NovelToon NovelToon
Jodoh CEO Lumpuh

Jodoh CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / CEO
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Itsaku

Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'

Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Tidak untuk Pulang

Sepeninggal Sasa, Elbara masuk menemui Yumna.

"Tuan Bara mau minum apa?" tanya bi Nuri.

"Tidak usah, bi. Terimakasih." jawab Elbara. "Yumna dimana?" tanya Elbara kemudian.

Bi Nuri kemudian mengarahkan telunjuknya ke arah balkon. Elbara pun menghampiri Yumna.

"Apa saya mengganggu?" tanya Elbara berbasa-basi.

"Tidak." jawab Yumna.

"Yumna..." panggil Elbara, yang tak lagi menyematkan panggilan nona pada Yumna.

"Apa penawaran saya membuatmu tertekan atau tidak nyaman?" tanya Elbara.

"Tidak." jawabnya singkat.

Lagi-lagi tak ada ekspresi apapun di wajah Yumna.

"Kamu yakin?" tanya Elbara sekali lagi. Yumna pun mengangguk.

"Baiklah. Karena kamu sudah yakin. Dan lukamu sudah sembuh. Besok kita langsung ke rumah kamu." kata Elbara.

"Untuk apa? Saya tidak ingin bertemu mereka lagi." balas Yumna.

"Mengurus berkas buat pernikahan kita." sahut Elbara.

Yumna pun tak menjawab lagi. Iya, dia hampir melupakan hal penting itu. Kalau saja Elbara tidak mengatakannya.

"Kenapa? Takut?" tanya Elbara kemudian.

"Entahlah. Saya tidak bisa menggambarkan apa yang saya rasakan." balas Yumna.

"Maka besok, kamu harus melepaskan semua rasa itu. Dan mengubur masa lalumu di sana." tutur Elbara.

Kali ini Yumna memberanikan diri menatap Elbara. Mencoba menerka maksud dari ucapan Elbara barusan.

"Kenapa menatap saya seperti itu? Kamu jadi terlihat lebih lugu dari Aluna." Elbara tersenyum.

Yumna kembali mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.

"Bersiaplah, mari kita pergi belanja." kata Elbara.

"Belanja?" sahut Yumna.

"Iya." balas Elbara. "Besok kamu akan pulang ke rumah itu sebagai calon istri Elbara. Tunjukkan pada mereka, bahwa kamu diratukan di keluarga saya. Kamu yang hidupnya lebih baik dari mereka. Pasti akan membuat mereka sangat menyedihkan."

"Ah...?!"

"Apa pak Bara sedang merencanakan balas dendam untukku?" batin Yumna.

"Tidak mungkin..." katanya lagi.

___

Keesokan harinya, Yumna sudah bersiap untuk pergi bersama Elbara. Dia memoles wajahnya dengan riasan tipis, agar tampak lebih segar dipandang. Cukup lama dia menatap dirinya di depan cermin.

"Nona kenapa?" tanya Bu Nuri.

"Apa menurut bibi aku kurusan...?" Yumna balik bertanya.

"Hanya sedikit. Tapi nona tetap cantik." balas bi Nuri.

"Bibi, pak Bara akan membawaku ke rumah." kata Yumna.

"Tuan Bara sudah bilang sama bibi." balas bi Nuri.

"Aku tidak sanggup, kalau harus menerima hinaan mereka lagi, bi." aku Yumna.

"Ada tuan Bara. Nona tidak perlu khawatirkan itu." bibi mencoba menenangkan Yumna.

"Hari ini adalah langkah awal nona Yumna, menuju kehidupan yang lebih baik. Nona harus semangat, ya...!!" tutur bibi lagi.

"Kehidupan yang lebih baik...? Aku bahkan tidak berani mengharapkan hal itu. Pernikahan ini hanya untuk menjauh dari orang-orang yang mengusik hidup kita. Tidak lebih..." batin Yumna.

Tak lama kemudian Niko datang menjemputnya. Sementara Elbara menunggu di dalam mobil.

Sepanjang perjalanan, Yumna terlihat gelisah. Tapi dia memilih diam, menyimpan rasa itu seorang diri. Tanpa dia sadari kalau Elbara menangkap keanehan pada dirinya.

Tiba di depan pagar rumah pak Jodi. Seperti biasanya, pak Igam menanyakan siapa mereka dan ingin bertemu siapa. Dia tidak sempat melihat Yumna, karena Niko langsung turun dan menutup pintu mobilnya lagi.

Setelah mendapat persetujuan dari tuan rumah, Niko kembali melajukan mobilnya mendekati teras rumah.

___

Di dalam rumah pak Jodi...

"Siapa yang datang, pa?" tanya Bu Indri.

"Katanya orang dari Wirnat Grup." jawab pak Jodi sambil.

"Mau apa mereka kemari?" tanya Bu Indri lagi.

"Kemungkinan bahas bisnis. Apalagi." sahut pak Jodi penuh percaya diri. "Karena kita tidak pernah ada urusan pribadi dengan mereka sebelumnya." imbuhnya.

"Wirnat Grup?!!" sahut Nasya. "Papa, bukankah itu yang masuk tiga besar raksasa bisnis?" mata Nasya tampak berbinar saat mengatakannya.

"Benar sekali." jawab papanya.

Tak lama kemudian tamu yang dimaksud itu masuk, dipandu oleh seorang ART. Namun, senyum mereka yang tadinya begitu ceria. Berangsur memudar. Saat mereka melihat sosok Yumna. Apalagi Nasya.

"Yumna dan pria itu lagi...?!!" batin Nasya.

"Papa, itu sugar daddy kakak yang pernah aku ceritakan." bisik Nasya pada pak Jodi.

"Katanya dari Wirnat Grup. Kenapa jadi pria busuk ini yang datang?" batin pak Jodi.

"Yumna..." gumam Bu Indri.

Mata Bu Indri berkaca-kaca, dia melangkah maju mendekati Yumna. Bukannya menyambut ibunya, Yumna justru selangkah lebih mundur. Mengindari kontak langsung dengan perempuan yang telah membesarkannya. Tentu saja hal itu sangat menyakitkan bagi Bu Indri.

"Akhirnya kamu pulang, nak..." ujarnya lagi dengan suara yang bergetar.

"Yumna tidak akan pulang." sahut Elbara. "Dia datang untuk mengambil dokumen miliknya." katanya lagi.

"Masih punya muka kamu datang ke rumah ini, hah?!!" sahut pak Jodi sambil menunjuk Yumna.

Pak Jodi beralih pada Elbara yang duduk tenang di atas kursi rodanya.

"Mengambil dokumen katamu. Sayang sekali, dia sudah tidak tercantum dalam dokumen apapun. Karena dia bukan siapa-siapa!!" ujarnya menegaskan.

"Saya sudah menghapus nama kamu. Karena kamu bukan keluarga kami." katanya, kembali menatap Yumna. "Tapi, saya masih berbaik hati. Karena tidak memberinya status mati." ujarnya dengan sarkas.

"Nasya, ambilkan kartu milik anak hina itu!" titahnya.

Nasya pun beranjak masuk untuk mengambil kartu keluarga milik Yumna. Kartu itu sudah diurus pak Jodi beberapa hari setelah Yumna pergi.

"Mereka bahkan sudah menghapus namaku secepat itu." ujar Yumna dalam hati.

Nasya kembali, menyerahkan selembar kertas pada papanya. Lalu pak Jodi menyerahkannya pada Niko.

"Ini yang kalian mau. Lalu pergilah!!" kata pak Jodi.

"Tuan." Niko kemudian menunjukkan pada Elbara.

Yumna pun melihatnya. Dan benar, hanya ada nama Yumna di sana.

"Jadi, Yumna bukan keluarga kalian ya..." Elbara tersenyum tipis. "Itu artinya, saya tidak perlu minta izin kalian untuk menikahi Yumna." ujar Elbara.

"Menikah?!!" Semua terkejut.

Pak Jodi berpikir, Yumna sudah terpesorok semakin dalam sampai dia rela menikah dengan sugar daddynya. Bahkan terbesit dalam benaknya, kalau Yumna sudah hamil anak Elbara. Dia benar-benar percaya dengan hasutan Nasya sebelumnya kejadian malam itu.

Sedangkan Nasya...

"Yumna..., Yumna...! Miris sekali kamu. Sudah dihapus dari daftar keluarga. Sekarang jatuh ke tangan pria cacat. Ganteng sih. Tapi..., harus bersanding dengan pria cacat ini. Ogah banget kalau aku. Mending aku kemana-mana, kak Damar ganteng, kaya, dan sehat."

"Yumna..., kamu mau menikah?" ujar Bu Indri dengan suara lembutnya.

Yumna tidak menjawabnya.

"Sudah kan? Kita bisa pergi." Yumna sengaja melakukan itu. Karena dia tidak ingin mendengar apapun lagi dari mulut mereka.

"Kamu sudah salah jalan, Yumna...!!" teriak pak Jodi.

"Kalau terjadi apa-apa sama kamu. Jangan libatkan kami. Karena kita bukan keluarga lagi!!" pak Jodi bicara dengan lantang.

Yumna mengangkat kepalanya, menatap pak Jodi dengan keberanian yang dia paksakan. Lalu berlahan dia maju beberapa langkah.

"Salah jalan atau tidak, itu bukan urusan anda!" balas Yumna menegaskan. "Sebaiknya. Anda urusi saja putri kesayangan anda. Agar dia bisa kembali ke jalan yang benar!!" ujar Yumna penuh sindiran.

"Apa maksud, kakak...?" sahut Nasya. Nada suaranya telah diatur sebaik mungkin, agar terdengar sangat menyedihkan di telinga orang-orang yang ada di sekitarnya.

"Jangan kurang ajar kamu!!!" bentak pak Jodi.

"Turunkan tanganmu...!!! Brengsek...!!!" seru Elbara.

Pak Jodi yang sudah mengangkat tangannya, dibuat kaget oleh suara itu. Tubuhnya bergetar, keringat dingin tiba-tiba muncul. Ketika dia melihat pist*l di tangan Elbara yang diarahkan padanya. Dia pun menurunkan tangannya yang hendak menampar Yumna.

Yumna pun menoleh ke belakang di saat yang sama. Dia tidak menyangka Elbara memiliki benda berbahaya itu.

"Papa...!!" Nasya yang ketakutan, segera bersembunyi di balik punggung pak Jodi.

"Yumna, kembali!" titah Elbara.

Yumna pun patuh, dia melangkah pelan untuk kembali ke sisi Elbara.

"Yumna...!" Bu Indri menahan tangan Yumna, saat Yumna melewatinya.

"Mama minta maaf..." ujar Bu Indri.

Yumna memang sakit hati, tapi hatinya terlalu lemah saat melihat Bu Indri seperti itu.

"Boleh mama peluk kamu?" ujarnya lagi.

Tanpa menunggu jawaban dari Yumna, Bu Indri langsung memeluk Yumna dengan erat. Menangis sesenggukan.

"Maa...!!" Nasya yang tak suka itu, langsung menarik tangan Bu Indri.

Yumna merasa iba pada Bu Indri. Tapi berusaha mengabaikannya. Dia pun pergi dari rumah itu bersama Elbara. Meninggalkan Niko yang masih bersama mereka.

"Kedepannya, semua yang menyangkut soal nona Yumna adalah urusan kami. Jadi jangan pernah berpikir untuk membuat masalah dengan nona Yumna lagi." tutur Niko memberi peringatan.

"Kamu bicara seperti ini, seolah sudah menemukan harta Karun berharga. Padahal dia hanya rongsokan, bekas para pria hidung belang." cibir pak Jodi.

Niko tersenyum lebar.

"Sepertinya Anda harus banyak belajar agar lebih pintar. Supaya bisa membedakan harta karun dengan rongsokan. Dan juga agar anda tahu, mana berlian dan mana batu kerikil." Niko menatap Nasya tanpa sungkan.

"Apa maksud kamu melihatku seperti itu?!!" sahut Nasya tak terima.

"Maaf, saya tiba-tiba teringat TPA. Tempat Pembuangan Akhir..." Niko kemudian berlalu pergi.

"Tempat pembuangan akhir..." gumam Nasya, masih mencerna maksud ucapan Niko.

"KAMU...!!" Nasya teriak histeris saat dia mulai sadar kalau tadi Niko sedang mengatainya sebagai tempat pembuangan sampah.

"Anak itu sudah keterlaluan." geram pak Jodi.

"Semoga kakak baik-baik saja. Aku khawatir, papa. Orang itu punya senjata. Pasti sangat kejam. Kalau kakak dianiaya gimana?" tutur Nasya seolah sangat mengkhawatirkan Yumna.

"Itu jalan yang dia pilih." balas pak Jodi, tak peduli dengan apapun yang terjadi pada Yumna.

"Pa, bukannya tadi papa bilang yang mau ketemu adalah orang dari Wirnat Grup. Jangan-jangan itu memang mereka." ujar Bu Indri.

"Tidak mungkin!" kata pak Jodi sangat yakin. "Yumna pasti menyuruh orang-orang itu mengaku sebagai orang suruhan Wirnat Grup. Biar diizinkan masuk ke rumah ini." begitulah yang dipikirkan pak Jodi.

......................

1
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
bagus ceritanya doubel up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!