Bertahan atau melangkah pergi?
Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?
Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00^32
Austyn tersenyum masam, saat kedua matanya melihat seorang guru bimbel meletakkan dua lembar kertas di meja tepat seseorang yang sangat familiar. Tanpa menghentikan mulutnya yang terus bergumam tidak jelas, karena Austyn tidak ingin siapapun tahu. Jika dirinya tengah menghapal satu-persatu kunci jawaban yang Austyn dapatkan dari kepala sekolah.
"Apa itu kunci dia menjadi si peringkat pertama?" Rendahnya yang tidak aku sama sekali.
"Diamlah." Pinta seorang pemuda yang menyenggol pelan lengan Austyn. Dia berada di samping kanan Austyn.
"Kau juga bisa mendapatkannya, jika kau punya uang." Bukan Yuna namanya jika tidak membuat lawan bicaranya ciut kehilangan nyali. Dengan pandangan melihat contoh soal di tangannya saat ini.
"Jika pun aku punya uang banyak, aku tidak akan melakukan hal itu. Karena yang kau dapatkan hanya contoh soal. Belum tentu soal yang di ujian itu sama." Balas Austyn yang berusaha membela diri.
Sejenak diam, dengan kedua mata melihat ke arah Austyn berada. "Bagaimana jika itu sama persis? Apa kau tidak sadar? Selama ini peringkat pertama aku dapatkan karena contoh soal yang mereka berikan."
"Tidak mungkin itu sama." Mulai berani, Austyn menyelipkan senyum remeh di perkataannya. "Kau ingin main taruhan dengan ku?"
"Taruhan?" Ulang Yuna dengan kening mengerut samar. "Itu terdengar sangat menarik."
Ketiga pasang mata yang sendari tadi sibuk dengan buku mereka, kini spontan melihat ke arah Yuna. Tersenyum kecil penuh makna.
"Kau yakin?" Tanya Aldi yang berada disisi kanan Austyn. bukannya Aldi meragukan kemampuan Yuna. Hanya saja, entah kenapa, firasat Aldi saat ini benar-benar buruk.
"Soal yang mereka berikan padaku memang belum tentu sama. Tapi aku menang dari Austyn." Gumam Yuna yang sangat tidak jelas di pendengaran siapapun.
"Tolaklah, itu akan melukai harga dirimu. Apalagi jika kau kalah dengannya." Cetus Anrey yang di tunjukkan untuk Austyn.
"Aku tidak akan kalah kali ini." Kesal Austyn yang sangat merasa jika dua pemuda tampan itu berada di pihak Yuna.
"Baiklah," kepala Yuna mengangguk kecil. " Jika aku kalah darinya, aku akan berlutut di hadapannya."
"Itu akan jauh sangat menyenangkan. Karena seorang Yuna berlutut karena kalah taruhan." Begitu antusias Austyn melontarkannya, tanpa lupa senyum simpulnya.
"Tapi, apa kau bisa mengalahkanku dalam ujian minggu depan?" Tanya Yuna yang melenyapkan lengkungan menawan milik Austyn. Jika pun itu hanya sesaat.
"Kita lihat, nama siapa yang akan berada di posisi pertama." Balas Austyn, menatap Yuna dengan sorot mata penuh arti.
Hal itu membuat Aldi maupun Anrey, membuang napas gusar penuh kegelisahan.
"Kau juga ingin taruhan dengan ku?" Tanya Aldi kepada Anrey.
"Aku hanya ingin tidur di rumah." Jawab Anrey yang sangat realistis.
Sedangkan satu gadis yang sendari tadi hanya bisa diam, kini memilih beranjak dari duduknya. Melangkah keluar ruangan untuk mencari udara sebentar. Agar pernapasannya tidak begitu merasa sesak akan perdebatan anak orang kaya yang tengah memperebutkan peringkat pertama itu.
Bersandar pada dinding, Anna mulai merenung. Karena gadis itu juga menginginkan posisi peringkat pertama. Jika Anna bisa memilikinya, itu akan memudahkannya untuk mendapat beasiswa kembali jika sudah lulus dari sekolahnya saat ini. Tapi jika dilihat kembali, hal itu sangatlah mustahil Anna dapatkan. Alasannya begitu sederhana, tapi sangat sulit Anna menyeimbanginya.
