NovelToon NovelToon
TERSESAT DI DESA MISTERIUS

TERSESAT DI DESA MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Hari Kiamat
Popularitas:76.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.

Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.

Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.

Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laila Ngatemi cemas : 04

“Kita harus apa? Pengendaranya manusia atau bukan?” celetuk Aji, bertanya tidak masuk akal menurut keempat temannya yang tidak percaya hal mistis.

“Gak tahu.” Kanti menurunkan ransel, mencari alat kejut listrik, senjata andalannya. “Kalian mending cari apa gitu untuk pegangan! Siapa tahu orang jahat.”

Sambara dan Abeer mengumpat, terpaksa ke tepi jalan mencari ranting kayu.

Deru mesin motor bertambah dekat, tapi anehnya tidak terlihat nyala lampu.

Saat tersisa jarak satu meter, sang pengendara mulai kelihatan, dia menekan klakson bersuara pelan.

“Sedang apa kalian disini?” tanya sebuah suara berintonasi sedang, memiliki raut wajah ramah dengan senyum sopan.

Candra Kanti menatap sopan, tapi netranya bergerak cepat menelisik penampilan laki-laki yang dia taksir berumur awal tiga puluhan.

'Tipe pria santun, postur tinggi 174 cm, auranya positif, sama sekali tidak terdeteksi mengarah ke hal negatif,’ nilainya cepat.

“Kami hendak bertolak ke sebuah desa, tapi terjebak disini. Barusan mobil kami masuk jurang di sana!” Aji menunjuk arah tadi.

Pria memakai kaos lengan pendek warna putih, celana selutut kantong samping itu mengikuti arah jari telunjuk Aji. “Oh … pantas saja kalian tak bisa lewat, sebab memasuki wilayah terlarang.”

Mata awas Kanti kembali memperhatikan si laki-laki, lalu netranya menyipit saat mengenali kendaraan yang dinaiki. ‘Ini jenis motor keluaran tahun 80-an, sekarang tidak lagi diproduksi, dan jarang sekali ada.’

Standard motor diturunkan, dan penumpang melangkah mendekati Sambara yang memegang ranting kayu. “Perkenalkan, saya Tejo. Warga desa sebelah.”

Sambara terlihat enggan, tapi akhirnya menyambut juga jabat tangan. “Sambara.”

Kemudian Tejo berkenalan dengan lainnya, tidak terkecuali Candra Kanti.

“Maaf kalau boleh tahu, mengapa langit disini berwarna nyala api?” Kanti tidak dapat menahan rasa penasarannya. “Terus kami ini lagi dimana? Jam tidak berdetak, sinyal ponsel pun gak berfungsi?”

Husst!

Tejo meletakkan jari telunjuk pada bibirnya. “Lebih baik kalian ikut aku, di desa kami lebih aman. Nanti ku jelaskan!”

Kala melihat semua orang meragu, Tejo berusaha lebih meyakinkan lagi. “Kita tak punya banyak waktu. Takutnya hewan buas dalam jurang ujung jalan sana berhasil naik ke atas.”

“Hewan buas?” Abeer bergumam, teringat cerita Kanti. “Apa Serigala atau Anjing?”

“Benar. Tubuh mereka lima kali lipat lebih besar dari bobot normal.”

Terdengar bunyi perut keroncongan, Sambara dan Abeer kelaparan.

Tejo tertawa pelan, lalu melangkah kembali ke motornya. “Ayo ikut aku! Di desa kami warganya ramah-ramah, kalian pasti betah sampai tidak mau pulang.”

“Kanti, kamu percaya sama dia?” bisik Aji tepat di telinga kiri si wanita.

“Kita gak punya pilihan. Apa yang dia bilang sama persis sama hewan tadi kulihat.” Kanti pun mulai mengikuti keempat temannya, menyimpan lagi alat kejut listrik.

“Tempatnya jauh tidak?” Mayang berjalan terpincang-pincang sambil mengerang kesakitan.

“Kamu duduk di atas motor saja, kalau memaksakan jalan kaki, nanti tambah bengkak lebam itu.” Dagunya terarah pada bengkak mulai membesar.

Ahwaya melepaskan rangkulannya kala Abeer hendak memapah sang kekasih agar duduk di atas motor Honda GL 100 warna merah jok hitam.

Tejo memilih bergeser menjauhi kendaraannya, membiarkan pemuda sedikit gemuk menuntun motornya.

Sambara menyamai langkah sosok asing, dia ingin bertanya banyak hal. Namun, Tejo konsisten pada perkataannya – tidak mau menjawab sebelum sampai desa.

Candra Kanti, Aji Sardi, berjalan paling belakang, sedikit berjarak dari lainnya.

Tiba-tiba tubuh gadis bertas besar dan berat itu kaku, badannya merinding, lalu suara berat seperti geraman berhasil membuatnya menggigil.

Seperti gerakan slow motion – Kanti menoleh ke belakang, dari jarak cukup jauh … bola sebesar kelereng, menyala layaknya cahaya Kunang-kunang, tapi ini berwarna biru jernih.

“Kanti, hei!” Aji mengguncang lengan gadis bergeming. “Ada apa? Kau lihat sesuatu kah?”

Saat bersamaan, cahaya biru tadi lenyap. Kanti menggeleng, perasaannya kian cemas.

“Ayo kita jalan lagi, takutnya kehilangan jejak mereka.” Aji menggandeng tangan Candra Kanti yang seperti orang linglung.

***

“Gimana, apa sudah ada kabar dari Candra Kanti, Kang?” seorang wanita berumur 45 tahun, sibuk mondar-mandir demi mengurangi rasa khawatirnya.

Sang pria masih gagah meskipun sudah memasuki usia 50 tahun, menggelengkan kepalanya.

