Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Tidak Semua Yang Dibutuhkan Seseorang Bisa disampaikan Dengan Kata-Kata.
Perjalanan pulang dari Adinata Medical Center berlangsung lebih sunyi dari biasanya.
Agam yang ambil alih memegang kemudi. Dan ia menyetir tanpa banyak bicara. Tangannya tetap tenang di setir. Pandangannya lurus ke depan. Namun pikirannya tidak sepenuhnya di jalan.
Penjelasan dokter Zulaika masih tertinggal jelas dalam ingatan.
Bukan pada bagian medisnya.
Tapi pada kalimat terakhir yang diucapkan pelan oleh dokter Zulaika. Dan justru itu yang paling berat dirasakan.
"Pastikan ning Shafiya tidak sendiri. Bukan hanya secara fisik. Tapi juga secara… perasaan.”
Agam menarik napas pelan.
Di kursi penumpang, Shafiya duduk diam. Kepalanya sedikit bersandar.
Beberapa kali ia memejamkan mata. Lalu membukanya lagi.
Agam melirik sekilas.
Wajah cantik itu terlihat tenang.
Tapi dalam ketenangan itu ia menelan beban sendirian. Dan itu menguatkan apa yang dikatakan dokter Zulaika tadi.
Beberapa saat berlalu.
Mobil tetap melaju dengan kecepatan stabil. Hingga akhirnya--Agam membuka suara.
“Nona Shafiya, setelah ini mau ke mana?”
Shafiya menoleh sedikit. Seolah butuh beberapa detik untuk menangkap pertanyaan itu.
“Kita pulang,” jawabnya pelan.
Agam mengangguk.
“Selain itu?”
Shafiya tidak langsung menjawab.
Agam melanjutkan. Nadanya tetap biasa.
“Ada yang ingin dilakukan? Atau… sesuatu yang diinginkan?”
Jeda sesaat. Shafiya juga diam.
“Kalau ada, sampaikan saja.”
Kalimat Agam terdengar sederhana.
Namun ada sesuatu yang berbeda di dalamnya.
“Kalau bisa saya wujudkan… saya bantu.”
Shafiya menatap ke depan lagi.
Namun tetap diam. Bukan karena tidak mengerti.Tapi karena pertanyaan itu… jarang ia dengar.
Ia terbiasa menahan.
Terbiasa tidak meminta.
Terbiasa menyesuaikan.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menggeleng pelan.
“Tidak ada, Mas Agam."
Agam tidak langsung menanggapi.
Ia sudah menduga. Shafiya bukan orang yang mudah membuka diri.
Tangannya sedikit mengencangkan pegangan pada setir. Lalu, tanpa mengubah nada ia berkata,
“Baiklah."
“Kalau belum tahu sekarang… tidak apa-apa. Tapi kalau nanti sudah terpikir… sampaikan saja.”
Meski berkata demikian, Agam tidak menoleh. Tetap fokus ke jalan.
“Terkadang yang dibutuhkan itu bukan yang besar. Yang kecil pun… cukup. Asal tidak dipendam.”
Shafiya tidak menjawab.
Namun ucapan itu membuatnya memikirkan sesuatu. Hal itu terlihat dari tatapannya yang tetap lurus. Namun lebih hidup.
Winda menatap Shafiya sesaat. Lalu beralih ke Agam. Dia merasa kalau laki-laki itu sedang memberikan perhatian tak biasa.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Dan perjalanan itu seharusnya berakhir di Adinata Residence. Jalan yang dilalui sudah mengarah ke sana. Ritmenya sama seperti biasa. Tenang. Tidak ada yang berubah.
Namun beberapa menit sebelum mobil berbelok ke jalur utama menuju kawasan hunian mewah itu, Shafiya tiba-tiba membuka suara.
“Saya… ingin ke satu tempat.”
Agam mengalihkan perhatian sejenak dari jalan di depannya.
“Di mana, Nona?”
Ia bertanya tanpa ragu.
“Pondok lama saya.”
Agam langsung mengangguk. Tidak bertanya ulang.
“Dulu saya di sana,” lanjut Shafiya, masih dengan nada yang sama. “Setelah lulus dari pesantren, saya mengajar di sana."
Ada jeda tipis sebelum ia menambahkan,
“Saya ingin ke sana sebentar.”
Tidak ada penjelasan kenapa. Tidak ada alasan panjang. Tapi cukup jelas bahwa itu bukan keinginan yang muncul tiba-tiba.
Shafiya mungkin sudah memikirkannya cukup lama. Dan memendamnya dalam dirinya saja.
Agam mengangguk pelan. Tangannya tetap tenang di setir. Mobil itu kemudian berpindah jalur dengan halus, meninggalkan arah yang seharusnya.
“Nona bisa arahkan jalannya."
"Iya." Shafiya duduk tegak. Pandangannya sekarang lebih berarti. Lebih fokus. Menandakan betapa bersemangatnya hatinya pada tempat yang dituju saat ini.
