NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Pagi yang Berantakan

Colette melangkah melewati pintu kaca otomatis kantornya dengan kepala tertunduk, seperti hari-hari biasanya. Rambut hitamnya yang panjang menjuntai di sisi wajah, menciptakan tirai pelindung dari tatapan orang-orang. Namun, baru beberapa langkah ia masuk ke lobi, ia merasakan sesuatu yang sangat berbeda.

Suasananya kacau balau.

Kesunyian yang biasanya menyambutnya kini digantikan oleh hiruk-pikuk suara orang yang saling berteriak, dering telepon yang tak kunjung berhenti, dan langkah kaki yang terburu-buru. Para staf keamanan berlarian ke arah lift, sementara beberapa rekan kerjanya berkumpul di sudut ruangan dengan wajah pucat pasi dan mata sembap.

Colette menghentikan langkahnya, jantungnya mulai berdegup kencang. Apa yang terjadi? pikirnya dengan telapak tangan yang mulai dingin.

"Sudah dengar? Semuanya... sekaligus!" bisik seorang staf administrasi yang lewat di sampingnya dengan napas tersengal.

Colette mencoba menulikan pendengarannya, namun bisikan-bisikan panik itu seolah menembus celah rambutnya. Ia mendengar nama-nama yang sangat ia kenal: Linda, Shinta, dan beberapa rekan kerja lainnya yang selama ini menjadi mimpi buruknya di kantor ini.

Seorang pria dari divisi keuangan tiba-tiba menghampiri meja resepsionis dengan tangan gemetar. "Polisi sudah di atas! Mereka bilang... mereka bilang ini bukan kecelakaan biasa. Bagaimana bisa lima orang masuk rumah sakit jiwa dalam satu malam dengan diagnosa yang sama?"

Colette mematung. Lima orang. Itu adalah jumlah orang yang membawanya ke hutan jati semalam untuk mengerjainya.

Ia teringat wajah Caspian di bawah sinar bulan semalam. Pria itu tidak menyentuh mereka secara fisik, namun ia membisikkan sesuatu ke arah kegelapan hutan yang membuat rekan-rekan Colette lari tunggang langgang sambil menjerit histeris. Colette menyadari bahwa "candaan" Caspian tentang tugas terakhirnya sebagai dukun bukanlah isapan jempol belaka.

Lobi kantor yang biasanya rapi kini berubah menjadi zona investigasi. Beberapa polisi terlihat memasukkan ponsel dan laptop dari meja kerja Linda dan kawan-kawannya ke dalam plastik barang bukti. Colette berdiri mematung di dekat pilar besar, matanya tersembunyi di balik helaian rambut, menatap nanar pemandangan itu.

"Colette? Kau tidak apa-apa?"

Sebuah tepukan ringan di bahu membuatnya tersentak. Luke, satu-satunya rekan kerja yang tidak pernah ikut merundungnya, berdiri di sana dengan wajah yang tampak lelah dan sedikit pucat.

"Luke... ada apa ini sebenarnya?" bisik Colette, suaranya hampir hilang di tengah kebisingan.

Luke menghela napas panjang, matanya melirik ke arah garis polisi yang dipasang di area meja Linda. "Beritanya sudah menyebar, Linda, Shinta, dan yang lainnya... mereka ditemukan pagi tadi di pinggiran hutan kota. Polisi bilang mereka ditemukan dalam kondisi merangkak dan tertawa sendiri."

Jantung Colette mencelos.

"Diagnosa dokter sementara adalah gangguan jiwa akut yang terjadi secara serentak," lanjut Luke dengan nada ngeri. "Mereka histeris, bilang ada 'pria tanpa wajah' yang mencabut bayangan mereka. Polisi sekarang sedang menyisir barang-barang mereka untuk mencari tahu apakah ada penggunaan obat terlarang atau... semacamnya."

Colette merasakan lututnya lemas. Ia teringat jelas malam itu di gubuk. Ia ingat bagaimana Caspian Hawthorne Sinclair berdiri dengan tenang, hanya merapal beberapa kata yang terdengar seperti gumaman angin, lalu rekan-rekannya lari tunggang langgang seolah dikejar iblis.

Ternyata itu bukan sekadar ancaman, batin Colette. Pria itu benar-benar melakukannya.

Ia teringat bisikan Caspian yang terdengar jenaka di depan Sinta dan Aris tadi pagi: "Itu hanya bercanda." Kini Colette sadar, bagi Caspian, menghancurkan kewarasan seseorang adalah sebuah "candaan". Kekuatan pria itu jauh lebih mengerikan dari apa yang dibayangkan oleh psikiater manapun.

Di tengah penjelasan Luke, suasana mendadak senyap. Pintu lift eksekutif terbuka, dan seorang pria dengan setelan jas navy yang sangat mahal melangkah keluar. Ia dikawal oleh dua orang pria berbadan tegap.

Polisi yang tadinya sibuk langsung memberi jalan dengan hormat. Pria itu memakai kacamata hitam, namun aura yang terpancar darinya begitu dingin dan dominan hingga seisi lobi merasa terintimidasi.

Luke berbisik lagi, "Dengar-dengar, pemilik perusahaan kita baru saja menjual seluruh sahamnya pagi ini. Dan itu... itu mungkin perwakilan dari pemilik baru kita."

Colette hanya bisa mengangguk pelan menanggapi ucapan Luke, jemarinya meremas tali tasnya dengan kuat. Ia merasa dunia di sekelilingnya bergerak terlalu cepat. Bayangan rekan-rekannya yang kini berada di bangsal rumah sakit jiwa terus membayangi pikirannya, berbaur dengan suara tawa jenaka Caspian yang masih terngiang di telinganya.

"Aku... aku harus ke meja kerja dulu, Luke," bisik Colette pelan.

Tepat saat ia hendak melangkah, suasana lobi mendadak hening total. Suara sepatu pantofel yang mengetuk lantai marmer terdengar begitu ritmis dan penuh penekanan. Seseorang yang sangat penting baru saja masuk.

Colette segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan rambut panjangnya menjadi tirai yang menyembunyikan wajahnya. Ia tidak berani menatap ke depan. Ia hanya melihat ujung sepatu kulit hitam yang sangat mengkilap dan ujung celana kain mahal berwarna charcoal lewat tepat di sampingnya.

Harum yang menguar dari pria itu sangat maskulin—campuran antara aroma kayu cendana yang mahal dan sedikit sentuhan citrus yang segar.

Colette merasa jantungnya berdegup tidak keruan. Aroma ini... kenapa terasa begitu akrab? Namun, ia segera menepis pikiran itu. Mana mungkin pria yang tinggal di gubuk tengah hutan jati bisa berada di sini, mengenakan setelan jas yang harganya mungkin setara dengan gaji Colette selama setahun?

Tanpa Colette sadari, pria itu sempat memperlambat langkahnya saat berada tepat di sampingnya. Sudut bibir pria itu terangkat sedikit—sebuah senyum miring yang penuh kemenangan. Ia melirik sekilas ke arah Colette yang menunduk gemetar, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menuju lift eksekutif dengan kawalan ketat.

"Siapa itu, Luke?" bisik seorang staf administrasi dengan mata berbinar kagum. "Ganteng sekali... tapi auranya dingin sekali, ya?"

Luke menggeleng pelan, wajahnya masih tampak syok. "Itu pemilik baru perusahaan kita. Aku baru dengar dari bagian legal, seluruh saham mayoritas baru saja berpindah tangan pagi ini. Namanya... Tuan Sinclair."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!