NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malapetaka besar terjadi

Malam setelah menikam Adam, Harun berubah menjadi pria yang dilanda ketakutan tak berujung. Tangannya gemetar saat memacu mobil dengan kecepatan tak terkendali, seolah bayangan hitam terus mengejarnya di sepanjang jalan. Napasnya memburu, dada terasa sesak, keringat dingin membasahi pelipisnya meski pendingin mobil menyala penuh.

Setibanya di apartemen, Harun berlari dari lift menuju lorong panjang dengan wajah pucat pasi. Langkahnya tergesa, matanya liar menoleh ke kanan dan kiri.

Beberapa penghuni sempat menatap heran tak ada siapa pun yang mengejarnya. Namun bagi Harun, teror itu nyata. Sangat nyata.

Tangannya bergetar hebat saat kunci password masuk ke dalam Apartemennya berulang kali gagal.

Setelah masuk, lampu-lampu apartemen di luar jendela tampak berkelip-kelip, seakan menertawakan ketakutannya.

“Pergi kau… pergi kau, setan!” bentaknya histeris.

Harun meloncat ke atas kasur, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia meringkuk seperti anak kecil, bersembunyi dari bayangan yang tak henti menghantui pikirannya, bayangan Adam yang bersimbah darah, sorot mata terkejut itu, dan pisau yang kini terasa masih melekat di tangannya.

Pukul satu dini hari, barulah ia memberanikan diri keluar dari persembunyian. Dengan langkah tertatih, Harun membersihkan diri. Air mengalir deras di kamar mandi, menghapus bercak darah Adam yang telah mengering di kulit dan pakaiannya. Namun rasa bersalah itu tetap melekat, tak ikut luruh bersama air.

“Aaaargh!” teriaknya pecah, tangis, stres dan amarah menyatu.

Penyesalan itu bukan semata karena Hawa. Ada kecemburuan akut yang telah lama terpendam, luka ketidakadilan yang tak pernah ia ucapkan. Ia muak pada kenyataan bahwa Adam selalu menjadi pusat kebanggaan, penguasa perusahaan, cucu kesayangan kakek, putra yang selalu dibanggakan ayah dan ibu mereka, serta pernikahannya kepada Hawa yang dilimpahkan kepada dirinya pun menjadi beban dirinya. Ia merasa Adam telah semena-mena kepadanya

Adam, yang dianggap jauh lebih berkompeten, lebih pantas, lebih segalanya dibanding dirinya.

Ponsel di atas meja bergetar tanpa henti. Puluhan panggilan tak terjawab dari Raisa dan Rani memenuhi layar. Harun menatapnya sekilas, lalu menjauhkan ponsel itu seolah benda tersebut juga ikut menghakiminya.

Di balik ketakutan dan kebenciannya, terselip rasa khawatir yang tak mampu ia sangkal tentang Adam. Tentang apakah pria itu masih hidup atau sudah tiada.

Tubuh Harun akhirnya meringkuk di sudut ranjang. Dengan pikiran kalut dan hati yang dilanda rasa bersalah, ia tertidur dalam ketakutan, ditemani bayangan dosa yang akan terus mengintainya hingga sinar pagi meninggi.

Dari dalam ruang operasi, tim medis akhirnya keluar sambil mendorong brankar Adam menuju ruang ICU kelas VIP. Tubuh pria itu terbaring tak berdaya, masih dipasangi selang pernapasan lengkap, monitor jantung berbunyi ritmis namun rapuh, seolah nyawanya menggantung di ujung waktu.

Di luar, Rani tak bisa diam. Ia mondar-mandir seperti singa dalam sangkar. Duduk tak tenang, berdiri pun gelisah. Tangannya gemetar, napasnya naik turun, dadanya sesak oleh penantian yang terasa seperti hukuman.

*

Tiba-tiba, ingatannya melayang, terseret paksa ke masa lalu.

Wajah ayahnya, Sulaiman, muncul jelas di benaknya.

“Pah! Jangan buat wasiat seperti ini! Ini terlalu berat!” protes Rani kala itu, suaranya bergetar saat membaca surat wasiat resmi yang mengikat perjodohan Adam dan Hawa.

