NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14: Kepergian Karin

Hujan badai yang mengguyur Jakarta malam itu seolah menjadi musik latar bagi kehancuran keluarga Setiawan. Di dalam mansion yang biasanya tenang dan penuh wibawa, udara terasa sangat panas meski pendingin ruangan disetel ke suhu terendah. Tuan Surya dan Nyonya Sofia telah masuk ke kamar mereka setelah memberikan ultimatum yang merobek langit-langit dunia Danu.

Nara telah dibawa oleh Nyonya Sofia ke salah satu kamar tamu di lantai utama bukan lagi di paviliun belakang. Kamar itu mewah, dengan sprei sutra dan lampu tidur kristal, namun bagi Nara, itu hanyalah sel penjara yang lebih mahal.

Di ruang tengah, Danu berdiri mematung. Tangannya gemetar hebat. Bayangan wajah Nara yang hancur, suara robekan kain, dan tamparan ayahnya terus berputar di kepalanya. Namun, rasa bersalah itu dengan cepat tertutup oleh awan kemarahan yang pekat. Kemarahan kepada satu orang yang ia anggap sebagai biang keladi dari semua neraka ini: Karin.

Danu melangkah dengan hentakan kaki yang berat menuju tangga. Setiap langkahnya adalah dentuman kemarahan yang tertahan. Ia tidak menuju kamarnya, melainkan menuju kamar adik perempuannya yang terletak di ujung koridor lantai dua.

Karin sedang duduk di depan meja riasnya, mencoba menghapus riasan wajahnya dengan tangan gemetar. Ia baru saja mendengar teriakan ayahnya dari bawah tadi. Ia tahu rencananya gagal total, namun ia tidak menyangka ayahnya akan pulang secepat itu.

BRAK!

Pintu kamar Karin ditendang hingga menghantam dinding. Karin terlonjak, botol pembersih wajahnya jatuh dan pecah di lantai marmer. Di ambang pintu, Danu berdiri seperti malaikat maut. Matanya merah, bukan karena air mata, tapi karena amarah yang sudah mencapai titik didih.

"K-Kak Danu..." bisik Karin, mencoba memasang wajah polos yang biasanya selalu berhasil melunakkan kakaknya.

Danu tidak bersuara. Ia berjalan mendekat, lalu dengan satu gerakan kasar, ia menyapu semua barang di atas meja rias Karin parfum mahal, perhiasan emas, kosmetik impor semuanya jatuh berserakan dan hancur di lantai.

"PUAS KAMU?!"

teriak Danu. Suaranya menggelegar, membuat kaca jendela kamar itu seolah ikut bergetar.

"LIHAT APA YANG KAMU LAKUKAN PADA HIDUPKU, KARIN!"

Karin mundur hingga punggungnya menabrak lemari. "Aku... aku cuma mau membantumu, Kak. Dia itu pengganggu! Dia membuat kita terlihat lemah—"

"MEMBANTU?!" Danu mencengkeram bahu Karin dan mengguncangnya dengan kasar.

"Kamu memasukkan obat itu ke minumanku! Kamu memfitnahnya dengan rekaman palsu! Karena ulah 'bantuanmu' itu, aku hampir menjadi pemerkosa malam ini! Aku hampir menghancurkan hidup seorang wanita di bawah atap rumahku sendiri!"

"Tapi Kakak membencinya, kan? Kakak ingin dia pergi!" bela Karin dengan tangis yang mulai pecah.

"Aku membencinya sebagai guru, bukan sebagai manusia yang ingin aku noda!" Danu melepaskan cengkeramannya seolah tangan Karin adalah api yang membakarnya. "Sekarang, berkat kamu, aku harus menikahinya! Aku harus menikahi wanita yang aku injak-injak harga dirinya! Aku harus kehilangan Vanya! Aku harus kehilangan masa depanku di depan relasi bisnis kita!

SEMUA KARENA KAMU, KARIN!"

Karin terpaku. "Menikah? Kakak bercanda? Papa tidak mungkin..."

"Papa serius. Mama lebih serius lagi," ucap Danu, suaranya kini berubah menjadi rendah dan sangat dingin sebuah nada yang jauh lebih menakutkan daripada teriakannya tadi. "Mulai detik ini, kamu bukan lagi putri mahkota di rumah ini. Kamu adalah noda yang harus dibersihkan."

Danu mengambil sebuah ponsel dari sakunya ponsel milik Karin yang tadi disita Andra dan diberikan padanya. Ia melemparkannya ke tempat tidur.