Laila Ngatemi, ibu dari Candra Kanti tidak dapat menutupi rasa takutnya. “Terus kita tetap harus menunggu, gitu maksudnya?”

“Laila, setelah dua puluh empat jam baru bisa buat laporan kehilangan di kantor polisi. Mohon pengertiannya _”

“Macam mana mau paham, sampai sekarang kita gak tahu keberadaan Kanti, Kang!” suaranya naik satu oktaf.

“Kamu coba gunakan kekuasaanmu untuk mencari putri kita! Percuma jabatan camat, kalau semua-semua harus sesuai prosedur,” sindir sang istri kepada pak camat Pramudya.

Si pria memiliki pembawaan tenang, sulit diprovokasi tetap pada pendiriannya. Namun, dia tidak tinggal diam, sejak kabar diterima dari pihak kampus – pak camat telah mengirim orang yang bekerja dibidang detektif swasta, sering disewa jasanya.

“Pihak kampus masih berusaha mencari mereka, Laila,” katanya pelan, berusaha memberi pengertian, meskipun paham bila sang istri si pemilik sikap bar-bar.

“Kalau mereka sudah berusaha, seharusnya ada sedikit kabar baik, bukannya dengan jawaban konsisten – harap bersabar ya Bu, kami sedang mengusahakan yang terbaik,” sanggah wanita berprofesi sebagai bidan desa.

“Bu, sabar, Bu _”

“Jangan pinta ibu sabar, Batari! Pocong aja ibu tendang sampai guling-guling disaat rasa penasaran ini tidak lagi bisa ditahan,” selanya menggebu-gebu.

Batari, kembaran Candra Kanti, tapi rupa mereka tidak mirip, hanya bisa menggelengkan kepala. Dia juga cemas akan nasib kakaknya.

“Ya ampun! Kemana sebenarnya Kanti!” Bu bidan mengepalkan tangan, menyalurkan rasa kesal. “Awas saja kalau sampai anak gadisku kenapa-kenapa, bakalan ku kirim jin Kampret ke hunian keempat berandalan itu!”

Yang di maksud bu bidan Laila Ngatemi – Abeer, Sambara, Ahwaya, dan Mayang.

“Kanti pasti baik-baik saja, Laila. Ada Aji Sardi ikut dalam rombongan. Pemuda itu pintar bela diri,” ujar sang suami.

“Pintar bela diri tidak cukup kalau menyangkut Candra Kanti, Kang. Sengaja kita kirim dia sedari lepas Asi ke kota, tinggal bersama nenek kakeknya, biar terhindar dari hal-hal mistis, ilmu hitam yang mengincar darah manis tulang wanginya!” Tubuhnya ambruk ke atas sofa.

Batari langsung memeluk sang ibu, menepuk-nepuk punggungnya. Bila menyangkut Candra Kanti, mereka memang sering emosional.

Pak camat berlutut di depan sang istri, menggenggam tangan wanita mulai menangis. “Percaya sama kakang, Kanti pasti bisa menjaga diri selama kita tidak melepaskan pagar gaib yang melindunginya.”

Bu Laila duduk tegak, ia tatap dalam netra sendu suaminya. “Kang, apa yang harus kita lakukan? Aku gak mau kehilangan Kanti. Kita sudah kehilangan masa emas, melewati tumbuh kembangnya.”

Keluarga Candra Kanti saling berpelukan, berharap jika takdir tetap berpihak kepada mereka.

***

“Kita sudah sampai di rumah pak RT, kebetulan mertua saya.” Tejo menggeser pagar terbuat dari gerbang besi.

Candra Kanti memperhatikan rumah dua lantai yang bangunan terlihat kuno. ‘Sebetulnya ini tahun berapa?’

.

.

Bersambung.

1
R.@RDioN@
lanjut kak🙏 semangkin malam semangkin serem😁
Ayudya
lanjut kak🥰🥰🥰🥰
Siti Umaroh
ada versi blinya nya GK si TPI klou Sambara Aya GK Slamet GK mauu
Siti Umaroh
suka bgt sma cerita nya semoga ke lima orang ini slmat bersatu ngungkap misteri didesa itu
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽᴛ⑅⃝ˢ🐈
pancing saja kanti siapa tau itu bakal kepancing dan tnp sadar akan membuka kedok aslinya
Betri Betmawati
udh ngk sabar nunggu lanjutan Thor
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒎𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒅𝒍𝒎 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒌𝒍 𝒍𝒂𝒎𝒂" 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒅𝒂 𝒅𝒊 𝒔𝒂𝒏𝒂 😖😏😠
FLA
lanjut lagi
Shee_👚
kayanya kanti sengaja ini memancing reaksi mereka seperti apa
Shee_👚
typo kak minumnya teh hangat
Shee_👚
bener ini bu sasmi bukan manusia, dia juga makhluk jadi²an semua.
Shee_👚
astaga lagi keadaan begitu masih sempet²nya mikir begituan😏
emang bener² laki durjana, dah lah sono di makan anjjing aja🤭
Shee_👚
di sirep mungkin mereka, masa kanti berantem sama guk guk gak da yang denger
Shee_👚
apa lilis ya🤔🤔

tinggal di dalam kandang pemangsa membuat was was setiap detiknya
Shee_👚
duh mau masuk ke kamar ternyata, mau ngapain itu anjjing ya🤔
Shee_👚
aduh deg deg an jangan sampai bau kanti ke cium
myPuspa
SEMANGATTT kk Cublik up nya...🥰🥰🥰
Siti Umaroh
semangat thor jangan BKIN peran Sambara jdi jhatt
AFPA
kamar akyu..semalam 🤣
Siti Umaroh
thor jangan ada korban lgi aku BCA novel ini karna suka Sambara SMA aya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!