NovelToon NovelToon
Rahasia Terpendam Kristal

Rahasia Terpendam Kristal

Status: tamat
Genre:Misteri / Penyelamat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:273
Nilai: 5
Nama Author: IZI.01

Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Rumah tahanan sementara. Petugas membawaku keluar dari jeruji besi, aku memakai baju seragam tahanan berwarna oranye dan beralaskan sandal seadanya. Dia masukan aku ke dalam sebuah ruang khusus berukuran empat kali empat sentimenter.

Tak ada yang bisa digambarkan dari ruangan itu kecuali sebuah meja, sepasang kursi serta seorang petugas yang berjaga di dekat pintu. Di tempat itu aku bertemu Darrius dan kedua mertuaku yang datang membesuk.

Sama seperti halnya anakku, mertuaku yang kukenal hampir tak pernah bersedih, mereka tak mampu menahan rasa sedih kala melihatku dalam pakaian tahanan.

“Mami!! Darrius kangen sama Mami!! Jangan pergi lagi yah, Mi!!” kata Darrius menyusup ke dalam pelukan, membawa isak tangisnya.

“Kami datang membawakan kamu selimut dan juga makanan untuk kamu?!” aku mengambilnya dan meletakkannya di sudut meja, sambil menatap singkat mencari keberadaan suamiku.

“Dimana Rey, Bu?”

“Belakangan ini dia selalu sibuk, jadi ibu juga kurang tahu pergi kemana. Dia tak pernah berhenti berjuang untuk membebaskan kamu!”

“Besok adalah hari penentuan. Apapun hasilnya nanti, kita harus bisa menerima semua itu!” kata ayah mertuaku seraya menyeka airmatanya dengan saputangan.

“Kalau Mami gak pulang, Darrius juga gak mau pulang! Biar Darrius temani Mami disini!” pinta Darrius merengek dalam pangkuan.

“Sayang! Mami cuma sebentar nginap disini. Besok juga udah pulang. Waktu Mami tinggal di apartemen, kan Darrius bisa sendiri di rumah. Lagi pula gak kasihan sama Papi kalau Darrius ada disini?!”

“Papi kan biasa sendirian! Darrius udah lama gak ketemu Mami, jadi biarin temani Mami aja! Kemarin ada yang mengejek, aku pukul karena kesal sekali."

“Darrius sayang kan sama Mami?” tanpa menjawab di balas lewat anggukan kepala, sambil terus lebih memelukku dengan erat. “Kalau sayang, berarti Darrius harus temani Papi dulu. Besok Mami juga udah pulang kok!”

“Benar kan, Mi! Gak bohong sama Darrius?!”

“Iyah, sayang. Masa Mami mau bohongin kamu!”

Dari arah belakang petugas sudah bersiap untuk membawaku ke ruang tahanan. Ibu mertua spontan berdiri,

"Kamu perempuan kuat dan berjiwa besar. Kamu harus bisa melepaskan diri dari semua tuntutan ini. Jangan biarkan mereka menahan kamu lebih lama. Segera Darrius akan urus semua yang menjadi penghambat."

Ucapannya menjadi tanda agar segera menyudahi pertemuan alu dengan anak kesayanganku. Batin ini tersiksa. Hati ini meronta ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Memberikannya kasih sayang yang utuh sebagai ibu yang baik.

Ibu mengajak dan menarik Darrius keluar dari pelukan. Isak tangis tak terelakkan ketika petugas membawaku pergi. Tetapi mertuaku menahan kuat agar Darrius tak mengikuti kepergianku.

Aku menyusuri lorong yang terasa membuat kepala ingin memuntahkan isinya. Sakit sekali. Tak ada aba-aba, aku menatap pada seseorang sesosok lelaki yang baru lewat dihadapanku. Lelaki itu sangat mirip sekali dengan ID.

Tubuhnya yang sedikit berotot serta tatapannya yang sendu. Sialan lagi dan lagi lelaki tidak tahu diri itu selalu mengikuti kemanapun aku berada.

Aku menjerit histeris, berteriak kencang.

"ID! Tunggu.. Kamu jangan pergi, ID!!" petugas yang menemani, langsung meminta aku berhenti histeris.

