NovelToon NovelToon
Subosito

Subosito

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: eko yepe

Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.

Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.

Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka

Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.

Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?

Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duel Kekuatan Mitos

Langit di atas lereng selatan Gunung Lawu terbelah oleh pertemuan dua energi yang saling bertolak belakang. Subosito, yang kini memiliki sepasang sayap emas murni hasil tempaan Kawah Candradimuka, melayang rendah di depan sebuah jembatan gantung kuno yang menghubungkan dua tebing curam.

Jembatan itu dikenal sebagai Sastro Jingga , sebuah jembatan kayu dan rantai besi tua yang membentang di atas jurang tak berdasar yang selalu tertutup kabut abadi.

Di tengah jembatan itu, berdiri seorang pria dengan perawakan raksasa, yang mengenakan baju zirah dari kulit kayu dan tampak sekeras baja. Aura di sekelilingnya memancarkan hawa hutan yang pekat—dingin, lembab, penuh dengan energi bumi yang masif.

Pria itu adalah wadah dari Lembuswana , makhluk mitos penjaga hutan yang memiliki kekuatan lembu, singa, gajah, dan naga dalam satu tubuh.

“Kau membawa api ke tempat yang seharusnya basah oleh embun, Titisan Garuda,” suara pria itu berat, bergetar seirama dengan detak jantung bumi. "Lembuswana tidak mengizinkan langit Lawu dikotori oleh asap kemarahan manusia!”

Subosito mendarat di ujung jembatan, kepakan sayap emasnya menciptakan desiran angin panas yang mengeringkan lumut di sekitarnya. "Aku tidak membawa kemarahan, Penjaga. Aku membawa kebenaran yang sedang coba dipadamkan oleh pengasingan di Kadipaten. Minggirlah, biarkan aku lewat!"

"Langkahmu harus diuji oleh beratnya tanah sebelum kau diizinkan menguasai langit," balas sang pendekar Lembuswana, seraya mengentakkan kakinya ke papan kayu jembatan.

Tiba-tiba, akar-akar raksasa mencuat dari dinding tebing di belakang Subosito, merambat dengan cepat ke arah jembatan gantung, memperkuat strukturnya sekaligus menciptakan cambuk-cambuk alam yang mengincar Subosito.

Sang pendekar melesat maju dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi tubuh sebesar itu, seraya menghantamkan sebuah bayangan raksasa ke arah Subosito.

BUGH!!!

Subosito menangkis dengan menyilangkan sayap emasnya di depan dada. Benturan itu menghasilkan gelombang kejut yang merontokkan dedaunan dalam radius seratus depa.

Kayu-kayu jembatan berderit kuat, nyaris patah. Kontras antara keduanya sangat nyata: api emas Subosito yang lincah dan membara beradu dengan kekuatan tanah dan hutan sang lawan yang kokoh dan tak tergoyahkan.

Pertarungan berlanjut di atas jembatan yang bergoyang hebat. Sang pendekar Lembuswana menyerang dengan kekuatan fisik yang dahsyat; setiap serangannya membawa kekuatan seberat gunung.

Akar-akar hutan terus muncul dari sela-sela papan jembatan, mencoba melilit kaki Subosito.

Sementara itu, Subosito bergerak seperti kilat, terbang rendah dan memberikan pukulan-pukulan api yang terkendali.

Subosito tidak ingin menghancurkan jembatan ini, jika energi yang mereka keluarkan terlalu besar untuk ditampung oleh struktur buatan manusia.

“Terimalah! Amuk Rimba!” teriakan pendekar Lembuswana mengangkat gadanya tinggi-tinggi, dan energi berwarna hijau gelap menyelimuti senjatanya.

Saat Lembuswana menghantamkannya ke tengah jembatan, bukan hanya kayu yang hancur, tapi udara di sekitarnya secara tiba-tiba menjadi sangat berat. Tekanan gravitasi meningkat berkali-kali lipat, mencoba memaksa Subosito jatuh.

Subosito mengerang, punggungnya terasa seperti ditimpa bongkahan batu raksasa. Namun, pemuda itu teringat kembali ketika berada di Kawah Candradimuka.

Subosito tidak melawan lagi beban itu; dia menjadikannya bahan bakar penyulut. Sayap emasnya mengepak dengan ledakan energi murni, menciptakan pusaran api yang membakar akar-akar yang melilitnya.

KRETAK! PRANG!

Rantai besi utama jembatan Sastro Jinggo akhirnya menyerah, jembatan itu putus di tengah. Dalam sekejap, Subosito dan sang pendekar Lembuswana terjatuh ke dalam jurang yang gelap.

Di tengah kejatuhan bebas itu, Indra tajam Subosito menangkap sesuatu yang asing. Dari balik semak-semak di bibir tebing yang baru saja mereka tinggalkan, muncul tekanan udara yang samar. Itu adalah Pasukan Panglimunan suruhan Patih Mangkubumi yang diam-diam telah membuntuti Subosito.

Salah satu dari mereka melepaskan sebuah anak panah hitam yang telah diolesi racun Kalasrenggi —racun yang mampu membunuh makhluk mitos sekalipun.

Anak panah itu meluncur dengan kecepatan ringan, mengincar kepala pendekar Lembuswana yang sedang tidak siap karena posisinya terjatuh.

"Awas!" teriak Subosito, meski sedang berjuang antara hidup dan mati dengan pria itu, hati nurani Subosito menolak membiarkan sebuah pengkhianatan terjadi di depan matanya.

