Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Pagi datang tanpa permisi. Cahaya pucat muncul di sela pepohonan, menyibak sedikit kabut yang semalaman menutup hutan seperti rahasia yang tidak ingin dibuka.
Kabut belum sepenuhnya menghilang ketika Senja perlahan terbangun, dengan kepala berat dan tubuh yang terasa asing, seakan semalam ia bukan hanya melawan dingin, tetapi juga kehilangan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dingin telah pergi, digantikan rasa hangat yang asing dan kesadaran yang membuat jantungnya berdetak terlalu cepat. Emergency blanket masih menyelimuti tubuhnya, namun kini terasa sesak. Bukan karena udara, melainkan karena ingatan.
Ia menarik napas pendek sebelum bangkit.
"Sshhtt..." Senja mendesis pelan, sebuah sinyal yang muncul secara reflek ketika pergerakan kecilnya menciptakan rasa perih.
Bukan sakit yang menjerit, melainkan nyeri halus yang mengingatkan diam-diam hal memalukan bahwa tubuhnya telah melewati batas yang tak pernah ia lewati sebelumnya.
Senja menggigit bibir. Jarinya mencengkeram selimut darurat yang kini hanya menutup sebagian tubuhnya. Ingatan malam itu datang berlapis-lapis, kabur di tepi, tajam di tengah. Dingin yang membunuh, nyaman dekapan hangat, napas yang bertabrakan… lalu gelap yang tidak sepenuhnya gulita.
Ia memejamkan mata.
Om Sagara.
Nama itu bergetar di dadanya, bukan sebagai panggilan melainkan sebagai fakta yang terlalu besar untuk diterima dalam satu tarikan napas.
Sementara itu, tempat yang cukup berjarak darinya, Sagara duduk terpaku, bersandar di batang pohon. Punggungnya tegak tapi bahunya turun. Pakaian sudah kembali melekat di tubuh pria itu, wajahnya menatap kosong ke depan, seolah hutan lebih aman dipandangi daripada Senja.
Satu kesadaran pahit yang menghantam lebih keras dari dingin malam. Ia telah menyelamatkan nyawa Senja.
Namun malam itu… juga telah menyentuh mahkota yang seharusnya tak dirusak. Malam yang mengubah hidup mereka berdua untuk selamanya.
Mendengar desisan samar di belakangnya, Sagara tersentak. Kepalanya menoleh cepat, lalu berhenti di tengah, seperti ragu apakah pantas menatap gadis itu.
"Sudah bangun?"
Senja menoleh ke sumber suara yang datang dari samping, rendah, terjaga, dan penuh jarak. Ia melihat Sagara duduk sedikit menjauh, seolah menjaga ruang yang tak bersekat. Gurat wajah pria itu tampak keras, bukan dingin, melainkan terkunci.
"Iya," jawab Senja pelan. Entah mengapa suaranya pagi ini terdengar berbeda di telinganya sendiri.
Ada jeda yang terasa panjang. Dalam jeda itu kecanggungan menyelimuti suasana.
"Gimana badanmu?" tanya Sagara sekali lagi dengan tanpa menoleh, seakan menatap wajah Senja butuh nyali sebesar gunung.
"Lebih… hangat." Senja ragu memilih kata.
Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat. Senja tahu, Sagara tahu, bahwa yang mereka bicarakan bukan sekadar suhu tubuh.
"Nyeri?"
Pertanyaan itu terlepas begitu saja dari bibir Sagara, lalu ia menarik napas, seperti baru sadar pertanyaannya barusan terlalu dekat dengan sesuatu yang tidak ingin ia sentuh.
Senja sontak menunduk. Pipi gadis itu memanas hingga menimbulkan rona. Malu dan sesal bercampur jadi satu.
"Sedikit," jawabnya jujur, sangat pelan.
Sagara menutup mata. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal di lutut.
"Aku minta maaf," katanya tegas tapi berat. "Untuk… semua."
