NovelToon NovelToon
Menjadi Guru Sihir Putra Mahkota Kerajaan Sihir

Menjadi Guru Sihir Putra Mahkota Kerajaan Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Irara

Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.

Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.

Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.

Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.

“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”

Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.

Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.

“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”

Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemurnian untuk berdarah

Putra mahkota menjelaskan beberapa hal tentang apa yang ditemukannya dari “menanyai" pria paruh baya bernama Felix.

Ibu bayi naga ternyata memiliki hubungan persahabatan dengan beberapa pemimpin sekte sesat Arcanic.

Entah karena tipu daya atau sukarela, tubuhnya sudah teracuni hingga titik keracunan paling ekstrem, sehingga dalam kondisi kelaparan tanpa memakan daging persembahan sekte, ibu naga yang gila terpaksa memburu manusia yang pada dasarnya memiliki energi sihir.

“Sebentar!" Rhea mengangkat tangannya. “Bukannya dalam legenda mitos kekaisaran, naga dan kaisar pendiri itu memiliki hubungan pertemanan? Konon naga digambarkan ramah dan tidak pernah menyakiti manusia..."

Ia mengingat cerita yang masih segar di otaknya karena masih tadi malam baru dibaca.

“Ya, karena ada perjanjian di antara keduanya," Azz menjawab sepintas. Ia melewati Rhea dan berjalan ke tempat naga berbaring.

“Menurut si tua Felix, butuh bertahun-tahun membuat naga perak ini pada fase 3 keracunan. Dan itupun masih belum membuatnya gila, padahal ia tidak mengonsumsi daging persembahan sekte."

“Pemicu kondisi gilanya yang tiba-tiba dipastikan karena dia melanggar perjanjian leluhur naga.

“Karena pelanggaran itu, energi sihirnya terkunci, sehingga racun itupun langsung menyerang dengan mudah.”

Azz menghadap naga perak kecil, bertanya tanpa membuat ekspresi berlebihan. “Naga kecil, apa kau juga tidak bisa makan daging?”

Kepala naga perak yang menunduk itu terangkat, wajahnya basah kuyup oleh air mata dan ingus, menanggapi pertanyaan Azz dalam linglung.

“Emm..." Mengangguk dengan kepala kecilnya, naga itu terlihat tak berani menatap Azz dan diam-diam melirik Rhea di belakangnya.

Adapun Rhea, dia hanya tersenyum, masih berdiri tanpa mendekat. Dia sedikit tidak enak badan karena melihat mayat.

“Aku tidak akan basa-basi, karena sepertinya kau tahu." Azz tidak merubah ekspresinya saat bertanya, “Seberapa parah kondisi racunmu?"

Naga perak itu menarik tatapannya dan menunduk kepala, berbisik, “Fase dua, tidak apa-apa karena ibu selalu mengawasiku."

Itu berarti kondisi naga itu sama dengan kondisi Rhea. Asal tidak mengonsumsi daging yang ketiga, mereka bakal baik-baik saja untuk saat ini.

Setelah tampak puas dengan jawabannya, Azz menoleh ke belakang dan memanggil Rhea.

“Guru!"

“Kenapa?" jawab Rhea tanpa mendekat sedikit pun.

Meskipun Rhea tidak mendekat, putra mahkota Azz tampak tidak mempermasalahkannya. Dia menanyainya dengan santai.

“Seberapa kuat sihir pemurnian Anda, guru?”

“Pemurnian?" Tentu saja Rhea tidak tahu, dia menunjuk dirinya sendiri, kemudian mengangkat bahu. “Lupa ingatan, jadi entahlah, guru pun belum mencobanya."

Rhea sudah lelah dengan tuntutan putra mahkota hari ini. Berapa kali dia menggunakan sihirnya dalam semalam? Sungguh keterlaluan cara dia memanfaatkannya.

“Karena belum mencobanya tapi guru sudah mengetahui mantranya, murid ini yakin itu sangat kuat," Azz yang mengangguk, memasang ekspresi seolah menemukan jawabannya.

Setelah terdiam karena kehabisan kata-kata, Rhea menghela napas.

“Oke, jadi mana yang harus dimurnikan?" Rhea berjalan mendekat.

Setelah itu tatapannya mengarah ke mayat ibu naga perak dan ke sisi jantung berlubang yang terpenuhi simbol-simbol hitam aneh.

“Murnikan ini?" Tunjuknya pada tempat itu.

Azz menangguk menjawab pertanyaannya.

“Hmm..." Rhea berlutut dan menarik pandangannya dari tempat itu ke naga perak kecil yang menatapnya.

Tatapannya seolah mengandung arti bahwa naga itu mempercayai kekuatannya untuk menghidupkan ibunya...

Akhirnya dia mencubit lengan putra mahkota untuk mendesaknya menjelaskan kegunaan pemurnian itu.

