Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.
"Maaf ya, Non. Beginilah keadaan rumah bibi, tidak sebagus dan sebesar rumah Non Bella." ujar Sari sesaat setelah Bella tiba di kediamannya. Rumah kecil sederhana yang memiliki dua kamar dengan ukuran seadanya namun cukup nyaman untuk ditempati.
"Tidak apa-apa kok, Bik. Yang penting bisa berteduh." sahut Bella, dia justru bersyukur karena Sari mau menampungnya. Untuk apa tinggal di rumah yang besar dan megah jika tidak ada kedamaian di dalamnya.
Setelah apa yang terjadi tadi malam, Bella tidak ingin kembali ke rumah kedua orang tuanya, tekadnya sudah bulat ingin memutus hubungan dengan Hana dan Dayat. Untuk apa dia bertahan jika harus tersiksa lahir dan batin.
Bella ingin menikmati kebebasan, melanjutkan hidup sebagaimana mestinya, bukan jadi alat penghasil uang untuk kedua orang tuanya, cukup sudah pengorbanannya selama ini, sekarang tidak lagi.
Setelah membereskan kamar depan yang biasa ditempati putrinya, Sari menyuruh Bella istirahat, wajah Bella memang nampak lelah dan terlihat lusuh.
"Non istirahat saja dulu, biar bibi buatkan makanan. Tapi kalau Non ingin mandi, kamar mandinya ada di belakang." terang Sari yang bersiap ke dapur menyiapkan makan malam.
Sepeninggal Sari, Bella duduk di tepi ranjang kayu berukuran kecil yang hanya cukup untuk satu orang, kasur kapuk yang membentang di atasnya cukup lembut saat ditekan, lumayan nyaman ditiduri.
Hanya saja Bella termenung sejenak di kamar berukuran dua kali dua meter itu, Sari sangat baik karena bersedia menampungnya. Bella tidak mungkin ongkang-ongkang kaki sementara saat ini Sari sudah tidak bekerja.
Bella berniat mencari pekerjaan untuk membantu kebutuhan sehari-hari mengingat Sari juga butuh uang untuk biaya kuliah putrinya.
Ya, Sari hanya seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Dia memiliki seorang putri yang kini sedang kuliah dan tinggal di asrama.
Setelah memikirkan apa yang ingin dia lakukan kedepannya, Bella tersenyum simpul lalu bersiap hendak mandi, tubuhnya sudah lengket karena berkeringat.
...****************...
Esok hari...
Bella terduduk lesu di trotoar, dia benar-benar lelah setelah seharian berputar-putar mencari pekerjaan namun tidak berhasil.
Bagaimana tidak, Bella hanya lulusan SMA, perusahaan mana yang mau mempekerjakannya.
Dalam keputusasaan, Bella tiba-tiba berdiri dan melangkah menyeberangi jalan raya sesaat setelah melihat spanduk terpajang di depan sebuah restoran.
Tidak apa-apa jadi kurir makanan, yang penting halal dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Yups, lamaran Bella diterima, restoran itu memang membutuhkan tenaga kurir karena membludaknya pesanan online. Asal Bella mau, hari ini juga dia sudah bisa mulai bekerja, tentu saja dia bersedia.
Setelah mengganti pakaian dengan seragam khusus restoran, Bella mulai mengantar makanan dari satu tempat ke tempat lain.
Di lobby sebuah perusahaan, Bella bertanya pada resepsionis ke lantai mana dia harus naik mengantar makanan yang dipesan salah seorang karyawan. Setelah mendapat petunjuk dia bergegas jalan menuju lift.
"Bruk..."
Karena terburu-buru, Bella tidak sengaja menabrak seseorang, tubuhnya tersungkur di lantai, makanan yang dia bawa tumpah berserakan.
"Ma-maaf," ucap Bella tanpa melihat siapa yang dia tabrak dan cepat-cepat membersihkan lantai.
Seorang pria dengan tubuh tinggi tegap masih mematung di tempat memandangi Bella yang tengah sibuk memungut makanan yang berserakan. Sebelah alis pria itu terangkat, merasa familiar dengan wanita yang berjongkok di bawahnya.
"Bella..." ujar pria yang tidak lain adalah Fahri.
Bella mendongak mendengar namanya disebut.
Deg...