Perjalanan berubah arah, dan suasana di dalam mobil itu juga ikut berubah. Tidak lagi sekadar perjalanan pulang. Tapi seperti membawa seseorang… kembali ke tempat yang pernah membuatnya utuh.
Tempat itu sederhana. Terdiri dari beberapa bangunan asrama santri yang jauh dari kata mewah. Masjid yang tak begitu besar berdiri di tengah--seolah menjadi pusat dari tempat itu.
Sederhana tapi hidup. Jauh dari keramaian tapi hangat.
Suara anak-anak mengaji terdengar samar dari dalam masjid. Berulang. Terjaga. Seolah waktu di tempat itu berjalan dengan ritme yang berbeda.
Shafiya duduk bersama beberapa orang disana. Sepantaran. Seusia. Dan di antara mereka wajah itu begitu hidup. Tatapannya berbinar. Bukan karena apa yang ditemukan. Tapi apa yang dirasakan.
Sesekali ia tersenyum. Menanggapi cerita yang mungkin sederhana. Hal-hal yang dulu pernah menjadi bagian dari harinya. Ringan tapi bermakna. Dan tatap mata itu, binar wajahnya, seolah menandakan bahwa ia menemukan hidupnya di sana.
Dan Agam menyaksikan semua itu dari jarak cukup jauh. Berdiri menyandar pada mobil. Ia tidak mendekat. Ia melihat semua itu dengan perasaan yang... lega.
Meski waktu berlalu cukup jauh, ia tak ingin mengakhiri senyum di wajah Shafiya, juga binar terang pada tatapannya.
Ia tidak memanggil. Ia akan tetap menunggu sampai Shafiya sendiri yang memilih mengakhiri.
Kegelisahan justru datang dari Winda. Berkali ia menahan napas menatap Shafiya di kejauhan, lalu beralih melihat Agam.
"Pak." Akhirnya ia beranikan diri bersuara. "Bu Ratri sudah tiga kali menghubungi saya."
"Terus?"
"Tidak saya angkat."
"Saya yang tanggung jawab semuanya. Kamu tenang saja."
"Baik, Pak."
Dan Agam tidak berkata apa-apa lagi. Ia memilih diam sambil melihat interaksi Shafiya dengan rekan-rekannya di kejauhan.
Namun dalam diam itu, Agam menemukan sesuatu. Bahwa tidak semua yang dibutuhkan seseorang bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Dan tidak semua perjalanan… harus berakhir di tempat yang sama.
...
...
Sore sudah benar-benar turun ketika mobil itu akhirnya mendarat di halaman Adinata Residence 3 . Shafiya turun diikuti Winda. Wajahnya nampak lelah, sekaligus juga terlihat ringan. Seolah ia sudah meletakkan suatu hal yang selama ini disandang dalam diam.
Mereka melangkah tenang menuju pintu utama. Di ruang itu Ratri sudah menunggu. Tersenyum menyambut Shafiya. Namun tatapan tajam mendarat pada Winda.
"Bu Ratri." Agam yang melangkah dengan jarak terukur di belakang Shafiya. Ia maju.
"Ini semua tanggung jawab saya."
Ratri diam sejenak. Seperti ada hal yang masih ingin disampaikan. Namun ia pilih diam, dan akhirnya mengangguk.
Agam berbalik, pandangannya kini berhenti di Shafiya. "Nona, untuk kontrol selanjutnya ke dokter, saya jadwalkan."
"Terima kasih, Mas Agam." Shafiya tersenyum. "Maaf, jadi merepotkan."
"Tidak. Ini memang harus diatur sesuai.
Hanya saja.. seharusnya ini bukan saya."
Shafiya diam.
Ratri mengangkat pandangannya ke Agam
Karena ucapannya itu.
"Kalau nanti jadwal pak Sagara sudah lebih longgar.." lanjut Agam.
"Lebih baik jika dia yang pegang langsung."
Shafiya tak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk dan mengucap satu kata singkat. "Iya."
Shafiya kemudian menoleh ke Winda.
"Saya mohon diri, Mas Agam," ucapnya kemudian. "Dan terima kasih untuk semuanya."
Agam tersenyum. "Jika ingin apa-apa lagi, sampaikan saja. Saya berusaha atur."
Shafiya mengangguk. Ia menarik tangan Winda untuk langsung ke kamar. Namun baru dua langkah mereka berhenti.
Entah sejak kapan, seseorang sudah hadir di ruangan itu. Dan dengan kehadirannya suasana mendadak jadi kaku.
Winda bahkan mundur dua langkah. Seolah berdiri sangat dekat dengan Shafiya adalah hal yang salah.
Agam diam.
Shafiya juga diam.
Hanya Ratri yang bergerak. Menyisih ke sisi ruang untuk lebih memberi tempat.
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering