masuk, aku terpana. Kamar ini tidak seperti kamar remaja pada umumnya. Tidak ada poster band atau perlengkapan olahraga. Sebaliknya, tiga monitor besar menyala dengan deretan kode pemrograman yang rumit. Di dinding, terdapat papan tulis putih besar yang penuh dengan rumus kalkulus dan teori fisika kuantum.

"Kau sedang apa, Sayang?" tanyaku sambil meletakkan nampan di meja kecil yang penuh dengan tumpukan buku tebal berbasa Jerman dan Inggris.

"Hanya... mengerjakan beberapa proyek algoritma," sahut Axelle sambil duduk kembali di depan monitornya. Jari-jarinya mulai menari lincah di atas keyboard mekanis yang berbunyi klik-klik dengan cepat.

Aku mendekat, mencoba memahami apa yang ada di layar. Meskipun aku mantan pegawai bank yang mahir dengan angka, apa yang kulihat di sini jauh lebih kompleks.

"Ini... sistem enkripsi berlapis?" tanyaku ragu, mencoba mengingat-ingat istilah yang pernah kudengar dari divisi IT di bank dulu.

Gerakan jari Axelle terhenti. Dia menoleh padaku dengan tatapan tak percaya. "Mama tahu ini enkripsi?"

"Sedikit. Dulu di kantor, Mama sering melihat tim keamanan siber bekerja. Tapi milikmu... ini terlihat jauh lebih canggih. Apa ini untuk tugas sekolah?"

Axelle mendengus hambar. "Sekolah tidak mengajarkan ini, Ma. Pelajaran di sana terlalu membosankan. Aku sedang membangun sistem pertahanan data untuk Alexander Group secara mandiri. Papa tidak tahu soal ini."

Aku tertegun. Anak ini benar-benar jenius. Di novel Elodie, Axelle memang disebut pintar, tapi aku tidak menyangka dia adalah seorang prodigy di bidang siber di usia 16 tahun.

"Kenapa Papa tidak boleh tahu?" tanyaku sambil menarik kursi kecil untuk duduk di dekatnya.

"Papa hanya ingin aku menjadi CEO yang duduk di kursi empuk dan menandatangani dokumen," Axelle menatap layarnya dengan tatapan kosong. "Dia tidak akan mengerti kalau aku lebih suka berada di balik layar, mengendalikan data."

"Mama mengerti," ucapku lembut, membuat Axelle kembali menatapku. "Menjadi jenius itu terkadang terasa sepi, bukan? Karena tidak ada orang yang bisa diajak bicara di level yang sama."

Mata Axelle bergetar. "Mama... mengerti rasanya?"

"Mama tahu rasanya punya impian tapi tidak didukung oleh keadaan," aku mengusap punggung tangannya yang dingin. "Tapi Axelle, bakatmu ini adalah anugerah. Jika kau memang ingin membantu Papa, kenapa tidak menunjukkan padanya secara langsung?"

"Dia akan menganggapnya sebagai hobi anak kecil," sahut Axelle ketus, namun nada suaranya lebih ke arah sedih daripada marah.

"Kalau begitu, tunjukkan pada Mama dulu," aku tersenyum, menunjuk ke arah papan tulis putih. "Jelaskan rumus di sana. Mama mungkin tidak sepintar kamu, tapi Mama adalah pendengar yang baik."

Axelle menatapku lama, mencari tanda-tanda kebohongan atau ejekan di wajahku. Saat dia tidak menemukannya, dia menghela napas, berdiri, dan mengambil spidol.

"Ini adalah teori tentang probabilitas pasar saham yang digabungkan dengan perilaku konsumen digital..." Axelle mulai berbicara.

Awalnya dia bicara dengan ragu, namun perlahan suaranya menjadi lebih bersemangat. Dia menjelaskan bagaimana data bisa memprediksi masa depan ekonomi sebuah perusahaan. Dia bicara tentang kode, tentang logika, dan tentang dunia yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang dengan otak brilian sepertinya.

Aku mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan pertanyaan cerdas yang membuatnya tersenyum kecil—senyum tulus pertama yang pernah kulihat dari Axelle.

Dua jam berlalu tanpa terasa. Sampai tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Liam berdiri di sana, masih dengan jas kantornya, wajahnya tampak bingung melihatku dan Axelle sedang duduk lesehan di depan papan tulis yang penuh rumus.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Liam, alisnya bertaut.

