"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Luka yang Disembunyikan
Langkah Aruna terasa sangat berat saat meninggalkan gedung fakultas. Langit London yang mulai menggelap seolah ikut merasakan sesak di dadanya. Dari kejauhan, Devan dan Theo berlari kecil menghampirinya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Aruna! Kamu oke?" tanya Devan cepat, matanya menyelidik wajah Aruna yang pucat. "Pak Baskara benar-benar sudah kelewatan tadi. Kalau kamu mau, kita bisa lapor ke dekan."
Aruna hanya mengangguk kecil tanpa suara. Ia memaksakan sebuah senyuman yang terlihat sangat rapuh di mata kedua temannya. "Aku tidak apa-apa, Devan. Benar, aku hanya lelah."
"Tapi mata kamu berkaca-kaca, Aruna," gumam Theo pelan.
"Hanya karena anginnya kencang," bohong Aruna. Ia segera mempercepat langkah, tidak ingin pertahanannya runtuh di depan mereka.
Namun, cobaan hari itu belum usai. Di dekat gerbang keluar, Michelle, Paula, dan Gea sudah menunggu seperti pemangsa. Mereka tertawa keras saat melihat Aruna lewat.
"Wah, lihat si pahlawan kesiangan kita!" seru Michelle sinis. "Dengar sendiri kan tadi? Kamu itu cuma kerikil, Aruna. Jangan mimpi bisa sejajar sama Pak Baskara, apalagi sama kami. Mending kamu sadar diri sebelum makin dipermalukan."
Aruna hanya diam, menunduk dalam dan terus berjalan melewati mereka tanpa kata.
Di area parkir, Aruna berpapasan dengan Baskara yang baru saja hendak masuk ke dalam mobil SUV mewahnya. Baskara berhenti sejenak, matanya menatap Aruna dengan sisa-sisa kemarahan dari kelas tadi. Ia sengaja mengeluarkan beberapa plastik sampah kecil dari mobilnya dan melemparkannya ke arah kaki Aruna.
"Karena kamu lewat sini, sekalian buang ini ke tempat sampah di sana. Anggap saja latihan jadi pelayan, siapa tahu itu pekerjaanmu setelah lulus nanti," perintah Baskara dengan senyum mengejek.
Aruna menarik napas panjang, ia memungut sampah itu dengan tangan gemetar. Saat ia berbalik untuk berjalan ke tempat sampah, Baskara sengaja melangkah maju dengan kasar untuk masuk ke mobilnya. Bahunya menyenggol tubuh mungil Aruna dengan sangat kuat hingga Aruna terdorong ke samping, menghantam ujung pagar besi yang tajam di dekat pembatas parkir.
Sret!
Besi itu menggores perut Aruna, merobek kaos hitamnya dan menembus kulitnya cukup dalam. Aruna memekik tertahan, tangannya refleks memegang perutnya yang terasa panas dan perih luar biasa.
Baskara menoleh sekilas, namun karena Aruna hanya diam membeku sambil membelakanginya, ia tidak tahu ada darah yang mulai merembes di balik kaos itu. Baskara hanya mendengus, menutup pintu mobilnya dengan keras, dan melenggang pergi meninggalkan kepulan asap knalpot.
Aruna sampai di asrama dengan sisa tenaga yang ada. Begitu masuk ke kamarnya, ia langsung menuju sudut tempat tidurnya dan duduk meringkuk. Tangisnya pecah seketika, teredam oleh bantal agar tidak terdengar ke luar. Rasa sakit di perutnya tidak sebanding dengan rasa sakit di harga dirinya yang terus-menerus diinjak.
Ia merogoh bagian terdalam tasnya, mengeluarkan sebuah dompet kecil yang berisi Black Card miliknya. Kartu itu berkilat tertimpa lampu kamar. Ia menatapnya lama. Satu gesekan saja, ia bisa menyewa pengacara terbaik untuk menuntut Baskara, atau membeli seluruh fasilitas asrama ini agar ia tidak perlu dihina lagi. Tapi ia teringat janjinya, ia ingin membuktikan bahwa ia bisa berdiri tanpa bayang-bayang nama Prawijaya.
"Aruna... kenapa bajumu?" sebuah suara dingin menginterupsi.
Aruna tersentak dan segera menyembunyikan kartunya. Delsa, teman sekamarnya yang selama ini paling cuek dan jarang bicara, berdiri di ambang pintu. Matanya tertuju pada kaos Aruna yang basah oleh cairan merah pekat.
"Kamu terluka," ucap Delsa datar. Ia mendekat, lalu melempar sebuah kotak P3K dan segulung perban ke tempat tidur Aruna. "Obati itu sebelum darahnya mengotori lantai. Aku tidak mau mencuci noda darah."
Aruna meringis saat membuka kaosnya. Luka goresan besi itu cukup panjang dan darahnya belum berhenti mengalir. Dengan tangan gemetar, ia mulai membersihkan lukanya dengan cairan antiseptik yang terasa sangat perih.
"Terima kasih, Delsa," bisik Aruna lirih.
"Jangan berterima kasih padaku. Aku hanya tidak suka bau darah," jawab Delsa sambil kembali ke mejanya, membuka buku seolah tidak terjadi apa-apa.
Aruna membungkus perutnya dengan perban, melilitnya dengan kuat. Sambil menahan denyut di perutnya, ia menatap langit-langit kamar. "Baskara Dirgantara... Bapak benar, dunia memang berputar. Dan saya tidak sabar melihat saat Bapak ada di bawah kaki saya."
Malam itu, Aruna tertidur dalam posisi meringkuk, menahan perih fisik dan batin, tanpa tahu bahwa di luar sana, pencarian ibunya terhadap dirinya mulai mendekati titik terang melalui koneksi lama di London.