NovelToon NovelToon
Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Pendamping Sakti / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Fantasi Wanita
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
​Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
​Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
​Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
​Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: MANDI CAHAYA DAN BIDADARI MANJA

Mansion Ryker yang biasanya sunyi kini diselimuti kabut tipis beraroma embun surga. Di tengah taman yang semalam porak-poranda akibat badai, kini muncul sebuah anomali yang indah: sebuah air terjun kecil dengan air setingkap kristal yang memancarkan cahaya biru lembut, mengalir langsung dari udara kosong menuju kolam marmer.

Alurra duduk di tepi ranjang, wajahnya masih sedikit pucat namun matanya sudah kembali berkilat jahil. Ia menatap Nael yang sedang sibuk membereskan pecahan kaca botol parfum maut di lantai.

"Nael... aku lapar," rengek Alurra, suaranya sengaja dibuat serak-serak basah. "Rasanya kerongkonganku seperti sehabis menelan bara api Ular Amis itu."

Nael segera menghentikan kegiatannya. Ia mendekat, menyentuh kening Alurra dengan punggung tangannya. Ia mengetik di ponselnya: "SAYA SUDAH PESANKAN BUBUR HALUS. TUNGGU SEBENTAR."

"Bubur lagi? Tidak mau!" Alurra menepis ponsel Nael pelan, lalu menarik ujung kemeja Nael hingga pria itu terduduk di sampingnya. "Aku mau makan buah yang manis... dan aku mau kau yang menyuapiku. Tanganku lemas sekali, lihat, gemetar seperti ekor kelinci!"

Alurra menunjukkan tangannya yang sebenarnya terlihat sangat stabil, namun ia memasang wajah paling memelas yang pernah ada. Nael hanya bisa menghela napas, ia bangkit dan mengambil sepiring potongan buah persik segar di atas meja.

"Aaaaa..." Alurra membuka mulutnya lebar-lebar.

Nael menyuapkan sepotong persik dengan hati-hati. Alurra mengunyahnya dengan riang, matanya terpejam menikmati rasa manis itu.

"Hmm... lebih enak kalau kau yang menyuapi," gumam Alurra. "Nael, kau tahu tidak? Tadi saat aku pingsan, aku bermimpi kau sedang berkelahi dengan jenderal-jenderal langitku. Kau terlihat sangat gagah, seperti singa yang melindungi anaknya."

Nael tertegun. Ia menatap Alurra, lalu mengetik: "SAYA HANYA TIDAK INGIN ANDA PERGI. SAYA TAKUT."

"Takut? Kau?" Alurra tertawa kecil, ia menyentuh pipi Nael. "Dewa-dewa itu bilang kau 'sauh'-ku. Kau tahu apa itu sauh? Itu adalah pemberat besi yang membuat kapal tidak hanyut dibawa badai. Jadi, selama kau memegang tanganku, surga pun tidak akan bisa menyeretku pulang."

Nael terpaku mendengar kata-kata itu. Ia merasa dadanya sesak oleh rasa haru yang asing.

"Tapi Nael... badanku masih terasa berat karena racun hitam itu," Alurra merengut, ia menunjuk ke arah jendela yang terbuka. "Aku butuh air terjun ajaib di luar itu. Zael bilang aku harus mandi di sana untuk membersihkan sisa kotoran bumi."

Nael mengangguk, ia bersiap memanggil pelayan untuk membantu, tapi Alurra langsung menggeleng kuat.

"Jangan panggil Gadis Gincu atau Pak Tua itu! Mereka tidak boleh melihat air terjun suci!" seru Alurra protektif. "Kau harus membawaku ke sana. Kau harus menjagaku agar aku tidak terpeleset."

Nael mengetik: "TAPI ITU DI LUAR. SAYA AKAN MENUNGGU DI BALKON."

"Tidak mau! Kau harus ikut turun!" Alurra berdiri dengan kaki yang sengaja dibuat lunglai, hampir jatuh jika Nael tidak sigap menangkap pinggangnya. "Lihat kan? Aku benar-benar lemas! Kalau aku tenggelam bagaimana? Kau mau bidadarimu jadi ikan hias di kolam itu?"

Akhirnya, dengan penuh kepasrahan, Nael menggendong Alurra menuju taman. Di bawah kucuran air terjun kristal itu, suasana terasa sangat mistis. Airnya tidak terasa dingin, melainkan hangat dan memberikan sensasi sengatan listrik kecil yang menenangkan.

Alurra duduk di bawah kucuran air, membiarkan dress tipisnya basah kuyup. Ia menarik tangan Nael agar ikut masuk ke dalam lingkaran cahaya air terjun.

"Ayo, Nael! Air ini juga bisa menyembuhkan lelahmu!" Alurra menarik tangan Nael hingga pria itu ikut basah. "Rasakan... ini adalah napas semesta."

Nael berdiri di sampingnya, membiarkan air suci itu membasahi jasnya. Anehnya, rasa lelah dan ketakutan yang ia rasakan semalam perlahan menguap. Ia merasa jiwanya menjadi lebih ringan.

"Nael," Alurra mendongak, tetesan air di bulu matanya berkilau seperti berlian. "Terima kasih sudah tidak melepaskan kalung perak itu. Jika kau melepasnya tadi malam, aku pasti sudah terjebak di langit sekarang, menangis sambil menatap awan mencarimu."

Nael menatap Alurra dalam-dalam. Ia tidak butuh ponsel untuk menjawab. Ia perlahan berlutut di depan Alurra di tengah gemericik air suci, lalu mencium telapak tangan bidadari itu dengan lembut.

"Ih, Pangeranku bisa romantis juga ya kalau basah begini!" Alurra tertawa, ia memercikkan air ke wajah Nael. "Tapi awas ya, kalau besok Ular Amis itu datang lagi, jangan terima hadiah apapun darinya! Aku akan mengubahnya jadi batu nisan kalau dia berani menyentuhmu lagi!"

Nael tersenyum, senyum tulus yang jarang terlihat. Di bawah air terjun suci itu, mereka seolah berada di dunia mereka sendiri, jauh dari konspirasi Jayden dan kebisingan bumi. Namun, di kejauhan, Nael melihat ponselnya bergetar di atas meja taman. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari kantor dan pesan singkat dari Jayden yang isinya: "Nael, apa yang terjadi di rumahmu? Seluruh kota membicarakan cahaya itu. Polisi akan datang."

Nael mengeratkan pegangannya pada tangan Alurra. Badai manusia baru saja akan dimulai, namun selama bidadarinya ada di sini, Nael siap menghadapi kiamat sekalipun.

...****************...

1
umie chaby_ba
mari kita coba
Ariska Kamisa
semoga kalian bisa menikmati nya juga...
Aldah Karisa
semangat thorr... aku suka gaya bahasamu. 👍
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
wow hebat jugaa
Aldah Karisa
termasuk cerita fiksi yang bikin kita membayangkan jauh ga sih... dengan adanya dewa matahari dewa langit... dan ini cinta dua dunia .. berharap happy ending yaaa... suka takut kalo cinta beda dunia... dan semoga Nael ini bisa sembuh dan mau bicara lagi....
aku suka namanya Nael ....
Aldah Karisa
bidadari genit parah
Aldah Karisa
kenapa nael bisa bisu
Aldah Karisa
ini bidadari nya ga pake selendang??? 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!