Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjerat Leher
Semua foto-foto berhasil diunggah oleh salah satu teman Pie di facebook dan menandai akun milik Pie.
"Kenapa ada fotomu bersama laki-laki? Kan sudah kubilang aku tak suka kau berdekatan dengan laki-laki lain. Hapus!" Lagi, Tama menekan Pie.
Dalam foto-foto tersebut Pie tidak hanya berdua dengan Zal, mereka berfoto satu kelas, dan foto lainnya hanya dengan beberapa orang saja.
"Itu kenang-kenanganku di SMA, Tama. Aku tak bisa menghapusnya."
"Oh? Jadi kau lebih memilih teman-temanmu itu daripada aku? Kau anggap aku siapa, Pie? Orang lain? Bukan pacarmu?"
Pie menghela napas dalam.
"Baiklah, aku tidak akan menyimpannya."
Pie lelah dengan drama ini. Rasanya ada tali yang menjerat di lehernya. Baru kali ini ia terjerat oleh laki-laki dan sulit lepas.
Tama pria yang baik dan dewasa di lain waktu. Pria itu seringkali menemani Pie begadang untuk mengerjakan tugas sekolah, menyemangati Pie, mendukung pembelajaran yang diikuti Pie walaupun harus 24jam berkomunikasi baik via pesan maupun telepon. Namun, sikap posesif Tama juga membuat Pie lelah.
"Bagus, itu baru Pie pacarku."
"Kau tahu, aku melakukan ini hanya karena aku takut kehilanganmu, aku tak ingin kau salah pergaulan, Pie. Cobalah untuk memahamiku."
Pie hanya membaca pesan dari Tama. Ia akan membalasnya nanti.
Usai kelulusan, seluruh siswa kelas XII libur. Mereka tinggal menunggu pembagian rapot. Dan melanjutkan impian mereka masing-masing.
Pie berniat melamar pekerjaan di tempat orang. Ia ingin mencari pengalaman tanpa ada campur tangan orang tuanya.
Dia berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di sebuah resto tak jauh dari rumahnya. Pie tak memberitahu Tama tentang dirinya bekerja di luar. Hal itu menyebabkan pria itu sangat marah karena Pie sulit dihubungi.
"Aku bekerja di resto sudah dua minggu, Tama."
"Kenapa tak memberitahuku?"
"Maaf, aku tak sempat."
"Benarkah? Bukan karena kau memiliki pria lain?"
"Apa rekan kerjamu laki-laki? Jika iya, berhentilah. Aku tak suka."
Lagi, Pie menghela napas dalam.
"Tama, kita putus saja. Maaf untuk semua kesalahanku sebagai kekasihmu. Terima kasih atas semua waktumu, Tama."
Pie sudah tak sanggup akan tekanan Tama yang makin hari semakin berat. Pulang dari bekerja Pie mampir untuk membeli kartu perdana baru. Ia segera mengganti nomor telepon dan membuang nomor lamanya.
"Kenapa aku baru sekarang berani melakukan ini? Toh dia jauh dan tak serius denganku. Dia hanya membual. Sungguh, berapa kali aku tertipu dengan janji manisnya dan dengan bodohnya aku percaya. Sialaaan." Pie menggerutu selama perjalanan pulang.
Kini, batinnya merasa ringan. Ia masih mencintai Tama. Namun, ia akan melupakan pria itu dan hidup dengan 'normal' seperti sebelumnya.
Pie beberapa kali melarikan diri dari Tama. Sebab, Tama selalu menghubungi teman-teman Pie untuk bisa berkomunikasi dengan Pie.
"Tama menanyakanmu, Pie. Kau serius sudah putus dengannya? Ada apa?" Okta yang menurut Pie dewasa di antara gengnya bertanya.
"Aku serius. Kami sudah putus. Dan tolong jangan beritahu akun facebook terbaruku padanya, Ta."
"Okay."
Pie berkali-kali membuat akun baru, namun Tama selalu menemukan. Karena Pie setiap membuat akun baru, ia selalu meng-add teman-teman gengnya dan memberitahu mereka bahwa itu dia.
Hal itu, menyebabkan Tama dengan mudah menemukannya lagi dan lagi.
Pie kembali membuat akun baru dan tidak memasang foto dirinya, informasi profil akun pun ia buat palsu, Pie ingin tenang. Jadi kali ini ia tak mau menambahkan teman-teman gengnya sebagai friendlist facebooknya. Pie memulai 'kehidupan' baru di sana.
