Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.
Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.
Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.
Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.
Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.
Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???
Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???
Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Milikku
Pagi itu Nia nyaris tak bisa bangun karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Dia sangat kaget ketika membuka mata, ternyata Veron sedang memandanginya sejak tadi.
Seketika gadis itu berbalik badan memalingkan wajahnya yang merona karena malu.
Nia buru-buru mengecek tubuhnya dari balik selimut dan ternyata dia pun tidak mengenakan pakaian sehelai benangpun.
("Sial...l! Dimana bajuku...???)
("Aaaaaa....!! Aku pasti sudah gilaaaa....!! Apa yang telah kulakukan semalam...??!!")
"Selamat pagi Nia..." ucap lelaki itu sambil memeluknya dari belakang.
Veron membenamkan wajahnya di tengkuk Jenia, membuat gadis itu seketika menggeliat menahan geli.
Hembusan nafasnya terasa hangat, begitu juga dengan pelukannya.
"Kenapa diam saja Nia...?? Jangan bilang sekarang kau sedang malu padaku..??”
"Ku hitung sampai tiga, kalau kau tidak berbalik aku akan melakukannya lagi...!! satu, dua,..."
"Cih, kau itu sangat keterlaluan Veron...!!" pekiknya dengan suara serak sambil berbalik menghadap sang mafia dengan wajah cemberut, membuat Veron langsung mengulum senyum.
"Waahhh ada apa dengan suaramu Nia...?? Pipimu juga merah sekali, bagian lehermu pun banyak bekas merahnya...!! Siapa yang berani melakukan ini pada boneka kesayanganku hah...??!!" ucapnya makin menggoda.
Mendengar pertanyaan itu Nia hanya bisa pasrah menatap Veron tanpa berkata-kata.
Bahkan kini irama jantungnya mulai sulit di aiak keria sama.
"Maafkan aku Nia, semalam aku benar-benar sudah tidak bisa menahan diri..." ungkapnya sembari membelai lembut wajah cantik di hadapannya.
Seiujunya Veron merasa bersalah setelah apa yang telah dia lakukan pada Jenia tadi malam.
Dia tahu tindakannya tidak benar, namun ia juga tidak bisa mengendalikan perasaannya, meskipun Nia tidak menolak ajakannya.
Karena selama ini Veron sudah cukup kuat menahan diri, tapi kedatangan Jenia malam itu membuat pertahanannya runtuh.
Gadis cantik yang menjadi tawanannya ternyata jauh lebih memabukkan daripada alkohol.
Dia tidak pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya, meski dunianya sering di kelilingi banyak wanita cantik sekalipun.
"Kurasa kau tidak perlu minta maaf, lagipula aku juga tidak menyesal sudah melakukannya...” gumam Nia pelan.
Mendengar jawaban itu sedikit membuat Veron merasa lega.
"Aku menyukaimu Nia..." bisiknya sambil memeluk Jenia dengan hangat.
Sementara yang dipeluk hanya diam saja, antara makin merona dan bertambah malu tidak tahu harus merespon bagaimana.
Nia belum terbiasa mendengar pengakuan Veron yang sangat tiba-tiba.
Laki-laki yang awalnya bicara kasar dan menyebalkan kini berubah menjadi begitu hangat padanya.
Otaknya masih berusaha mencerna apakah dia sedang bermimpi atau benar-benar nyata.
Meskipun masih ada sedikit ketakutan di hatinya. tapi untuk saat ini Nia tidak ingin ambil pusing dengan semua yang sudah terjadi.
Sebagai orang yang pernah dibohongi habis-habisan oleh mantan kekasihnya, sebenarnya Nia cukup sulit mempercayai seseorang.
Namun entah kenapa hatinya terbuka begitu saja untuk Veron, tanpa alasan dan tanpa unsur paksaan sedikitpun.
"Kenapa dari tadi diam saja Nia...?? Apa kau juga menyukaiku...?? Atau jangan-jangan kau masih membenciku...??" tanya Veron menatapnya penasaran.
"Ehem, suaraku serak sekali Veron, aku haus...”Jawabnya jujur, membuat sang mafia tertawa
"Sepertinya kau terlalu banyak merintih Nia..." ucapnya dengan satu kecupan di keningnya.
Lelaki itu kemudian beranjak menuangkan segelas air untuknya.
"Setelah ini ayo bangun dan mandi bersamaku..."
"Apaaaaa....?? Tidak tidak tidak, aku mau mandi sendiri saja....!!" Tolaknya nampak panik.
"Haha, kenapa Nia...?? Kau takut aku melakukannya lagi.….??"
"Bu... bukan begitu. Aku hanya tidak terbiasa kalau harus mandi berdua..." gumamnya
tertunduk malu.
"Apa kakimu masih sakit...?? Bagian mana yang sakit...?? Kau bisa berjalan kan...?? Sini biar ku gendong saja..." ucap Veron dengan lembut sambil mengangkat Jenia ke kamar mandi.
Akhirnya mau tidak mau gadis itu menuruti apa kata sang mafia.
Perlahan Veron meletakkan tubuhnya ke dalam bathtub berisi air hangat.
Dan benar saja, rasa lelah di tubuhnya mulai berkurang setelah beberapa menit berendam di air yang hangat.
Nia semakin merasa rileks saat Veron memijat pelan bagian tengkuknya.
Namun sayangnya situasi itu tidak bertahan lama. Matanya langsung terbuka saat pijatan itu mulai menjalar ke mana-mana.