“Ehm," desah Azz karena cubitan Rhea, kemudian menjawab, “Guruku akan memurnikan simbol yang mengikat bagian jantung ibumu, dengan begitu tubuhnya bisa kembali ke tubuh naganya."

Dengan kata lain, ibu naga perak tetap mati. Rhea diam-diam menambahkan dalam hati.

Ekor naga kecil yang bergoyang itu terkulai lemah, menunduk tanpa kekuatan lalu terisak, “Jadi ibu benar-benar tidak bisa diselamatkan."

Rhea juga merasakan kesedihan itu dan perlahan mengelus kepala kecilnya.

Seolah menemukan tempat bersandar baru, naga perak itu langsung terbang ke pelukan Rhea sambil melanjutkan merengek.

Rhea membiarkan tubuhnya dijadikan tempat bersandar dan kembali mengamati tubuh induk naga dengan serius.

“Tidak ada efek buruk kalau saya menggunakan sihir padanya, kan, Yang Mulia?" Rhea bertanya untuk terakhir kalinya sebelum melakukan tindakan.

“Tidak ada, guru. Jangan khawatir," tegas Azz dengan wajah yakin.

“Benar-benar tidak ada kejadian seperti sihir memantul? Mayat tiba-tiba menyerang atau tubuh meledak? Anda yakin, Yang Mulia?" tanyanya lagi.

“Jangan khawatir," ulang Azz tanpa mengubah nadanya.

“Bagaimana Yang Mulia begitu yakin? Adakah bukti nyata keyakinan itu?" Rhea tersenyum dan bertanya dengan nada lancang.

“...Itu rahasia keluarga kerajaan."

Rhea memalingkan muka dengan muak, menghapus keinginannya saat ini dan mengfokuskan tugasnya sekarang.

Akhirnya dia membaca mantra pemurnian.

Tidak secepat dia menggunakan mantra tipe ilusi, tetapi jika dibandingkan dengan kemahirannya dalam mantra tipe elemen, kecepatannya cukup baik.

Cahaya putih bersih keluar dari tangannya dan jatuh tepat ke tempat jantung berada.

Simbol-simbol hitam tampak mengkilap dan bersinar keabu-abuan, perlahan sisi luar simbol tampak terkelupas dan melayang dalam jejak cahaya.

Rhea merasa seperti selesai lari maraton, dadanya sesak dan sedikit mulas di perut. Dia menoleh ke arah putra mahkota dengan wajah cemberut.

“Jangan berhenti, Guru."

Perkataannya untuk menyuruhnya tidak berhenti seringan bulu, tetapi bagi Rhea yang melakukannya, itu sangat melelahkan.

“Hah... pemurnian memang sesusah ini, kah?" gerutu Rhea, napasnya sedikit terengah.

Sambil melanjutkan, ia sudah memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak menggunakan mantra pemurnian lagi bagaimanapun caranya.

Hampir lima belas menit, simbol hitam itu sudah hampir sepenuhnya menghilang.

Rhea menghela napas lega ketika melihat lubang hitam itu berganti dengan lubang daging yang terlihat. Meskipun lubang seukuran kepalan tangan di jantung tampak mengerikan, itu lebih baik daripada lingkaran hitam yang terbuat dari simbol aneh.

Saat mereka mengira segalanya sudah selesai, mereka melupakan bahaya laten yang baru ditaklukkan belum lama ini.

Felix dalam langkah terseret ke arahnya, menyeret tongkat dan segumpal daging berdarah di tangan.

Rhea tidak bisa menghentikan sihirnya sekarang dan menyerahkan pertarungan pada Azz.

“Seperti yang diharapkan dari pemimpin ke-6, tidak mungkin kau takluk dengan sihir ilusi ringan." Azz mengeluarkan pedangnya, melangkah dengan berat.

Pedang itu tampak memancarkan energi tidak biasa, petir biru menyelimuti bilah pedang, menggelegar setiap detik.

Rhea melihatnya sekilas, lalu berhenti saat Azz memotong kaki dan lengan pria tua itu tanpa ampun.

Tak perlu melihat adegan berdarah untuk saat ini.

Adegan berdarah Azz di sana mungkin tampak kacau dibanding pekerjaan Rhea yang penuh cahaya dan kelembutan.

Rhea hendak menghentikan sihirnya saat melihat kondisi naga itu bersih.

Namun tiba-tiba bau anyir tercium di hidungnya dan ia terbatuk.

Seteguk darah mengalir dari mulutnya, membasahi telapak tangan kanannya dengan cairan merah cerah.

Rhea terkejut, menatap darah di tangannya dengan gemetar.

“Ah... Kenap-Heuph!" Ia muntah lagi dan terbatuk keras.

