"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: RAHASIA DI BALIK NAMA SANG IBU
Pagi pertama setelah badai di Menara Adiguna tidak disambut dengan kicauan burung, melainkan dengan berita utama yang mengguncang seluruh negeri. Pratama Adiguna Menghilang, Skandal Penggelapan Aset Terungkap. Namun bagi dunia luar, Gwen Adiguna tetaplah sang janda kaya yang malang, sementara bagi Gwen sendiri, ia baru saja lahir kembali dari abu pembakaran.
Mansion Adiguna mulai dibersihkan. Tukang bangunan sibuk memperbaiki balkon yang hancur, sementara tim keamanan baru yang dipimpin langsung oleh Hendra menjaga setiap jengkal perimeter.
Di dalam kamar utama, suasana jauh lebih tenang. Elang berbaring di tempat tidur dengan dada yang dibalut perban baru. Wajahnya masih pucat, namun matanya sudah kembali tajam—memperhatikan Gwen yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memegang sebuah kotak beludru hitam yang ia temukan di brankas tersembunyi milik ayahnya semalam.
"Dokter Aris bilang kamu harus istirahat total selama dua minggu," ucap Gwen tanpa menoleh. Jemarinya mengusap permukaan kotak itu. "Tapi aku tahu, pria sepertimu tidak mengenal kata istirahat."
Elang mencoba duduk, meski ia harus meringis saat luka di pinggangnya tertarik. "Aku tidak bisa tidur saat tahu 'Tuan Besar' itu masih mengawasimu lewat pengeras suara kemarin, Gwen."
Gwen akhirnya menoleh, menatap Elang dengan pandangan yang dalam. "Elang, chip di dadamu sudah mati. Data itu sudah korup. Kenapa mereka masih mengincar kita?"
"Karena data yang dihancurkan kemarin hanyalah output," suara Elang berat. "Kuncinya tetap ada pada orang-orang yang merancang sistem itu sejak awal. Ayahku... dan ibumu."
Gwen membeku. Tangannya yang memegang kotak beludru gemetar hebat. "Ibu? Ibuku meninggal karena sakit saat aku masih kecil. Dia tidak tahu apa-apa tentang dunia gelap ini."
"Itu yang diceritakan ayahmu padamu," Elang mengulurkan tangan, menyentuh jemari Gwen yang dingin. "Buka kotak itu, Gwen. Ayahmu menyuruhku mencarinya jika suatu saat sistem Gerhana gagal. Dia bilang, kebenaran tentang Proyek Gerhana tidak terkubur di dalam chip, tapi di dalam darahmu."
Dengan jantung berdebar, Gwen membuka kotak itu. Di dalamnya tidak ada emas atau permata. Hanya ada sebuah foto tua yang sudah agak menguning dan sebuah buku harian kecil bersampul kulit biru.
Dalam foto itu, tampak seorang wanita cantik yang sangat mirip dengan Gwen. Ia sedang berdiri di depan sebuah laboratorium futuristik bersama seorang pria yang wajahnya dicoret dengan tinta hitam. Di leher wanita itu, melingkar sebuah kalung dengan liontin yang identik dengan milik Sarah—namun yang ini berwarna emas murni.
"Ibuku..." bisik Gwen. Ia membalik foto itu. Di sana tertulis sebuah tanggal dan satu kalimat pendek dalam bahasa Latin: “Ad Astra per Aspera.”
Gwen membuka buku harian itu. Lembar pertamanya tertulis nama: Diana Adiguna – Chief Researcher of Project Eclipse.
"Dia bukan ibu rumah tangga biasa," Gwen bergumam, matanya membelalak membaca barisan catatan teknis yang sangat rumit. "Dia adalah otak di balik sistem enkripsi biotermal. Elang... ibuku yang menciptakan chip yang ada di jantungmu!"
Elang mengangguk pelan. "Ayahku adalah kepala keamanan di laboratorium itu. Mereka bekerja sama untuk menyembunyikan teknologi ini agar tidak jatuh ke tangan organisasi bernama The Hive—induk dari Global Syndicate. Saat laboratorium itu diledakkan sepuluh tahun lalu, ibumu tidak meninggal karena sakit, Gwen. Dia... dia dikorbankan untuk menutup akses sistem."
Gwen menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang. Selama ini ia mengira hidupnya adalah drama perselingkuhan murahan dengan Reno. Ternyata, ia adalah pusat dari pusaran konspirasi yang merenggut nyawa orang-orang yang dicintainya.
"Lalu kenapa ayahku tidak pernah mengatakannya?"
"Untuk melindungimu. Selama kamu tidak tahu apa-apa, kamu bukan ancaman bagi mereka," Elang menarik Gwen ke dalam pelukannya, membiarkan wanita itu menangis di pundaknya. "Tapi sekarang, setelah kamu menghancurkan Pratama, mereka tahu kamu sudah mulai 'bangun'. Kamu adalah satu-satunya orang yang memiliki kode genetik untuk mengaktifkan kembali versi sempurna dari Proyek Gerhana."
Gwen melepaskan pelukannya, menghapus air matanya dengan kasar. Tatapannya berubah menjadi dingin dan penuh tekad. Transformasi yang ia jalani selama beberapa hari terakhir telah mengubah hatinya menjadi baja.