[Apa aku salah masuk kamar? Blair... dia mengajari Axelle? Atau Axelle yang mengajari Blair? Kenapa suasananya begitu akrab? Aku merasa seperti orang asing yang mengganggu momen indah ini. Haruskah aku keluar lagi?]

"Papa," panggil Axelle, suaranya sedikit tegang kembali.

"Liam, kemari," aku berdiri dan menarik lengan Liam. "Kau harus lihat ini. Putramu bukan hanya calon CEO, dia adalah seorang jenius teknologi. Dia baru saja menjelaskan bagaimana sistem keamanan perusahaanmu bisa ditembus dalam waktu kurang dari lima menit jika tidak diperbarui."

Liam menatap papan tulis itu, lalu menatap monitor Axelle. Sebagai seorang pengusaha, dia tentu tahu dasar-dasar teknologi, tapi apa yang disajikan Axelle di depannya adalah tingkat ahli.

"Kau yang membuat ini, Axelle?" suara Liam terdengar berat, penuh keterkejutan.

"Ya, Pa. Maaf kalau aku lancang mencampuri sistem kantor," ucap Axelle sambil menunduk.

Liam melangkah mendekat, memperhatikan barisan kode di layar.

[Ya Tuhan... dia benar-benar anakku. Aku selalu berpikir dia hanya diam karena malas, ternyata dia sedang membangun sesuatu yang luar biasa. Dia jauh lebih pintar dariku di usianya yang sekarang. Kenapa aku tidak pernah menyadarinya?]

"Axelle," Liam meletakkan tangannya di bahu putranya. "Besok, datanglah ke kantor setelah sekolah. Aku ingin kau mempresentasikan ini di depan tim IT utama."

Axelle mendongak dengan mata membelalak. "Papa... serius?"

"Aku tidak pernah bercanda soal bisnis," Liam memberikan anggukan tegas, namun matanya memancarkan rasa bangga yang luar biasa. "Dan aku tidak pernah bercanda soal betapa bangganya aku memiliki putra sepertimu."

Axelle terdiam. Air mata mulai menggenang di matanya. Dia langsung memeluk ayahnya—pelukan canggung yang dibalas Liam dengan sangat erat.

Aku berdiri di sudut ruangan, menghapus air mata haruku sendiri. Elodie, naskahmu benar-benar hancur total hari ini. Axelle tidak akan pernah menjadi penjahat di masa depan. Dia akan menjadi pahlawan bagi ayahnya.

Liam menoleh padaku, menarikku masuk ke dalam pelukan mereka berdua.

[Terima kasih, Blair. Terima kasih sudah membuka mataku. Aku mencintaimu... aku sangat mencintai keluarga ini.]

Malam itu, untuk pertama kalinya, tidak ada sekat di antara kami bertiga. Di kamar yang penuh dengan kode dan rumus itu, sebuah keluarga yang hancur mulai tersambung kembali dengan perekat yang bernama kasih sayang.

1
umie chaby_ba
jadi mau Lo apa heh maxim??? kudu nya si Blair Sama Liam gituan didepan mata Lo?
Ariska Kamisa: oopsss.. 🤭🤭🤭🤭
sabar kak.. maxim lagi menguji kesabaran Blair dan Liam 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kan ga jadi cerai iiihh... Maxim ngeselin!
Ariska Kamisa: iyah Maxim ini resek yaa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
ceritanya ini tentang transmigrasi gitu yaa...
semoga bisa menghibur semuanya...
umie chaby_ba
waduh... ada LG aja nih musuhnya /Shy/
umie chaby_ba
kasian banget nasib penulis 🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
good job Axelle👍👍👍👍👍
umie chaby_ba
Elodie pengen banget si Blair mati kayanya 🫣
umie chaby_ba
Axelle lucu nih pembela mama nya banget
umie chaby_ba
ngeselin Liam /Panic/
umie chaby_ba
sweet banget🤭🤭🤭
umie chaby_ba
bagus Blair....
umie chaby_ba
bagus Axelle 👍👍👍
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/
umie chaby_ba
Adeline pelakor
umie chaby_ba
dih bimbang sih Liam /Sleep/
umie chaby_ba
penulis emang seenaknya sih 🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: aku dong....🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
wow ada karakter baru nih
umie chaby_ba
sang penulis dibuat ketar-ketir 🫣
Ariska Kamisa: iyah hehehe
total 1 replies
umie chaby_ba
so sweet😍
umie chaby_ba
penulisnya kewalahan
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
wwiihh keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!