NovelToon NovelToon
Setelah Dihina: Istri Gemuk Itu Kini Menjadi Dewi Cantik

Setelah Dihina: Istri Gemuk Itu Kini Menjadi Dewi Cantik

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Nayra, gadis berbadan gemuk yang selalu merasa rendah diri, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga — CEO termuda, terkaya, dan paling tampan yang diidamkan semua wanita. Pernikahan itu langsung menjadi bahan gunjingan seluruh kota.

Di mana pun dia melangkah, hinaan selalu menghampiri.
"Mana pantas gadis gemuk sepertimu berdiri di samping Tuan Arga?"
"Dia cuma aib bagi keluarga besar ini!"
"Pasti sebentar lagi diceraikan, kan suaminya malu punya istri jelek begini."

Bahkan di depan suaminya sendiri, dia sering diremehkan orang lain. Rasa sakit hati, malu, dan amarah perlahan menggerogoti hatinya. Nayra menangis malam itu dan bersumpah dalam hati:
"Kalian menghinaku karena aku gemuk? Kalian mengira aku tak berharga? Tunggu saja... aku akan buktikan! Aku akan berubah sampai kalian semua menyesal seumur hidup!"

Sejak hari itu, Nayra bangkit. Dia tinggalkan sifat malasnya. Tiap hari dia bangun subuh, berolahraga keras, menjaga makanan, menahan segala godaan, dan berjuang m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAKA — PENERUS YANG TAK KALAH HEBAT

Di gedung pencakar langit milik PT Pradipta Grup, nama besar itu kini berdiri lebih kokoh, lebih megah, dan makin disegani dibandingkan masa-masa kepemimpinan Arga dulu. Di ruangan direktur utama yang luas, mewah, dan beraroma kemewahan klasik itu, duduklah sosok muda yang gagah, berwibawa, dan penuh karisma. Itulah Raka Pradipta, putra bungsu Nayra dan Arga, penerus tunggal kerajaan bisnis yang dibangun dengan keringat, air mata, dan perjuangan luar biasa oleh kedua orang tuanya.

Banyak orang yang awalnya meragukan kemampuan Raka saat pertama kali dia memegang kendali perusahaan. Di mata orang luar, dia hanyalah anak muda yang beruntung mewarisi kekayaan besar tanpa harus berjuang. Namun, semua keraguan itu perlahan-lahan berubah menjadi kekaguman yang luar biasa. Raka membuktikan bahwa dia tidak hanya mewarisi harta dan nama, tapi juga mewarisi kecerdasan, ketegasan, dan kebijaksanaan ibundanya, serta keteguhan hati dan wibawa ayahnya.

Pagi itu, Raka sedang memimpin rapat besar dengan para direktur dan manajer senior. Di dinding ruangan, tergantung besar lukisan wajah Nayra yang tersenyum bijaksana, menjadi saksi bisu setiap keputusan besar yang diambil di ruangan itu. Lukisan itu sengaja dipasang di posisi paling depan, supaya setiap kali Raka bingung atau ragu, dia bisa menatap wajah ibunya dan mengingat kembali segala nasihat yang pernah diajarkan.

"Pak Raka, jika kita lanjutkan kerja sama proyek pembangunan kawasan industri ini, keuntungannya akan sangat besar dan cepat," ucap salah satu direktur keuangan dengan ragu. "Tapi resikonya juga cukup tinggi, dan ada kekhawatiran akan merugikan warga sekitar. Menurut hitungan saya, lebih baik kita main aman saja dan ambil proyek yang lebih kecil dan pasti untung."

Raka tersenyum tenang, persis seperti senyum Nayra saat sedang memikirkan solusi terbaik. Dia berdiri perlahan, berjalan mendekati peta bisnis yang terbentang di meja besar itu, matanya menatap tajam namun penuh pertimbangan.

"Pak Budi, Ibu saya dulu pernah mengajarkan saya satu hal yang paling mendasar dan tak akan pernah saya lupa," ucap Raka berat, tegas, namun tenang. Suaranya berwibawa, persis seperti nada bicara Arga, namun isinya penuh kebijaksanaan Nayra. "Keuntungan besar itu ada di balik keberanian mengambil langkah, tapi keberanian itu harus dibarengi dengan kehati-hatian, perhitungan matang, dan hati nurani. Ingat sejarah perusahaan ini: Dulu hampir bangkrut, dulu diremehkan pesaing, dulu dianggap perusahaan kecil yang tak berharga. Tapi Ibu saya yang datang, melihat peluang yang orang lain tidak lihat, berani mengambil risiko, tapi tetap memikirkan kepentingan semua pihak. Beliau lah yang membawanya sampai ke titik ini. Kita harus punya visi jauh ke depan, sama seperti beliau."

Para peserta rapat terdiam, mendengarkan dengan saksama. Cara Raka berpikir, cara dia berargumen, dan cara dia memandang bisnis... semuanya persis meniru gaya Nayra. Tidak heran jika banyak karyawan lama yang berkaca-kaca mata mendengarkannya, seolah mendengar suara Nyonya Besar mereka yang masih hidup kembali lewat sosok anaknya.

"Kita ambil proyek ini," lanjut Raka tegas, menatap satu per satu wajah orang-orang di ruangan itu. "Tapi kita ubah pola kerjanya. Kita bagi tahapannya, kita hitung ulang rinciannya, dan kita pastikan warga sekitar mendapatkan ganti rugi yang layak, lapangan kerja, dan manfaat jangka panjang. Prinsip Ibu selalu berlaku sampai kapan pun: Sukses yang sejati itu bukan kalau kita saja yang kaya, tapi kalau semua yang bekerja sama dengan kita pun ikut sejahtera dan bahagia. Keuntungan materi bisa habis, tapi nama baik dan kepercayaan masyarakat itulah aset yang tak ternilai harganya."

