Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
Nadia terus berlari, sebisa mungkin dia menjauh dari sekumpulan orang asing itu. Mereka terus mengejar Nadia dengan segala cara.
Dengan napas tersengal, Nadia berhasil memaksakan kakinya untuk terus bergerak menjauh dari para orang asing itu. Sesekali dia menoleh ke belakang, menghitung jarak yang memisahkan darinya dari mereka. Sialnya begitu menoleh jagang mereka semakin dekat. Ia kembali memutar arah pandang nya ke depan. Sedikit lagi, dia akan sampai ke jalan raya yang berada di tempat kerjanya. Di sana dia bisa berteriak dan meminta tolong.
Mata Nadia melebar ketika sebuah tangan kekar berhasil mencengkram pundaknya. Tubuhnya hampir terhuyung ke depan, sebelum tangan lain menahan lengannya. Percobaan kabur Nadia gagal, dia kalah celah dengan pria yang kini menahan tubuhnya.
"Lepas!" Nadia meronta, berharap tenaganya cukup untuk memberikan perlawanan. Namun justru cengkraman pria asing itu malah semakin kuat.
"Amankan dia!" Teriak pria yang merupakan
Pemimpin orang-orang asing ini. Wajahnya terlihat merah padam, pria itu marah karena hampir mendapatkan masalah karena dirinya yang kabur.
Tanpa menunggu waktu lagi, pria yang menahan tubuh Nadia langsung mengangkat tubuhnya selayaknya karung beras. Nadia terus memberontak dan berteriak berharap apa yang dilakukannya bisa membuatnya kembali lepas dari orang-orang asing ini, tapi semua itu tak ada gunanya. Jelas, tubuh orang asing ini begitu kokoh, bahkan sudah seperti sampah atau mungkin lebih keras dari itu. Perlawanan yang di lakukan Nadia tidak membuatnya gentar. Langkah pria itu semakin mantap menuju mobil hitam yang entah sejak kapan terparkir di tepi jalan.
Hanya dalam hitungan detik, pintu mobil tidak terbuka. Setelahnya tubuh ramping Nadia dihempaskan ke kursi belakang sehingga menghantam jok hitam di dalamnya. Di dalam hanya ada seorang pria di balik kemudian yang kini tengah menatapnya tanpa suara.
Pintu tertutup sempurna bersamaan dengan bunyi keras yang membuat Nadia bertahan di sana.
"Siapa kalian?" Nadia bertanya dengan tegas sebari berusaha membuka pintu. Namun teriakannya tak dihiraukan oleh pira yang ada bersamanya. Dengan sisa tenaga, gadis itu itu mencoba mencari jalan keluar. " Buka pintunya!!!"
Bukannya menuruti permintaannya, pria di kursi kemudi itu justru menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi, membuat tubuh Nadia kembali terpelanting ke belakang. Nadia memekik, memegangi kepalanya yang terbentur cukup keras. Dia tidak tau apa salahnya sampai harus ada di situasi seperti ini. Siapa sebenarnya orang asing ini? Kenapa mereka membawanya pergi?
"Siapa kal-"
"Cukup duduk dengan manis nona! Kami tidak akan menyakitimu jika anda menurut." Suara dingin itu berhasil membuat Nadia terdiam.
Ia masih menyayangi dirinya, jadi lebih baik dia menurut saja. Nanti ia akan mencari cara lain untuk kabur dari orang-orang ini. Nadia kemudian duduk manis di tempatnya, ia mengamati jalanan yang nampak asing.
"Maaf tapi kemana kita akan pergi?" tanya Nadia pada pria yang depannya. Perjalanan mereka sudah memakan waktu hampir 40 menit.
"Suatu tempat, anda akan mengetahuinya nanti."
Nadia berdecak kesal, dia sudah menebak seperti orang ini akan membawanya ke perusahaan ayahnya yang bermasalah itu. Tapi siapa yang akan ia temui di sana untuk mengurus semua masalah itu.
Dan sisa perjalanan mereka berakhir hening tanpa ada percakapan apapun lagi. Nadia enggan bertanya apalagi berbincang karena pria asing di depannya ini sangat irit berbicara.
....
Setelah satu jam perjalanan, mobil hitam itu berhenti di pelataran parkiran sebuah gedung. Nadia sekarang dikirim menuju lift khusus yang akan membawanya ke lantai paling atas.
"Untuk apa kalian mengawalku? Aku tidak akan kabur." ujar Nadia ketus karena pria asing yang mengejarnya tadi kini berdiri mengelilinginya, seolah dia bisa lagi kapan saja. Padahal tidak mungkin, ia asing dengan tempat ini.
Sepanjang perjalanan menuju lantai atas begitu hening, tidak ada ucapan apapun dari mereka. Tubuh tegap mereka bagaimana menekin, tak bergerak sejak mereka sampai di gedung ini.
"Selamat datang Nadia." Sebuah suara terdengar bersamaan dengan kelima orang asing itu perlahan mundur. Mereka undur diri dari, menjauh dari Nadia yang masih diam terpaku.
Matanya melebar saat melihat pemandangan luar biasa di depan sana. Pintu besar terbuka lebar, menampilkan sesuatu yang membuatnya tidak percaya.
Tubuhnya bergetar hebat saat itu juga, mengabaikan pria asing yang kini tengah mengamatinya dari belakang. Hatinya mencelos, melihat sosok pria yang sangat ia benci kini tergeletak di lantai dengan tubuh yang penuh luka. Terlihat darah yang mulai mengering di keningnya mengalir melalui pelipis sampai ke samping wajah.
"Nadia," bisik ayahnya dengan kesadaran yang tersisa. Keinginan terakhirnya benar-benar dikabulkan oleh Tuannya, yaitu bertemu dengan putrinya. Suara lemahnya hampir tak terdengar. Tapi, seulas senyum terukir di bibirnya. "Maafkan ayah, nak."
Nadia menggeleng kepala kuat. Dia tidak akan memaafkan kesalahan ayahnya jika yang diucapkan ada kata terakhir dalam hidupnya. Namun, tak ada yang bisa membantah jika takdir Tuhan berbicara.
Detik berikutnya, mata pria yang ia benci itu terpejam. Nyawa ayah yang dia benci sekaligus dia sayangi itu telah meninggalkan raganya yang penuh dengan luka.
"Papa!!" Nadia berteriak histeris. Dia tidak bisa menerima fakta bahwa ayahnya terlah meninggalkannya, menyusul ibunya ke alam baka.
Dengan kaki bergetar Nadia mendekat, memeluk tubuh ayahnya yang mulai terasa dingin. Nadia berharap apa yang terjadi sekarang hanyalah mimpi.
Sudah beberapa menit Nadia menangis, tangis Nadia menggema di seluruh penjuru ruangan namun tak ada yang peduli.
"Hapus air matamu itu, aku tidak ingin mendengar suara tangismu itu."
Suara dingin kembali menyapa pendengarannya. Nadia menoleh ke belakang, ia menatap pria itu dengan tatapan tajam penuh kebencian. Siapa pria itu? Jika dia yang berurusan dengan ayahnya, haruskah dia menyelesaikan semua dengan mengambil nyawa ayahnya?
"Rio, segera siapkan kontraknya!"
Belum sempat Nadia menghapus air matanya, terima kasih yang tadi mengemudi mobil muncul di balik pintu dengan tangan yang membawa berwarna merah.
"Nona, silahkan," ucap pria bernama Rio itu. Nadanya terdengar lebih bersahabat dibanding atasannya. Dengan isyarat tangan, dia meminta Nadia untuk duduk di salah satu kursi yang ada.
Nadia masih terpaku di lantai, enggan meninggalkan ayahnya. Tidak, dia tidak ingin pergi barang sejengkal pun.
Rio terlihat gusar, seolah dia berada dalam pilihan antara hidup dan mati. Dia mendekat ke arah Nadia dan berjongkok.
"Nona, silahkan menghadap tuan. Jangan sampai beliau murka dan membuat nyawa anda menjadi taruhan!"
Nadia menelan ludahnya. Nadia bicara Rio berubah penuh menekanan.
"Tapi.." Nadia menatap wajah ayah yang ada di pangkuannya. Mana tega dia meletakkan jasad ayahnya di lantai begitu saja. Sudah cukup hubungan mereka putus saat ayahnya masih hidup. Sekarang Nadia masih ingin memeluk tubuh ayahnya untuk terakhir kalinya sebelum dikebumikan.
"Nona," bujuk Rio dengan nada merendah.
Dengan berat hati Nadia ikut bersama pria ini setelah mencium kening ayahnya. Dia mendekat ke arah pria ya sudah dari tadi mengamatinya. Sekali lagi, Nadia menatap ke belakang, menatap ayahnya yang mati mengenaskan.