Karena tindakannya yang membungkuk tiba-tiba, sedikit cairan merah mengenai naga perak di pelukannya.

Naga itu tampak terkejut dengan kondisinya yang berdarah, terbang dari pelukannya dan berteriak cemas.

“Peri! Jangan sakit! Kenapa? Kenapa banyak darah?!"

“Ha... ugh."

Darah terus keluar dari mulutnya seolah ada bagian dalam yang tertusuk.

Rhea tidak tahu apa yang terjadi, tetapi setelah beberapa saat muntahnya berhenti, dan rasa sakitnya menghilang.

“Peri! Jangan tinggalkan aku... Jangan sakit!"

Menahan gelombang pusing yang menimpanya, Rhea menangkap tengkuk naga kecil itu dan memeluknya lemah.

“Tidak apa-apa, kakak peri baik-baik saja." Rhea mengelus naga perak yang gemetar gelisah sambil bergeser dari tempatnya muntah.

Saat itu dia melihat putra mahkota berlari ke arahnya dengan langkah besar, sambil menyeret sosok pria yang tidak bisa dikatakan pria karena kehilangan anggota tubuhnya.

Mata menggelap, dingin, dan penuh niat membunuh.

“Guru!" Rhea mendengarnya memanggil dengan nada biasa dan merasakan tubuhnya dipeluk erat.

Karena masih memiliki tubuh dewasa palsu dari mantra ilusinya, Rhea merasakan pelukannya tampak kuat dan dapat diandalkan.

Dia langsung roboh dengan lemah ke arahnya.

“Pria menjijikkan itu tiba-tiba menggunakan trik yang membuat aliran sihir di tempat ini agresif," Azz menjelaskan sambil menatap ke tempat manusia tak berwujud itu dengan dingin.

“Karena itu guru terkena imbasnya, tapi muridmu berhasil memotong keempat anggota tubuhnya dengan menyakitkan karena hal ini!"

“Ha... kukira mantranya gagal," itulah yang dikhawatirkan Rhea saat muntah tadi.

“Mantra itu berhasil," Azz menjawab sambil mengarahkan jarinya ke tempat ibu naga berada.

Setelah menggunakan sihir untuk membersihkan noda darah di gua, Azz memapah Rhea ke tempat ibu naga, yang sekarang berkilau dengan sisik-sisik perak yang berjatuhan.

Rhea menonton semuanya dari munculnya sisik perak sampai seekor naga besar seukuran rumah menutupi hampir langit-langit gua.

“Ibu!" Naga kecil langsung menghampiri tubuh ibunya.

1
Manisaja
Sudah kuduga /Yawn/Akuh bilang tahan atu
Lily air: apa si kak gak ngerti, aku pusing ;)
total 1 replies
Andi Ilma Apriani
hadiiirrr thooorr
Manisaja
Aku tau dari kebiasaan mu buat sama baca cerita sukanya buat mc lemah gampang sakit atau pingsan padahal latarnya op, aku tahu tapi tolonglah dikendalikan ya ya? gak maksud ngajak berantem aku jangan maragh 🙏🙏 Jangan ngambeg awas
Lily air: ❤️┐(︶▽︶)┌❤️
total 1 replies
Manisaja
Lanjut!!!! Udah lumayan ngalir lancar gak kaku kayak pertams
Manisaja
Keliatan banget ini putra mahkota kalau gak regresi atau reikarnasi juga tingkahnya gak kayak bocah, bener gak dugaanku? 🧐
Lily air: kamu maunya gitu? oke kutulis gitu (¬‿¬ )
total 1 replies
Manisaja
Ulah gurumu itu Yang mulia sihirnya gak bener ngerusak kaca
Manisaja
Bisa sok keren juga dia 🤣
Manisaja
Gilakk pantesan cowo pada takutt tapi pelayan cewe gak diapa apain ya sama dia
Manisaja
Tak kusangka sangka ternyata kejadiaannya kayak ginj
Manisaja
Mi apa to?
Manisaja
Lah iya siapa yang nyangka kalau ngancemnya pake candaan ggak masuk akal?
Manisaja
Sebenarnya gak lucu tapi apa hah? Makan daging bisa nguras energi sihir?? aku baru tahu di sini
Manisaja
Lo Kok di skip gimana ceritanya? Cerita yang diceritain John mana?!!
Manisaja
Lah elah dipotong gini gak jelas iih
Manisaja
Apaan tuh 🧐🧐
Manisaja
Cowo imut
Manisaja
Putra mahkota siapa namanya? Belum disebuttin
Manisaja
Mmemuji di bawah sinar bulan? aku bayanginnya ko lucu ya🤣 Apa si yang lo tulis ra aamh
Manisaja
Novel baru ya raaa 🤣 Oke ku baca
Lily air: terserah baca aja gak ada yang larang :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!