NovelToon NovelToon
Menikah Karena Kasihan

Menikah Karena Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: pipit fitriyani

Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?

Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.

Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sketsa siapa?

Setelah Farhana pulang, Amira duduk termenung. Banyak hal yang ternyata belum ia ketahui tentang Farhan. Bahkan makanan atau hobi kesukaan suaminya pun, Amira tidak tahu. Apakah secuek itu dirinya sebagai seorang istri, atau Farhan yang memang tidak pernah berusaha terbuka padanya?

Sampai akhirnya, telepon dari Farhan berbunyi dan membuyarkan segala lamunan yang memenuhi kepalanya.

"Halo, Amira. Aku sudah sampai di Bali setengah jam yang lalu. Baru sempat kasih kabar karena tadi harus urus check-in hotel dan merapikan barang. Kamu lagi apa?" ucap Farhan memberi kabar setelah sampai di kota tujuan. Padahal, sebelumnya Farhan hanya mengirim pesan singkat saja, atau bahkan tidak memberi kabar sama sekali.

"Halo, Mas. Iya, aku dengar kok . Alhamdulillah kalau sudah sampai. Aku sedikit kaget aja, biasanya kamu cuma kirim pesan kalau udah sampai, atau malah nggak mengabari sama sekali. Jadi ya, agak kaget aja pas kamu telpon," sahut Amira menjelaskan.

Di seberang sana, Farhan merasa tersindir mendengar ucapan istrinya itu.

"Iya, maaf. Biasanya memang aku langsung disibukkan dengan urusan pekerjaan. Kali ini sedikit lebih santai, makanya aku sempat nelpon kamu. Oh iya, nanti kamu mau oleh-oleh apa? Tanya juga sama Amara dan Ammar ya."

"Tidak perlu repot-repot, Mas. Yang penting pekerjaanmu selesai dan kamu pulang ke rumah dengan selamat."

"Aku serius. Nanti kalau ada yang mau dibeli, aku carikan sekalian sambil survei tempat sama tim yang lain."

"Aku terserah Mas aja deh. Amara sama Ammar juga bukan tipe pemilih, mereka pasti suka apa aja yang kamu berikan."

"Ternyata kata 'terserah' semenyebalkan ini," batin Farhan dalam hatinya.

"Ya sudah, kalau memang nggak ada yang mau dibeli, nanti aku beli oleh-olehnya random aja ya. Oh iya, kamu lagi apa sekarang?"

"Hmm, aku habis beli tanaman bunga lagi. Belum lama selesai memindahkannya ke pot yang ada di taman," jawab Amira terus terang.

Farhan menarik napas cukup panjang, dan suara helaan napas itu terdengar jelas oleh Amira. Ternyata benar dugaan adik iparnya, Farhan memang tidak menyukai tanaman dengan warna yang mencolok. Apalagi kalau dilihat-lihat sekarang, taman di rumah itu sudah berubah menjadi seperti taman bunga, di mana kumbang dan kupu-kupu terus datang dan pergi di bunga-bunga itu.

"Oalah, begitu. Ya sudah, kamu lanjutkan aja kegiatannya. Aku mau istirahat dulu," ucap Farhan lalu mengakhiri sambungan teleponnya.

Di sana, Amira hanya memandang layar ponselnya dengan perasaan yang campur aduk. Sekali lagi, helaan napas panjang terdengar jelas dari mulutnya. Ia sedang dilema. Amira sangat menyukai bunga, sedangkan suaminya ternyata tidak. Lalu, haruskah ia mengembalikan semuanya seperti semula?

Amira belum memutuskan apa pun mengenai tanaman-tanaman itu, apalagi soal dekorasi dan warna cat dinding rumah yang harus diapakan. Dulu ia berpikir, saat sudah menikah, rumah Farhan adalah rumahnya juga, dan ia bisa melakukan apa aja tanpa harus membuat satu sama lain merasa tertekan. Nyatanya, suaminya justru sangat terganggu dengan perubahan itu.

"Kalau sudah begini, aku harus ngerem hobiku beli tanaman, beli ornamen untuk rumah, atau apa pun itu sesuai keinginanku. Kalau aku menikmatinya, tapi Mas Farhan nggak, buat apa? Ini kan rumah dia," gumam Amira pada dirinya sendiri.

Ia pun mulai berjalan mengelilingi setiap sudut rumah itu. Selama pindah ke sini, ia sadar ia belum benar-benar mengenal apa yang ada di dalam rumah milik Farhan.

Langkahnya terhenti tepat di depan ruang kerja milik Farhan. Ruangan itu kebetulan tidak dikunci seperti biasa. Di dalam sana hanya ada rak buku besar, sebuah sofa, dan meja kerja milik Farhan. Tidak ada yang aneh, sampai akhirnya Amira duduk di atas sofa besar yang ada di ruangan itu. matanya tertuju pada sebuah benda yang menarik perhatiannya sebuah sketsa wajah seorang perempuan yang sedang tersenyum. Foto itu tersembunyi dibalik pintu.