"Andra sudah menyiapkan segalanya. Besok pagi, jam lima, sebuah mobil akan membawamu ke bandara. Kamu akan dikirim ke sebuah asrama di pedalaman Swiss. Bukan sekolah elit tempat para sosialita berkumpul, tapi sebuah institusi disiplin yang ketat di bawah pengawasan ketat kolega Papa."

Wajah Karin mendadak putih pucat. "Swiss? Tidak! Kak, aku tidak mau! Aku tidak bisa bahasa mereka! Aku tidak mau tinggal di asrama!"

"Kamu tidak punya pilihan!" Danu menunjuk wajah Karin dengan jari gemetar. "Di sana, kamu tidak akan punya kartu kredit tanpa limit. Kamu tidak akan punya pelayan yang memakaikan sepatumu. Kamu akan belajar bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak punya kuasa, sama seperti yang kamu lakukan pada Nara."

Karin jatuh terduduk di lantai, memeluk kaki Danu sambil meraung.

"Kak, tolong! Jangan lakukan ini padaku! Aku minta maaf! Aku janji tidak akan mengulangi lagi! Aku akan minta maaf pada Nara! Tolong jangan kirim aku pergi!"

Danu menatap adiknya dengan pandangan yang kosong. Selama ini, ia selalu membela Karin. Ia selalu memaafkan kenakalan-kenakalannya. Dan itulah kesalahannya. Ia telah memelihara monster yang akhirnya menggigitnya sendiri.

"Permintaan maafmu tidak akan mengubah fakta bahwa aku harus mengucapkan janji suci dengan wanita yang menatapku dengan kebencian murni," ucap Danu sambil menyentakkan kakinya agar terlepas dari pelukan Karin.

"Packing barang-barangmu. Hanya satu koper. Sisanya... akan disumbangkan atau dibuang. Kamu tidak akan butuh tas-tas mahalmu di tempat pembuangan itu."

Danu berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Karin yang menangis histeris di tengah reruntuhan barang-barang mewahnya.

Danu masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengunci pintu. Ia menjatuhkan diri ke kursi kebesarannya, menangkup wajah dengan kedua tangan. Ponselnya terus bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Vanya.

Ia ragu untuk mengangkatnya. Bagaimana ia harus mengatakannya? Bagaimana ia menjelaskan pada kekasihnya kalau dia akan menikahi guru adiknya karena sebuah 'insiden' yang memalukan?

Ia mengangkat telepon itu dengan tangan gemetar.

"Halo, Danu? Sayang? Kok suaramu aneh?" suara Vanya terdengar ceria di seberang sana, kontras dengan suasana hati Danu.

"Tadi aku sudah lihat desain cincinnya. Bagus sekali! Kapan kita bisa ke butik untuk fitting?"

Danu memejamkan mata. Air mata frustrasi menetes di pipinya. "Vanya... ada sesuatu yang harus aku bicarakan."

"Apa? Soal pekerjaan? Ah, lupakan dulu soal kantor, Danu. Malam ini kita harus merayakan—"

"Vanya, dengarkan aku!" potong Danu dengan suara pecah. "Pertunangan kita... tidak bisa dilanjutkan. Kita... kita harus berakhir."

Hening di seberang sana. Keheningan yang menyakitkan.

"Apa maksudmu, Danu? Ini lelucon? Kamu sedang mabuk, ya?" suara Vanya mulai bergetar.

"Aku... aku harus menikahi orang lain. Maafkan aku, Vanya. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Tapi ini demi nama baik keluargaku. Aku adalah pria paling brengsek yang pernah kamu kenal. Lupakan aku."

Danu langsung mematikan ponselnya dan melemparnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Ia berteriak frustrasi, memukul meja kerjanya hingga tangannya berdarah. Ia kehilangan cintanya, kehilangan harga dirinya, dan kini ia terjebak dalam sebuah takdir yang ia rancang sendiri melalui kebenciannya.

Pukul dua dini hari. Danu tidak bisa tidur. Ia berjalan keluar kamar, langkahnya tanpa sadar membawanya ke depan kamar tamu tempat Nara berada. Ia melihat lampu di bawah celah pintu masih menyala.

Ia mengetuk pelan. Tidak ada jawaban.

Ia memberanikan diri membuka pintu yang tidak terkunci itu. Di sana, di sudut ruangan, Nara duduk di atas sajadah. Ia masih mengenakan mukena putih bersih, namun mukena itu tampak kontras dengan wajahnya yang pucat dan mata yang bengkak. Nara sedang memegang mushaf kecilnya, bibirnya bergerak tanpa suara.