Rapat berakhir dengan keputusan bulat dan semangat yang membara. Semua orang keluar dari ruangan itu dengan perasaan bangga dan yakin. Raka bukan sekadar bos muda yang beruntung, dia adalah pemimpin sejati yang membawa semangat dan warisan kehebatan Nayra ke masa depan yang lebih cerah.

Saat semua sudah pulang, Raka tidak langsung pergi. Dia berjalan mendekati lukisan besar ibunya itu, menatap lekat-lekat wajah wanita yang menjadi pahlawan terbesar dalam hidupnya itu. Dia mengusap bingkai lukisan itu pelan, matanya sedikit berkaca-kaca namun bibirnya tersenyum bangga.

"Ibu..." bisik Raka pelan, suaranya bergetar menahan haru. "Kamu lihat tidak? Aku berusaha sekuat tenaga menjalankan amanahmu. Aku tidak mau perusahaan ini hanya besar namanya saja, atau kaya raya tapi tidak berguna. Aku mau perusahaan ini tetap membawa kebaikan, tetap menjadi kebanggaan, dan tetap menjadi bukti bahwa pemikiranmu, kerja kerasmu, dan kebijaksanaanmu abadi selamanya. Aku rindu sekali mendengar nasihatmu secara langsung, Bu. Tapi tenang saja... setiap kali aku bingung, setiap kali aku ragu, aku ingat saja apa yang pernah kau ajarkan. Itu sudah cukup membuatku kuat dan berani melangkah."

Pintu ruangan terbuka perlahan, masuklah seorang wanita tua yang sudah sangat renta namun wajahnya masih bersahabat dan penuh kehangatan. Langkahnya pelan, dibantu tongkat di tangan kanannya. Itu adalah Mbok Sari, mantan pengasuh dan pelayan setia keluarga Pradipta yang sudah bekerja sejak zaman Nayra masih muda dan baru menikah dulu. Dia satu-satunya orang yang menyaksikan semua perjalanan pahit dan manis keluarga ini dari awal sampai akhir.

Raka berbalik dan langsung tersenyum ramah, dengan sigap dia menghampiri wanita tua itu dan menuntunnya duduk di sofa empuk dekat jendela.

"Mbok Sari, ada apa datang ke sini? Kenapa tidak panggil saya saja ke bawah? Tubuh Mbok sudah tua begini, harus hati-hati," ucap Raka lembut, penuh perhatian persis seperti sikap Nayra dulu pada orang-orang tua di sekitarnya.

Mbok Sari tersenyum, matanya yang sudah rabun itu menatap wajah Raka lekat-lekat, seolah sedang mencari bayangan sosok wanita hebat itu di wajah anaknya. Dia mengusap tangan Raka yang kekar itu dengan tangan tuanya yang keriput namun hangat.

"Nduk Raka... Mbok cuma mau lihat sebentar. Mau lihat anak dari Ibu Nayra. Mbok dengar semua pembicaraanmu tadi dari luar pintu..." Wanita tua itu mengusap sudut matanya yang basah oleh air mata haru. "Mbok terharu sekali, Nduk. Kalau Ibumu masih ada, beliau pasti paling bangga sekali sama kamu. Kamu bukan cuma mewarisi harta, gedung, atau nama besar beliau saja. Kamu mewarisi akal budi, kelembutan hati, dan cara pandang beliau. Dulu Ibumu dari wanita yang diremehkan, dianggap sampah, lalu bangkit jadi wanita paling hebat dan paling mulia. Sekarang kamu... dari anak yang dulu manja dan ceria, tumbuh jadi pemimpin yang bijaksana, disegani, dan dicintai semua orang. Keluarga Pradipta ini memang hebat sekali, ya... semuanya berkat darah dan perjuangan Ibumu."

Raka tertawa kecil, merasa hangat dan tenang di hatinya mendengar pujian tulus itu. Bagi Raka, Mbok Sari adalah saksi hidup, dan nasihatnya sama berharganya dengan nasihat orang tuanya sendiri.

"Terima kasih, Mbok. Semua ini karena didikan keras namun penuh kasih sayang Ibu dan Ayah, dan karena doa serta pengorbanan orang-orang baik seperti Mbok Sari juga. Aku sadar betul, posisi aku sekarang ini bukan hak mutlak aku, tapi amanah. Amanah dari Ibu, yang harus aku jaga sebaik mungkin sampai akhir usiaku nanti. Aku janji, aku akan jaga semua ini. Nama Pradipta, nama Nayra, nama Arga... akan selalu bersinar indah, berarti kebaikan, dan membawa manfaat selamanya."

Sore itu, Raka turun dari gedung pencakar langit itu dengan langkah tegap dan hati yang damai. Dia menatap gedung tinggi itu, menatap nama besar PRADIPTA GRUP yang terpampang berkilauan di atas sana. Dia sadar betul, warisan terbesar dari orang tuanya bukanlah uang di bank atau aset-aset mewah, melainkan nama baik, kehormatan, dan kepercayaan dari seluruh rakyat. Dan itulah harta paling berharga, yang akan dia jaga mati-matian dan teruskan ke anak cucunya kelak, agar kisah hebat keluarga ini tidak pernah berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!