Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Cahaya matahari menembus celah tirai, menyentuh wajah Fania yang masih terpejam. Perlahan, wanita itu membuka matanya. Pandangannya kosong beberapa detik, sebelum akhirnya kesadaran kembali utuh.
Ia masih berada di kamar yang sama. Masih dalam kehidupan yang sama. Namun perasaannya tidak sepenuhnya sama. Fania bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang. Rambut panjangnya jatuh berantakan di bahu.
Hening. Ia menatap lantai cukup lama. Tanpa sadar, tangannya menyentuh keningnya sendiri. Diam, ada sesuatu yang terasa familiar. Hangat, namun samar. Fania mengerjap pelan, lalu menggelengkan kepalanya kecil.
“Hanya perasaanku” gumamnya lirih.
Ia berdiri, berjalan menuju kamar mandi, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran yang tak perlu. Seperti biasa, Ia memilih untuk tidak memikirkan terlalu dalam.
Di ruang makan, Ronald sudah duduk lebih dulu. Jasnya rapi, wajahnya kembali seperti biasa datar, dingin, tak terbaca. Di depannya tersaji sarapan yang sudah disiapkan.
Namun pria itu belum menyentuhnya. Pandangannya lurus ke depan, kosong. Hingga langkah kaki terdekat mendekat. Itu istrinya, Fania.
Wanita itu duduk di kursinya tanpa menoleh ke arah Ronald. Seperti rutinitas mereka beberapa waktu terakhir. Tak ada sapaan apalagi senyuman. Hanya suara sendok dan garpu yang perlahan mengisi keheningan.
Ronald sesekali melirik sekilas ke arah Fania.
Namun hanya sekilas, tak cukup lama untuk tertangkap.
Fania makan dengan tenang. Namun di balik itu, ada sesuatu yang mengganggu. Perasaan yang datang tiba-tiba. Tanpa alasan yang jelas, seperti sebuah kerinduan namun tentang apa Ia tak mengerti.
Fania menghentikan gerakannya sejenak. Lalu kembali melanjutkan, seolah tak terjadi apa-apa.
Ronald menyelesaikan sarapannya lebih dulu. Ia berdiri, merapikan jasnya sedikit. Pergi, tanpa menunggu.
Fania menatap punggung pria itu yang menjauh.Ada sesuatu yang terasa mengganjal. Namun ia tak mengejarnya, tak pula menahannya. Ia hanya kembali menatap piringnya dan melanjutkan makan.
***
Hari berjalan seperti biasa. Fania sibuk dengan pekerjaannya. Bertemu klien, mengurus desain, berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Semuanya terasa normal, bahkan terlalu normal. Namun di sela-sela kesibukan itu, pikirannya sesekali melayang. Ke rumah, ke seseorang.
Fania menghela napas pelan, mencoba kembali fokus.
“Fan, are you oke?” tanya Livia yang berdiri di sampingnya.
Fania mengangguk. “Hm, aku baik-baik saja.”
Jawaban yang sama, selalu sama. Namun Livia hanya menatapnya sebentar, seolah tahu ada yang tidak beres.
“Kau melamun” ujar Livia.
Fania tersenyum tipis. “Hanya lelah.”
Alasan yang mudah dan cukup. Livia tidak melanjutkan, namun tatapannya masih menyimpan tanya.
"Kau benar-benar tak berniat jujur padaku?" tanya Livia yang semakin khawatir dengan sahabatnya.
Fania hanya terdiam, kemudian menggeleng pelan. "Semuanya baik-baik saja" ujar Fania dengan yakin.
Livia berdecih sinis. "Kau pikir aku bisa berpikir kalian baik-baik saja, setelah kesepakatan kalian untuk saling asing?" ketus Livia kesal sendiri.
Fania hanya terdiam tidak menanggapi, karena tahu Livia sedang meluapkan uneg-uneg dalam hatinya.
"Tiga tahun Fan, kau dan Ronald menjalankan pernikahan. Tiba-tiba kalian asing, padahal dulu begitu mesra? Apa kau yakin tak ada yang salah. Ini benar-benar gila. Apa dia selingkuh?" sarkas Livia mulai curiga, dan mencoba menerka.
Fania menggeleng dengan yakin. "Tidak, Ronald bukan pria seperti itu. Tolong kali ini jangan ikut campur. Aku akan selesaikan semuanya sendiri." Ujar Fania mengingatkan, dan ditanggapi Livia dengan helaan nafas panjang.
"Oke" putus Livia kada akhirnya dengan nada pasrah.