Sadar, Anna sangat sadar. Yuna memang jauh lebih pintar dari pada dirinya. Dan kehidupan gadis itu pun juga mendukung apa yang ingin Yuna inginkan. Berbanding jauh dengan Anna. Hanya bisa belajar tanpa melibatkan orang-orang di sekitarnya untuk membantunya, mendapat apa yang Anna mau.
Refleks menoleh ke sumber suara yang begitu nyaring memenuhi pendengaran Anna. Perlahan menegakkan kembali punggungnya, melangkah pelan ke arah asalnya suara yang mendatangkan rasa ingin tahu di benak Anna.
Saat ini berjalan lagi, kedua mata Anna membesar melihat orang yang sangat Anna kenal. Membuat gadis itu dengan cepat tanpa berpikir lagi. Membalikkan tubuh, melangkah cepat masuk ke dalam kelas yang kini Anna tutup dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Berdiri di balik pintu dengan raut wajah yang tidak bisa menutupi kegelisahannya. Kini terus menutup rapat mulutnya. Walaupun Anna tahu, jika kehadirannya bukan salahnya sama sekali.
Di lain sisi, di mana dua wanita dewasa yang terlihat sangat jelas, jika hubungan mereka tengah tidak baik-baik saja. Kini menghentikan langkah mereka tepat di depan pintu kelas. Tanpa tahu, di balik pintu itu ada apa.
"Bagaimana bisa kau melakukan hal itu? Apa kau ingin semua orang tahu?" Kesal seorang wanita yang mendapat jabatan sebagai penjaga perpustakaan sekolah itu.
"Aku juga tidak ingin semua orang tahu." Seru sang lawan bicara yang tertahan. Melepas kacamata bulatnya, dengan napas gusar. "Dan aku tidak punya pilihan lagi selain menurutinya."
"Kau gagal menghapusnya, dan dia mendapatkan apa yang dia mau. Apa kau tidak ada niatan untuk mengubah semua soal ujiannya?" Mungkin nada bicara yang terdengar tidak ada sopan santunnya sama sekali. Tapi bagi wanita itu adalah hal biasa.
"Apa kau sudah gila mengatakan hal itu? Bagaimana bisa aku meminta para guru untuk mengubah soal ujiannya? Waktunya sangat sempit, itu tidak akan bisa." Balas kepala sekolah yang juga merasa frustasi sendiri.
Mengangguk kecil, sebelum mengimbuhkan perkataannya. "Kau tidak perlu khawatir, aku akan cari cara untuk menghapus rekaman itu."
"Kau percaya dengan gadis itu?"
"Untuk sementara ini aku akan mengikuti permainannya. Sampai, dia berlutut di hadapan semua orang." Tidak begitu cepat kepala sekolah memberi tanggapan yang ingin menenangkan penjaga perpustakaan. "Ayo kita pergi dari sini."
Dan Anna mendengar semuanya, tapi Anna tidak begitu paham apa yang dua wanita itu bicarakan. "Menghapus rekaman? Soal ujian?"
"Siapa yang memiliki rekaman itu? Dan kenapa soal ujian harus di rubah?" Kembali bergumam. Kedua mata Anna melihat kepergian dua wanita familiar itu dari balik jendela kelas.
Merasa sudah aman, Anna memberanikan keluar dari ruang kelas yang sangat sepi itu. Melihat ke arah di mana perginya dua wanita itu dengan sorot mata tanya.
Saat memutar tumit, tubuh Anna tersentak akan kehadiran Yuna yang entah sejak kapan berdiri di hadapannya dengan kedua tangan bersedekap dada. Sorot mata itu terlihat tengah menghakimi Anna.
"Apa yang kau lakukan disini?" Spontan Anna yang berusaha menormalkan ekspresi wajahnya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Untuk apa kau ada disini? Dan siapa yang tengah kau lihat?" Dinginnya melebihi es dikutup utara. Yuna akan terus menunjukkan pada siapapun.
"Bukan apa-apa." Balas Anna yang benar-benar ingin mengakhiri percakapannya bersama Yuna.
Diam sejenak, sebelum pergi dari hadapan Yuna. Akan tetapi temannya satu itu dengan gamblang mencekal pergelangan tangannya. Yang mau tidak mau mengharuskan Anna tetap menghentikan langkah kakinya.
Dengan hati-hati, Anna membalas tatapan Yuna. "Kau butuh bantuan?"
"Jangan jadikan alasan, hanya karena dia yang meminta mu."