Nara tidak menoleh saat Danu masuk. Baginya, kehadiran Danu hanyalah angin yang harus ia abaikan.

"Nara..." suara Danu terdengar sangat asing di telinganya sendiri. Tidak ada lagi keangkuhan, tidak ada lagi nada merendahkan. Hanya ada kepasrahan yang hancur.

Nara menutup mushafnya perlahan. Ia berdiri dan berbalik, menatap Danu dengan mata yang tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan kekosongan yang sangat dingin.

"Apakah Bapak datang untuk menyelesaikan apa yang Bapak mulai tadi?" tanya Nara datar.

Danu tersentak seolah dipukul tepat di wajah. "Tidak. Aku... aku ingin memberitahumu. Karin akan pergi besok pagi. Dia dikirim ke Swiss. Dia tidak akan pernah mengganggumu lagi."

Nara tersenyum pahit.

"Apakah itu seharusnya membuat saya merasa lebih baik? Apakah pembuangan adik Bapak bisa mengembalikan pakaian saya yang robek? Bisa menghapus memori tangan Bapak di leher saya? Bisa mengembalikan kehormatan keluarga saya?"

"Aku tahu itu tidak cukup," jawab Danu rendah. "Orang tuaku memaksaku menikahimu. Aku menolak... tapi aku tidak punya pilihan jika aku ingin menyelamatkan apa yang tersisa dari hidupku."

"Bapak menikah karena Bapak takut miskin dan takut dipenjara," Nara melangkah maju, memperpendek jarak. "Sedangkan saya setuju menikah karena saya takut ayah saya mati. Kita berdua sama-sama sedang melakukan transaksi bisnis yang paling menjijikkan di dunia, Pak Danu. Jadi, jangan pernah berakting seolah Bapak adalah martir yang sedang berkorban."

Nara menunjuk pintu. "Keluar dari sini. Besok, siapkan surat perjanjiannya. Saya ingin jaminan tertulis bahwa Bapak tidak akan pernah menyentuh saya, tidak akan pernah mengatur hidup saya, dan akan membiayai ayah saya hingga benar-benar pulih. Jika satu poin saja dilanggar, saya tidak akan ragu untuk membawa semua bukti ke kepolisian, apa pun risikonya."

Danu menatap wanita di depannya. Nara yang dulu ia sebut lemah kini tampak seperti tembok baja yang tak tergoyahkan. Ironisnya, di saat ia berhasil merendahkan Nara secara fisik, Nara justru naik ke tingkat yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh Danu: Kebebasan batin.

"Baik," ucap Danu lirih. "Akan aku siapkan."

Pukul 05.00 WIB. Langit masih kelabu saat sebuah sedan hitam berhenti di depan teras utama. Andra berdiri di samping mobil, wajahnya kaku.

Karin keluar dari pintu besar, menyeret satu koper kecil. Matanya sembab, wajahnya tidak lagi memakai riasan mahal. Ia tampak seperti anak kecil yang hilang, bukan lagi ratu sekolah yang ditakuti.

Di balkon lantai dua, Danu berdiri memperhatikan. Ia melihat adiknya masuk ke dalam mobil. Tidak ada pelukan perpisahan, tidak ada kata-kata manis. Karin sempat menoleh ke jendela kamar Nara, namun ia tidak menemukan siapa pun di sana. Ia hanya menemukan pantulan

dirinya sendiri yang kini menjadi orang asing di rumahnya sendiri.

Mobil itu mulai bergerak, perlahan melewati gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis, lalu hilang di balik tikungan jalan.

Danu menarik napas panjang. "Satu masalah selesai," gumamnya. "Tapi neraka yang sesungguhnya... baru saja akan dimulai."

Ia berbalik dan melihat ibunya, Nyonya Sofia, berdiri di koridor.

"Persiapkan dirimu, Danu," ucap Nyonya Sofia dingin. "Penghulu akan datang pukul sepuluh pagi ini. Tidak ada perayaan, tidak ada tamu. Hanya janji di hadapan Tuhan untuk memperbaiki apa yang sudah kamu rusak."

Danu mengangguk lemah. Ia berjalan menuju kamarnya, melewati lorong yang kini terasa sangat luas dan kosong. Di ujung lorong, ia melihat bayangan Nara yang sedang berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Nara tidak menoleh padanya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!