NovelToon NovelToon
AEXDREAM HIGH SCHOOL

AEXDREAM HIGH SCHOOL

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:625
Nilai: 5
Nama Author: Viana18

SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.

Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Dua hari kemudian, diadakan rapat evaluasi terakhir OSIS sebelum Doyoung dan Yeri sepenuhnya memegang kendali. Rapat itu dihadiri pengurus lama dan baru, tapi kebetulan Gisel, Doyoung, dan anggota lain harus pergi sebentar mengurus perizinan acara di kantor kepala sekolah. Tinggal Mark dan Yeri di ruangan itu, menunggu mereka kembali.

Yeri datang membawa dua botol minuman kemasan, seolah-olah dia baik hati dan ingin mendinginkan suasana setelah pertengkaran mereka dulu. Dia tersenyum manis, senyum yang sangat berbeda dari senyum penuh amarah kemarin.

"Kak Mark... maafin gue ya soal omongan gue kemarin. Gue udah mikir panjang, gue sadar gue salah, gue nggak seharusnya maksa perasaan Kakak. Gue terima keputusan Kakak, gue janji nggak bakal ganggu lagi. Kita temenan biasa aja ya, kayak dulu," kata Yeri dengan nada tulus dan sedih.

Mark, yang hatinya baik dan ingin mengakhiri masalah ini dengan damai, merasa lega banget. "Syukurlah kalau gitu, Yer. Gue seneng banget denger lo ngomong gini. Memang seharusnya gitu kan? Kita kerja bareng, temenan bareng, itu udah cukup berharga banget kok."

"Betul Kak. Nah ini... gue beliin minuman buat Kakak, minta maaf sekaligus tanda damai ya. Minum aja Kak, biar seger, udah panas banget di luar," ucap Yeri sambil menyodorkan botol minuman yang sudah dibuka tutupnya, tapi dengan tangan gemetar pelan, matanya memandang Mark dengan tatapan yang sulit diartikan: campuran antara rasa cinta, rasa bersalah, dan kegilaan.

Mark menerimanya dengan santai, terlalu percaya, terlalu lega karena masalah selesai. "Makasih banyak ya, Yer. Bagus deh kalau kita udah baik lagi."

Tanpa curiga sedikit pun, Mark meminum minuman itu sampai habis. Dia sama sekali tidak tau, beberapa menit sebelum Mark masuk ruangan, Yeri diam-diam menuangkan serbuk obat perangsang dan penenang yang dia dapatkan dari seseorang secara sembunyi-sembunyi. Obat itu akan membuat Mark kehilangan kendali atas dirinya, pikirannya kacau, dan tubuhnya panas serta lemas, sehingga dia tidak bisa menolak apa pun yang dilakukan Yeri.

Begitu botol kosong diletakkan di meja, Yeri tersenyum puas. Dia duduk diam mengamati Mark. Lima menit berlalu, sepuluh menit berlalu... perlahan tapi pasti, efek obat mulai bekerja. Mark mulai merasa kepalanya berat sekali, pandangannya jadi kabur dan berputar, suhu tubuhnya naik drastis, dan rasa haus serta rangsangan yang tidak wajar mulai menyerang seluruh tubuhnya. Dia berusaha berdiri, tapi kakinya lemas, dan dia kembali jatuh terduduk di kursi.

"Yer... ada apa ini... kenapa gue pusing banget... kepala gue berat...," gumam Mark dengan suara serak dan berat, wajahnya memerah padam, napasnya jadi pendek dan cepat.

Yeri bangkit berdiri perlahan, berjalan mengelilingi meja mendekati Mark, senyum kemenangan mekar indah di bibirnya. Dia memegang wajah Mark dengan kedua tangannya, menatap cowok itu lekat-lekat.

"Nggak ada apa-apa Kak... tenang aja. Kakak cuma capek, cuma butuh istirahat... dan butuh gue. Sekarang Kakak nggak bakal nolak gue lagi kan? Sekarang Kakak bakal mau sama gue kan? Gue udah bilang, gue bakal ngelakuin apa aja demi dapetin Kak Mark. Bahkan kalau harus bikin keadaan jadi kayak gini."