Dengan satu sentakan sayap yang menyakitkan, Subosito memutar posisi tubuhnya di udara. Pemuda itu melaju dengan kecepatan maksimal, meluncur melewati sang pendekar.

TING!

Subosito mengepakkan sayap emasnya dengan sudut yang tepat, menghalau anak panah itu tepat satu jengkal sebelum menyentuh pelipis lawannya. Anak panah itu terbakar habis menjadi debu emas saat bersentuhan dengan aura sayap Garuda Paksi.

Subosito kemudian meraih tangan sang pendekar besar itu dan mengepakkan sayapnya sekuat tenaga untuk memperlambat jatuhnya mereka.

Mereka mendarat dengan keras di sebuah dataran batu di dasar jurang, menciptakan kawah kecil di tanah yang lembab.

Suasana hening sesaat setelah mereka berdua mendarat. Sang pendekar Lembuswana bangkit perlahan, menatap Subosito dengan pandangan yang tidak lagi berisi permusuhan.

Aura raksasa yang meringkuknya perlahan memudar, mengecil menjadi sosok manusia biasa yang tampak gagah nan bersahaja.

“Kau selamatkanku,” ucap pria itu. Suaranya kini terdengar tenang dan jernih. "Padahal aku mencoba menguburmu di bawah beratnya gunung."

"Pengkhianatan tidak punya tempat di tengah duel ksatria," jawab Subosito sambil menarik kembali sayap emasnya ke dalam punggung. "Siapa kau sebenarnya?"

Pria itu menunduk dengan hormat. "Namaku Sungsang Aji . Aku adalah penjaga yang kau cari, meski aku sendiri tidak memperhatikan, apimu sampai di penglihatanku. Anak panah tadi, Mangkubumi benar-benar tidak mengenal rasa malu!"

Sungsang Aji menatap gada berdurinya yang kini bersinar redup. "Kau telah lulus ujian, Subosito. Kau bukan hanya memiliki kekuatan Garuda, tapi kau memiliki jiwa bersih. Tanah Jawa membutuhkan sayapmu untuk menghalau kegelapan di Kadipaten!"

Pria itu mendekat dan memberikan gada berdurinya kepada Subosito. Saat Subosito menyentuh gagang gada tersebut, sebuah fenomena gaib terjadi. Senjata berat itu tidak berpindah tangan, melainkan melebur menjadi butiran energi hijau hutan yang hangat. Energi itu terbang mengelilingi Subosito, lalu masuk ke dalam sayap emas di punggungnya.

Subosito merasakan kekuatan baru mengalir. Sayapnya kini tidak hanya terbuat dari api, tetapi memiliki kerangka yang sekeras baja dan mampu memanipulasi energi tanah—sebuah perpaduan antara panas matahari dan keteguhan bumi.

“Bawa kekuatanku, Subosito. Gunakan untuk menopang pilar selatan yang sedang goyah,” ucap Sungsang Aji sebelum sosoknya perlahan menghilang menjadi kabut hutan. "Bergegaslah kembali. Ibu kota sedang berdarah!"

Subosito tidak membuang waktu, mengentakkan kakinya, dan dengan kekuatan barunya, pemuda itu melesat naik menembus jurang kabut, terbang secepat meteor menuju ke arah ibu kota Kadipaten.

Di hatinya, kecemasan mulai membara. Jika Mangkubumi sudah berani mengirim pembunuh bayangan ke wilayah suci Lawu, itu artinya istana sudah berada dalam kondisi yang sangat genting.

***

Saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, Subosito melihat pemandangan yang mengerikan dari ketinggian. Ibu kota Kadipaten yang megah kini diselimuti kabut hitam yang pekat.

Panji-panji istana yang berwarna putih kini telah digantikan oleh bendera-bendera hitam bergambar mata satu.

Subosito mendarat di pinggiran kota, tepat saat teriakan rakyat mulai terdengar. Prajurit-prajurit Kadipaten tampak bergerak seperti boneka tanpa nyawa, menyeret warga dari rumah-rumah mereka. Suasana di kota itu bukan lagi mencekam, melainkan penuh dengan keputusasaan yang mendalam.

Subosito berjalan menuju pusat kota, setiap langkahnya meninggalkan bekas api yang tenang di atas batu jalanan. Namun, perhatiannya tertuju ke arah istana utama. Dari puncak menara tertinggi, terpancar aura gelap yang begitu pekat hingga mampu menelan cahaya bulan yang baru saja terbit.

“Dyah…” bisik Subosito, mengingat janjinya pada sang Putri.

Subosito menyadari bahwa apa yang dihadapi saat ini bukan lagi sekadar perebutan kekuasaan politik. Patih Mangkubumi telah melakukan sesuatu yang tidak termaafkan. Patih itu telah membuka pintu bagi kekuatan yang seharusnya tetap terkunci di alam baka.

Kembalinya Subosito ke Kadipaten disambut oleh pemandangan kehancuran yang total. Kekuasaan Patih Mangkubumi telah mencapai puncaknya, namun harga yang dibayar adalah jiwa seluruh penduduk kota.

Mampukah Subosito menembus kabut hitam yang membuat istana kacau dengan sayap emasnya yang baru saja diperkuat? Dan kejutan mengerikan apa yang menunggu di dalam istana Sang Adipati?

Simak terus kelanjutannya dalam Subosito.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!