Tidak ada penjelasan. Tidak ada pembelaan. Hanya kalimat pendek yang mengandung lebih banyak beban daripada yang bisa ia bawa.
Senja tidak langsung menjawab. Ia merapikan selimut, mencoba duduk dengan hati-hati. Setiap gerakan kecil membuatnya sadar, yang semalam itu benar-benar pertama. Ia bukan bodoh, bukan tak tahu apa-apa. Tapi pengetahuan tidak pernah sama dengan pengalaman.
"Aku nggak menyalahkan Om," katanya akhirnya.
Sagara menoleh cepat. Tatapannya penuh konflik.
"Itu bukan alasan," balasnya. "Aku yang seharusnya---"
"Om menyelamatkan aku," potong Senja cepat, tapi masih terkesan lembut. "Kalau Om nggak melakukan itu… aku mungkin nggak bangun pagi ini."
Kalimat itu menghantam tepat di dada Sagara. Ia ingin menyangkal, ingin berkata bahwa ada garis yang seharusnya tak dilangkahi, namun ingatan semalam membantahnya dengan kejam.
Dinding pertahanan yang begitu kokoh, runtuh dalam semalam. Kenikmatan yang bahkan disesapnya lebih dari sekali itu justru kini harus diratapi.
Sagara berdiri, meraih tas gunungnya. "Kita harus turun," katanya cepat. "Sebelum kabut naik lagi."
Nada suaranya tegas, seperti komando. Seperti dinding dingin yang menjulang ke langit.
"Oh." Senja menurut. Selalu begitu.
Ia bangkit perlahan. Saat berdiri, kakinya sedikit goyah. Refleks, Sagara mengulurkan tangan, namun berhenti di udara, lalu menariknya kembali.
"Aku bisa," kata Senja cepat, meski sebenarnya tidak yakin.
Sagara mengangguk singkat. "Kalau pusing, bilang."
Mereka berjalan dengan jarak yang aneh. Tidak terlalu jauh, tidak pula dekat. Seolah ada garis tak kasat mata di antara mereka, garis yang semalam terlewati, dan pagi ini ingin mereka pura-pura tidak ada.
Langkah Senja tertinggal. Ia memperhatikan punggung Sagara. Pria itu terlihat sama seperti kemarin, dingin, tegap, dan asing. Namun Senja tahu, ada sesuatu yang telah berubah.
Ia menggigit bibir.
"Om…" panggilnya lagi.
Sagara berhenti, tapi tidak menoleh.
"Semalam…" Senja terdiam. Jantungnya berdegup keras. "Itu… andai aku nggak lemah."
Kalimat itu meluncur polos, tanpa tuduhan, tanpa drama. Hanya kebingungan seorang gadis delapan belas tahun yang baru bangun di pagi yang tidak lagi sama.
Sagara menoleh. Tatapan mereka bertemu dan pria dewasa itu merasa dadanya seperti diremas.
"Tidak," jawabnya tegas. Terlalu tegas. "Itu salahku."
Senja mengernyit kecil. "Tapi aku nggak dipaksa."
Kalimat itu justru membuat wajah Sagara semakin keras.
"Justru itu masalahnya," katanya pelan, getir. "Kamu masih terlalu muda untuk berada di situasi seperti itu."
Senja menelan ludah. Kata muda terasa seperti garis pemisah yang tiba-tiba dipertegas.
"Om nyesel?" tanyanya lirih.
Pertanyaan itu menggantung di udara, angin tiba-tiba bertiup dingin meski matahari mulai muncul.
Sagara menghela napas panjang. Seolah menimbang setiap kata agar tidak melukai.
"Ya, menyesal, karena kamu harus mengalami itu… dengan cara seperti ini. Dengan pria asing."
Itu bukan jawaban yang Senja harapkan. Bukan pula yang ia takuti. Namun entah kenapa, dadanya tetap terasa sesak.