("Pie, makanlah. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi."
Kim menatap Pie dengan tersenyum, mereka sedang berada di kantin pagi itu.
"Kau tidak makan?" Kim menggeleng, senyum di bibirnya tak luntur ketika menatap Pie.)
Kedua mata Pie mengerjap lalu menyipit kala sinar matahari masuk ke dalam kamarnya. Ia baru bangun dari tidur siangnya.
"Kenapa aku bermimpi Kim?" Gumam Pie, hatinya menghangat kala mengingat Kim yang tersenyum padanya.
Ia menggelengkan kepala untuk menolak perasaan itu.
"Mungkin hanya bunga tidur." Pie beranjak dari kamarnya untuk mencuci wajah, perutnya lapar karena sepulangnya dari kebun belum sempat makan. Ia pulang, mandi dan langsung tidur.
Pie sedang libur bekerja di resto, besok ia akan masuk kembali.
"Itu langganan di resto, Pie. Beliau pasti pesan nasi goreng dan teh tawar. Bisa kau buatkan teh tawar panas?" Reami, sang rekan kerja di resto sekaligus keponakan bos sedang menyiapkan nasi goreng.
"Baik, Kak." Pie segera membuat teh tawar sesuai pesanan.
"Tunggu, sedotannya?"
Reami mengernyitkan keningnya menatap Pie yang mengambil sedotan dari dalam laci.
"Pie, kau bercanda? Teh panas menggunakan sedotan?"
"Huh? Apa tidak, Kak?" Beo Pie.
Reami tersenyum kecil.
"Tidak, Pie." Ia berlalu membawa nampan berisi pesanan kepada pelanggan yang sudah menunggu.
Pie merasa malu dengan hal barusan.
"Pie, aku minggu depan akan pulang ke kampung halamanku di Sumatera." Mereka sedang bersantai sembari menonton tv di resto saat sepi pembeli.
"Kenapa mendadak, Kak?"
"Tidak mendadak. Sudah lama."
Pie mengangguk.
"Apa kakak sudah ada pekerjaan di sana?"
"Ya,dan aku juga akan menikah dengan pacarku, Pie."
"Oh, kupikir Kakak jomblo. Hahaha."
"Apa aku terlihat jomblo Pie?" Reami tertawa kecil.
"Ya. Beberapa minggu bekerja, kau tak terlihat menelepon dengan seseorang atau sibuk dengan ponsel layaknya memiliki seorang kekasih."
"Karena dia sibuk, Pie. Dia juga bekerja dan ketika malam kami baru bisa berkomunikasi." Jelas Reami tersenyum menatap Pie.
Pie tersenyum kecut ketika mengingat Tama yang menghubunginya 24jam walaupun pria itu bekerja.
"Ah, apa dia benar-benar bekerja? Atau pengangguran?" Gumam Pie pelan.
"Kau mengatakan sesuatu, Pie?" Reami mengalihkan pandangannya ke pada Pie.
"Tidak ada." Pie menggeleng cepat.
"Besok ada pesanan katering. Kau bisa datang lebih pagi, Pie?" Pesan dari rekan kerjanya di resto.
Pie sedang berbaring di kamarnya membaca pesan masuk.
"Bisa, Kak."
"Pintu tidak aku kunci, hanya kuganjal dengan tabung gas. Kau bisa mendorongnya, berjaga-jaga jika aku belum bangun."
"Baik, Kak."
Pie mencoba memejamkan mata karena besok harus berangkat lebih pagi untuk menyiapkan pesanan katering.
Pie bangun sesuai alarm yang dinyalakannya, ia bergegas ke kamar mandi untuk bersiap.
"Kau mau ke mana, Pie?" Tegur Mama yang sedang memasak melihat Pie mengeluarkan motor.
"Bekerja, Ma."
"Kau tahu ini jam berapa?"
"Setengah enam."
"Lalu?"
"Ada pesanan katering hari ini jadi aku berangkat lebih pagi supaya tidak terlambat menyelesaikan pesanan."
"Oh, begitu. Apa kau berani? Hari masih gelap, Pie."
"Aku berani, Ma. Aku pergi dulu." Usai pamit dengan Mama, Pie segera memutar gas menuju resto yang memakan waktu lima belas menit.
***Kalimat yang ada di dalam kurung menandakan peristiwa di dalam mimpi.