Tatapan Sulaiman tajam dan dingin, tak memberi ruang untuk bantahan.

“Jangan pernah mengaturku, Rani!” bentaknya tegas.

“Aku sudah menyerahkan seluruh perusahaan jati atas nama Adam, dan dia sudah sepakat dengan syarat ini. Keputusanku sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun!”

Rani menggigit bibir, dadanya naik turun menahan emosi.

“Tapi, Pah… bagaimana kalau nanti saat dewasa Adam menolak dijodohkan? Ini akan menjadi masalah besar bagi kita semua!” desaknya putus asa.

Sulaiman berdiri, menghentakkan tongkatnya ke lantai. Suaranya bergemuruh, penuh ancaman.

“Jika dia berani mengkhianati wasiatku,” ucapnya perlahan namun mematikan,

“Adam harus membayar dengan nyawanya.”

Kalimat itu menghantam Rani seperti petir tapi ia tidak begitu yakin dengan ucapan itu.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Rani pergi dengan wajah memerah oleh amarah dan ketakutan.

Dasar Papa terlalu kolot! batinnya saat itu, tidak percaya dengan sumpah sang ayah.

*

Kenyataan kini kembali menghantam Rani, apa yang benar-benar ia takut kan benar-benar terjadi, Rani tidak pernah menduga jika malapetaka wasiat itu meminta nyawa Adam.

“Haduh bagaimana ini… lalu aku harus apa?” gumam Rani lirih, langkahnya makin kacau.

Bayangan buruk menyeruak tanpa ampun.

Bagaimana jika Adam mati? Aku tidak siap!"

Air mata wanita itu mulai mengalir tanpa bisa ditahan.

“Ini semua salahku…” bisiknya penuh penyesalan.

“Semua salahku. Seharusnya aku tidak menikahkan Hawa dengan Harun.

Seharusnya aku membujuk Adam sejak awal.” Rani mencengkeram hijabnya, menoyor tanpa henti, seakan ingin menghukum kebodohannya.

“Wasiat itu hanya untuk Adam… kenapa aku sebodoh ini, kenapa aku terlalu remeh?”

Hawa yang sejak tadi duduk, tak jauh dari posisi Rani akhirnya mendekat. Wajah wanita itu pucat, matanya sembab, namun tetap berusaha tenang.

“Tenanglah, Bunda…” ucap Hawa lembut, meski kepalanya sendiri terasa mau pecah melihat kepanikan Rani.

Rani tiba-tiba mencengkeram lengan Hawa, matanya merah dan penuh tekad nekat.

“Hawa, kau harus segera bercerai dengan Harun dan menikahlah dengan Adam!”

Hawa terkejut. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.

“Apa Bunda tidak pernah tahu, kenapa pertikaian ini bisa terjadi?”

“Semua ini pasti karena masalah perusahaan dan ini juga karma yang harus diterima Adam karena ia sudah menolak wasiat itu.

"Tidak hanya itu Mas Harun...."

Belum sempat Hawa menjawab, terdengar suara pelan namun jelas.

“Tlek!”

Pintu ruang khusus itu terbuka. Seorang dokter keluar, wajahnya serius, langkahnya mantap namun sarat beban.

Rani langsung menghampiri dengan langkah limbung.

“Dokter… dokter, bagaimana kondisi anak saya, Adam?” ucapnya gugup dan gemetar, suaranya nyaris pecah.

Sang dokter menarik napas panjang sejenak, menata kata dengan wajah datar profesional.

“Ibu, kami sudah menyelesaikan tindakan medis dengan sebaik mungkin,” ujarnya perlahan.

“Seluruh luka di tubuh Adam telah dibersihkan dan dijahit. Kami bahkan menggunakan metode laser untuk meminimalkan kerusakan kulit yang robek.”

Rani menelan ludah. Harapannya menggantung.

“Tapi…!”

Satu kata itu membuat lutut Rani hampir lemas. “Tapi apa, Dokter? Tolong jawab!” pintanya putus asa.

Dokter itu kembali menarik napas.

“Kondisi Adam sedikit membingungkan,” lanjutnya jujur.

“Seluruh fungsi tubuhnya seperti tidak aktif. Ia tidak merespons apa pun. Secara medis, ia tampak seperti mati… namun jantungnya masih berdetak dan stabil.”

Dunia Rani serasa runtuh.

“Dibilang hidup, dia tidak bangun,” sambung dokter itu.

“Dibilang mati, jantungnya berdetak normal.

Ini adalah masa kritis yang sangat besar bagi Adam. Kami tidak tahu sampai kapan kondisi ini akan bertahan.”

Dokter menatap Rani penuh empati.

“Yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu dan berdoa. Semoga Tuhan masih memberi Adam kesempatan hidup. Hanya itu yang bisa saya sampaikan.

Bersabarlah, Bu.” Dokter itu menepuk ringan lengan Rani sebelum berlalu.

Begitu ia pergi, Rani merasa lehernya

seperti dicekik. Napasnya berat, dadanya terasa kosong.

“I-ini semua salahku…” ucapnya terisak.

“A-apa yang harus aku lakukan?”

Rani tiba-tiba berbalik, lalu berlutut di hadapan Hawa.

Tangannya gemetar mencengkeram ujung baju wanita itu.

“Hawa… tolong Adam,” pintanya putus asa.

“Aku akan melakukan apa pun yang kau minta. Apa pun!” Tangis Rani pecah. Bahunya bergetar hebat.

“Tolong Adam, Hawa… hiks… hiks…”

Hawa ikut terjongkok, hatinya remuk melihat wanita yang ia panggil Bunda sebagai ibu mertua kini hancur tak berdaya.

“Bunda, tenanglah…” ucapnya lirih.

Hawa ingin menjelaskan segalanya, tentang Harun, tentang luka yang ia pendam, tentang kekejaman yang ia alami. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ia tak sanggup menambah beban di kepala Rani yang sudah hampir runtuh.

1
🅝🅤🅡🅨ᵇᵃˢᵉ🍻
fiuhh adaaam mulai pocecip wkwk
🅝🅤🅡🅨ᵇᵃˢᵉ🍻
ayoo hawa rubaaah adaaam
Fitria Ningsih
seruuu ni
siswati etty
sadar Adam dgn kelakuanmu yg bikin Hawa sakit hat ....knp jd yg lain yg jd korban i
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
Adam mungkin mau berubah jadi lebih baik, tinggal Hawa nya aja yang mau menerima apa ga nya
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
Raisa kan ga rela Adam sama Hawa bahagia jadi bikin fitnah
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
jangan percaya sama si jalang Raisa..🤬🤬
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
ya Allah kasihan banget hawa,, semoga mental hawa kuat🥺🥺
Qothrun Nada
puas banget bacanya,mbk Sarah sering sering up banyak bab ya 💪💪
Qothrun Nada
kesalahan fatal Adam ada disini selalu mengagungkan uang dan kekuasaannya
Qothrun Nada
haha gk akan ada senyuman Dam
Qothrun Nada
senyum Hawa gk bisa di beli dgn semua hadiah mu itu Dam
Qothrun Nada
👍👍
Qothrun Nada
tapi Hawa gk akan suka dan tertarik pada hadiah mu Dam
Qothrun Nada
mungkin Adam gk tau kalau Hawa udah pulang ke rumah, makanya dia langsung ke rumah mamanya
Qothrun Nada
memang baik, tapi kebaikannya itu juga yg membuat cucunya jadi hidup menderita
Qothrun Nada
jangan mudah percaya kalau Adam suka sesama jenis, cukup percaya saja Adam banyak ani ani itu fakta dan kau sering dengar mereka teleponan
Lasi Anah
lanjut kak seruu ceritanya
Qothrun Nada
jangan kaget nanti kalau pulang Hawa bersikap dingin dan cuek lagi selain dpt kacauan dari Raisa, sikap sesuka hati menggunakan uang dan kekuasaan mu itu juga memicu Dam
Qothrun Nada
pasti keputusan pemindahan juga mendadak,the power of money kau harus tau itu Hawa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!