Mereka melanjutkan perjalanan tanpa bicara.
Tak lama, dari kejauhan, suara langkah terdengar. Teriakan samar memanggil nama Senja.
"Senja! Hei... Senja!"
Sagara menoleh refleks. "Tim pencari."
Beberapa menit kemudian, hutan yang sunyi berubah gaduh oleh suara gerombolan orang dewasa bercampur dengan teriakan panik. Ada tim SAR, pendaki lain.
Dan di antara mereka...
"GARA!"
Suara itu keras, khas, dan penuh emosi yang tak ditahan. Seorang pria tua berambut putih acak-acakan menerobos semak. Wajahnya yang pucat seketika berubah cerah begitu melihat cucunya berdiri utuh.
"Kamu ini bikin jantung kakek lompat-lompat!" hardiknya sambil menepuk-nepuk dada sendiri. "Disuruh ikut pendakian biar sehat, bukan biar hilang satu malam!"
Sagara menghela napas. "Kek---"
"Diam dulu, Kakek masih kesal," potong pria tua bernama Adam itu, lalu matanya melirik Senja, yang berdiri kikuk di belakang Sagara. Ekspresinya langsung berubah melembut, tapi ada kecurigaan di sorot matanya. "Ini siapa?"
"Senja," jawab Sagara cepat. "Dia yang---"
"---yang kamu selamatkan," sambung kakeknya sambil mengangguk-angguk paham. "Bagus. Kalau kamu pulang cuma bawa jaket basah, itu sudah biasa. Tapi pulang bawa nyawa orang itu baru namanya laki-laki."
Sagara terdiam. Senja menunduk, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Kakek Sagara mendekat, mengamati Senja dari kepala sampai kaki. "Kamu baik-baik saja, Nak?"
"Iya, Om," jawab Senja pelan.
"Bagus." Ia menoleh ke Sagara, menyipitkan mata. "Kamu kelihatan kayak habis dihajar semalaman. Jangan bilang kamu cuma kedinginan."
"Kek...," gumam Sagara seperti peringatan halus.
Kakeknya terkekeh. "Tenang. Kakek cuma bercanda." Lalu suaranya lebih pelan, nyaris berbisik, dan itu hanya di dengar Sagara, "Tapi wajah bersalahmu itu… mencurigakan."
Sagara menegakkan badan. "Kek."
"Oke, oke." Ia mengangkat tangan menyerah. "Awas kalau sampai melewati batas."
Deg!
Jantung Sagara serasa mau lepas dari sarangnya. Dia tahu ucapan sang kakek bukan sekedar peringatan, tapi juga ancaman yang siap-siap mempersembahkan pantatnya untuk dicambuk.
Tak lama, segerombolan remaja datang tergopoh-gopoh. Jaket warna-warni, wajah cemas.
"Senja!"
Itu suara Deka. Wajahnya pucat, mata membesar, napas terengah. Dia terkesan sangat peduli tanpa dibuat-buat, tapi tatapan Senja sudah berbeda, tak lagi merasa ada yang spesial pada diri Deka.
"Aku takut banget kamu kenapa-kenapa," ucap Deka.
Jelita yang muncul dari belakang matanya tampak berkaca-kaca dan langsung memeluk Senja. "Astaga, kamu bikin kami panik tauk! Aku dan Deka nyari'in kamu semalaman."
Senja kaku dalam pelukan Jelita. Bau parfum Deka yang sangat ia hafal kini menguar di tubuh sahabatnya itu. Dadanya terasa sesak.
Hatinya berubah dingin, lebih dingin dari kabut semalam. Ia melihat semuanya kini dengan mata berbeda. Jelita yang paling dipercayai sebelumnya kini menjadi manusia yang paling ingin ia hindari.
"Aku tersesat," jawabnya pendek.
Jelita sontak mengurai pelukannya, terkejut, penuh tanya, seakan sangat menyayangkan hal itu.
Deka meraih wajah Senja, memeriksanya dengan berlebihan. "Kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Aku khawatir banget."
Khawatir?
Kata itu terasa seperti lelucon pahit. Tidak lucu, tidak mengundang tertawa, melainkan perih.
Jelita menggenggam tangan Senja. "Maafin aku ya, kemarin aku ninggalin kami. Aku pikir kamu ikut rombongan lainnya."
Senja menatap mata sahabatnya, tidak ada rasa bersalah di sana, hanya kepanikan karena rahasia mereka hampir terbongkar.
"Gak apa-apa," jawab Senja lembut. Ia memilih berpura-pura. Bukan karena bodoh, tapi karena lelah.
"Kamu baik-baik saja 'kan?"
"Iya. Aku baik," jawabnya singkat.
Mata Deka menyoroti Sagara sekilas, lalu kembali ke Senja. "Maafin aku ya, kemarin aku kurang jagain kamu."
Senja menatap wajah Deka lama. Wajah yang semalam ia lihat di balik semak. Wajah yang mengkhianati dengan senyum yang sama.
"Sudah aku katakan tidak apa-apa. Aku yang pergi sendiri," terang Senja pada akhirnya.
Demi apapun, dia sangat jengah berhadapan dengan Deka dan Jelita yang saat ini seperti berada di panggung opera, penuh sandiwara.
Jelita menghela napas lega berlebihan. "Syukurlah. Kamu tuh ceroboh. Untung ada Om ini."
Sagara hanya mengangguk singkat sembari menjaga jarak.
Kakek menyenggol siku Sagara pelan. "Om ini kelihatannya jadi pahlawan, ya."
"Kek," desis Sagara.
Di ambulans kecil, Senja duduk terdiam. Selimut menutupi bahunya. Setiap guncangan kecil mengingatkannya pada tubuhnya sendiri, pada perubahan yang belum ia cerna dengan sempurna.
Deka duduk di seberangnya, menatap dengan khawatir. "Kalau kamu butuh apa-apa, bilang ya. Aku pacarmu."
Pacar?
Kata itu terasa asing sekarang. Bahkan perasaan spesialnya kepada Deka menguap.
Senja mengangguk tanpa senyum.
"Aku kesana sebentar ya. Beli roti. Kamu pasti belum makan dari kemarin."
Lagi dan lagi Senja hanya mengangguk.
Sagara berdiri di luar ambulans, berbicara dengan tim medis. Ia sedang menjelaskan kondisi Senja dengan tenang dan singkat. Tangannya tetap menjaga jarak, sikapnya kembali profesional, terlalu rapi untuk seseorang yang semalam kehilangan kendali.
Senja memperhatikan Sagara dari jauh. Pria itu tidak pernah menoleh ke arahnya, seolah takut satu pandangan saja bisa membuka kembali sesuatu yang belum siap ia hadapi.
Ketika akhirnya Senja keluar dari ambulans dan mendekat.
"Om…" panggilnya sekali lagi.
Sagara menoleh. Kali ini ia menoleh penuh.
"Apa kita…" Senja menggigit bibir. "Setelah ini… gimana?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi mengandung segalanya.
Sagara menatap Senja lama. Terlalu lama untuk sekadar jawaban basa-basi.
"Kamu pulang dulu. Fokus sama dirimu. Sekolahmu."
"Terus Om?" tanya Senja pelan.
Sagara mengalihkan pandangan. "Aku akan menyelesaikan yang harus diselesaikan."
Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun dan justru membuat Senja semakin gelisah.
"Oh," ucapnya lagi. Kata yang sama seperti tadi pagi. Namun kini terasa lebih perih.
Sagara melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti. Tidak menoleh, tapi suaranya terdengar berat.
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Kalimat itu membuat Senja menahan napas.
Ia ingin bertanya. Ia ingin meminta.
Ia ingin mengatakan banyak hal.
Namun yang keluar hanya satu. "Iya, Om."
Bersambung~~