"Anak yang sangat berbakti," cibir pria yang kini duduk di sebrang meja. Dia duduk di singgasana miliknya dengan angkuh.
Nadia tidak menggubris ucapan pria itu, dia tidak peduli dengan omongan orang lain. Apapun yang orang lain ucapkan, Nadia berhak penutup mata dan telinga.
"Segera berikan kontraknya!" Titah laki-laki itu, kemudian memperhatikan Nadia seolah seperti menilai. " Lumayan," ujarnya.
"Silahkan duduk, nona."
Nadia menurut, ia sudah tidak ada tenaga untuk memberontak. Dia duduk di salah satu kursi kosong di hadapan pria anggur itu. Perhatiannya teralih pada papan nama di meja, Arya Dirgantara.
"Nona, silahkan baca kontrak ini, setelahnya silahkan tanda tangan di lembar akhir kontrak tersebut," Rio menjelaskan. " Tuan Arya menjabat sebagai CEO di sini. Ingin kasus ini diselesaikan dengan damai. Setelah anda menandatangani kontrak ini, ayah anda akan dibebaskan dari semua kesalahan yang telah dia lakukan sebelumnya."
Nadia menatap dua pria di depannya secara bergantian sebelum kemudian membaca deretan kalimat di atas kertas putih di depannya. Di kontrak itu tertulis bahwa Nadia harus menikah dengan Arya atau mengganti uang yang jumlahnya cukup banyak yang dihilangkan oleh ayahnya. Jika Nadia tidak menyanggupi salah satu dari dua syarat tersebut maka kasus ini akan dilimpahkan pada pihak yang berwajib.
"Kenapa saya yang harus menandatangani dokumen ini? Semua urusan keuangan ayah saya dipegang oleh ibu dari saya, istri saya yang sekarang." Nadia mengumpulkan keberaniannya, mencari solusi agar dia terhindar dari masalah ini." Jika anda ingin meminta ganti rugi atau semacamnya, Anda bisa menemui dia. Maaf saya tidak akan menandatangani kontrak ini."
Arya tersenyum miring menatap Nadia. Dia salut akan keberanian yang Nadia tunjukkan padanya. Jujur saja, dia cukup tertarik dengan gadis yang ada di depannya ini. Sebagai laki-laki normal, hasrat liarnya mulai aktif. Apalagi setelah membayangkan ia menyentuh bibir ranum itu.
"Tuan," panggil Rio. Ia kebingungan melihat tuannya yang diam saja sambil tersenyum tanpa sebab.
Arya mengumpat dalam hati. Rasa ketertarikannya yang tiba-tiba ini membuatnya ingin memiliki gadis ini lebih dari apapun. Wajahnya yang menarik tidak pantas bersanding dengan pakaian kasir minimarket yang menempel di tubuhnya.
"Segera siapkan gaun untuknya!" Titah Arya tanpa sadar. Dia tidak mendengar penolakan Nadia barusa. Imajinasinya mengambil alih pendengaran dan pikirannya.
"Maaf?" Rio tidak yakin dengan apa yang Tuannya katakan. Mereka tengah membujuk Nadia untuk menandatangani kontrak sebagai bentuk pertanggungjawaban uang yang ayahnya hilangkan, bulan membahas pakaian atau semacamnya.
"Mendekat lah, Nadia." Lagi-lagi Arya bermonolog, seolah belum sadar dari imajinasinya.
"Dasar gila!" Ketua Nadia, ia berdiri ketika merasa tidak terima dengan tatapan yang dilayangkan Arya padanya, ia merasa seperti di lecehkan.
"Tuan?" Rio berusaha menyadarkan tuannya sehingga membuat pria itu tersadar dari lamunannya.
"Apa?" tanya Arya dengan wajah tanpa dosa. Dia menyadari keberadaan Nadia yang kini tidak lagi berada di hadapannya. Gadis itu beranjak, kembali mendekati mayat ayahnya.
Rio menunjuk surat perjanjian yang masih utuh di atas meja, belum ada tanda persetujuan dari Nadia sama sekali. Bahkan wanita itu berjongkok di depan mayat ayahnya, berusaha mamaku pria itu seperti semula.
Tentu saja hal itu membuat Arya marah, dia menyadari bahwa gadis itu telah menolaknya.