"Ibu.. Jangan berteriak disini!! Kalau ibu masih tetap bicara keras. Kami tidak segan untuk menempatkan ibu di sel isolasi khusus."

"Tapi itu ID.. Dia yang melakukan ini semua!"

"Tidak ada siapapun disini.." petugas itu menyisir pandangan keseluruh arah. Hasilnya tidak ada seorang pun.

Dalam sesaat borgol yang menyiksaku sedari tadi di lepas olehnya. Aku memandangnya penuh harap. Ya, berharap agar dia mau menangkap ID. Penyebab dan pelaku sebenarnya.

"Aku mohon.. tolong tangkap lelaki di ujung sana! Dia pelakunya! Bukan aku.. "

Tubuhku dihempas ke atas tempat tidur oleh petugas.

"Sudahlah jangan banyak bicara!"

Aku menangis. Sedih. Acak. Pikiranku kalut. Tapi tetap berjaga. Ya, berjaga agar ID tidak mengganggu.

Hari berganti tanpa terasa. Pengacara Febri dan Rey berhasil merangkumkan pembelaan untuk membebaskan Kristal dari jerat tuntutan jaksa. Sekarang tiba saatnya untuk membuktikan kebenaran bahwa bukanlah Kristal dalang dari pembunuhan tersebut.

Berpasang mata tak berkedip saat terdakwa di cecar berbagai pertanyaan oleh jaksa penuntut umum. Kristal berusaha untuk menjawab semua itu dengan sikapnya yang dingin. Hakim ketua sempat memperingatkan agar bersikap lebih serius dan tidak berbelit-belit. Suasana sidang kian mencekam dari sebelumnya.

Sementara dari tempat duduk, Rey terus menyorot pandangan penuh kebencian ke arah Monalisa. Rahangnya gemertak, dahinya mengkerut begitu pula dengan tangannya yang terkepal kuat, bagaikan merapi yang siap menyemburkan larva panas.

Namun demikian Monalisa yang tengah memeluk bayi yang baru berumur beberapa bulan itu, nampak tak merasa adanya emosi kebencian.

Majelis hakim selesai mendengar terdakwa menyampaikan semua jawabannya. Hakim ketua meneruskan jalannya sidang dengan agenda pembacaan nota pembelaan dari pihak terdakwa. Pengacara Febri berdiri dan segera mengedarkan nota yang sudah diperbanyak ke majelis hakim persidangan. Lantas mulai membacanya dengan teliti, dan mempertegas kalimat yang penting di tiap halaman.

“... II. Tentang Dakwaan Dan Tuntutan Hukum

A. Dakwaan

Bahwa dalam perkara ini, terdakwa didakwa melakukan tindak pidana sebagaimana yang diatur dan diancam pidana sebagai berikut:

Primair : Pasal 340KUHP

Subsidair : Pasal 338 KUHP..

Sebelum pengacara Febri menyelesaikan nota pembelaan, tanpa diduga Rey maju ke tengah-tengah lalu berteriak lantang sambil membuka handphone-nya. Semua orang yang hadir di ruangan itu sentak menatapnya. Pengacara Febri berusaha merangkulnya agar kembali duduk, namun usaha itu sia-sia. Rey menepisnya dan terus saja bicara dengan lantang. Beberapa penjaga memasang ancang-ancang untuk mengamankan Rey.

“Isteri saya bukan pembunuh!! Kristal tidak bersalah!! Kalau kalian semua ingin tahu siapa pembunuh sebenarnya, lihat...”

Dengan cekatan para petugas menarik paksa Rey keluar dari ruang sidang, sebelum berhasil memperlihatkan hasil rekaman yang telah didapatkannya.

1
Mamah Deni
Novel yang rekomen. Alur cerita singkat. Padat. pemilihan kata juga tepat dan mudah. cocok buat bahan bacaan. seharusnya bisa di taruh di rak toko buku yah. wajib baca sampai tuntas.
Mamah Deni
sederhana tapi alurnya menarik buat di baca tuntas. mantap😍
Mamah Deni
Ini pertama kali saya membaca novel di plarform digital. gak disangka bisa nemu tema yang unik. tutur bahasanya juga mengalir. langsung kebawa emosinya.😍
IzI
teruskan menulis, terus membaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!