Mark berusaha keras melawan efek obat itu, berusaha menjauhkan wajahnya dari sentuhan Yeri, tapi tubuhnya sama sekali tidak mau diajak kerja sama. Pikiran warasnya masih ada, masih ingat Gisel, masih ingat janjinya, tapi rasa panas dan kebingungan itu makin kuat menutupi segalanya.

"Yer... lo... lo kasih apa ke gue...?! Lo ngebohongi gue... lo jahat banget, Yer... minggir... gue harus ketemu Gisel...," suara Mark terdengar terbata-bata, berusaha berteriak tapi suaranya lemah dan parau.

Yeri malah makin mendekat, memeluk leher Mark erat, wajahnya mendekat mau mencium bibir Mark yang mulai kacau itu. "Nggak ada Gisel di sini Kak. Cuma ada gue. Mulai sekarang, Kakak bakal jadi milik gue seutuhnya. Besok pas orang-orang tau, pas kita ketahuan posisi kayak gini, Kakak terpaksa harus tanggung jawab, Kakak terpaksa harus ninggalin Gisel dan milih gue. Itu rencana paling sempurna, kan? Kita bakal bareng selamanya."

Tepat saat Yeri mau melanjutkan niat jahatnya itu, pintu ruang OSIS terbuka lebar dengan keras. Gisel, Doyoung, dan anggota lain kembali lebih cepat dari perkiraan. Gisel yang berjalan paling depan langsung kaget dan berteriak keras melihat pemandangan di depannya: Mark terlihat lemas, wajah memerah, pandangan kosong, sedang dipeluk erat oleh Yeri yang berusaha mendekatkan bibirnya.

"MARK! APA YANG KALIAN LAKUIN?!" teriak Gisel sekuat tenaga, berlari mendekat, diikuti Doyoung yang langsung menarik kasihan tubuh Yeri menjauh dari Mark.

Yeri terhuyung ke belakang, kaget bukan main karena rencananya gagal di detik terakhir. Dia berusaha bersikap seolah dia yang jadi korban, menangis dan berteriak. "Kak Gisel! Kakak salah paham! Kak Mark... Kak Mark yang narik gue! Dia yang minta gue deket! Dia yang mau... gue nggak berani nolak!"

Tapi dusta itu terlalu tipis. Doyoung yang sudah curiga lama melihat sikap Yeri, langsung melihat botol minuman kosong di meja, dan melihat kondisi Mark yang sangat tidak wajar berkeringat dingin, tubuh panas, matanya terbalik-balik, dan bergumam tidak jelas.

"Berhenti bohong, Yeri! Kita semua tau sifat Kak Mark! Dia nggak bakal ngelakuin hal kotor kayak gini! Lihat kondisinya! Ada sesuatu yang salah sama dia! Lo kasih apa ke dia hah?!" bentak Doyoung marah besar, sambil menopang tubuh Mark yang hampir jatuh dari kursi.

Gisel langsung memeluk tubuh Mark yang panas dan gemetar itu, air matanya jatuh deras melihat keadaan cowoknya yang tersiksa begitu. "Mark... Mark sayang... liat gue... ini gue... lo kenapa? Apa yang dia lakuin ke lo?!"

Mark berusaha keras memfokuskan pandangannya ke wajah Gisel, berusaha bicara meski sangat sulit. "Gi... sel... dia... dia kasih... obat... di minuman... dia mau... jebak gue... dia jahat... gue nggak pernah mau... gue cuma mau lo... cuma lo..."

Setelah mengatakan itu, Mark akhirnya pingsan di pelukan Gisel karena kehabisan tenaga melawan efek obat itu.