"Jadi itu sebabnya Reno mendekatiku? Bukan karena cinta, bukan hanya karena harta, tapi karena darahku?"
"Reno mungkin hanya tahu setengahnya. Dia pikir dengan menikahimu dan menguasai Adiguna Group, dia akan mendapatkan akses ke lab rahasia ibumu," Elang menjelaskan.
Tiba-tiba, ponsel Gwen berdering. Sebuah nomor dari kantor pusat Adiguna Group.
"Nona Gwen! Maaf mengganggu," suara asisten barunya terdengar panik. "Ada seseorang yang datang ke kantor. Dia mengaku sebagai perwakilan hukum dari pemegang saham misterius yang memiliki 30% saham perusahaan kita yang selama ini tidak aktif."
Gwen menyipitkan mata. "Siapa namanya?"
"Dia tidak menyebutkan namanya, tapi dia menitipkan pesan ini untuk Anda: 'Selamat ulang tahun, Diana Muda. Hadiahmu baru saja tiba di pelabuhan.'"
Gwen merasakan bulu kuduknya berdiri. Ulang tahunnya memang jatuh pada hari ini, namun tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan 'Diana Muda' kecuali orang yang sangat mengenal masa lalu ibunya.
"Elang, sepertinya permainan baru saja dimulai," ucap Gwen sambil berdiri. Ia merapikan pakaiannya, memulas bibirnya dengan lipstik merah yang paling berani. "Mereka ingin memberiku hadiah? Mari kita lihat apakah mereka siap menerima balasan dariku."
Elang berdiri dengan susah payah, mengabaikan rasa sakit yang menghujam tubuhnya. Ia mengambil jasnya dan menyampirkannya di bahu. "Aku ikut."
"Kamu terluka, Elang."
"Aku adalah bayanganmu, Gwen. Bayangan tidak pernah meninggalkan tubuhnya, bahkan di bawah sinar matahari yang paling terik sekalipun," Elang menatap Gwen dengan tatapan yang kini bukan lagi sekadar pelindung, tapi sebagai rekan seperjuangan.
Mereka keluar dari mansion dengan aura yang berbeda. Gwen tidak lagi berjalan dengan keraguan. Setiap langkahnya memancarkan otoritas seorang ratu yang siap berperang.
Saat mereka tiba di Menara Adiguna, aula utama sudah dipenuhi oleh pria-pria bersetelan jas abu-abu yang tampak sangat asing. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang wanita paruh baya yang sangat elegan, mengenakan kerudung hitam dan kacamata gelap.
Wanita itu berbalik saat Gwen masuk. Ia membuka kacamata gelapnya, menampakkan sepasang mata yang sangat mirip dengan mata Gwen.
"Halo, Gwen. Lama tidak bertemu," ucap wanita itu dengan suara yang tenang namun berwibawa.
Gwen terpaku di tempatnya. "Nenek?"
Itu adalah Nyonya besar Victoria Adiguna, ibu dari ayahnya yang dikabarkan telah meninggal di luar negeri bertahun-tahun lalu. Sosok yang selama ini dianggap legenda di keluarga Adiguna.
"Jangan terlihat terkejut begitu, Sayang," Victoria tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih dingin dari es. "Aku kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Dan kau... kau sudah melakukan pekerjaan yang bagus dengan menyingkirkan Pratama yang tidak berguna itu."
Gwen merasakan cengkeraman tangan Elang di lengannya mengencang. Elang tampak mengenali wanita ini, dan dari ekspresinya, Victoria bukanlah sekutu yang ramah.
"Nyonya Victoria," sapa Elang dengan nada penuh kebencian.
"Ah, anak kecil dari keluarga penjaga itu masih hidup," Victoria menatap Elang dengan jijik. "Masih setia menjadi anjing peliharaan?"
Gwen melangkah maju, berdiri tegak di depan neneknya sendiri. "Nenek, jika Anda datang untuk membantu, saya ucapkan terima kasih. Tapi jika Anda datang untuk mengusik kedaulatanku di perusahaan ini... maka Anda akan berakhir sama seperti Paman Pratama."
Victoria tertawa, tawa yang membuat seluruh orang di aula merasa merinding. "Kedaulatan? Gwen, kau bahkan belum tahu setengah dari isi darahmu sendiri. Mari kita bicara di atas. Ada seseorang yang ingin kau temui."
Pintu lift pribadi terbuka, dan saat pintu itu kembali terbuka di lantai paling atas, Gwen melihat seseorang yang duduk di meja kerjanya—pria yang mengenakan topeng perak setengah wajah.
Pria itu menoleh, dan suara yang keluar dari mulutnya adalah suara yang sama dengan 'Tuan Besar' yang mengancamnya lewat pengeras suara semalam.
"Selamat datang di rumah, Gwen," ucap pria itu.
Gwen menatap Elang, lalu kembali ke pria bertopeng itu. Rahasia Proyek Gerhana ternyata jauh lebih berbelit dari yang ia bayangkan, dan musuh terbesarnya mungkin adalah orang-orang yang memiliki nama belakang yang sama dengannya.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia