Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Rasa Iba
Mansion Gemilar.
Bangunan besar yang berdiri kokoh dan dikelilingi oleh pohon-pohon besar itu terasa seperti sebuah katedral yang sunyi, di mana setiap napas penghuninya bergema melawan dinding-dinding marmer yang dingin. Amplop dari Elfahreza masih tersimpan di bawah bantal, isinya bagaikan bara api yang terus membakar kesadaran Shabiya. Pernikahan palsu, delusi klinis, dan penghapusan identitas secara administratif. Semuanya adalah bukti otentik bahwa ia sedang hidup di dalam sebuah kebohongan yang dirancang dengan presisi oleh seorang pria jenius yang sakit.
Namun, di dalam perutnya, ada sesuatu yang nyata. Sesuatu yang bukan delusi, bukan bagian dari skenario seseorang, dan bukan properti dari sandiwara Galen. Ada denyut kehidupan yang merupakan perpaduan antara dirinya dan pria yang kini ia takuti sekaligus ia kasihani.
Shabiya menatap dirinya di cermin rias. Ia melepaskan jepit rambut yang menahan sanggulnya, membiarkan rambut panjangnya tergerai acak. Sebuah tindakan pemberontakan kecil terhadap protokol kerapian seorang Thana. Ia akhir-akhir ini sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah masih ada sisa-sisa kemanusiaan di balik mata kelam Galen? Jika Galen tahu bahwa ada darah dagingnya yang benar-benar nyata, apakah sang pemilik kegelapan akan berhenti membangun monumen masa lalu dan mulai menatap masa depan?
Tapi pada kenyataannya, meski pria itu terlihat senang, selalu ada niat terselubung di setiap tindakannya. Reaksi yang diberikan olehnya tidak lebih seperti sedang memenangkan tender besar.
Wanita itu masih mencerna semua informasi yang diberikan oleh Reza dan Rigel. Saling mengaitkannya yang ternyata memang masuk akal jika dipikirkan. Tapi, dalam lamunan itu sekilas rasa penasaran menghampiri benak Shabiya kembali.
Apa yang pernah di alami oleh suaminya sampai membentuknya menjadi karakter seperti ini? Lalu dimana keberadaan keluarga suaminya? Karena yang Shabiya tahu, hanya Rigel kerabat dari suaminya. Mencari informasi latar belakang suaminya di internet pun tidak membuahkan hasil. Bahkan ayahnya saja tidak mengetahui apa-apa.
Shabiya ingin sekali mengenal suaminya lebih jauh, yang mungkin saja baik dan buruk suaminya masih bisa dia terima. Namun sayangnya, selama pernikahan palsu ini berjalan, pria itu tidak memberinya akses sama sekali untuk menyelami ruang pribadi kehidupannya selain tentang wanita itu, Thana.
"Apa dia anak yatim piatu yang terbuang, ya? Tapi, 'kan dia punya Rigel sebagai sepupunya." Shabiya bermonolog sendiri, berpikir jenaka kemungkinan yang bisa saja memang benar.
Dan malam ini, ketika waktu hampir menunjukkan tengah malam, mata Shabiya belum juga ingin beristirahat. Ia akan mencoba peruntungan terkahir untuk kembali mengetes rasa iba yang tersisa di hatinya.
Galen pulang terlambat, namun langkahnya tidak lagi berat seperti malam-malam penuh amarah sebelumnya. Ia masuk ke kamar dengan wajah yang tampak lebih tenang, meskipun aura dominasinya tetap memenuhi ruangan. Ia melihat Shabiya duduk di tepi ranjang, mengenakan gaun tidur putih sederhana, tanpa riasan, tanpa aroma melati yang biasa ia paksakan.
Galen mengernyitkan dahi. "Kenapa kau tidak memakai parfummu, Sayang? Dan rambutmu... kenapa dibiarkan berantakan?"
Shabiya berdiri, menatap Galen dengan pandangan yang paling jujur yang pernah ia berikan. "Duduklah, Galen. Aku ingin kita berbicara sebagai pasangan pada umumnya. Bukan sebagai seorang tuan dan tawanannya, mungkin? Atau bukan sebagai Galen dan bayangan Thana."
Galen terdiam, sedikit tertegun oleh nada bicara Shabiya yang begitu jernih dan tegas. Ia meletakkan tas kerjanya dan duduk di kursi armchair beludru, melonggarkan dasinya. "Kau tampak berbeda malam ini. Ada apa?"
Shabiya menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa seperti genderang perang. Ia melangkah mendekat, lalu berlutut di depan Galen, meletakkan kedua tangannya di atas lutut pria itu.
"Galen, aku tahu segalanya. Aku tahu tentang pernikahan kita yang tidak sah. Aku tahu tentang catatan medis itu. Aku tahu kau sedang mencoba menghidupkan kembali seseorang yang sudah tidak ada," suara Shabiya bergetar, namun tetap stabil.
Rahang Galen seketika mengeras. Matanya berubah menjadi sedingin es. "Jika itu yang ingin kau bahas, pembicaraan ini selesai. Elfahreza telah meracuni pikiranmu—"
"Tunggu!" Shabiya memotong, menatap langsung ke dalam manik mata Galen. "Ada satu hal yang tidak bisa dipalsukan oleh Elfahreza, tidak bisa direkayasa oleh catatan medis, dan tidak bisa dihapus oleh memorimu tentang Thana."
Shabiya meraih tangan Galen yang besar dan kaku, lalu menuntunnya perlahan untuk menyentuh perutnya yang masih rata. Galen mencoba menarik tangannya, namun Shabiya menahannya dengan kekuatan yang tak terduga.
"Kau tidak lupa jika aku sedang mengandung anak kamu, 'kan? Dan ini bukan anak Thana atau siapapun wanita yang pernah menjadi masa lalumu. Janin ini bukan reinkarnasi dari masa lalumu. Ini adalah anak kita. Anak yang lahir dari kenyataan, bukan dari delusi."
Waktu seolah membeku. Detik jam di dinding terdengar seperti dentuman palu besar. Galen menatap tangannya yang menempel di perut Shabiya, lalu menatap wajah istrinya. Ada sebuah transisi emosi yang luar biasa cepat di wajah Galen, dari keterkejutan yang murni, ketakutan, hingga sebuah binar yang belum pernah Shabiya lihat sebelumnya.
Jika kalian pikir pria itu melupakan janin yang berada di dalam rahim Shabiya, jawabannya adalah salah. Galen selalu mengingatnya. Hanya saja, emosi yang meluap begitu saja membuat pria itu membuang segala pikiran yang cukup tidak penting
"Aku mengandung anakmu. Anak Shabiya dan Galen," Shabiya menekankan namanya sendiri. "Galen, aku mohon ... berhentilah. Berhentilah mencoba menjadikanku orang lain. Mari kita mulai dari awal. Kita punya bayi sekarang. Anak ini berhak memiliki ayah yang mencintai ibunya apa adanya, bukan ayah yang mencintai ibunya karena seseorang dari masa lalu yang bahkan sudah tiada. Kita bisa membesarkan anak ini berdua dengan penuh kasih sayang."
Air mata Shabiya jatuh mengenai tangan Galen. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Galen tidak menarik tangannya. Ia justru membelai perut Shabiya dengan ibu jarinya, gerakannya sangat lembut, hampir penuh keraguan.
Shabiya merendahkan dirinya, karena bagaimanapun dia tetaplah wanita pada umumnya yang menginginkan pernikahannya harmonis dengan anak-anak yang lucu mengelilingi mereka. Ia sangat berharap jika hati suaminya sedikit terbuka, meski sangat kecil kemungkinannya.
"Anak..." Galen menggumamkan kata itu berkali-kali. "Buah hati... yang nyata."
Shabiya merasakan harapan membuncah di dadanya. Ia merasa mungkin, hanya mungkin, keajaiban ini bisa meruntuhkan tembok obsesi Galen. Ia membayangkan Galen akan memeluknya, meminta maaf, dan membakar semua foto Thana di ruang kerja terlarang itu.
Namun, harapan itu hancur secepat ia muncul. Tatapan Galen yang tadinya melembut, perlahan-lahan kembali menjadi tajam dan fokus, namun kali ini dengan intensitas yang lebih mengerikan.
Galen menarik Shabiya berdiri, namun ia tidak melepaskan tangannya dari bahu Shabiya. Ia menatap istrinya dengan senyuman yang membuat darah Shabiya membeku. Itu bukan senyuman seorang calon ayah yang bahagia. Itu adalah senyuman seorang pemenang yang baru saja mendapatkan potongan terakhir dari puzzle-nya.
"Kau benar, Shabiya," ucap Galen, suaranya kini kembali datar dan penuh otoritas. "Ini adalah rencana Tuhan yang luar biasa. Thana selalu ingin memiliki anak. Dia sering bicara tentang bagaimana dia ingin membangun keluarga bersamaku sebelum... insiden itu terjadi."
Wanita itu kembali disebut dalam percakapan mereka meski Shabiya sudah menekankan berkali-kali jika anak yang dikandung olehnya adalah anak mereka. Bukan anak pria itu dengan wanita lain.
"Galen, tidak! Dengarkan aku—"
"Tidak, kau yang dengarkan aku," Galen memotong dengan nada yang tidak bisa dibantah. Ia memegang wajah Shabiya dengan kedua tangannya, memaksa Shabiya menatap kegilaan di matanya. "Bayi ini adalah bukti bahwa Thana telah kembali seutuhnya. Dia memberiku anak melalui dirimu. Ini adalah puncak dari semua usahaku. Kau telah melakukan tugasmu dengan sempurna, Thana."
Shabiya tersentak mundur, melepaskan diri dari pegangan Galen. Rasa mual kembali menyerangnya, tapi kali ini bukan karena kehamilan. "Kau benar-benar sakit, Galen. Aku memberitahumu kebenaran agar kau sadar, tapi kau justru menggunakannya untuk memperkuat kegilaanmu! Aku bukan Thana! Anak ini bukan anak Thana!"
Galen melangkah maju, kehadirannya terasa begitu menindas di dalam kamar yang sempit itu. "Mulai malam ini, kau tidak akan menyentuh apa pun yang tidak aku izinkan. Arsen akan menambah tim medis di sini 24 jam. Kau tidak akan keluar dari rumah ini sampai bayi ini lahir. Aku tidak akan membiarkan 'identitas Shabiya'-mu yang keras kepala itu merusak perkembangan anak Thana."
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini!" teriak Shabiya.
"Kau tidak punya pilihan," Galen berbalik menuju pintu. "Terima kasih atas 'kesadaran' ini, Shabiya. Kau baru saja memberiku alasan paling kuat di dunia untuk memastikan kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku selamanya."
KLIK.
Pintu itu kembali dikunci dari luar. Shabiya jatuh terduduk di lantai, memeluk perutnya dengan protektif. Ia telah mencoba memberikan kejujuran sebagai jalan keluar, namun Galen justru menjadikannya sebagai batu bata terakhir untuk menyegel penjara identitasnya.
Tidak, ini bukan harapannya. Tujuannya berbicara malam ini adalah untuk menyadarkan suaminya. Namun, kenapa malah dia yang semakin terperangkap?
Harapannya untuk mengubah Galen telah mati. Karena pria itu memang tidak akan pernah berubah. Kini, yang tersisa hanyalah insting seorang Ibu untuk menyelamatkan anaknya dari seorang Ayah yang tidak bisa membedakan antara cinta dan obsesi.
Rencana untuk menyadarkan suaminya itu telah gagal total, dan Shabiya menyadari bahwa ia tidak punya waktu lagi untuk berharap pada keajaiban. Ia harus bertindak, atau ia dan anaknya akan selamanya menjadi penghuni dalam bangunan megah milik Galen Gemilar ini.
baru mulai... ky'a seru