Bukti sudah jelas. Pengakuan Mark sebelum pingsan, kondisi tubuhnya yang tidak wajar, botol minuman yang kini sudah diamankan Doyoung sebagai barang bukti, serta sikap panik dan wajah bersalah Yeri yang tak bisa lagi ditutupi. Yeri mundur perlahan, sampai punggungnya menabrak dinding. Dia sadar, semuanya sudah habis. Rencananya gagal total, kejahatannya terbongkar, dan dia sudah kehilangan segalanya: kehormatan, teman, dan kesempatan apa pun bersama Mark.

"Lo... lo gila ya Yeri?! Lo mau hancurin hidup pacar gue, hancurin hubungan kita, cuma gara-gara nafsu lo sendiri?!" Gisel berdiri, menatap Yeri dengan tatapan yang sangat dingin dan kecewa, lebih menyakitkan daripada tatapan marah. "Gue kira lo cuma cewek yang baperan doang. Ternyata lo cewek yang nggak punya hati, nggak punya malu, dan nggak punya rasa kemanusiaan. Lo nggak pantas ada di sini, nggak pantas jadi ketua OSIS, apalagi nggak pantas diingat sebagai teman."

Yeri jatuh berlutut di lantai, menangis histeris, tapi kali ini bukan tangis sedih, melainkan tangis penyesalan dan keputusasaan. "Gue cuma pengen dia... gue cuma pengen dia jadi milik gue... kenapa semuanya harus lo?! Kenapa gue nggak boleh dapet bahagia gue sendiri?!"

Doyoung menatap rekan kerjanya itu dengan jijik dan kecewa berat. "Bahagia lo nggak bisa dibangun di atas penderitaan orang lain, Yeri. Lo udah keterlaluan. Akunmu sama SMA Aexdream, sama kita semua, udah selesai hari ini juga."

Dengan cepat, Doyoung dan anggota lain membawa Mark ke ruang UKS, sementara Gisel tetap setia di sampingnya, memegang tangan Mark erat sambil berdoa agar cowoknya baik-baik saja. Berita ini langsung dilaporkan ke pihak sekolah. Tindakan Yeri sudah masuk ranah pelanggaran berat, tindakan tidak terpuji, dan bahkan tindakan kriminal. Dia tidak hanya dikeluarkan dari kepengurusan OSIS, tapi juga mendapat sanksi berat dari sekolah dan wajib menjalani konseling serta sanksi moral.

Malam itu, Mark sadar dengan kepala yang masih pusing tapi pikirannya sudah jernih kembali. Dia terbaring di kasur ruang kesehatan, dan hal pertama yang dia lihat adalah Gisel yang duduk di sampingnya, mata bengkak habis menangis tapi tetap tersenyum lega melihatnya sadar.

Mark langsung menarik tangan Gisel, mencium punggung tangan itu berkali-kali dengan rasa bersalah yang luar biasa. "Maafin gue, Sayang... maafin gue banget. Gue terlalu baik, terlalu percaya sama orang, sampai hampir bikin lo sakit hati, sampai hampir bikin hubungan kita hancur gara-gara orang gila kayak dia. Gue malu banget sama diri gue sendiri, gue bodoh banget..."

Gisel menggeleng kuat, menangkup wajah Mark dengan lembut. "Nggak ada yang harus dimaafin, Mark. Bukan salah lo. Lo cuma terlalu baik, terlalu percaya sama kebaikan orang lain. Yang salah cuma dia, yang nggak punya hati. Yang penting sekarang lo aman, lo baik-baik aja, dan kebenaran udah ketahuan. Itu yang paling penting."

Mark menatap mata Gisel dalam-dalam, matanya penuh rasa sayang, rasa syukur, dan rasa cinta yang makin mendalam. "Gue janji sama lo, Gisel. Seumur hidup gue, gue nggak bakal pernah lagi kasih celah buat siapa pun masuk di antara kita. Gue bakal lebih waspada, gue bakal lebih tegas, dan gue bakal buktiin kalau cinta gue ke lo itu nggak cuma kuat, tapi juga abadi dan nggak tergoyahkan apa pun, sekalipun ada yang mau ngelakuin cara kotor sejahat apa pun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!