***
Sore harinya, Fania pulang lebih cepat dari biasanya. Rumah terlihat sepi, Ia melepas heels-nya, berjalan masuk dengan langkah pelan. Tanpa sadar, pandangannya menyapu ruangan. Kosong.
Ronald belum pulang, Fania terdiam sejenak. Lalu mengalihkan pandangannya.
“Apa yang aku pikirkan” gumamnya pelan.
Ia berjalan ke kamar, mengganti pakaian, lalu duduk di ranjang.
Sunyi, rasanya hanya keheningan yang menyambutnya. Fania memilih menarik selimut tipis, lalu merebahkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit. Dan lagi, perasaan itu datang. Rindu yang tak bisa Ia definisikan.
Namun kali ini terasa lebih jelas. Fania menghela napas panjang, lalu memejamkan matanya.
“Aneh” bisiknya.
Ia menepisnya, memaksanya pergi seperti biasa. Iya memilih menonton acara yang biasa Ia tonton di televisi yang ada di kamarnya. Hingga tanpa sadar terlelap dengan damai, hingga melewatkan makan malam.
Malam semakin larut, pintu kamar terbuka perlahan. Ronald masuk tanpa suara, Ia sudah kembali. Langkahnya pelan, hampir tak terdengar.
Fania sudah tertidur di atas ranjang, Ronald berdiri di sana. Menatap dan terdiam. Ekspresi datarnya berubah lunak, tersenyum sangat tipis. Hingga Ia melangkahkan kakinya mendekat duduk di sisi ranjang.
Tangannya terangkat perlahan, menyentuh rambut Fania yang terurai. Menyingkirkannya dari wajah wanita itu. Gerakan yang sangat hati-hati. Seolah menyentuh sesuatu yang berharga.
Ronald menunduk. Kecupan hangat kembali mendarat di kening Fania. Lebih lama dari sebelumnya, Ia merindukan wanita cantik yang terlelap damai ini.
“Good night, Sayang” lirihnya sangat pelan.
Fania sedikit bergerak dalam tidurnya. Alisnya mengernyit samar, namun tidak terbangun. Ronald menatapnya beberapa detik lebih lama. Lalu tangannya turun, Ia berdiri.
Namun sebelum pergi, ia menarik selimut Fania sedikit lebih tinggi. Menutup tubuh wanita itu dengan rapi.Perhatian kecil, yang tak pernah ia tunjukkan di siang hari. Ronald berbalik, kembali menjadi dirinya yang dingin. Seolah semua itu tak pernah terjadi.
Di tengah malam, Fania terbangun. Matanya terbuka perlahan. Ia mengerjap beberapa kali.
Ia merasakan sesuatu, kehangatan. Refleks, tangannya menyentuh keningnya. Iya terdiam, perasaan itu hadir kembali. Kerinduan yang tak bisa Ia pahami.
Ruangan sudah gelap dan sunyi. Tampaknya Ronald sudah pulang. Ia menoleh ke samping, sepertinya Ronald masih di luar terbukti sisi ranjang sampingnya kosong.
Fania menatap kosong ke depan.
“Apa yang sebenarnya terjadi” gumamnya pelan.
Dadanya terasa sesak, tanpa alasan yang jelas. Ia memiringkan tubuhnya, menarik selimut lebih dekat. Iya memaksa matanya untuk kembali terpejam. Namun kali ini tidak benar-benar tenang.
Di balkon kamar, Ronald berdiri di sana seperti biasa. Keheningan turut menyertainya, namun pikirannya tidak. Ia menatap gelapnya malam. Rahangnya terlihat mengeras sedikit.
Ia mengingat sesuatu, ekspresi Fania pagi tadi dan cara wanita itu diam. Cara Fania terlihat baik-baik saja. Dan entah kenapa itu terasa menyakitkan. Akhirnya Ronald hanya mampu menghembuskan napas panjang.
“Apa ini yang kamu mau” gumamnya pelan.
Tak ada jawaban, hanya malam yang tetap diam. Ronald tetap akan menjaga jaraknya, karena itu keinginan Fania.
Namun Ia tak pernah bisa untuk benar-benar melepaskan istrinya. Iya merindukan Fania yang selalu manja kepadanya, yang sering merengek meminta sesuatu padanya.
Sekalipun Ia tahu Fania adalah wanita yang tangguh, namun ketika bersamanya seolah ketangguhan itu runtuh tak bersisa. Namun sekarang semuanya berbeda.
Sampai detik ini Ia selalu bertanya-tanya. Apa yang salah pada pernikahan mereka hingga Fania bosan dengan hubungan diantara mereka. Ia ingin memperbaiki, namun tampaknya Fania ingin lepas dari genggamannya.
"Apa yang salah, Sayang?" gumamnya lirih.