Mungkin ada typo di dalamnya,mohon bantu dikoreksi ya Kakak-kaka.🙏😊
Menjalani sebuah pernikahan kontrak??
Jane Alexander sama sekali tidak cemas.Apa itu suami dingin? Keluarga dan Ipar iblis?
Dengan satu kali lambaian tangan,semua menyingkir.
Jane Alexander yang tengah memenangkan pertengkaran, : " Persetan dengan keluarga mu...beri aku uang."
Semua orang, : "...."
Cerita ini menggambarkan cinta dan benci antara Jane Alexander dan Carlos Benjamin.Bagaimana keseruannya...?
Ikuti terus ya.
Like,vote,dan comment.
😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma mossely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.Bertemu dengan ayah.
Hingga malam tiba,tidak ada yang benar-benar mengganggu Jane dikamar barunya.
Waktu yang sangat luang itu tentu saja dimanfaatkan oleh Jane untuk tidur.Hobi yang paling dia gemari selain membuat marah orang lain,adalah tidur.
Jane mampu tidur selama lima belas hingga dua puluh jam sehari,jika dia tidak sedang memiliki pekerjaan.
Sama halnya dengan saat ini.
Begitu Jane selesai membersihkan dirinya dan berganti pakaian yang baru,dia langsung berbaring ditempat tidur hingga sekarang.
....
Di meja makan keluarga Alexander yang harmonis.
Steve menyantap makanannya dengan nikmat.Sementara Stevi masih sibuk mengeluh kepada sang ibu tentang kejadian hari ini.
Dikursi pemimpin keluarga,Bone Alexander duduk dengan penuh wibawa.Dia menyesap tehnya dengan tenang,sembari mendengarkan rengekan putri kecilnya.
Alisnya yang tajam sedikit mengendur ketika mendengar suara sang istri yang tengah membujuk putri mereka dengan suara yang lemah lembut.
Dia sangat puas dengan hidupnya saat ini.
Joon berdiri dengan tegak,dibelakangnya.Seolah siap menanti setiap perintah dari sang tuan besar.
"Apakah anak itu masih sama pemarahnya,seperti dulu?" Bone tiba-tiba bertanya dengan suara berat.
Jelas yang dimaksud adalah Jane,yang saat ini masih menggapai mimpi yang indah ditempat tidur.
Joon yang berdiri dibelakangnya,seketika merasakan dadanya berdebar kencang.Terutama ketika mengingat kekacauan yang ditimbulkan oleh sang nona muda begitu dia sampai hari ini.
"Mohon Tuan Besar tenang,Nona Muda masih muda.Tuan Besar harus menjaga kesehatan dengan baik." Joon sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan yang jawabannya bisa membuat tuannya mengamuk.
Jadi, dia lebih memilih untuk mengalihkan pikiran sang tuan besar.
Haha..
"Tidak perlu cemas begitu,Joon.Aku juga cukup merindukan gadis nakal itu.Panggil dia kemari."
Sepertinya Joon hanya terlalu banyak berfikir.Tuan besarnya sama sekali tidak marah terhadap apa yang terjadi hari ini.Dengan berfikir demikian,Joon segera melakukan perintah Bone dengan cepat.
Steve yang tentu saja mendengar perintah sang ayah,seketika merasa tidak senang.
"Ayah.." Panggilnya dengan alis berkerut.
"Tenanglah, jangan lupa bahwa dia tetaplah adik mu." Kata Bone dengan tegas.
Steve segera menggigit bibirnya dengan keras.
Meskipun dia masih merasa sangat keberatan,akan tetapi apa yang dikatakan oleh sang ayah juga benar.Sehingga Steve hanya bisa memilih diam.
Di sisi lain.
Mery dan putrinya,Stevi,hanya bisa saling memandang kearah kedua pria pemarah di rumah ini.
Mereka tidak ingin terkena masalah yang tidak perlu,sehingga lebih memilih untuk diam.
Setelah menunggu nyaris tiga puluh menit,Joon kembali muncul dengan wajah yang...entahlah.
Alis tebal Bone terangkat sebelah ketika melihat wajah tidak enak,dari kepala pelayan yang telah melayani keluarganya selama berpuluh tahun ini.Belum juga sempat mendapatkan jawaban yang diinginkan,tatapan Bone langsung teralihkan kearah sesosok gadis muda yang tengah berjalan terhuyung-huyung tidak jauh dari Joon.
Wajah gadis itu tidak terlihat dengan jelas karena rambut panjangnya yang mengembang dan acak-acakan.Tampaknya dia tidak sempat merapikan penampilannya sama sekali.Belum lagi pakaiannya yang sama sekali tidak pantas untuk dipakai dimeja makan.
