Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Anna terdiam dalam dekapan Axel, kepalanya masih berdenyut karena tangisan yang baru saja ia tumpahkan. Di tengah kesunyian mobil yang mendingin karena pendingin ruangan, pikirannya justru berlari liar. Ia kembali menyadari posisi dirinya yang sangat tidak masuk akal. Di dalam dunia novel ini, Axel Elion adalah pria yang berada di puncak rantai makanan; penguasa bisnis, pemilik kekuatan yang bahkan bisa membuat tokoh antagonis seperti Ezkiel gemetar hanya dengan menyebutkan nama keluarganya.
Bagaimana bisa aku, seorang gadis yang hanya pemeran pendukung atau bahkan figuran dalam plot asli, berakhir di situasi sedekat ini dengan orang paling berkuasa di sini? batin Anna. Semakin ia berpikir, semakin ia merasa terjebak dalam arus yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Pria yang sedang memeluknya ini adalah karakter yang biasanya tidak tersentuh, namun kini, dengan pengakuan jujur yang canggung itu, Anna merasa dinding pertahanan Axel mulai retak.
Anna mengendus pelan, hidungnya yang mancung kini memerah merona akibat menangis tadi, dan matanya yang sedikit sembab masih menyisakan sisa-sisa air mata. Ia tidak lagi mencoba melepaskan diri. Entah karena lelah atau karena kata-kata jujur Axel yang sedikit menyentuh sisi empati di hatinya, ia memilih untuk patuh. Ia menyandarkan kepalanya sedikit lebih dalam ke dada Axel, merasakan detak jantung pria itu yang tenang namun mantap di punggungnya.
"Aku... aku nggak tahu harus bilang apa," bisik Anna parau.
Axel tidak menjawab dengan kata-kata lagi. Ia melepaskan pelukannya perlahan, lalu menyeka sisa air mata di pipi Anna dengan ibu jarinya, gerakannya begitu hati-hati, seolah takut gadis itu akan pecah jika ia terlalu kasar. Axel kemudian menegakkan posisi duduknya, namun tangannya masih menggenggam jemari Anna dengan erat, enggan melepaskannya.
"Sudah berhenti menangis?" tanya Axel pelan, suaranya kini jauh dari kesan mengintimidasi.
Anna hanya mengangguk kecil, menunduk melihat jemarinya yang bertautan dengan milik Axel.
"Kita pergi sekarang," ujar Axel singkat. Tanpa menunggu persetujuan, ia menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraan mewah itu keluar dari kawasan taman.
Tujuan mereka bukan pulang ke rumah Anna, melainkan menuju vila pribadi keluarga Elion di tepi pantai—tempat yang sama di mana Jolina dan teman-temannya akan menghabiskan akhir pekan nanti. Di dalam perjalanan, Axel sesekali melirik Anna yang masih tampak lesu dan terdiam. Pria itu tidak lagi menuntut penjelasan atau mengeluarkan aura posesif yang mencekik. Ia membiarkan suasana di dalam mobil tenang, hanya diiringi alunan musik klasik yang sayup-sayup terdengar.
Dua jam berlalu, dan aroma garam laut mulai tercium tajam. Mobil mereka memasuki kawasan vila elit yang privat, dengan pemandangan langsung ke arah samudra yang biru luas. Begitu mobil berhenti tepat di depan teras vila yang megah, Axel turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Anna.
Ia mengulurkan tangannya, menawarkan jemari untuk Anna sambut. "Tarik napas, udara di sini akan membuatmu merasa lebih baik," ucap Axel tenang.
Anna menatap tangan pria itu, lalu menatap wajah Axel yang kini tampak lebih teduh sebuah pemandangan yang langka bagi siapa pun yang mengenal siapa itu Axel Elion. Dengan ragu namun pasrah, Anna menyambut tangan Axel dan melangkah keluar dari mobil, melangkah menuju gerbang vila, tempat petualangan yang tidak pernah ia bayangkan di dalam plot novel ini akan dimulai.
Anna terpaku di tempatnya berdiri. Pandangannya menyapu hamparan laut biru yang berkilauan tertimpa sinar matahari siang itu. Deburan ombak yang tenang menyentuh pasir putih di kejauhan, menciptakan pemandangan yang begitu megah dan menenangkan. Vila di hadapan mereka pun tak kalah menakjubkan—arsitektur modern minimalis dengan sentuhan marmer yang memberikan kesan mewah namun tetap terasa nyaman.
"Kita di mana, Paman?" tanya Anna pelan, matanya masih tak lepas dari pemandangan di depannya. Suaranya terdengar penuh kekaguman.
Axel yang berdiri tepat di sampingnya, dengan satu tangan di dalam saku celana, menjawab dengan tenang, "Vila pribadiku. Tempat ini tenang, tidak akan ada gangguan dari siapa pun di sini."
Begitu mereka melangkah melewati gerbang utama, Anna mendadak tersadar akan sesuatu. Di sepanjang sisi jalan setapak menuju pintu masuk utama, terdapat barisan pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang rapi dan kacamata hitam. Mereka berdiri tegak dan membungkuk hormat saat Axel dan Anna melintas.
Anna menelan ludah, sedikit merasa terintimidasi namun juga geli melihat pemandangan tersebut. Ini benar-benar kayak di film-film, pikirnya.
Ia menoleh ke arah Axel, lalu melirik para pengawal yang tampak sangat terlatih itu. Anna menahan tawa, mencoba menutup mulutnya dengan telapak tangan agar tidak terdengar oleh mereka. Sambil berjalan mengikuti Axel, ia berbisik pada dirinya sendiri, "Ya ampun, Anna... lo kayak lagi cosplay jadi nyonya besar yang lagi diculik bos mafia."
Ia terkikik pelan sampai bahunya terguncang. Rasa tegang di hatinya perlahan mencair berganti dengan perasaan unik yang belum pernah ia alami. Meski Axel mungkin orang yang berbahaya, setidaknya untuk saat ini, berada di samping pria paling berkuasa di novel ini memberikan sensasi yang sangat kontras dengan kehidupan Anna yang biasanya sederhana.
Axel yang mendengar gumaman kecil dan tawa tertahan Anna, melirik gadis itu dengan alis terangkat. "Apa yang lucu?" tanyanya dengan nada suara yang sedikit lebih lembut dari biasanya.
Anna menggeleng cepat, wajahnya masih memerah karena menahan tawa. "Nggak apa-apa, Paman. Cuma... tempat ini bagus banget."
cerita ny bagus banget 😍