Wajah di sketsa itu tampak cantik, dengan mata bulat yang jernih dan rambut yang disanggul ke atas, dengan beberapa helai rambut yang terlihat sedikit berantakan namun justru terlihat sangat alami dan indah. Amira mendekat dan mengambil bingkai foto berukuran 10R itu. Setelah diamati dengan teliti, ia melihat ada tulisan "FC" yang terselip di sudut gambar sketsa itu sangat kecil tapi cukup jelas terbaca.

Amira tidak banyak berspekulasi, ia hanya terdiam cukup lama menatap bingkai yang kini ada di tangannya. "Apa ini orang spesial yang pernah mengisi hidup Mas Farhan?" Hanya pertanyaan itu yang terus berputar di dalam kepalanya.

Perlahan, Amira mengembalikan bingkai itu ke tempat semula. Ia mulai menduga-duga, namun semuanya hanya sebatas pikiran liarnya saja yang belum tentu benar.

Buku-buku yang tersusun rapi itu berisi seputar dunia bisnis, sesuai dengan keahlian Farhan. Amira tidak cukup paham untuk membaca isi buku-buku itu, selain hanya sekadar membaca judulnya. Ia pun menaruh kembali buku itu ke tempat semula. Benar-benar tidak ada apa pun lagi di ruangan itu, selain bingkai foto tadi yang kini merusak ketenangannya.

"Kalau aku tanyakan sama Mas Farhan, dia marah nggak ya? Tapi tadi aku udah lancang masuk ke ruang kerjanya tanpa izin. Ahh, tapi sketsa tadi bikin penasaran . Siapa yang sebenarnya digambar itu? Bisa nggak sih, Amira, kamu nggak usah kepo?" ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri karena bingung.

Perjalanan mengelilingi rumahnya berhenti di ruang kerja Farhan. Kini, ia masuk ke dalam kamar yang sudah lebih dari setahun ini ia tempati bersama Farhan. Lemari besar itu berisi pakaian milik Farhan dan milik dirinya. Ia menatap baris demi baris pakaian yang tergantung, lalu senyum miris terukir di bibirnya.

"Dari pakaian saja, kelas sosial kita sudah jelas bedanya. Lihatlah, bahkan baju milik Mas Farhan masih ada harga dan etiketnya. Mahal banget, harga satu bajunya saja bisa buat beli lima pasang baju punyaku," ucap Amira saat melihat sebuah kemeja Farhan yang masih baru. Harganya tertera 1,2 juta rupiah untuk satu kemeja lengan panjang berwarna soft grey.

Amira masih saja penasaran, ia melihat satu per satu harga baju-baju baru yang masih tergantung rapi. Angka-angka itu membuatnya menggeleng-gelengkan kepala. "Entah apa yang kamu lihat dari aku selama ini, kalau bukan sekadar beban untuk kamu," ucap Amira pelan sambil menutup lemari gantung milik Farhan.

Lalu, berapa banyak jumlah baju Amira? Hanya ada dua tumpukan saja, itupun baju-baju yang menurut Amira yang terbaik yang ia bawa dari rumahnya. Selama menikah, ia hanya membeli beberapa pasang baju saja. Baginya, dia hanya di rumah saja dan tidak pergi ke mana-mana. Toh, selama ini Farhan tidak pernah mengajaknya menghadiri acara-acara penting. Intinya, rekan kerja maupun teman-teman Farhan tidak ada yang tahu kalau dia sudah menikah. Farhan selalu beralasan sedang mencari waktu yang tepat untuk mengumumkan, atau sedang menjaga perasaan seseorang. Entahlah.

1
Lilis Yuanita
bgus
rasahaz
bnr2 nyesek kmu jdi amira,, jdi mnding go ja lh,,, 😤😤😤💪
Salsa Bilah
aku bolak-balik buat liat bab selanjutnya blom ada ihhh
Lilis Yuanita
sedih critay
rasahaz
nah kaan baru tau skrng gmn kelakuan laki mu amira,, mkany jgn polos2 bgt ahk, masa ngga bsa pke insting seorng istri sh,,, jdi udh mnding minggat ja minta pisah ngapain msh dpertahankn,, 😤😤😤😤
rasahaz
jgn trllu lemot amira,, masa ngga bsa pke insting sma skli sh,, 😄😄😄
rasahaz
mng dasar laki pengecut pecundang kau farhan,, 😡😡😡
rasahaz
ayo amira kmu hrus jdi wanita tanggung,, jgn menye2 yg dikit2 nangis,, 💪💪💪🔥
rasahaz
pergi amira pergi bwa adik2 mu,, mnding berdiri dkaki sndri dri pda brgntung sma laki modeln c farhan,,,
rasahaz
waaaahh bnr2 suami dzolim kau farhan,,, 😡😡
rasahaz
kau sprti menabur madu pdhal kau memberi racun,,, 😡😡
rasahaz
sikap mu bgtu manis tpi bnyak bgt mengandung racun ny,,,
rasahaz
dpt notif da cerita baru karya kak pipit,, langsung mlncur,🔥🔥🔥💪😄
Penikmat Sunyi: terima kasih, dukung terus ya kak biar semangat nulisnya😄😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!