"Ehemm... kenapa bangun Nia...?? Kau tenang saja, aku tidak akan macam-macam..." bisiknya sambil menciumi leher dan mengigit telinganya.
("Bagaimana aku bisa tenang dalam situasi begini..?? juniornya saja sudah keras mengganjal punggungku sejak tadi...!! Cih aku tidak percaya...!! Antara kepala atas dan kepala bawahnya sungguh tidak singkron...!!")
Beberapa saat kemudian samar-samar Nia kembali dibuat mendesah, ketika tangan Veron mulai menyusuri area sensititnya.
"Jika keberatan kau boleh menolaknya Nia...." Bisiknya pelan.
Dan sialnya Nia tidak akan pernah mampu menolaknya. Sentuhan sang mafia benar-benar membuatnya terhipnotis dan terbuai dalam kenikmatan, hingga membuatnya ingin merasakan lagi dan lagi sampal puas.
Jemarinya mampu memanjakan setiap jengkal di lekuk tubuh Jenia. hingga dengan sadar, akhirnya wanita cantik itu kini berbalik menghadap Veron dan membalas ciumannya.
"Apa masih sakit...??"
"Hmmm sedikit..."
"Kali ini aku akan pelan-pelan..." bisiknya tersenyum.
Perlahan Nia mulai membuka kedua kakinya dan beralih posisi duduk di atas pangkuan sang mafia.
Tanpa waktu lama, suara Jeritannya yang parau pun terdengar makin nyaring, ketika batang kenikmatan itu berhasil menerobos dan memenuhi titik sensitifnya hingga ke dasar.
Begitu juga dengan Veron, celah sempit yang terasa begitu hangat membuat napasnya semakin berat dihimpit nikmat yang luar biasa.
Suasana di kamar mandi kian memanas diiringi suara desahan yang terus bersahutan selama beberapa saat.
Sambil mengigit bibirnya, Nia mencengkram rambut sang mafia ketika Veron memeluknya dengan erat sampai keduanya sama-sama menuju puncak kenikmatan.
Bukannya rileks, kini Nasib kedua lutut Nia makin terasa lemas karena ulah Veron. Dia juga sangat kaget ketika melihat dirinya di hadapan cermin.
"Haaahhh apa-apaan ini...??" pekiknya saat menyadari sekujur tubuhnya penuh dengan corak berwarna merah.
"Itu adalah hasil karya seni buatanku, bagaimana...?? Apa kau menyukainya...??" ucap Veron dengan senyum penuh kebanggaan.
"Cih... kau harus bertanggung jawab Veron, bagaimana ini...?? Sekarang kulitku nampak
seperti orang yang sedang alergi..." gumamnya cemberut.
"Tenang saja Nia, aku akan bertanggung jawab penuh atas semua yang telah kulakukan padamu, bahkan jika kau bersedia aku akan menikahimu sekarang juga...!!" sahutnya meyakinkan.
"Waahh, lancar sekali cara bicaramu, sekarang coba kau jujur padaku, sudah berapa wanita yang terkena bujuk rayumu hah...??" tanya Nia menatapnya penuh curiga.
"Kau adalah yang pertama dan satu-satunya Nia, jangan samakan aku dengan mantanmu...!!
aku bukan Alex yang hobi gonta ganti wanita setiap semalam...!!" Jawabnya jujur.
"Benarkah...?? Tapi kau kan juga sering ke Fantasia...??"
"Tentu saja Nia, aku sering ke sana karena tempat itu adalah milikku, dan semua yang bekerja di sana adalah karyawanku..."
"Aaaaaa.... Lalu bagaimana dengan para wanita yang ada di sana...?? Bukankah mereka sangat cantik...??" tanya Nia makin penasaran.
"Mereka memang sangat cantik, tapi aku tidak tertarik pada kupu-kupu...!!"
"Kau boleh tidak percaya padaku Nia, sebab kau sendiri tahu bahwa aku bukanlah laki-laki yang baik. Pekerjaanku kotor, dan kedua tanganku berlumur dosa dari sekian banyak nyawa
yang telah kurenggut..." ungkapnya lagi.
Veron dengan gamblang mengakui semua perbuatannya di hadapan Jenia. meskipun ada sebagian yang masih belum diceritakan, namun dia yakin Jenia pasti akan tahu ketika sudah
tiba waktunya.
Seketika Jenia terdiam saat mendengar semua jawaban Veron. Penjelasannya seolah menjadi kalimat telak atas keraguannya selama ini.
"Jadi bagaimana denganku...??" apa aku hanya sebatas boneka pemuas nafsu bagimu...??"
"Bicara apa kau Nia...??!! Mulai sekarang dan seterusnya kau adalah wanitaku, milikku,
kesayanganku dan...." Ucapnya menggantung.
"Dan apa...??" tanya Nia penasaran.
"Dan makanan favoritku haha..." sahutaya dengan satu kecupan mendarat di bibir Jenia.
Namun baru saia Nia ingin membalasnya tiba-tiba terdengar suara aneh dari dalam perutaya yang membuat Veron tertawa.
"Aku juga lapar Nia, kalau begitu sekarang ayo kita makan….”
Alangkah terkejutaya Nia saat melihat Vivian yang tengah menyusun makanan di atas meja.
Wanita cantik itu juga nampak kaget mendapati Jenia dan Veron keluar dari kamar bersamaan.
…………………………………………………………………………………