Bella terkesiap, jantungnya bergemuruh kencang melihat Fahri yang berdiri di atasnya, tangannya gemetar meraih paperbag yang tergeletak di lantai.
Setelah berhasil menggenggam paperbag itu, Bella berdiri dan bersiap kabur, akan tetapi Fahri berhasil meraih lengannya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Fahri menariknya ke dalam lift, menggenggam erat tangan Bella sehingga sulit dilepas.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bella panik, berusaha menarik tangannya sekuat tenaga.
Fahri tidak menjawab, dia menekan tubuh Bella hingga tersandar di dinding lift, menatap Bella dengan seribu tanda tanya. Sejak kapan Bella menjadi kurir makanan?
Setelah lift terbuka, Fahri menarik Bella ke ruangannya, menutup pintu dan menekan tubuh Bella ke dinding, menatap sendu wajah mantan istrinya yang kini terpaku tanpa sepatah katapun.
Melihat tatapan Fahri yang tak biasa, hati Bella mencelos, air matanya menggenang, dia kemudian menunduk.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Fahri dengan suara lembut.
Bella bukan orang susah, dia berasal dari keluarga kaya dan terpandang, memiliki bisnis yang menjanjikan, tapi kenapa Bella harus pontang-panting mengantar makanan kesana kemari, Fahri benar-benar bingung.
Bella tidak menjawab, dia hanya diam seribu bahasa sambil mencengkram ujung jaket yang dia kenakan.
"Bella..." lirih Fahri dengan perasaan tak menentu, dia gelisah melihat Bella yang hanya diam seperti patung.
"Bella, tolong jawab! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Fahri lagi sambil mengangkat dagu Bella, menangkup tangan di pipi mantan istrinya itu.
Ketika tatapan mereka kembali bertemu, air mata Bella jatuh tanpa bisa dia tahan, bibirnya mencebik, dadanya terasa sesak, tenggorokan tercekat.
"A-a-aku..."
Bella tidak bisa berkata-kata, air matanya kian luruh membasahi tangan Fahri yang masih menempel di pipinya.
Huft...
Fahri menghela nafas panjang dan membuangnya kasar, matanya terasa perih, dadanya ngilu bak diiris sembilu, Fahri tidak tahan dan menarik Bella ke dalam pelukannya, mendekapnya erat dengan pandangan menggelap.
Di dada Fahri, Bella merasakan kehangatan yang begitu nyata, dia tidak mampu mengendalikan perasaannya yang campur aduk, air matanya kian mengalir tak terbendung.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega, buang semuanya!" kata Fahri sambil mengusap-usap kepala Bella.
Tadinya Fahri pikir Bella baik-baik saja setelah meninggalkan rumahnya, tidak pernah terlintas di benaknya kalau Bella akan jadi seperti ini.
Mengantar makanan?
Menurut Fahri semua ini tidak masuk akal, Bella masih punya orang tua yang hidup serba berkecukupan. Apalagi beberapa bulan ini dia selalu menyuruh Reza mentransfer uang dengan nominal yang cukup besar ke rekeningnya. Meski sudah bercerai, Fahri tidak ingin mantan istrinya hidup menderita.
Melihat Bella seperti ini, timbul kecurigaan di benak Fahri. Dia merasa bersalah karena menganggap semuanya baik-baik saja, oleh sebab itu dia tidak pernah mencari tau bagaimana keadaan Bella setelah mereka berpisah.
Setelah berpikir keras, Fahri curiga semua ini ada hubungannya dengan kedua orang tua Bella. Fahri tidak bisa tinggal diam, dia sendiri yang akan mencari tau karena Bella tidak mau mengatakan yang sebenarnya.
Beberapa menit berselang, Bella mendorong dada Fahri, hatinya sedikit tenang. Sambil menyeka pipinya, dia memaksakan diri tersenyum. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." ucapnya.
"Kamu yakin?" tanya Fahri memastikan.
"Ya, tadi hanya sedikit lelah, makanya jadi melow." alibi Bella, dia sengaja berbohong karena tidak ingin melibatkan Fahri dalam masalahnya, bagaimanapun mereka berdua sudah bercerai, tanggung jawab Fahri terhadapnya sudah usai.
"Kalau begitu aku pergi dulu," Bella mengambil paperbag yang tadi tidak sengaja jatuh di lantai, membuka pintu dan melangkah pergi meninggalkan Fahri yang masih membeku di tempatnya berdiri.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