Baju tidur katun yang sudah sangat ketinggalan zaman.
Hoam.
"Apakah waktunya makan malam?"
Jane sama sekali tidak memiliki waktu untuk memperhatikan kesekeliling meja makan.Dia duduk dengan wajah bantalnya,lalu menatap kearah piring yang masih kosong.
Tanpa canggung sedikitpun,Jane mengisi piring tersebut dengan sedikit nasi,lauk pauk,dan juga sayur.Dia juga meraih sebuah apel,dan menggigitnya dengan keras.
Kruk.
Juice yang manis dan segar segera memenuhi mulutnya.Matanya yang masih setengah terpejam,langsung terbuka lebar ketika menikmati apel yang manis itu.
"Wah, ternyata apel yang dimakan oleh orang kaya benar-benar berbeda." Pujinya dengan berlebihan.
Joon yang berdiri didekatnya hendak memperingatkan Jane tentang etika makan di keluarga ini,namun dia dihentikan oleh Bone.
"Jika kau sangat menyukainya,maka makanlah lebih banyak." Bone berbicara dengan nada tegas namun membawa sedikit kelembutan dan nostalgia.
Jane yang tenang menikmati apel ditangannya,segera menoleh kearah sumber suara.Dia sedikit tersentak ketika melihat pria paruh baya,yang masih sangat tampan meski telah memiliki kerutan samar diwajahnya.
Ini adalah ayah bajingannya kan?
Jane mengamati Bone cukup lama,sebelum kembali melanjutkan memakan apelnya.
Bone yang sama sekali tidak disapa oleh putri kandungnya ini,sedikit tertawa.
Hanya sedikit,Sebelum kembali ke sikapnya yang tenang seperti biasanya.
"Baiklah, awalnya aku kira kita akan mengalami moment pertemuan yang sedikit melakonis setelah sekian lama berpisah,tetapi ternyata aku salah." Bone berkata dengan lembut.Tatapan tajamnya masih belum berpindah dari Jane.
"Bertahun-tahun telah berlalu,ternyata putri ku sudah tumbuh menjadi dewasa dalam sekejab." Bone melanjutkan ucapannya.
Kata-kata yang dia ucapkan sangat lembut,dan Stevi selalu sangat menyukai setiap kata dari sang ayah.
Akan tetapi,sangat bertolak belakang dengan Jane.
Dia masih menguyah apelnya dengan ritme yang teratur,sembari menggali memori tentang sosok 'ayah' ini dibenaknya.
Namun,seberapa banyak pun dia mencoba mencari,Jane sama sekali tidak menemukannya.Jadi, dia hanya bisa pasrah dan berhenti disana.
Jane menatap Bone dengan alis berkerut dalam.Dia bahkan menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya.
"Tidak bisakah kita berbicara dengan normal?"
Joon mencengkeram kuat dada kirinya.Dia benar-benar khawatir jantungnya akan kambuh pada saat seperti ini.
Sementara Joon dengan ketakutannya, Steve menatap Jane dengan penuh peringatan.
Akan tetapi, Jane sama sekali tidak peduli.
Bahkan Bone yang sejak awal mencoba membuka hubungan baik dengan sang putri,mendadak cemberut.
"Ayah sama sekali tidak mengerti maksud mu,Jane."
Meskipun sedikit tidak suka,namun Bone sama sekali tidak mempermasalahkan sikap Jane.Biar bagaimanapun mereka tetaplah ayah dan anak.Hubungan diantara mereka jauh lebih kuat,tidak peduli berapa lama waktu mereka berpisah.
Berbeda dengan jalan pikiran Bone yang penuh dengan perhitungan,Jane tidak sama sekali.
Dia meletakkan apel yang sudah habis setengahnya diatas meja,lalu menatap Bone dengan kedua tangan disilangkan didepan dada.
"Kau tidak perlu berbasa-basi dengan ku.Dua puluh lima tahun lalu kau sudah membuang ku dengan tegas,lalu sekarang kau memaksa ku agar berkenan kembali.Cukup katakan apa tujuan mu memaksa ku kembali dan apa keutungan yang akan aku dapatkan atas tujuan mu itu.Jangan lupa,kau adalah dalang dibalik kebakaran rumah dan ladang Nenek ku."
Pyarrr.
Sebuah piring keramik pecah berhamburan dilatai,tepat dibelakang Jane duduk.Untung saja Jane memiringkan kepalanya dengan cepat,jika tidak...piring itu pasti menghantam wajahnya dengan keras.
"Lemparan mu sangat buruk,bahkan untuk jarak sedekat ini.Payah!"
Wajah Steve tampak menghitam ketika mendengar nada ejekan itu.